
Aku duduk memandangi barisan gedung yang tingginya seakan-akan ingin menyentuh langit. Di depan sana, mereka menjulang gagah perkasa. Aku duduk takzim. Memandang suasana malam di kota yang penuh bising ini. Untung saja suara bising di bawah sana tidak sampai ke puncak gedung puluhan lantai ini, tempat aku berada saat ini. Kota ini sangat berwarna di malam hari, lampu-lampu bangunan membuat meriah pemandangan. Sementara di langit, bulan purnama sedang berkuasa tanpa satu pun bintang yang menyaingi. Aku beranjak berdiri. Oleh karena pemandangan terhadap rembulan itu terhalang beberapa gedung yang berdiri rapat, aku terpaksa bergeser dari tempat semula duduk. Beralih posisi untuk menatap benda langit yang begitu indah itu pada posisi yang lebih nyaman. Aku berdiri di pinggir gedung, mendongak ke langit. Saat itu embusan angin malam perlahan-lahan membelai leherku yang gerah dan berkeringat. Aku tersenyum simpul. Suasana ini benar-benar mendamaikan. Aku menikmati setiap detik ketenangan ini, setiap keindahan yang telah alam sajikan. Embus angin berganti desir, tiupannya bertambah kencang. Aku dapat merasakan hawa sejuknya dari tubuhku yang dibalut pakaian santai. Malam ini aku tak sedang mengenakan pakaian formal, atau setelan kerja yang rapi. Melainkan setelan santai kesukaanku, dengan jaket bomber warna sien lengkap dengan tudung kepala, serta celana biru gelap. Aku sedang beristirahat dari kesibukan, menatap layar malam dengan potret keindahannya. Berharap segala penat fisik dan hati dapat terusir oleh pemandangan kota yang penuh cahaya serta bulan purnama di angkasa. Sunyi senyap melengkapi suasanaku. Aku menarik napas dalam-dalam, lantas melepaskannya. Udara malam ini benar-benar segar.
"Renato!" panggil seseorang tiba-tiba.
Aku terkesiap. Dengan spontan berbalik badan. Selanjutnya, aku tertegun seketika. Terpaku di tempat, dengan wajah terperangah melihat siapa yang datang di belakangku. Suaraku mendadak tercekat di tenggorokan tak sanggup lagi berteriak kaget.
Pria di hadapanku itu tersenyum simpul. Berusia paruh baya. Dengan tubuh yang terlihat lemah, serta wajah yang terlihat renta dan lelah. Rautnya menyiratkan kesedihan. Wajah itu tidak pernah asing. Tatapannya yang meneduhkan hatiku. Lirikan mata yang kurindukan, yang sudah lama tak kulihat. Terakhir kali adalah dua dekade yang lalu. Aku serasa tak percaya dapat menatap wajah itu lagi.
"A ... Ayah?" Mataku mulai mengalirkan airnya tak tahu kenapa. Dadaku terasa panas. Tiba-tiba saja aku tak mampu menahan gejolak rasa untuk menumpahkan segalanya. Air mataku terus mengucur. Sementara mulut tak dapat berkata-kata. Ayahku di depan sana sedang menatap dengan wajah dan senyum menghibur. Namun, dari segala bentuk raut ramahnya, aku menangkap kesedihan dan penyesalan.
"Nak, maafkan ayah, ya!" ucapnya kemudian. Suaranya serak. Seperti sulit sekali untuknya mengeluarkan suara.
"A ... Ayah!" Aku mengulang kata tersebut. Hanya itu yang mampu keluar dari mulutku. Sekujur tubuh ini gemetar hebat, hilang kuasa diriku ini. Dua kali, tiga kali, empat kali, aku hanya mampu terus mengulang memanggil-manggilnya. Sisanya aku membisu dengan air mata tak kunjung berhenti berderai. Kedua kaki seakan dipaku ke lantai, berat sekali untuk kulangkahkan menghampiri sosok itu. Padahal ingin sekali kurangkul kupeluk erat-erat dirinya, tapi aku tak mampu.
"Maafkan ayah, Nak!" ucapnya pula. "Maafkan ayah jika ayah tak punya waktu untukmu!"
"A ... Ayah?"
"Ayah tahu kamu rindu dengan kasih sayang, tapi maafkan ayah, ayah tidak bisa temani kamu!"
"A ... Ayah ... Ayah ..." Suaraku putus-putus.
"Kamu harus mengerti, Nak!"
Aku membisu di tempatku. Tak mampu bergerak bagaikan sebuah patung. Mataku melirik wajah itu, semakin lama kelihatan semakin pucat dan menyedihkan.
"Nak, kamu harus tahu bahwa ayah hanya ...."
Dorr!
Sebuah tembakan entah datang darimana mendadak muncul membungkam ayahku. Memutus kata-katanya. Tidak terlihat peluru atau benda apapun yang menerjang kepalanya, namun perlahan-lahan tubuh rentanya hilang keseimbangan, lemas dan berangsur jatuh.
Aku sendiri langsung melotot, kedua mataku seperti mau meloncat dari tempatnya. Kali ini aku benar-benar berteriak histeris tak tertahankan lagi dan tak terkendali.
"Ayaaaaaaaah ...." Dalam teriakan pilu itu aku langsung berlari mendatangi tubuh ayahku. Menangkap tubuh itu sebelum jatuh terempas. Aku berhasil, tubuh ayahku kini terbaring di dekapanku. Aku berteriak lagi. Tubuh itu terkulai lemah dan tak bisa apa-apa. Mulut dan matanya tertutup. Wajahnya begitu menyedihkan. Aku tak mampu menahan diri, air mataku bercucuran semakin deras. Dalam suara payat, aku mengulang-ulang memanggilnya.
Perlahan-lahan tubuh ayahku itu kuturunkan. Coba kubaringkan baik-baik ke lantai. Akan tetapi, belum sempat menyentuh lantai, tiba-tiba tubuh itu hilang memudar menjadi gumpalan asap perlahan demi perlahan. Melayang ke udara. Sirna begitu saja di depan mataku. Aku melotot lagi. Dengan pahit aku mengais-ngais udara, mencoba menangkap sisa-sisa asap yang tertiup angin. Namun sia-sia, tanganku hanya menangkap kehampaan.
__ADS_1
"Ayaaaaaaaaaaah ...," Aku berteriak sekencang-kencangnya sampai habis suaraku.
***
"Ayaaaaaaah ...."
"Ren, bangunlah!"
"Hah? Apa? Ayah? ... Ayah ...." Aku meracau-racau dengan tubuh yang beronta-ronta di kursi tempat aku tertidur. Jan di depan langsung menangkap tubuhku, menenangkan dan menahan gerakanku. Dalam kejut itu mataku terbuka, aku pun terbangun. Terlempar kembali ke alam nyata, keluar dari mimpiku yang menyakitkan. Mataku mengerjap silau beberapa kali menatap langit-langit kabin pesawat yang terang.
"Ren, ada apa? Kau mimpi buruk?" tanya Jan melihat wajahku yang suram.
"Hmm, aku mimpi bertemu ayah," jawabku sambil bangkit berdiri. Menggeliat beberapa kali.
"Oh, bersabarlah, Ren! Ingat, tidak lama lagi kita akan mengungkap semuanya. Aku tahu kau Renato yang kuat, sobat!" ucap Jan mencoba menghibur.
Aku tersenyum ramah. Menjawab, "Terima kasih, Jan. Aku tidak apa-apa!"
Setelah itu aku beranjak ke kabin belakang. Menuju kamar mandi untuk membasuh wajah, menyegarkan diri. Berdiri menatap wajah senduku di cermin, sejenak tenggelam dalam banyak pikiran. Aku menghela napas tipis, kemudian berlalu meninggalkan ruang sempit itu.
"Sebentar lagi kita sampai!" ucap Jan begitu aku mendaratkan tubuh, duduk di sisinya.
"Kau tidak tidur, Jan?"
"Tidak juga, aku sudah tidur tadi," jawab Jan. "Tapi hanya sebentar, paling hanya dua atau tiga jam. Sisanya aku terbangun dan kehilangan rasa kantuk. Tidak bisa tidur lagi. Meski sebenarnya tadi itu hampir saja aku terlelap lagi, hanya saja aku terperanjat karena kau tiba-tiba berteriak histeris."
"Aku mimpi buruk tentang ayah," jelasku. "Aku bingung sekali. Saat itu aku berdiri di puncak gedung, ayah datang di belakang. Ia tak sempat bicara banyak, tiba-tiba saja terdengar tembakan dan ia langsung tumbang. Saat kutangkap tubuhnya, mendadaknya pudar menghilang. Aku benar-benar panik."
Jan terdiam. Ia bingung mau menanggapi bagaimana. Hanya menatap kasihan padaku.
"Tidak mengapa," ucapku kemudian. "Itu hanya mimpi. Aku maklum saja, pasti karena aku terlalu kepikiran selama beberapa hari ini."
"Yah, kurasa juga begitu."
Setelah itu hening. Beberapa menit berlalu senyap dalam kabin penumpang yang mewah, tapi malam ini dipenuhi suasana muram. Aku dan Jan saling diam, tak memiliki topik lain lagi untuk dibincangkan, sampai penerbangan kami tiba di penghujungnya.
Pesawat yang kami tumpangi akhirnya mendarat di bandara kota. Setelah melewati penerbangan selama berjam-jam lamanya, akhirnya kami tiba juga. Pesawat kepolisian CN295 mendarat mulus di landasan. Suasana di bandara saat itu masih sama seperti saat kami berangkat kemarin malam, sunyi dan sepi sekali.
__ADS_1
"Baiklah, kita sampai!" Jan berdahulu bangkit dari kedudukan begitu badan pesawat sudah sempurna berhenti. Kulihat ke belakang, Koh Shung sudah terbangun.
Maka satu per satu kami keluar dari kabin pesawat. Aku dan Prof. Ram berdahulu, sementara Jan mengawasi Koh Shung yang melangkah tertatih-tatih.
Di depan pintu pesawat, sudah menunggu tiga unit mobil beserta beberapa orang berpakaian rapi. Ketiga mobil beserta beberapa orang di sana menyambut kami dengan ramah.
Mobil pertama, sebuah sedan hitam mahal dengan dua orang pengawal berpakaian hitam bersenjata lengkap. Masing-masing senjata teracung siaga. Di depannya, berdiri tegap penuh wibawa pemimpin pasukan itu. Dani. Pemimpin pasukan Tim Algojo yang dimiliki Korp. Masadepan. Mereka pasti dikirim dari kantor untuk menjemputku.
Mobil kedua, adalah mobil polisi. Beberapa orang petugas polisi berseragam berloncatan keluar dari dalam mobil tersebut menyambut kami. Mereka pasti adalah perwakilan dari kantor kepolisian untuk menjemput Jan, sahabatku.
Mobil terakhir, adalah sebuah sedan putih keluaran lama. Yang keluar dari dalam mobil tersebut adalah seorang perempuan tua bersama seorang remaja berusia belasan tahun. Keduanya adalah istri dan anak sulung Prof. Ram. Terlihat raut sedih dan lega di wajah mereka begitu melihat Prof. Ram muncul dari balik pintu pesawat. Begitu turun pun, mereka langsung berpelukan penuh haru. Sebuah pemandangan yang menganggu hatiku.
Aku sendiri langsung berjabat tangan dengan Dani begitu turun.
"Anda baik-baik saja, Pak?"
Aku mengangguk mantap.
"Luar biasa sekali, lega sekali saya akhirnya Prof. Ram berhasil selamat." Dani terlihat antusias. Kemudian ia beralih menghampiri Prof. Ram. Berjabat tangan dan menyapanya penuh hangat.
Aku tersenyum lepas menatap pemandangan ini. Senang sekali melihat semua orang tersenyum gembira. Menghela napas lega.
"Ren," panggil Jan. Ia berdiri di depan pintu mobil anak buahnya, menatapku penuh bangga. Sambil mengangkat tinju ke udara, ia berkata, "Sampai jumpa!"
"Terima kasih atas semua bantuanmu, sobat!" ucapku. "Kau yang paling berperanguh untuk keberhasilan kita!"
Jan tersenyum. Menjawab, "Aku senang melakukan pekerjaanku, sobat. Aku merasa bangga bisa melaksanakan misi, dan bertarung bersisian denganmu. Terima kasih juga untukmu. Lain kali kalau ada misi seru seperti ini, jangan lupa mengajakku!"
Aku balas tersenyum dan mengangguk takzim. Lalu meniru gayanya dengan mengangkat tinju ke udara, "Dengan senang hati, sobat!"
Setelah itu Jan masuk ke mobilnya. Di sisi lain, Koh Shung sedang digiring oleh anak buah Jan untuk masuk ke dalam mobil, untuk dibawa ke kantor kepolisian. Maka setelah Koh Shung di dalam, Jan sendiri yang mengemudikan mobilnya. Segera melaju meninggalkan area bandara.
Aku sendiri pun segera masuk ke kendaraanku sendiri. Sedan hitam tadi. Maka setelah berpamitan dengan Prof. Ram dan Kapten Arief, kami pun segera berangkat. Dani menyetir sedan ini, aku duduk di sampingnya. Sementara dua pengawal bersenjata siaga di kursi belakang.
"Ke mana kita?" tanya Dani.
Aku menoleh sekilas ke arah kompleks bandara di belakang. Lalu menjawab, "Kantor!"
__ADS_1