
"Bagaimana dengan keluarga saya, Tn. Ren?" tanya Prof. Ram.
"Sebentar, Prof, biar saya teleponkan!" jawabku. Aku menarik ponsel dari kantongku. Mencari nomor istri Prof. Ram dan segera menekan tombol panggil. Kemudian ponsel itu kuserahkan pada Prof. Ram. Profesor ini menerima dengan tangan yang masih gemetar.
"Ha ... Hallo!" Sang Profesor pun berbicara dengan istrinya begitu panggilan telah tersambung.
Selama beberapa menit profesor ini berbicara dengan antusias. Beberapa kali ia terlihat terharu mengisahkan bahwa ia sudah berhasil selamat dalam keadaan baik-baik saja dan sedang dalam perjalanan pulang. Wajahnya kali ini terlihat riang gembira dengan tersenyum lepas. Aku sendiri turut terharu menatap ekspresi Prof. Ram yang seperti itu, terlihat sekali raut kebahagiaan saat ia mendengar suara istri dan anaknya. Prof. Ram beruntung masih memiliki keluarga yang lengkap. Sementara aku, entah siapa yang bisa kuhubungi untuk sekedar saling bertukar kabar dan bercanda. Takdir mengharuskan aku hidup sendiri.
"Ini, Tn. Ren! Terima kasih!" Prof. Ram mengembalikan ponselku.
"Ba–Baik, sama-sama!" Aku terkesiap dari lamunan. Menerima ponsel itu dengan gerakan patah-patah. Prof. Ram terlihat tersenyum ramah. Maka aku balas tersenyum ramah pula.
Setelah itu aku menggeser-geser layar ponsel. Mencari satu nomor lagi untuk dihubungi. Begitu ketemu, langsung saja kutekan tombol panggil. Aku menunggu beberapa saat sambil mendengar nada sambung, sampai panggilan benar-benar tersambung.
"Hallo ...."
"Hallo, Ren! Kamu di mana? Tadi aku lacak nomor ponselmu, kamu berada di Nusa Tenggara Timur. Benarkah? Apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai ke sana? Bagaimana keadaanmu sekarang? Kamu baik-baik saja? Bagaimana Prof. Ram? Ren? Kamu dengar aku, 'kan?" Seketika suara di seberang langsung mencecar tanpa jeda.
"Hadni, tidak bisakah kamu bicara pelan-pelan?" pintaku.
"Aku khawatir sekali, Ren. Aku sudah meneleponmu puluhan kali seharian ini, kamu tidak mengangkat barang sekali. Apa yang terjadi, Ren? Kamu baik-baik saja, 'kan?" Hadni kembali mencecar dengan cepat.
"Tenang dulu, Hadni. Jangan terburu-buru, aku baik-baik saja," jawabku.
"Sungguh?" tanyanya.
"Sungguh, Hadni. Eh ... Tunggu sebentar, kenapa suaramu terdengar seperti sehabis menangis? Kamu menangis, Hadni?"
"Hah? ... Ti–tidak, Ren! Seenaknya saja kamu menuduh. Aku ... Aku tidak menangis. Yang benar saja." Hadni menyahut dengan suara terbata-bata dan terdengar gugup.
"Ya sudah. Toh aku hanya bertanya, tidak usah gugup begitu!" timpalku.
"Rennnn!" seru Hadni setengah menggeram. "Bisakah kamu serius?"
"Aku serius, Hadni," sahutku.
"Jadi bagaimana keadaanmu? Bagaimana Prof. Ram? Apa kalian baik-baik saja? Apa yang sudah terjadi?"
"Dengarkan aku baik-baik, Hadni!" jawabku. "Keadaanku baik-baik saja. Prof. Ram sudah berhasil kami selamatkan. Beliau ada bersama kami saat ini dalam keadaan juga baik-baik saja. Kami sekarang sedang dalam perjalanan menuju bandara, sebentar lagi kami akan terbang kembali ke kota. Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi. Semua beres."
"Wah? Benarkah?" Hadni berseru antusias. Aku bisa menebak ia sedang melonjak dari kedudukannya sambil berteriak kegirangan.
__ADS_1
"Tentu saja."
"Syukurlah kalau begitu, Ren," ucapnya kemudian. "Aku senang sekali mendengar kabar ini. Akhirnya Prof. Ram berhasil selamat. Aku benar-benar tidak bisa tenang sebelum mendengar kabar terbaru darimu. Syukurlah jika semua baik-baik saja. Aku harus cepat-cepat menyampaikan berita baik ini pada Pak Roy!"
"Ya, benar. Tolong sampaikan pada Pak Roy, bahwa Prof. Ram baik-baik saja. Aku khawatir orang tua itu terlalu kepikiran berlama-lama. Jadi, sampaikan padanya berita ini agar ia bisa sedikit lebih tenang!"
"Baik, Ren!" jawab Hadni. "Jadi, kamu sekarang masih di Nusa Tenggara Timur?"
"Ya, dalam perjalanan menuju bandara. Kami akan berangkat dengan pesawat secepat mungkin," jelasku.
"Sebenarnya bagaimana ceritanya? Kenapa kamu bisa sampai ke Nusa Tenggara Timur? Itu jauh sekali, Ren. Apa yang terjadi sebenarnya? Siapa orang yang bertanggung jawab atas semua kejadian ini? Kenapa mereka menyerang kita?" Hadni kembali lagi mencecarku.
Aku menghela napas panjang dahulu, baru menjawab, "Ceritanya akan sangat panjang untuk aku tuturkan sekarang, Hadni. Nanti saja kalau aku sampai ke sana, pasti akan aku ceritakan!"
"Baiklah kalau begitu, tidak apa-apa!" jawab Hadni. "Oh, ya, aku mau mengucapkan terima kasih padamu, ya!"
"Terima kasih?" Aku mengulang dengan nada bingung.
"Iya," jawab Hadni. "Terima kasih untuk kerja bagusmu dalam menyelesaikan masalah ini. Kamu benar-benar penyelamat perusahaan ini. Tidak salah Korp. Masadepan mengandalkanmu, kamu memang luar biasa. Ketua Timsus Anti-Konflik, tapi tidak perlu bantuan satupun bawahannya untuk melaksanakan misi ini. Kamu hebat sekali. Aku bangga padamu, Renatoku!"
"Iya, baiklah, terima kasih juga kamu su ... Eh, coba ulangi sekali lagi, kamu bilang apa tadi? Renatoku?"
"Baiklah, Hadni," ucapku akhirnya. "Sampai nanti!"
Maka setelah itu, sambungan panggilan aku putuskan. Aku menyandar kembali dengan nyaman. Menghela napas lega.
"Wah, selamat ya, sobat!" ucap Jan tiba-tiba. Ia menatapku dengan senyum geli.
"Selamat untuk apa?" Aku balas menatap heran padanya. Aku baru sadar bahwa sejak tadi, Jan tersenyum-senyum sendiri mendengarkan pembicaraanku dengan Hadni.
"Ya, selamat untukmu, sobat." Jan menjawab sambil menahan tawa. "Aku turut senang, akhirnya kau bisa dekat dengan seorang wanita lagi, sejak sekian lama."
"Eh?" Merah padam wajahku mendengarkan ledekan Jan. "Enak saja kau bicara, yang tadi itu Hadni, sekretarisku di kantor. Aku hanya sedang menyampaikan laporan!"
"Aku tahu itu, sobat!" timpal Jan. "Tapi gaya pembicaraan kalian tadi itu akrab sekali, seperti ada hubungan lebih dari sekedar hubungan atasan dan sekretaris. Mungkin lebih tepatnya ... Em, mesra!"
Aku menatap sebal padanya. Tidak masuk akal. Sahabatku ini kadang benar-benar menyebalkan. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu.
"Berhenti mengurusi aku, Jantoro!" semprotku. "Sebaiknya kau telepon Fitri, pasti dia sedang menunggu kabar darimu!"
"Ah, benar juga kau, sobat!" ucap sahabatku itu. Maka ia bergegas mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Fitri, istrinya.
__ADS_1
"Hallo ..." Panggilan tersambung dan ia mulai berbicara.
Aku merapatkan telinga ke dekat ponselnya. Berniat untuk ikut mendengar pembicaraan mereka. Namun, sahabatku ini justru menjauhkan ponselnya dariku. Sambungan telepon itupun tidak menggunakan pengeras suara. Jadi, hanya ucapan Jan yang dapat aku dengar. Aku kembali bersandar ke kursiku, menyerah untuk menganggu sahabatku ini.. Terdengar ia berbicara lantang. Sepertinya ia sengaja mengeraskan suara untuk memanas-manasi aku.
"Aku baik-baik saja, tenanglah. Kamu sendiri baik-baik saja, 'kan? ...
Syukurlah ...
Apa? ...
Sudah, misinya sudah selesai. Kami berhasil ...
... Iya, tidak ada ada luka berarti,
... Sekarang masih di Nusa Tenggara, sebentar lagi berangkat ...
... kamu tunggu saja ...
Iya. Kamu juga jaga diri, ya!
... Sampai nanti!"
Aku takzim mendengarkan saja obrolan sahabatku ini. Sambil juga melirik wajahnya yang terlihat semringah. Kadang aku pikir, bahagia juga punya teman hidup, tapi ... ah, sudahlah.
Tubuhku benar-benar lelah. Aku tak sempat menikmati pemandangan dari atas helikopter ini. Aku memilih bersandar dan merilekskan otot dan sendi yang letih. Terlalu banyak perjuangan yang aku lalui. Aku harus istirahat.
***
Beberapa jam di atas helikopter, kami akhirnya tiba di bandara untuk bertukar kendaraan. Bersiap untuk penerbangan yang lebih panjang lagi. Penerbangan pulang. Meninggalkan Pulau Sawu dan semua pelajaran yang aku dapatkan di sini. Tentang semua pengalaman berharga yang sedikit banyak mulai mengubah pola pikirku. Di suatu sisi, aku bersyukur harus melewati semua ini. Ada sisi positif di mana aku mendapat banyak sekali pengalaman baru dan pelajaran hidup untuk menjadi lebih baik.
Di Bandara, urusan kami tidak perlu rumit. Tidak perlu prosedur keamanan panjang. Begitu sampai, kami sudah disambut oleh pesawat polisi jenis CN295 yang sebelumnya sudah membawa kami ke sini, lengkap dengan Kapten Arief yang siap sedia 24 jam penuh untuk kami. Pembawaannya yang ramah, membuat aku terhibur. Maka setelah menyampaikan terima kasih banyak dan salam perpisahan pada petugas polisi yang telah banyak membantu kami itu, aku, Jan, Prof. Ram dan tahanan kami, Koh Shung, segera bertukar kendaraan. Naik ke pesawat mewah tersebut.
Saat itu malam hampir tiba, posisi matahari setengah tenggelam menciptakan cahaya remang dari ufuk barat. Membangun suasana hangat pada petang yang temaram. Langit sudah hampir gelap, pesawat kami pun segera lepas landas ke angkasa. Meluncur mulus menuju angkasa yang nyaris malam.
Sepanjang penerbangan dari gugus kepulauan Sunda Kecil menuju tatar panjang pulau Jawa, aku tertidur lelap. Tubuhku menanggung penat bertingkat-tingkat. Di fisik, juga di hati dan pikiran. Banyak sekali peristiwa yang mengguncang mental dan hatiku sepanjang hari sejak semakin. Sejak awal perjalananku mencari Prof. Ram. Sudah banyak pula pertarungan sengit yang aku lalui. Melawan pasukan Gedung Lantai Hijau. Menghabisi mereka tanpa sisa. Lalu bertarung mati-matian menghadapi Enam Mata Dadu. Tidak berhenti sampai di situ, petualanganku dan Jan berlanjut sampai ke Pulau Sawu, Nusa Tenggara Timur. Mulai dari serbuan di pelabuhan. Berkeliling-keliling kota dalam aksi kejar-kejaran dengan pasukan berjas hitam. Lalu menyamar menjadi pasukan Tengkorak Hitam. Berlanjut ke tengah lautan dengan perahu motor hasil begal dari para Tengkorak Hitam. Banyak sekali pertempuran melelahkan di sana. Sampai ke pulau tujuan, perjuangan tak serta merta berakhir. Ada ratusan pasukan yang bermunculan dari hutan yang harus kami hadapi. Bertarung berjam-jam mengaduk-aduk hutan di pulau tersebut. Sempat pula ada drama penyamaran yang membuat geram hatiku setengah mati. Hingga sampailah kami pada puncak dari segalanya. Pertarungan paling parah seumur hidupku. Menghadapi guru dari Enam Mata Dadu, legenda dunia kriminal, Si Orang Tua Tanpa Nama. Di mana akhirnya aku mencatatkan rekor pribadi, untuk pertama kalinya berhasil melakukan tendangan tornado.
Terakhir, Koh Shung memberikan penutup paling tidak disangka. Memberikan kejutan paling luar biasa yang menjungkirbalikkan nalar dan akal sehatku. Tentang kisah miris di balik motivasi dan latar belakangnya menjadi manusia yang tak punya semangat hidup usai ditinggal pergi semua orang yang ia sayang. Menyentuh sampai ke sudut-sudut nuraniku. Setelah itu, perjalanan pulang pun harus terhambat oleh kepungan para Tengkorak Hitam. Hingga akhirnya bala bantuan datang dari kepolisian.
Semua rangkaian kejadian itu membuat tubuhku lelah luar biasa. Pertarungan mematikan berkali-kali kulalui. Perang psikologi juga terjadi. Rasanya aku tak pernah mendapatkan misi dan tugas yang lebih parah, lebih ekstrem, lebih berbahaya, lebih sulit, dan lebih luar biasa, daripada ini. Misi menyelamatkan Prof. Ram adalah misi paling gila sepanjang karirku. Sampai berulang-ulang kali mengancam nyawaku. Namun, dengan ambisi yang kuat, atas nama ayah, dan bantuan dari sahabatku. Akhirnya misi ini berhasil terselesaikan. Memberikan pengalaman luar biasa dalam hidupku.
Maka dengan menanggung semua letih dan penat sisa perjuangan itu di sekujur tubuh, aku tertidur pulas di kursi empuk kabin pesawat.
__ADS_1