
Acara berlanjut ke sesi demonstrasi cara kerja dan bagaimana Gerbang Masa Lalu itu berfungsi. Kali ini, Prof. Ram dan sejumlah ilmuwan turut naik ke atas panggung untuk menemaniku.
Demonstrasi berjalan lancar. Para hadirin antusias sekali menyaksikan bagaimana kami menjelaskan cara Bangsal dapat beroperasi. Menjelaskan satu per satu perangkat yang melengkapinya, mulai dari kabel-kabelnya yang tersambung ke setiap bagian satu sama lain. Tersambung pada sepasang sarung tangan di lengan masing-masing kursi, tersambung pada helm canggih di atas sandaran; juga pada layar canggih di panel kendali, atau pada pelindung yang mirip dengan perangkat keamanan saat naik wahana roller coaster. Semua serba rumit dan kompleks tapi didesain dengan rapi.
Prof. Ram menjelaskan pula bagaimana urutan-urutan pengguna Bangsal untuk melakukan perjalanan waktu dan melihat masa lalu. Bahwa mereka harus duduk di kursi dan memasang semua perangkat dan sambungan yang diperlukan—seperti mengenakan helm lengkap dengan layar virtual reality di kacanya, sarung tangan, dan sabuk pengaman logamnya. Semua itu harus dilakukan agar pengguna benar-benar merasa berada di masa lalu dan dapat bergerak bebas. Setelah semua terpasang, saatnya mengaktifkan mesin kendali. Kemudian mengatur tanggal waktu yang ingin dituju. Maka setelahnya, cukup satu tekan pada satu tombol, perjalanan di mulai. Mereka akan merasakan sensasi luar biasa yang tak bisa dijelaskan dalam beberapa detik. Dan bum, mereka tiba di masa lalu. Tubuh mereka tetap di kursi, tapi apa yang mereka rasakan adalah mereka berpindah ke sebuah dunia lain.
Prof. Ram bertutur dengan gaya bahasa yang mudah untuk dipahami. Ia dapat bercerita demikian dengan jelas karena ia memang sudah merasakannya. Prof. Ram adalah salah satu dari beberapa ilmuwan yang telah mencoba menggunakan mesin waktu kami ini. Jadi, wajar saja ia bisa menjelaskan secara detail seperti apa rangkaian prosesnya dengan lengkap. Selain itu, proses penjelasan kami dibantu oleh cuplikan visual yang ditayangkan di layar besar. Cuplikan visual tersebut adalah karya animasi dari anggota staf khusus konten kreator Korp. Masadepan. Jadi, semua hadirin dapat melihat bagaimana proses perjalanan waktu yang akan dilakukan melalui tayangan animasi yang mudah dipahami. Mereka antusias sekali mendengarkan penjelasan panjang tersebut. Aku yakin, masing-masing dari mereka semua ingin merasakan bagaimana rasanya melakukan perjalanan waktu itu. Hingga akhirnya penuturan ini sampai pada penghujungnya.
"Dan ingat bahwa Gerbang Masa Lalu tidak melakukan proses transfer fisik keluar dari garis waktu, melainkan visualisasi pikiran. Jadi, tidak akan ada yang namanya terjebak di ruang waktu. Saya pastikan, Bangsal ini benar-benar aman." Begitulah Prof. Ram menutup penuturan panjangnya diiringi oleh tepuk tangan meriah dari seantero tribune penonton.
***
Demonstrasi Gerbang Masa Lalu sudah selesai. Aku dan ilmuwan-ilmuwan yang telah mendampingiku segera turun panggung dan beristirahat ke belakang. Selanjutnya acara diselingi dengan penampilan grup band, penyanyi, dan hiburan lain. Setelah itu, barulah tiba di sesi paling akhir. Penghujung dari acara besar ini.
Untuk bagian terakhir ini, aku dipanggil lagi oleh pembaca acara untuk naik ke atas panggung. Aku bersemangat sekali untuk segera kembali ke atas panggung. Sudah lama sekali aku menunggu momen ini. Aku tak dapat menahan rasa antusias yang membanjir di sekujur tubuhku.
"Hadirin sekalian," ucapku. "Ini adalah bagian terakhir dari acara ini. Mungkin yang anda tunggu-tunggu. Namun, lebih daripada anda, saya menunggu momen ini berbulan-bulan lamanya. Bahkan saya harus berjuang mati-matian agar kesempatan ini saya dapatkan. Anda tahu maksud saya? Benar, saya akan melakukan perjalanan waktu ke masa lalu."
Seketika itu semua hadirin berseru penuh riuh. Untuk kesekian kalinya, ruangan luas ini dipenuhi gemuruh ribuan orang yang berseru-seru luar biasa antusiasnya.
"Saya tidak akan sendiri," ucapku kemudian. "Berhubung kursi yang tersedia ada dua. Maka saya akan mengajak satu orang lagi untuk berangkat bersama-sama dengan saya. Tebak siapa?"
Seluruh hadirin berbisik-bisik, menebak-nebak. Melihat ke sana-sini. Bertanya pada rekan. Membuat keributan kecil.
__ADS_1
"Dengan segala hormat," Aku memotong keributan para hadirin. "Saya undang sahabat saya untuk segera naik ke atas panggung. Dimohon kesediaannya menemani saya melakukan perjalanan waktu. Semuanya, beri tepuk tangan yang meriah untuk Jantoro!"
Aku berteriak di bagian terakhir kalimat sambil menyorot ke sudut kanan tribune bagian bawah. Tempat di mana Jan dan istrinya duduk. Demi mendengar panggilanku, sahabatku ini langsung bangkit dari kedudukan dengan rasa bangga. Ia dan istrinya berpelukan, lantas ia melenggang naik ke atas panggung memenuhi panggilanku. Bagaikan artis Hollywood yang sedang dipanggil untuk naik ke atas panggung karena telah memenangi Piala Oscar untuk kategori Aktor Laga terbaik, Jan penuh gaya dengan setelan jas rapi menaiki panggung diiringi tepuk tangan penonton yang meriahnya berlipat-lipat. 9 dari 10 orang yang ada dalam ruangan ini dipastikan mengenal Jantoro. Reputasinya tak perlu dipertanyakan.
Begitu ia tiba, kami segera berjabat tangan dan saling rangkul penuh kehangatan. Lantas sahabatku ini melambaikan tangan menyapa para hadirin di seluruh penjuru ruangan.
"Asal anda tahu," ucapku pada hadirin. "Jan adalah orang yang turut berperan besar dalam terciptanya Gerbang Masa Lalu. Meskipun sahabat saya ini tidak ada hubungan apa-apa dengan Korp. Masadepan. Namun, kalau bukan karena aksi luar biasanya, belum tentu anda bisa melihat mesin waktu kami hari ini. Karena Jan adalah orang yang membantu saya dalam menyelamatkan Prof. Ram beberapa minggu yang lalu."
Hadirin bertepuk tangan lagi dengan lebih meriah.
"Mungkin ada sepatah dua patah kata untuk disampaikan, Jan?" tanyaku pada Jan sambil mengulurkan tangan memberikan sebuah mikrofon.
"Terima kasih, tapi mungkin sebaiknya kita segerakan saja," jawab Jan ringkas.
Aku dan Jan tidak membuang waktu lebih lama, segera menghampiri Gerbang Masa Lalu. Dua orang ilmuwan yang tadi menemaniku demonstrasi, kini naik kembali untuk membantu kami memulai operasi pada perangkat canggih ini.
Ribuan pasang mata takzim memerhatikan, aku mulai mengambil posisi. Duduk dengan nyaman di kursi ajaib tersebut. Bahan dasarnya logam, tapi dilapis bantalan empuk untuk kenyamanan pengguna. Jan di samping. Semua perlengkapan mulai kami kenakan satu per satu. Memakai sarung tangan yang disediakan. Menurunkan pengaman di depan dada persis seperti mau naik roller coaster. Ilmuwan yang mendampingi kami memasangkan benda mirip sfigmomanometer atau alat periksa tekanan darah. Alat itu dibalutkan di lengan kanan dan kiriku. Aku bersandar mencoba membuat diri nyaman dengan semua perangkat yang seakan-akan melilit dan mengunci aku di kursi ini. Terakhir, aku dan Jan memasang perangkat paling pentingnya, helm. Helm tersebut bentuknya mirip dengan helm proyek, tapi lebih tebal, berwarna perak, dan nyaman di kepala. Helm ini dilengkapi dengan kaca yang menutupi wajah, dengan perangkat virtual reality yang mutakir. Perangkat inilah yang paling berperan untuk menciptakan efek visual dalam proses perjalanan waktu.
"Mungkin, ada kata-kata yang ingin anda sampaikan terlebih dahulu?" ucap ilmuwan di sampingku sambil memegangkan mikrofon untukku.
"Hmm," sahutku. "Hadirin sekalian, mohon maaf sebelumnya, anda tidak bisa melihat apa yang kami lihat. Saya memutuskan untuk tidak menampilkan visualnya di layar. Nanti kami akan ceritakan saja. Dan setelah kami selesai, ada satu kesempatan untuk anda mencoba mesin waktu ini. Dua orang di antara anda yang beruntung akan mendapat kesempatan ini. Tunggu saja!"
Penonton menjadi riuh lagi. Mereka menjadi antusias dengan ucapanku yang terakhir. Mereka bersorak-sorai.
__ADS_1
"Baiklah, kita mulai sekarang," ucap si ilmuwan. Ia berdiri di depan panel kendali yang dilengkapi sistem operasi komputer.
"Jantoro dan Renato, kalian siap?"
Aku dan Jan saling bertukar pandang. Menjawab kompak, "Kami siap!"
Sang ilmuwan menekan satu tombol, menyalakan mesin utama. Detik itu, aku merasa seperti ada aliran tenaga yang masuk ke dalam diriku. Tenaga tersebut memberi aku sensasi sentrum tapi tidak sakit. Alirannya masuk lewat sarung tangan yang aku kenakan, helm yang menutup kepalaku, dan kabel-kabel yang melilit beberapa anggota tubuh seperti alat periksa tekanan darah. Ironinya, tekanan darahku mendadak naik, jantungku berdebar keras, aku merasa seperti ada hormon yang diproduksi deras dalam tubuhku. Lengan dan kakiku mulai kesemutan. Aliran tenaga ini membuat aku mau tak mau membelalakkan mata. Aku menarik napas dalam-dalam. Mencoba menatap ke sekeliling, memerhatikan wajah-wajah tegang yang menyaksikan aku. Saat aku menilik ke banyak sudut, aku berhenti di barisan paling depan. Di mana orang-orang tertentu duduk di sofa mewah. Aku menangkap satu orang di sana sedang melirik wajahku dengan fokus. Pak Roy, direktur Korp. Masadepan sekaligus ayah angkatku. Aku menatapnya. Mata kami bertemu. Ia takzim dan tersenyum penuh ramah padaku. Aku balas tersenyum. Beberapa detik kami beradu tatap.
"Baik, Ren? Ke mana kita akan pergi? Silakan tentukan!" ucap Si Ilmuwan membuat aku terkesiap dari lamunan.
Aku mengerjap. Perangkat virtual reality di depan mataku diaktifkan. Menampilkan sebuah tabel yang menunjukkan kalender, tanggal hari ini. Aku segera memasukkan perintah suara, tanggal yang aku tuju. Tanggal sekian, bulan sekian, dua dekade yang lalu. Hari itu. Hari di mana aku pulang sekolah dengan tubuh penuh luka. Pulang ke rumah lalu hatiku yang terluka. Hari yang tak akan pernah aku lupakan. Kepalaku penuh ambisi untuk segera menuju ke hari itu. Jiwaku seakan membara dalam detik-detik menegangkan ini.
Sistem kecerdasan buatan pada perangkat ini sudah merespon dan mengkonfirmasi tanggal, bulan, dan tahun yang aku masukkan. Tinggal menunggu ilmuwan di panel kendali untuk memulai perjalanan waktunya.
"Baiklah, Ren!" ucap ilmuwan itu. "Menuju ke dua dekade yang lalu. Tiga ... dua ... satu ... mulai!"
Tombol ditekan. Aku mendengar bunyi dengung lembut di sekitarku. Aku merasa aliran tenaga semakin memenuhi diriku dan membuat sekujur badanku menjadi tegang. Rasanya kaku sekali untuk aku gerakkan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba pandanganku berputar. Ribuan hadirin di depan sana menjadi buram, cahaya lampu menjadi redup. Mendadak semua yang aku lihat berputar kencang luar biasa seperti efek kilat dalam video. Lambat laun semuanya pudar hilang digantikan cahaya putih menyilaukan. Semua keriuhan seketika sirna. Berganti suasana kontan hening. Setelah itu tubuhku tiba-tiba ringan. Ringan sekali seperti tak bertulang. Aku melayang-layang di tengah ruang putih penuh cahaya. Mencoba menyeimbangkan diri meski gagal. Aku melihat-lihat ke sekitar. Mencari-cari dengan heran. Mana Jan? Jan tidak ada. Aku tidak bisa melihatnya di mana pun. Aku melayang seorang diri di ruang aneh ini.
Detik selanjutnya, cahaya putih yang menyelimutiku berganti warna. Menjadi warna-warni bagaikan gumpalan asap bomb smoke yang menghalangi pandangan. Aku tak bisa melihat apa-apa selain gumpalan warna-warni di sekelilingku. Aku bingung sekali. Ternyata begini rasa dan sensasinya.
"Ahh,"
Aku terpekik kaget begitu kurasakan tubuhku terhisap ke belakang oleh suatu aliran tenaga yang deras. Tubuhku berputar-putar kencang bagai terjebak di tengah tornado. Menarik diriku ke suatu tempat. Membuat aku jumpalitan di udara sambil berteriak panik sebelum akhirnya jatuh terempas ke sebuah padang rerumputan.
__ADS_1