
Penerbangan menuju Sabu Raijua berjalan lancar selama beberapa jam. Kami mendarat di Bandara Tardamu ketika hari menjelang sore. Di sana kami tidak berlama-lama, langsung saja memesan tiket pesawat komersil untuk pulang ke kota.
Kebetulan kami datang bertepatan dengan jadwal penerbangan, jadi kami tidak perlu menunggu lama. Sebelum sore beranjak jadi malam, pesawat kami sudah bertolak menuju angkasa. Berjam-jam lamanya harus kuhabiskan dalam kabin pesawat yang penuh orang asing ini, tak peduli mengantuk ataukah tidak, aku memutuskan untuk tidur. Lebih tepatnya memaksa diri untuk tidur. Untung-untung kalau bisa pulas.
***
Matahari terbit di ujung timur kota. Cahaya naik perlahan, menerobos barisan gedung pencakar langit. Kendaraan berbagai jenis sudah memadati jalanan sedari subuh. Matahari pagi hanya menghangatkan suasananya saja. Di setiap sudut kota, ada semangat baru yang tercipta. Sekelompok orang yang mulai bekerja mencari peruntungan. Di sudut-sudut lain, berbagai macam kehidupan dan perjuangan kembali dimulai. Ada berbagai kisah yang memiliki alur masing-masing, di setiap arah dan penjuru seantero kota yang padatnya bukan main ini. Salah satunya di belahan barat, tepatnya di bandar udara internasional kota. Di mana pesawat yang telah melewati penerbangan berjam-jam akhirnya mendarat. Setelah terbang melintasi gugusan kepulauan sunda kecil menuju pucuk barat pulau Jawa. Sementara matahari naik ke langit, pesawat itu mendarat mulus di bumi. Membawa turun puluhan penumpang dari berbagai macam kalangan, yang dua di antaranya adalah pemuda dengan latar belakang kehidupan yang rumit dan kompleks. Yang tidak lain dan tidak bukan merupakan Jan dan tentu saja aku sendiri.
Kami akhirnya tiba pagi ini. Khusus untuk diriku, ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki lagi di kota tempat kelahiranku ini setelah empat bulan. Setelah berusaha pergi sejauh mungkin, nyatanya takdir menyeret aku kembali ke sini. Kembali hadir di tengah ramainya kehidupan kota, di antara gedung tinggi perkantoran atau bisnis-bisnis yang beranak-pinak. Kembali lagi dengan riuhnya warga metropolitan yang sepanjang hari tiada putusnya.
Ketika matahari mulai naik tinggi, aku dan Jan sudah bertolak meninggalkan bandara. Dengan salah satu mobil mewah milik sahabatku itu. Dan kalau aku perhatikan, mobil yang kutumpangi ini adalah mobil yang tidak biasa. Dari saking banyak koleksi mobil mewah berbagai seri miliknya, yang satu ini adalah yang terfavorit dan istimewa. Chevrolet Camaro ZL1, paling mewah dan gagah dengan warna biru menyala. Konon, mobil itu adalah mobil kesayangannya yang tidak akan direlakannya dibeli oleh siapapun dengan harga semahal apapun, apalagi untuk diledakkan secara cuma-cuma. Jarang sekali terlihat Jan membawa mobil ini keluar, biasanya hanya pada kepentingan khusus dan hal tertentu saja yang membuatnya memilih mobil ini daripada mobil-mobil yang lain. Aku sendiri merasa memang sudah lama sekali tidak melihat mobil ini dibawa keluar. Namun, pagi ini, dengan tampilan tetap mengkilap sangar mobil ini telah membawa aku membelah jalanan kota sejak dari bandar udara. Menuju ... Tunggu sebentar, aku bahkan belum bilang pada Jan minta diantar ke mana. Ia sudah membawaku saja melaju di jalan raya seakan-akan sudah tahu harus membawaku ke mana.
"Jan, ke mana kita?"
"Ke kantor Korp. Masadepan tentunya," jawab Jan sambil terus fokus mengemudi.
"Ke kantor itu?" Aku mengerutkan kening dan menatap bingung.
"Ya, kau harus ke sana. Setidaknya kau temui dulu anggota dan bawahanmu. Mereka menunggumu!"
"Harus?"
"Ya, memangnya kau mau ke mana lagi? Ke rumahmu? Tidak ada yang menunggu di sana, sobat. Dhen juga tidak rindu pada tuannya!"
Aku tertawa hambar. Lalu mau tak mau menyahuti, "Ah, tentu saja."
***
Tidak memakan waktu lama, kami tiba. Mobil mahal milik Jan sudah merapat ke gedung kantor Korp. Masadepan. Menjadi satu-satunya kendaraan yang terparkir dengan mencolok karena tampilannya yang paling mewah dibanding kendaraan lain. Menarik perhatian para staf di lobi yang melihat kedatangan kami. Rata-rata dari mereka langsung tahu siapa yang datang cukup melihat mobil ini dari kejauhan.
Turun dari kendaraan, aku segera menuju pintu depan. Selama beberapa saat, aku hanya berdiri mematung di sana. Memandangi gedung yang sudah empat bulan lamanya kutinggalkan. Karyawan kantor yang melihat aku langsung berseru-seru antusias. Terlihat sekali bagaimana mereka sudah menunggu-nunggu kedatanganku.
Maka aku masuk ke lobi. Menyapa semua karyawan yang menyambutku dengan riang. Semuanya tersenyum lebar, ramah, dan hormat begitu aku datang menyapa. Akan tetapi, aku merasakan ada keanehan, di antara ucapan selamat pagi atau selamat datang kembali, mereka menyapaku dengan panggilan, "Pak Ren," atau "Tn. Ren."
Apa maksudnya? Biasanya selama ini mereka hanya menyapaku dengan Ren saja. Selain itu, pagi ini terlihat siapapun yang aku lewati langsung menundukkan kepala. Mereka semua menghormati aku, tapi rasanya dulu tidak seperti ini. Wajah-wajah antusias itu, senyum ramah, dan sambutan meriah ini, rasanya tidak biasa.
Sepanjang aku berjalan, semua karyawan yang aku temui bersikap sama. Salah satunya adalah Dani, si pemimpin pasukan tempur milik Timsus Anti-Konflik juga hadir di sini. Begitu bertemu, ia langsung menyapa hangat dan menjabat tanganku. Lantas menepuk-nepuk bahuku dengan bangga, seakan-akan aku baru saja menyelesaikan misi yang membawa prestasi yang hebat. Padahal yang aku lakukan justru pergi meninggalkan mereka selama empat bulan tanpa kabar sedikitpun. Sepanjang langkahku yang didampingi Jan, aku mengerutkan kening tak mengerti. Sementara mereka semringah, antusias, gembira, aku justru kebingungan.
Lift berdesis begitu tiba di lantai tujuan, aku dan Jan keluar dari sana. Di koridor lantai tempat di mana ruang kerjaku terletak. Termasuk ruang kerja Pak Roy, tempat yang terakhir kali kutinggalkan dengan emosi meledak-ledak. Baru satu langkah kakiku di koridor tersebut, sudah terdengar bagaimana Hadni tergesa-gesa keluar dari ruangan kerja untuk cepat-cepat menyambutku.
Gadis itu keluar dari balik pintu dengan langkah tak sabar. Sambil berseru-seru antusias, ia menyambutku dengan wajah semringah dan bahagia tak terkira. Saking semangatnya ia, hampir saja ia melompat dan mendekapku. Persis seperti malam kedatanganku membawa pulang Prof. Ram. Namun, untuk kedua kalinya, ia hanya tertahan dan kikuk. Tersenyum malu menyadari tindakannya.
"Maaf, Ren. Aku ... Aku ... Aku rindu!" ucapnya tanpa memandang wajahku.
Jan spontan terkekeh mendengar itu. Spontan pula aku melayangkan pukulan ke bahunya sehingga ia langsung bungkam. Meski bungkamnya itu masih menyimpan geli di hati.
"Maksudku, kami semua menunggumu di sini, Ren. Kamu sangat diperlukan di sini. Tolong jangan pergi lagi!" ucap Hadni kemudian.
"Yah, mungkin benar," jawabku.
"Terima kasih, Ren. Aku senang sekali kamu akhirnya kembali. Semoga kamu sudah mendapatkan semangatmu kembali, jangan bersedih lagi, ya!" ucap Hadni.
"Yah, tenang saja," jawabku.
__ADS_1
"Dan, terima kasih juga untuk anda, Tn. Jan," ucap Hadni pula. "Terima kasih telah menemukan dan membawa Ren kembali ke sini!"
"Sama-sama Nona Hadni," jawab Jan ramah. "Ren adalah sahabatku, aku pastikan ia akan kembali biar sejauh apapun kepergiannya."
"Saya senang mendengarnya," ucap Hadni. "Eh, sebaiknya kita masuk ke ruangan untuk duduk dan bersantai. Kamu juga Ren, kamu pasti kelelahan. Akan aku panggilkan Office-Bot kita untuk membuatkan kalian minuman."
"Yah, itu mungkin lebih baik." Aku mulai melangkah.
"Office-Bot, aku suka teknologi itu. Pesuruh kantor berupa robot. Seharusnya kantorku juga menggunakan jasa robot kalian ini, tapi yah, begitulah." Jan bergumam sepanjang langkahnya.
Kami masuk ke ruangan di kiri koridor. Ruangan kerja tempat aku bertugas. Empat bulan aku tinggalkan, ruangan ini masih sama. Tidak ada perubahan berarti selain meja yang lebih rapi daripada biasanya.
Aku duduk di sofa, di pinggir dinding. Tepat di sisi Jan. Aku bisa saja duduk di meja kerjaku jika aku mau, tapi aku memilih duduk bersisian dengan sahabatku ini. Sementara Hadni masih di luar, menyiapkan Office-Bot, yang mana merupakan Office Boy dalam wujud robot mekanik.
Beberapa saat kemudian, barulah Hadni masuk ke ruangan. Duduk takzim pada sofa di seberang kami. Masuknya Hadni disusul oleh sebuah robot. Itulah dia, robot dengan kecerdasan buatan dan sejumlah fitur menarik. Membawakan dua cangkir minuman hangat untukku dan Jan. Meletakkannya di atas meja di sisi sofa kemudian langsung berlalu keluar.
"Terima kasih!" ucap Jan sopan.
Hadni hanya tersenyum.
"Oh ya, aku bingung," ucapku. "Kenapa orang-orang di bawah terlihat aneh pagi ini, termasuk Dani. Mereka semua kenapa? Ada yang salah dengan diriku? Kenapa mereka tidak seperti biasanya?"
"Aneh bagaimana?" Hadni bertanya balik.
"Mereka lebih ramah dari biasanya, menunduk setiap aku lewat, dan menyapa dengan sapaan 'Pak', biasanya tidak seperti itu, 'kan?"
"Sebenarnya aku tahu, sobat," sela Jan. "Tapi kau tidak bertanya dari tadi."
"Prosedur normal?" Aku mengerutkan kening.
"Ya, prosedur normal bertemu dengan direktur utama perusahaan."
"Hah?" Seketika aku tercengang.
"Iya, kamu adalah direktur sekarang. Pemimpin tertinggi Korp. Masadepan."
"Apa ... Bagaimana bisa begitu?" Mataku mencelang. Bergantian menatap Hadni dan Jan. Mereka justru tersenyum saja melihat wajahku yang bingung.
"Tentu bisa, jabatanmu sebelum ini adalah jabatan paling tinggi nomor dua sebelum direktur. Jadi, begitu Pak Roy turun, tentu pasti kamu yang jadi direktur. Lagipula, tidak ada satupun orang yang protes di kantor ini, semuanya menghormati kamu. Kami bersepakat bahwa kamulah direktur kami selanjutnya."
"Pak Roy turun? Apa maksudnya? Di mana Pak Roy?" Aku melotot. Aku baru saja menyadari, ruangan Pak Roy terlihat sepi. Kalau ia ada di sana, sudah pasti ia yang pertama datang menyambut kedatanganku sekalipun ia tahu aku masih menyimpan amarah mendalam.
"Pak Roy di penjara," jawab Jan cepat, beberapa milidetik sebelum jawaban yang sama keluar dari mulut Hadni.
"Penjara? Siapa yang melaporkannya? Bukankah tidak ada yang tahu tentang masalah kami selain kalian berdua?" cecarku.
Hadni tersenyum tawar. Menjawab, "Pak Roy ... menyerahkan diri ke kantor polisi. Mengakui perbuatannya dua dekade lalu, dan dengan sukarela meninggalkan jabatannya di perusahaan ini. Mewariskannya padamu!"
"Menyerahkan diri?" Aku mengulang kalimat itu dengan rasa tidak percaya.
Hadni mengangguk.
Aku geleng-geleng kepala. Tidak kusangka orang tua itu ternyata benar-benar menyesali perbuatannya. Bahkan ia sudah merelakan jika aku menginginkan nyawanya. Kini aku bimbang dengan perasaanku sendiri. Apakah aku benci? Apa aku memaafkan? Aku tidak mengerti. Meski bagaimanapun, ia tetap ayah angkatku. Ia sudah menebus kesalahan dengan membesarkan aku. Sekarang ia rela melepaskan jabatan dan bahkan mungkin mencoreng nama besarnya untuk menerima konsekuensi hukum. Yang itu artinya ia akan menghabiskan masa tuanya bertahun-tahun di balik jeruji penjara.
__ADS_1
"Ren!"
"Eh?" Aku terkesiap dan mengerjap. "Bagaimana dengan publik? Apakah beritanya sudah tersebar? Kenapa aku tidak mendengar berita apa-apa?"
"Tidak, tidak ada publik yang tahu. Bahkan di perusahaan ini, hanya aku yang tahu," jawab Hadni.
"Hanya kamu?"
"Pak Roy hanya pamit untuk pensiun. Itu yang diketahui orang-orang di dalam maupun di luar perusahaan," jelas Hadni dengan suara lebih pelan.
"Bagaimana dengan penyerahan dirinya?"
"Beliau meminta kepada kepolisian agar kasusnya tidak diangkat ke publik. Jangan sampai tercium awak media. Bukan untuk menutupi kejahatannya, tapi agar tidak merusak nama Korp. Masadepan dan menimbulkan masalah lain yang berpotensi terjadi."
"Tindakan yang tepat," puji Jan. "Aku yakin itu untukmu, sobat. Agar era kepemimpinanmu sekarang tidak mengalami gangguan."
"Tapi bagaimana bisa aku yang jadi direktur? Bahkan aku sendiri tidak pernah bilang 'iya'. Bahkan aku justru bilang 'mengundurkan diri'. Bagaimana bisa semua ini?"
"Ren, aku mengerti keputusan itu kamu ambil karena terbawa emosi. Aku tahu kamu tidak benar-benar ingin meninggalkan perusahaan ini. Percayalah, hanya kamu yang bisa memimpin kami," tutur Hadni.
"Kenapa tidak kamu saja, Hadni?" tanyaku.
"Eh, bukan begitu. Aku ... Aku belum sanggup memikul jabatan besar seperti itu. Aku takut akan salah langkah, melakukan blunder, mengambil keputusan yang salah, atau apalah semacamnya."
"Aku juga," tukasku dengan bersungut.
"Maaf menyela, Nona Hadni," ucap Jan. "Sebenarnya kedatangan saya ke sini sekaligus untuk menyampaikan sesuatu."
"Tidak masalah, Tn. Jan," jawab Hadni. "Sesuatu apakah itu?"
"Begini, Nona Hadni," jelas Jan. "Saya ingin meminta izin untuk menggunakan fasilitas mesin waktu untuk suatu keperluan."
"Ya, itu terserah pada direktur," jawab Hadni.
"Sebelum itu," selaku. "Bagaimana kondisi perusahaan ini setelah kepergianku? Bagaimana acara peluncuran itu? Apakah ada masalah yang terjadi menyusul kejadian itu? Atau sudah ada permintaan untuk produksi mesin waktu untuk didistribusikan?"
"Sebenarnya sudah ada," jawab Hadni. "Beberapa organisasi dan lembaga besar sudah memesan dan juga ada perusahaan yang mengajukan program kerja sama. Hanya saja, produksi belum bisa dimulai sebelum kamu kembali. Jadi, produksi belum dimulai. Dan sebenarnya memang ada sedikit gangguan, tapi sudah diatasi."
"Produksi itu bisa dimulai beberapa hari dari sekarang. Namun, aku ingin menemani Jan menyelesaikan urusannya terlebih dahulu."
"Yah, terserah Bapak Direktur," celetuk Hadni.
"Jangan panggil aku seperti itu, Hadni!" Aku menatapnya sebal.
"Tapi kamu memang direktur-nya sekarang, Ren!"
"Yah, baiklah, baiklah. Sepertinya tidak ada jalan untukku berkelit lagi. Mungkin aku harus menerima ini," tandasku.
Hadni tersenyum puas.
Kusandarkan diri ke sofa yang nyaman itu. Takzim menikmati hening dan sejuknya pendingin ruangan. Meneguk minuman yang tadi dibawakan oleh Office-Bot dan beristirahat selama beberapa menit. Menenangkan diri dari serangkaian hal yang mengejutkan ini.
Bagaimana tidak, lagi-lagi kejutan masih tidak menjauh dari diriku. Pergi empat bulan tanpa kabar, begitu pulang tiba-tiba jadi direktur. Luar biasa sekali. Terdengar rumit dan tidak wajar, aku sendiri hampir tak percaya. Namun, tak mengapa, mungkin inilah jalan takdir selanjutnya untukku. Baik, akan kucoba peruntunganku. Akan tetapi, sebelum urusan direktur, sebelum aku menggeluti kembali segala urusan bisnis, saham, pasar, keuangan, atau sebagainya, ada hal lain yang lebih penting. Sebelum aku memulai lagi karirku, ada urusan yang lebih penting untuk diselesaikan. Orang tua Jan.
__ADS_1