Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Ledakan demi Ledakan


__ADS_3

Aku menurunkan senjataku dari bahu. Kemudian menatap lagi ke arah lawan. Satu lagi perahu motor masih melaju mengejar kami. Mereka melaju meninggalkan perahu rekan mereka yang berkobar-kobar tadi. Aku berlutut. Menajamkan mata, mengawasi perahu itu lekat-lekat. Aku ingin sekali menembak dan meledakkan perahu itu dengan RPG seperti tadi, tapi granat untuk ditembakkan tidak ada lagi. Hanya satu tadi saja.


Aku masih tajam mengawasi, sampai tiba-tiba mataku terbelalak. Di haluan perahu motor itu terlihat seorang anggota Tengkorak Hitam yang sedang memikul senjata seperti aku tadi. Sebuah senjata granat berpeluncur roket yang sialnya lebih mutakir dari milikku. Tampak lebih besar dan tentu saja daya rusaknya lebih dahsyat.


"Jan, mereka juga membawa RPG!" Aku berseru-seru.


"Tenang, sobat! Tenang!" jawab sahabatku dari kabin kemudi.


Aku hendak berucap, tapi seketika tubuhku serasa terdorong ke arah buritan perahu. Entah apa yang sedang dilakukan Jan di depan sana, tapi yang pasti perahu ini tiba-tiba melesat ke depan lebih kencang sehingga aku terdorong ke belakang. Hampir saja aku jatuh jika tidak ada deretan mesin perahu di depanku. Mesin-mesin itu kini meraung ganas. Baling-balingnya di bawa sana menderu membuat riak air dan gelombang besar yang tepat di depan mataku. Barangkali perahu ini mencapai kecepatan kecepatan maksimalnya.


Aku bangkit berdiri. Namun, begitu aku berdiri dan melihat perahu lawan beberapa ratus meter di depan mata, seketika mataku seperti mau melompat dari tempatnya. Bukan main terkejutnya aku. Si Tengkorak Hitam yang memikul RPG itu telah melepaskan proyektil granat dari hulu ledaknya. Kini meluncur buas memburu kami.


"Jan! Mereka menembak!" Aku berteriak kalap sambil berlari dan melompat masuk ke dalam kabin. Aku jatuh terguling-guling di dalam kabin dan membentur bangku di sisi. Aku terdiam beberapa detik, kemudian aku berupaya bangkit.


Belum sempat aku berdiri, perahu ini mendadak berguncang luar biasa. Saking hebatnya guncangan itu, tubuhku yang masih terbaring di lantai kabin sampai terlempar dan menghantam dinding begitu keras. Aku mengeluhkan sakit begitu tubuhku jatuh dan terempas ke lantai. Aku hampir tak sadarkan diri karena kepalaku mengalami benturan keras saat beradu dengan dinding kabin. Pandanganku berkunang-kunang. Namun, aku masih bisa mendengar deru mesin perahu dan bunyi ledakan di luar sana. Selama beberapa menit, perahu ini terus terguncang-guncang bagai bumi dilanda gempa yang dahsyat sekali. Perahu ini seperti mau terbalik. Aku tak tahu apa yang telah terjadi, tapi kurasakan perahu ini perlahan-lahan melambat dan akhirnya berhenti. Dengan pandangan mata yang kabur karena agak pusing, aku memaksa diri untuk bangkit. Meski berkali-kali aku jatuh ke lantai. Bumi rasanya berguncang hebat. Awalnya aku kebingungan dan linglung, ternyata perahu tempatku ini yang terombang-ambing diterpa ombak laut yang besar.


Setelah bersusah payah, akhirnya aku berhasil berdiri dengan berpegangan ke dinding. Kulihat di depan dasbor kemudi, Jan duduk tersandar dengan lemas. Ia beberapa kali menghela napas penuh kelelahan. Terlihat sedang menenangkan diri.


"Apa yang terjadi?" tanyaku getir.


"Tembakan mereka hampir saja meledakkan perahu ini," jawab sahabatku itu tanpa menoleh.


Aku tercengang dan memiringkan kepala.


"Tapi kita sedang beruntung hari ini," ucapnya kemudian. "Aku berhasil menghindari tembakanku mereka, dengan manuver yang tipis sekali. Padahal kemungkinan untuk berhasil itu sangat kecil. Aku bertaruh nyawa dengan keputusan itu. Untungnya aku berhasil, untuk melakukan manuver yang sangat berbahaya tadi dan mengelakkan tembakan itu."


"Baguslah," tandasku. "Aku kira tadi kita benar-benar tertembak dan riwayat kita tamat di sini."


"Aku juga serasa tidak percaya kita masih hidup sekarang," timpal Jan. "Karena yang tadi itu benar-benar tipis, hampir-hampir mustahil. Dan kalau gagal, mungkin kita akan tewas di sini."


Aku mengangguk.


"Bagaimana dengan ... Eh!" Aku berhenti berkata. Terdengar bunyi kertak lantai perahu yang diinjak orang di belakang. Aku dan Jan spontan memandang ke arah buritan. Seketika kami melotot kaget melihat pasukan Tengkorak Hitam sedang berloncatan ke atas perahu kami. Melompat dari perahu mereka yang ternyata telah sampai dan merapatkan haluan. Sialan.


Dorr! Dorr! Dorr! Dorr! Dorr!


Pasukan Tengkorak Hitam itu tanpa salam sapa langsung memberondong kami dengan senapan serbu semi-otomatis. Aku dan Jan buru-buru menjatuhkan diri dan bertiarap. Untung saja kami mengenakan rompi antipuluru, kalau tidak mungkin peluru mereka telah menembus jantungku.

__ADS_1


Aku merangkak ke samping dan berlindung di balik dinding belakang kabin yang sialnya tidak lebar. Peluru-peluru berdesingan menyerbu. Satu-dua di antaranya menghantam dasbor kemudi menciptakan percikan api.


Aku berpikir cepat. Aku merogoh kantong, tapi sial pistol Glock 17-ku tidak ada ditempatnya. Hilang. Mungkin tercecer saat aku terlempar dan terguling-guling tadi. Aku panik. Mataku segera mencari-cari senjata di sekeliling ruangan kabin ini. Maka saat pandanganku membentur sepucuk M16 di tepi bangku, tanpa pikir panjang langsung kusambar.


Aku tersenyum penuh kemenangan.


Dorr! Dorr! Dorr! Dorr! Dorr! Dorr!


Aku balas memberondong mereka dari posisi tiarap. Satu per satu mereka berguguran dengan kaki masing-masing ditembus peluruku. Lima sampai enam orang jatuh dan menjerit-jerit kesakitan. Begitu mereka terkapar, senjataku menyalak lagi dengan rentetan tembakan yang kali ini berkelontangan menembus kepala mereka—yang tanpa pelindung. Aku bangkit sekarang. Berani maju dan keluar dari kabin. Melangkah hati-hati melewati tubuh-tubuh yang bergelimpangan di buritan perahu kami.


Kemudian aku mengalihkan pandangan ke kendaraan lawan. Senjataku masih teracung galak dan siap menyerbu ke arah haluan perahu mereka. Lewat kaca depan kabin perahu tersebut, aku dapat melihat dua orang anggota pasukan Tengkorak Hitam yang tersisa. Mereka buru-buru lari ke belakang saat melihat aku. Namun, M16 di tanganku menyalak lebih dulu, peluru-peluru berdesingan menembus kaca depan. Kaca pecah berhamburan, peluru pun sampai ke kepala orang-orang itu. Tak ampun mereka pun tumbang tak berdaya.


Aku melompat, menyeberang ke perahu lawan. Naik ke haluan perahu tanpa sekalipun menurunkan senjata. Dari kaca depan yang sudah pecah berhamburan karena ulahku, aku dapat melihat pasukan Tengkorak Hitam di kapal ini sudah habis. Bergelimpangan tak bernyawa.


"Jan," panggilku. "Aman. Mereka sudah habis!"


"Baiklah," sahut sahabatku itu dari dalam kabin perahu sebelah. "Sepertinya kita harus berganti kendaraan. Tembakan orang-orang ini membuat sedikit kerusakan teknis pada perahu ini."


Tak lama kemudian, Jan keluar dari kabin dengan pistol Glock 17 teracung di tangan. Waspada dan berjalan mengendap-endap. Dengan sigap ia melompat naik dan menyusulku.


"Aman," ulangku sekali lagi.


Aku menyusulnya. Masuk lewat jalan yang sama. Maka setelah aku di berada di dalam, sahabatku menyalakan mesin kendaraan ini, mulai mengemudikannya. Sementara aku meneliti ruangan kabin ini, banyak sekali persediaan senjata.


"Tunggu sebentar, Jan!" ucapku.


Jan menoleh.


"Aku ada ide yang lebih baik." Aku menghampiri tubuh dua orang yang tadi telah kulumpuhkan. Satu per satu mereka kuseret ke belakang dan kularung ke laut. Mencebur ke dalam derasnya ombak yang menderu-deru.


Lalu aku kembali ke dalam dan menghampiri sudut kabin di mana terdapat banyak senjata.


"Majukan perahu ini sedikit!" pintaku.


"Baik!" Jan menuruti permintaanku. Perahu ini berjalan maju dengan perlahan. Mulai melewati perahu lama kami di sebelah.


"Berhenti!"

__ADS_1


Perahu berhenti. Buritan perahu kini bertemu dengan haluan perahu kami sebelumnya. Aku tersenyum. Di antara senjata-senjata di depan mataku, aku mengambil dua buah bom tempel beserta detonatornya. Sebuah senjata peledak keluaran terbaru. Jan memperhatikan saja apa yang aku aku lakukan.


Kedua bom tersebut kubawa keluar kabin dengan hati-hati. Begitu sampai di buritan perahu, aku segera melompat menyeberang ke perahu lama. Menjajakkan kaki ke haluan dengan dua buah bom tempel siap di tangan. Tanpa membuang-buang waktu, segera saja bom tempel itu aku tempelkan. Satu di haluan perahu. Satu lagi di buritan, di badan mesinnya. Setelah selesai, aku langsung kembali ke perahuku sendiri. Melompat ke buritan dan duduk takzim di sana. Mengambil detonator dan siap untuk meledakkan kedua bom tersebut.


"Jan, berangkat!" Aku berseru dari buritan perahu.


"Aye-aye, kapten!" sahut Jan.


Seketika mesin perahu meraung. Perahu kami pun melesat laju seperti tadi. Meninggalkan perahu lama yang terombang-ambing diterjang ombak.


Aku tersenyum simpul. Menatap kepada perahu yang semakin jauh tertinggal. Kemudian, dalam detik-detik krusial aku mengangkat detonator di tangan ke depan mata. Bagaikan adegan di film, aku pun menekan tombolnya perlahan-lahan penuh gaya.


Duarrrr, ledakan dahsyat terjadi ratusan meter di belakang sana. Asap membumbung tinggi ke udara. Api berkobar menyala-nyala.


Duarrr! Duarr! Duarr! Ledakan dahsyat terdengar lagi bersahut-sahutan. Aku dapat melihat dengan jelas, perahu yang sebelumnya aku tumpangi kini meledak dahsyat dimakan api bersama semua tubuh-tubuh tak bernyawa yang ada di atasnya. Aku menatap miris. Sudah jadi apa aku ini?


***


Setelah termenung beberapa menit, akhirnya perahu dan kobaran apinya hilang dari pandangan. Sudah tertinggal jauh ribuan meter. Aku bangkit berdiri dan berjalan masuk ke dalam kabin. Kurasakan perahu ini mulai melambat. Kecepatannya menurun signifikan. Begitu aku menatap ke depan sana, aku langsung mengerti mengapa.


Di depan sana, terlihat sebuah daratan luas yang semakin dekat. Sebuah pulau yang berisi pohon dan hutan. Tentu saja pulau yang kami tuju, meskipun kelihatan agak aneh. Perahu lama-kelaman terus melambat seiring semakin dekatnya kami dengan bibir pantai pulau tersebut.


"Bersiaplah, sobat!" ucap Jan sambil terus fokus pada kemudinya. "Karena sepertinya penghuni pulau di depan kita sudah menyiapkan acara penyambutan untuk kedatangan kita!"


Aku tersenyum. Beranjak ke sudut kabin dan segera meraih sepucuk senapan serbu M16 dengan amunisi penuh. Aku maju ke depan. Bersiap untuk memberondong peluru. Pulau semakin dekat.


Jan menghentikan laju kendaraan ini. Hingga berhenti tepat di tepi pantai pulau asing tersebut. Belum lagi kendaraan kami sempurna berhenti, rentetan peluru datang berkelontangan menghantam badan perahu. Berdentang-denting penuh bising.


Aku melompat keluar lewat jendela tak berkaca. Bertiarap dan merangkak di atas haluan perahu. Dapat kulihat, di garis pantai tersebut telah berbaris deretan pasukan berjas hitam dengan senapan mesin semi-otomatis di tangan masing-masing. Terus menembaki kami tanpa jeda.


Dorr! Dorr! Dorr! Dorr! Dorr!


M16 di tanganku menyalak, menyerbu balas, tapi mereka banyak sekali. Aku tak punya waktu untuk menembak dan berlindung secara bersamaan. Saat aku termenung, tiba-tiba Jan datang dari belakangku. Ia membawa sebuah granat lempar di genggaman.


"Kau lambat, sobat!" ejeknya. Ia bertiarap di sisiku, lantas melemparkan granat itu pada barisan pasukan lawan.


Maka pasukan itu seketika bubar berhamburan menyelamatkan diri masing-masing, tapi terlambat.

__ADS_1


Duarrr, granat pun meledak hebat.


Hampir semua orang di sana terkena ledakannya dan jatuh bergelimpangan. Area pasir pantai menjadi penuh oleh kobaran api karena ledakan itu.


__ADS_2