Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Katakan Padaku


__ADS_3

Aku duduk dengan tubuh lemas. Dadaku kembali terasa panas sekali. Berguruh dengan semua rasa bagaikan gelombang laut yang menggelegak. Aku hampir saja mengamuk lagi jika Jan tidak menahanku.


Aku mematung memandang langit. Seakan ingin meneriaki Tuhan, Apa-apaan ini? tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku. Tanganku mengepal, rahang mengeras. Sekujur tubuhku diserang geram yang tak dapat kubendung. Yang terpikirkan olehku adalah, di sini aku memang tidak bisa menyentuh orang itu, tapi tidak jika aku kembali ke masa depan.


Seketika itu amarah menguasi seluruh jiwaku.


"Kita pulang sekarang," ucapku sambil membuka layar kendali di telapak tangan. Memilih kolom untuk mengantar kami kembali ke masa depan.


"Eh, Ren tunggu dulu, nanti .... Ahh!"


Jan tak sempat selesai berucap. Tubuh kami lebih dahulu terhisap ke udara bagaikan diterjang badai tornado. Udara, langit, dan pemandangan kota seketika berputar kencang mengitari kami. Perlahan pudar menghilang berganti cahaya menyilaukan. Suara menjadi senyap. Aku serasa hilang bentuk begitu melayang tak seimbang di ruang hampa. Aku merasa sensasi seperti tubuhku didorong suatu tenaga yang sangat kuat hingga meluncur laju bagaikan kilat. Cahaya berkilat-kilat di sekeliling membuat mata terkerjap.


Tiba-tiba tubuhku keras kaku. Lengan tak bisa kuayunkan. Kaki tak bisa kulangkahkan. Tubuhku seperti dibelit sesuatu yang sangat kuat hingga tak bisa bergerak. Hanya kepala yang sanggup kutolehkan. Cahaya di sekitar perlahan-lahan berputar dan pudar. Berganti menjadi pemandangan ribuan pasang mata yang menatap tegang ke arahku. Setiap sudut yang aku tatap, semuanya fokus menyaksikan aku. Suara riuh dalam auditorium kembali terdengar jelas di telinga. Aku mengerjap mengumpulkan kesadaran.


Cukup satu detik, aku sudah mengingat kembali apa yang tadi aku lihat di masa lalu. Maka seketika itu aku melepaskan helm dari kepala dengan tergesa-gesa. Sarung tangan kulepas paksa. Kabel-kabel atau perangkat yang menempel di badanku kutarik kuat-kuat hingga terlepas. Aku melakukan semua dengan terburu-buru dan sembarangan tanpa peduli akan merusak perangkat ini. Ilmuwan di sampingku sedikit terkejut, ia berinisiatif membantu, tapi aku menepis tangannya dengan kasar. Ia hanya mendelik heran. Begitu semua kabel, sarung, dan perangkat apapun yang menempel padaku dilepaskan, aku melonjak dari tempat duduk bagai orang dikejar setan. Aku langsung beranjak meninggalkan perangkat Gerbang Masa Lalu dengan wajah terlipat.


Aku tidak peduli orang-orang yang memandang aneh padaku, atau pembawa acara yang datang mendekat membawakan mikrofon untuk aku bercerita. Dengan kasar dan tidak sopan aku mengabaikan mereka, langsung saja berlalu tanpa basa-basi. Mereka memanggil-manggil dengan bingung, aku tak peduli sedikit pun. Aku melangkah tergesa-gesa sampai turun dari panggung dan tiba di barisan depan. Sejenak mataku menyapu tajam barisan itu, orang-orang yang duduk di sana balas menatap heran penuh tanya. Hampir semua hadirin menjadi hening. Awalnya mereka antusias melihat kembalinya aku, tapi mendadak melongo bingung dengan tingkah lakuku berubah aneh. Mulai berbisik-bisik dan bergumam.


Dari barisan depan penonton, aku mulai berlari ke sisi ruangan. Berbelok menuju belakang panggung di mana kru-kru dan pengisi acara berada. Aku tergesa-gesa menerobos kerumunan kru, panitia, dan siapapun orang-orang di sana yang menghalangi jalanku. Semuanya memasang wajah heran, masing-masing ingin bertanya tapi tak satupun yang aku gubris. Tiba di ruangan itu, masing-masing orang berebut ingin bicara denganku, tapi tidak satupun aku layani. Mataku melirik tajam, meneliti satu per satu wajah orang-orang di sana. Sialnya orang yang aku cari tidak ada juga di sana. Kemana dia pergi?


"Ren, ada apa?" seseorang bertanya di tengah kebingungan dan kegusaranku. Aku menoleh, ternyata Hadni. Ia melihat jelas raut wajahku dan mengerti bahwa aku benar-benar tidak sedang baik-baik saja. Ia bertanya dengan penuh perhatian. Namun, aku tidak punya waktu untuk ramah-tamah, amarah masih menguasai kepalaku. Itulah kenapa aku tak menjawab pertanyaannya, justru balik bertanya padanya di mana orang yang aku cari.

__ADS_1


"Tadi beliau pulang ke kantor, katanya ada barang yang ketinggalan." Hadni menjawab dengan kening berkerut seakan bertanya-tanya, memangnya kenapa?


Aku menyeringai licik. Hadni dan semua orang yang memerhatikan aku semakin bingung. Aku tidak pikir panjang atau menimbang dua kali, kudatangi orang itu.


"Ren, sebenarnya apa yang ... Ren mau ke mana?" Hadni tidak sempat selesai bertanya, aku sudah beranjak pergi. Pergi tanpa salam, tanpa pamit, atau ucapan terima kasih. Aku menerobos kerumunan orang yang mengerubungi. Dengan kasar aku mendorong mereka yang coba menghalangi. Lupakan sopan santun, aku benar-benar tidak bisa menunggu. Aku tahu mereka hanya ingin bertanya dan bicara baik-baik, tapi aku tidak punya waktu untuk mereka. Maka lepas dari orang-orang penasaran itu, aku langsung keluar lewat pintu belakang ruangan. Keluar dari gedung auditorium. Dari sana aku berlari menuju area parkiran di sisi gedung. Dalam lariku, aku mendengar suara pintu tempat aku keluar tadi dibuka. Lalu suara derap langkah di belakangku. Pasti seseorang menyusulku dengan terburu-buru juga. Mungkin Jan atau Hadni, atau entah siapalah itu. Aku tidak peduli.


Tiba di tempat parkir, aku langsung menuju sepeda motor kesayanganku. Menungganginya dan keluar dari sana. Naik ke jalan raya, kemudian mengebut meninggalkan bangunan auditorium kota dengan ribuan orang yang sedang kebingungan. Aku sudah biasa mengebut di jalanan, tapi kali ini adalah rekor kecepatan yang paling tinggi yang pernah aku capai tanpa menggunakan teknologi mode kilat. Jalan protokol juga kebetulan mendukungku hari ini, dengan kondisi yang tidak terlalu padat memberikan aku keleluasaan. Melaju menuju tempat kerjaku, kantor pusat Korp. Masadepan.


***


Jarak dari gedung auditorium menuju kantor tidaklah berapa jauh. Maka wajar beberapa menit saja kebut-kebutan aku sudah tiba di tujuan. Aku bahkan tidak masuk ke area parkir, aku berhenti di depan lobi. Sepeda motor kuparkirkan di sana, aku sendiri langsung terburu-buru masuk ke ruangan. Kebetulan suasana kantor saat itu benar-benar sepi, hampir semua staf berada di auditorium untuk acara besar kami. Tidak ada orang sama sekali. Dengan langkah yang tergesa-gesa, aku mengejar lift. Beberapa menit menunggu tidak sabar, aku tiba di lantai yang aku tuju.


Keluar dari lift, aku melangkah senyap menyusur koridor. Udara terasa panas. Langkahku mulai tak bisa kukendalikan. Sampai di ujung koridor, aku mendobrak pintu dengan kasar. Masuk ke ruangan dengan membawa segumpal emosi yang sebentar lagi akan meledak. Aku menutup kembali pintu ruangan dan mengunci rapat-rapat. Kemudian kulihat orang tua itu berdiri di depan meja kerjanya seperti sudah lama menunggu kedatanganku. Siapa lagi kalau bukan Pak Roy, ayah angkatku sendiri. Yang ironisnya memberi kenyataan menyakitkan bahwa dia sendirilah manusia yang telah merenggut nyawa ayahku dua dekade lalu. Ia menatapku dengan wajah suram seakan-akan sudah tahu apa yang akan terjadi. Aku balas menatap tajam penuh kebencian. Langkah demi langkah kami semakin dekat. Dan aku benar-benar tidak bisa menahan diriku lagi.


"BIADAB KAU!" Tinjuku akhirnya melayang kencang. Menghantam keras wajah orang tua itu hingga ia terhuyung ke samping dan mengaduh.


"Pengkhianat!" Aku berteriak sekerat-kerasnya. Kali ini terjangan mautku menghantam dadanya. Ia terlempar ke samping dan jatuh terempas. Tubuhnya yang tua renta tak sanggup menahan seranganku. Dengan kesetanan, aku terus mendatanginya. Lupa sudah akan semua kebaikannya, ditelan oleh kebencian bercampur amarah.


Orang tua itu tergeletak sambil mengeluh sakit, tapi berusaha keras menahan semuanya. Aku dengan kasar menarik kerah bajunya, memaksanya bangkit berdiri.


"Akkh, ... Akh!" Dua kali tinjuku berdebuk di dada dan perutnya. Ia termundur beberapa langkah. Aku benar-benar hilang akal hari itu, aku menghajar ayah angkatku sendiri tanpa ampun. Sedikitpun orang tua itu tidak melawan. Menghindar saja tidak dari seranganku. Ia terlihat benar-benar pasrah menerima amukanku.

__ADS_1


Brakk, tubuhnya terlempar dan membentur dinding dengan keras. Tidak ada sedikit pun rasa kasihan di hatiku melihat tubuh tua rentanya.


Aku berdiri dengan napas masih memburu dan mata masih menatap tajam. Pak Roy berusaha bangkit dengan berpegangan ke dinding. Bersusah payah berdiri sambil menahan segala rasa sakitnya.


"KENAPA? KENAPA KAU MELAKUKAN ITU?" Aku membentak keras. Sambil mendekat, kembali kucengkeram kerah bajunya. Wajah kami sangat dekat kali ini. Tajam sekali pandanganku menusuk tatapannya.


Ia bungkam.


"Aku kehilangan masa kecil dengan ayah, masa kecilku hancur berantakan." Aku mulai berkoar. "Aku tumbuh besar tanpa orang tua kandung. Bertahun-tahun aku merindukan mereka setiap malam. Dua dekade hidupku berjalan, baru aku tahu bahwa ayahku tewas dibunuh. Berhari-hari aku meratap. Aku bersumpah akan mencari pembunuh ayahku. Aku mempertaruhkan nyawaku untuk menyelamatkan mesin waktu, agar aku dapat mencapai tujuanku. Namun, apa-apaan semua ini, hah? Kita sudah menjadi keluarga selama bertahun-tahun, kau sudah kuanggap ayahku sendiri yang menyembuhkan luka kehilanganku. Namun, mengapa justru kau ... yang membunuh ayahku dan baru aku ketahui setelah dua dekade? MENGAPA, HAH?"


"Nak, sebelumnya, apa kau sudah puas menghajar aku?"


Aku tersenyum mengejek. Dengan suara bergetar penuh emosi aku berkata lagi, "KATAKAN PADAKU CEPAT! MENGAPA ... Aku harus tumbuh besar bertahun-tahun bersama pembunuh ayahku sendiri?"


"Jika kau belum puas menghajar aku, lakukanlah lagi sampai kau puas. Setelah itu akan aku ceritakan padamu." Pak Roy terlihat pasrah sekali.


"KATAKAN PADAKU, BAJING*N!" Aku membentak lagi tepat di depan wajahnya. "Apa salah ayahku hingga ia pantas kau bunuh? APA, HAH? Katakan padaku, kenapa kau membunuh ayahku?"


"Dia tidak salah, Ren!" jawab orang tua itu. "Aku yang benar-benar gila saat itu."


Aku diam. Napas memburu menahan gejolak amarah. Kebencian naik sampai ke ubun-ubun. Cengkeremanku di kerahnya kulepaskan. Jika kuturutkan emosiku, bisa saja kuhajar lagi orang tua ini sampai patah-patah tulang. Namun, aku mulai mendapatkan kembali kesadaran. Sejenak aku memandang ke arah pintu, terlihat Hadni dan Jan sedang menggedor-gedor minta dibukaan pintu. Aku tak peduli, kembali kutatap orang tua di depan mataku.

__ADS_1


"Ayo, hajar saja aku lagi sesuka hatimu. Puaskan amarahmu, Ren!" ucapnya.


Aku menyeringai. Menjawab, "Katakan padaku, cepat!"


__ADS_2