Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Bersembunyi Lebih Jauh


__ADS_3

Semua keinginan sudah kucapai. Steven sudah sekolah. Kakek Baik sudah hidup enak. Namun, aku merasa ada yang kurang dengan semua ini. Aku bingung kenapa aku masih merasa tidak lengkap. Aku merenung sendiri beberapa hari. Lama aku berpikir akhirnya aku temukan. Baru aku sadari, rasanya selama ini aku bersikap tidak adil. Beberapa minggu yang lalu aku menjemput keluarga Kakek Baik di pemukiman kumuh, membawa mereka menuju kehidupan baru yang mewah. Yang aku lupa adalah bukan cuma mereka yang tinggal di sana. Di pemukiman itu masih ada banyak keluarga yang hidup kekurangan. Bagaimana mungkin aku melupakan mereka?


Jadi, hari ini lagi-lagi aku menghubungi Kaka Danu. Begitu tahu bahwa apa tujuanku, maka Kaka Danu dengan senang hati membantu. Kami segera mendata dan mengumpulkan semua keluarga yang tinggal di pemukiman kumuh itu. Diawali dengan sosialisasi, mengumpulkan mereka semua untuk diajak mengobrol santai agar mereka akrab dan tidak terkejut. Mengobrol ramah mengenai topik-topik ringan. Mencoba membaurkan diri dengan mereka. Setelah itu barulah kusampaikan tujuanku yang sebenarnya, membuat mereka syok dan tidak menyangka sama sekali. Ada yang sempat menolak, tapi akhirnya terima juga. Semuanya terharu dan tidak percaya sampai-sampai menangis histeris. Tak terlukiskan bagaimana melihat kebahagiaan mereka.


Maka setelah mendapat persetujuan, aku menghubungi agen properti kemarin. Memberikan kabar yang benar-benar luar biasa untuk orang itu dan perusahaan properti mereka. Bahwa perumahan mereka yang terdiri dari 25 unit rumah andalan itu aku borong semuanya. Ya, aku tak main-main. Satu unit sudah terlebih dahulu kubeli, yakni rumah yang didiami Kakek Baik dan anak-anak. Sisanya kubeli hari ini juga. Tunai tanpa tawar-menawar. Aku tak tahu bagaimana reaksi mereka mendengar hal itu. Bayangkan properti mereka yang masih fresh dan baru jadi, sudah laku terjual tanpa sisa dengan harga tunai dalam waktu sebulan lebih saja. Pesta besarlah orang-orang perusahaan itu. Akan ada aliran uang besar-besaran yang mengisi kantong mereka. Miliaran rupiah aku habiskan untuk membayar tunai seluruh properti, tanpa ragu. Bahkan sudah mendekati angka triliun baru untuk propertinya saja. Tidak ada sesal sedikitpun untuk menghabiskan uangku sebanyak itu. Aku sudah mantapkan hati, inilah jalan hidupku dan inilah cara terbaik untuk menghabiskan harta kekayaanku.


Jadi, seharian ini aku sibuk mengurus banyak surat-menyurat untuk masing-masing keluarga yang akan menempati rumah yang sudah aku beli. Untungnya semua unit properti di perumahan itu cukup untuk jumlah seluruh keluarga yang akan pindah. Setelah semua selesai, maka ramai-ramai mereka pun pindah untuk menjemput kehidupan baru yang lebih layak. Meninggalkan kemiskinan, dan memulai hidup baru dengan taraf yang lebih baik. Menjelang malam, semua urusan akhirnya terselesaikan. Setiap keluarga sudah menempati rumah mereka masing-masing. Mencoba beradabtasi dengan lingkungan baru.


Sayangnya, aku tak bisa membawa mereka semua ke pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian, dan memesankan perabot rumah seperti pada Keluarga Kakek Baik kemarin. Sebagai gantinya, aku memberikan uang bekal untuk mereka. Masing-masing keluarga kuberikan jatah uang yang bernilai puluhan juta rupiah. Aku berpesan, agar mereka memanfaatkan uang tersebut sebaiknya mungkin. Yakni untuk memenuhi keperluan rumah, kebutuhan keluarga, dan untuk modal mereka membuka usaha. Bukankah mereka harus membuka usaha untuk mendapatkan penghasilan. Itulah yang dapat kulakukan. Semuanya mendapat jatah yang sama. Mereka menangis haru menerima semuanya. Berterima kasih berjuta-juta kali. Bahkan ada yang berlebihan sampai bersujud seakan-akan menyembahku, tapi aku cepat mengingatkan. Tak terkira bagaimana tangis syukur, bahagia, di wajah mereka. Sebuah pemandangan luar biasa yang tak bisa aku lupakan. Tak pernah aku merasa bangga sebangga ini. Bahagia seperti ini karena telah memberikan kebahagiaan pada orang lain. Meskipun harga yang harus kubayar adalah harus menghabiskan lebih dari separuh kekayaanku. Tidak mengapa. Bahkan sebenarnya aku berniat untuk membelanjakan semua uang itu sampai habis. Ratusan triliun rupiah telah menguap menjadi 25 unit rumah mewah beserta perabot mahal sebagai isinya, lengkap dengan senyum-senyum bahagia penghuninya. Maka tidak ada sesal aku melakukan semuanya. Kini hartaku sudah mulai terkuras deras, pemasukan juga tidak ada selama lebih sebulan. Uang di rekening tersisa kurang dari separuh dari jumlah sebelum aku datang ke Nusa Tenggara Timur. Namun, aku tidak merasa rugi. Justru aku merasa lega. Selama ini aku bingung harta sebanyak itu mau diapakan, sekarang aku temukan jawabannya.

__ADS_1


Waktu pun melesat cepat. Empat bulan lamanya aku menetap di sini bersama Steven dan keluarga ceria ini. Tak terasa sudah lama sekali. Waktu berlalu begitu derasnya bagai deburan ombak yang menyambut kami di pagi hari. Aku juga tak lupa untuk memastikan keberadaanku tetap tersembunyi. Aku telah memastikan kepada agen properti, orang-orang di perusahaan mereka, kurir-kurir, pelayan toko, dan siapa saja yang telah berurusan denganku di kota ini agar merahasiakan keberadaanku. Agar mereka jangan bercerita pada orang lain, jangan memberikan informasi tentang keberadaanku, apalagi sampai mengekspos tentang urusan mereka denganku ke sosial media. Dan untuk berjaga-jaga, selama ini aku selalu menggunakan masker ke manapun aku pergi. Aku sudah melakukan banyak hal di kota ini, untungnya aku berhasil menutupi semua agar tidak tercium oleh nyamuk pers alias wartawan. Sejak penerbangan di kotaku kemarin, aku juga sudah mengantisipasi dengan menutup ponsel dan perangkat elektronik milikku dengan semacam selubung agar tidak dapat dilacak. Aku juga memblokir beberapa nomor orang tertentu agar mereka tidak bisa menghubungiku. Semua sosial media tidak ada yang aku buka. Karena aku tahu, aku sedang dicari-cari. Di televisi saja aku melihat banyak sekali berita tentang hilangnya aku sejak acara peluncuran Mesin Waktu. Belum lagi di sosial media, situs berita daring, dan lain sebagainya. Pasti heboh sekali. Menciptakan teka-teki ke mana perginya aku dan apa yang terjadi dengan internal Korp. Masadepan. Aku sendiri tidak tahu bagaimana keadaan perusahaan itu sekarang. Selama empat bulan ini mereka pasti sibuk sekali mencari aku.


***


Awalnya aku tidak punya rencana apa-apa, hanya akan terus bersembunyi di sini bersama keluarga Kakek Baik sampai waktu yang tidak aku tentukan. Namun, lama-lama aku mulai terpikir, apakah mungkin aku akan selama-lamanya di kota ini. Rasanya tak mungkin, aku harus pergi ke tempat lain. Aku bukan seorang yang ahli bersembunyi, jadi lebih baik aku tidak memperpanjang waktu lagi di sini. Memang keceriaan masih terus kudapatkan di tempat ini bersama Steven dan bocah-bocah polos lainnya, tapi aku benar-benar harus pergi untuk alasan yang amat sulit kujelaskan. Dan, perginya aku dari sini bukan untuk kembali ke kotaku—karena aku memang belum mendapat semangat untuk kembali ke sana—melainkan pergi ke tempat lain yang aku rasa lebih aman. Aku masih akan terus bersembunyi sampai entah kapan.


Maka setelah memastikan urusan terkait Kakek Baik sudah diselesaikan sesuai semestinya, aku segera berpamitan dengan mereka. Bercerita secukupnya saja tentang apa yang terjadi denganku, tanpa memberitahu mereka ke mana aku akan pergi. Mereka maklum saja. Jadi, hari itu aku benar-benar memantapkan diri untuk pergi. Selain dengan keluarga Kakek Baik, aku juga berpamitan dengan seluruh penghuni komplek perumahan itu. Hampir seluruhnya terkejut dan sedih begitu tahu aku akan pergi. Mereka berkumpul ramai-ramai di sebuah halaman di komplek itu, masing-masing menyampaikan rasa terima kasih yang tidak ada habisnya atas semua yang aku lakukan. Menyampaikan salam perpisahan yang mengharukan. Mereka bilang, akan mengingat aku selama-lamanya. Mereka menyampaikan banyak sekali ungkapan yang menyentuh hati. Aku hanya berpesan satu hal pada mereka.


"Tolong jaga Kakek Baik dan anak-anak!"

__ADS_1


Maka setelah itu, langkah kepergianku diiringi lambaian tangan, teriakan terima kasih, dan ungkapan kesedihan dan kehilangan mereka atasku yang benar-benar membuat aku tersanjung. Sebelum pergi, Steven sempat menitipkan sesuatu padaku. Anak kecil ini memberikan kenang-kenangan padaku sebagai bentuk terima kasihnya. Benda yang ia berikan adalah sebuah kertas yang terlipat-lipat, aku tahu pasti berisi satu tulisan. Akan tetapi, katanya, nanti-nanti saja aku buka dan baca tulisan itu. Baiklah, aku tersenyum dan akhirnya berlalu. Meninggalkan perumahan penuh kisah dan haru yang telah kulewati sekitar empat bulan.


Aku berangkat dari sana dengan Kaka Danu. Menumpang dengan mobil mewahnya. Kami bertolak dari perumahan di tepi pantai itu menuju Bandara Tardamu. Melewati kawasan kota, alam terbuka, dan pemandangan Pulau Sawu yang otentik. Mengapa aku bersama Kaka Danu? Itulah rahasia kecilnya. Kaka Danu adalah satu-satunya orang yang tahu ke mana aku akan pergi. Aku percaya padanya, karena sejak awal bertemu dia sangat tahu siapa aku. Dia tahu apa yang terjadi di kotaku saat acara peluncuran Mesin Waktu itu berlangsung. Dia tahu bahwa aku menghilang dari kota dan menghebohkan khalayak ramai. Dia memang tidak tahu tentang konflik-ku dengan Pak Roy, tapi dia mengerti bahwa aku sedang ada masalah serius sehingga harus kabur dari Korp. Masadepan dan ingin pergi ke tempat jauh di mana tidak seorang pun akan mengira. Dia sendiri yang menyarankan aku tentang tempat yang harus menjadi pilihanku untuk bersembunyi lebih jauh. Dan kepergianku juga tidak akan menumpang pesawat komersil, melainkan pesawat pribadi miliknya. Dia berbaik hati untuk mengantarkan aku ke tempat tujuan dengan pesawat pribadinya. Ia menjamin tidak akan ada yang tahu. Benar-benar orang yang sempurna: kaya raya, ramah tamah, murah hati, dan ceria.


Maka lewat tengah hari, kami sudah tiba di Bandara Tardamu. Dengan pesawat mewah jenis amfibi—yang bisa mendarat di air—senilai ratusan miliar sudah menunggu di sana, lengkap dengan pilotnya yang pemalu karena terus-menerus menundukkan kepala dan menyembunyikan wajah. Maka kami mulai terbang meninggalkan pulau tersebut. Lepas landas menuju ketinggian di mana pemandangan Pulau Sawu lama-lama semakin kecil dan hilang. Aku pun hilang berselinap di balik awan.


Aku tahu Korp. Masadepan sedang mencari aku, tapi entah kenapa belum ada keinginan aku untuk kembali ke sana. Aku masih perlu banyak waktu untuk menenangkan diri. Empat bulan bersama Steven dan anak-anak memang mendamaikanku, tapi tetap saja setiap malam tidurku tak nyenyak. Masih saja terngiang-ngiang di kepalaku bayangan tentang ayah, Pak Roy, dan kisah pahit yang harus kutelan. Tentang bagaimana kenyataan telah "membunuh" diriku setelah dua dekade. Aku benar-benar belum bisa melupakan atau merelakannya. Tetap saja masih mengganjal di hatiku. Lukanya terlalu parah. Relungnya terlalu sakit. Ke mana harus kucarikan obatnya.


Maka aku pergi, ke tempat yang tidak diketahui siapapun. Tempat paling tersembunyi yang tidak satu pun manusia akan menyangka. Aku lari dari dunia, berharap di sini aku temukan jawaban sebenarnya. Di tempat paling terasing di negeri ini. Sebuah pulau yang tidak tercantum dalam peta.

__ADS_1


__ADS_2