Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Dendam yang Belum Selesai


__ADS_3

Penerbangan itu berlangsung lama. Terlalu lama untuk dilalui tanpa tidur. Akan sangat panjang dan membosankan. Jan saja sudah terlelap di sampingku, tapi aku justru tidak bisa mengantuk. Bosan, serasa seorang diri. Memandang hampa ke seluruh kabin pesawat yang sunyi ini. Sunyi di dalam, apalagi langit malam di luar sana.


Maka aku merogoh kantong, mengeluarkan ponsel. Memutuskan untuk memeriksa deretan surel-surel yang masuk, yang tak sempat aku baca. Salah satunya datang dari Hadni. Segera aku buka surel tersebut. Surel yang melampirkan dokumen hasil analisis data yang dilakukan Hadni, tentang perusahaan dan organisasi yang sempat terlibat masalah dengan kami.


Aku meneliti, banyak sekali daftarnya dalam kurun waktu lima tahun. Maka aku mempersempit pencarian menjadi dalam waktu tahun ini saja. Bulan-bulan ini. Dari daftar panjang yang aku lihat, ada satu perusahaan yang disorot di situ. Bertengger di kolom paling atas sebagai perusahaan yang tercatat mengalami kerugian sangat besar. Bukan, bukan lagi kerugian. Perusahaan itu saat ini sudah tidak ada lagi, alias bangkrut dan ditutup.


Perusahaan itu bernama PT. Jarilangit. Dipimpin oleh seorang pebisnis seusia Pak Roy, bernama Sam Soetadji. PT. Jarilangit itu sendiri adalah sebuah perusahaan yang merupakan musuh bebuyutan kami sejak lama. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang produksi teknologi elektronik, persis seperti perusahaan kami. Namun, mereka tidak memiliki cabang pengembangan teknologi mutakir seperti kami, mereka hanya fokus dalam memproduksi dan pemasaran. Jadi tentu saja kami lebih unggul dalam persaingan ketat di pasar dunia. Strategi pemasaran mereka adalah penawaran produk yang lebih murah dibanding produk keluaran kami. Akan tetapi, selama berbulan-bulan, nyatanya produk kami yang notabene termutakirkan dengan teknologi canggih lebih menguasai pemasaran. Mereka kalah bersaing. Permintaan pasar lebih tinggi untuk produk keluaran kami yang sangat canggih dan memudahkan banyak pekerjaan. Lama-kelamaan mereka mulai mengalami kerugian, omzetnya terus menurun pesat. Grafik sahamnya jatuh. Mereka terus bertahan di masa sulit itu. Masalahnya, pimpinan mereka, Sam Soetadji, memutuskan untuk menggunakan cara kotor. Mereka menyewa pasukan kriminal bayaran untuk menyerang perusahaan kami. Serangan itu berhasil membuat kekacauan di sektor produksi kami, sehingga kegiatan produksi itu terganggu selama beberapa minggu. Cukup membuat grafik pemasaran menurun dan membuat banyak kerugian. Bahkan yang parah, salah satu mitra perusahaan menghentikan hubungan kerja sama karena kerugian tinggi. Sementara itu PT. Jarilangit berpesta, dan mulai membangun lagi kejayaannya di tengah masa-masa sulit untuk kami. Menguasi pasar menggantikan kami.

__ADS_1


Jelas sekali hal seperti itu tidak dapat kami terima. Kami perlu membuat perhitungan dan memberi mereka sedikit pelajaran. Maka untuk membalas perbuatan mereka itu, aku yang turun tangan. Dengan segala macam trik dan taktik yang aku mainkan, aku berhasil menganggu stabilitas pasar mereka. Kekuasaan mereka tidak sempat berlangsung lama. Aksiku mendatangkan banyak perkara dalam perusahaan itu, baik eksternal dan internal. Salah satu perkara internal adalah di kantor pusat mereka yang jadi bermasalah, karena salah satu anggota staf penting mereka mengundurkan diri. Kemudian efek domino pun terjadi, hal tersebut menjadi motivasi dan ditiru banyak karyawan dan teknisi lain yang memang sudah lama tidak betah bekerja di sana. Satu per satu karyawan akhirnya mundur dari sana bagaikan domino yang jatuh susul-menyusul. Perusahaan besar itu lama-kelamaan kehilangan pilar-pilar pentingnya satu per satu. Sebenarnya mereka hampir saja terselamatkan oleh para investor dan perusahaan lain yang tertarik bermitra, tapi aku tidak tinggal diam. Aku bergerak cepat sebelum terlambat, untuk merebut bidak penting itu. Maka setelah beberapa kali pertemuan dan jurus negosiasiku, aku berhasil membelokkan arah para investor dan perusahaan-perusahaan itu. Mereka semua beralih ke arah kami, memutuskan untuk menjalin hubungan kerja sama dengan Korp. Masadepan, alih-alih PT. Jarilangit. Sementara rival kami itu menjadi semakin kacau. Sam Soetadji kewalahan menangani permasalahan yang semakin beranak-pinak itu. Semakin hari, omzet mereka semakin anjlok. Jatuh drastis. Satu per satu mitra memutuskan hubungan. Menyisakan perusahaan yang merugi dan menyimpan banyak hutang pada para pemegang saham. Oleh karena hutang perusahaan yang banyak dan tak sanggup ditutupi. Akhirnya perusahaan itu bangkrut, dan ditutup. Jarilangit yang perkasa itu akhirnya jatuh, setelah serangkaian aksiku yang bermain trik di belakang layar. Seperti Jan yang meruntuhkan organisasi mafia, begitulah cara aku bekerja. Berkat kerjaku itu, aku mendapat banyak sekali penghargaan. Dan di situlah pertama kalinya Pak Roy menawarkan aku untuk naik sebagai direktur.


Namun, di samping itu semua, aku tahu sekali bahwa aksi yang aku lakukan itu akan melahirkan dendam. Dan dendam itu tidak akan berhenti hanya karena tutupnya perusahaan. Memang aku tak tahu bagaimana nasib Sam Soetadji, pemilik bisnis itu, setelah perusahaannya tutup. Tidak juga mendengar berita apapun tentangnya lagi. Entah dia menjadi gila atau bagaimana setelah kolapsnya perusahaan itu, aku sama sekali tidak tahu. Namun, aku yakin, dia menyimpan dendam mendalam pada Korp. Masadepan, terutama padaku.


Jadi tidak heran jika banyak bahaya yang mengancam hidupku. Dan benar saja, salah satu buktinya adalah suatu waktu aku hampir saja tewas karena diserang oleh orang tak dikenal. Orang itu bukan saja menyerang secara brutal, tapi ingin membunuhku. Untung saja aku hobi bela diri sejak kecil, jadi aku mampu melawan lalu berbalik menaklukkannya. Orang itu aku serahkan kepada pihak berwajib. Belakangan aku ketahui, bahwa orang itu adalah seorang pembunuh bayaran yang sudah lama menjadi buron. Saat diinterogasi oleh kepolisian, pembunuh bayaran itu mengaku bahwa ia disewa oleh seorang pebisnis bernama Sandro Jaya, tapi ia tidak diberitahu mengapa orang itu ingin membunuhku. Polisi mencoba melacak dan memburu keberadaan pebisnis yang bernama Sandro Jaya itu. Sayangnya, sampai saat ini tidak pernah ditemukan. Aku sendiri tidak pernah mendengar nama Sandro Jaya dalam dunia bisnis. Aku meyakini Sandro Jaya hanyalah tokoh fiktif, identitas palsu atau penyamaran dari orang sebenarnya yang menyewa pembunuh bayaran itu untuk membunuhku. Sampai saat ini pun aku tak juga mendapat informasi yang pasti dan jelas. Namun, aku sangat yakin, bahwa Sam Soetadji-lah orang yang berada di balik semua ini. Dia yang jelas-jelas punya motivasi untuk membunuhku.


Setelah membaca dan mendalami data tersebut, aku jadi berpikir, apakah mungkin serangan misterius terhadap laboratorium kami dan penculikan Prof. Ram Ranayuda didalangi oleh Sam Soetadji dan orang-orang bekas PT. Jarilangit, sebagai bentuk dari dendam itu? Sisa dendam yang belum selesai. Karena jika terus begini keadaannya, dan proyek mesin waktu itu mengalami kegagalan, maka dapat aku pastikan Korp. Masadepan akan hancur. Kerugian yang dialami akan mencapai angka yang berkali-kali lipat lebih tinggi dibandingkan nilai kerugian PT. Jarilangit kemarin. Satu per satu mitra perusahaan akan memutuskan hubungan. Hutang akan bertumpuk dan mencekik perusahaan ini. Akan terjadi kekacauan internal terkait staf dan teknisi. Sama persis seperti yang terjadi pada PT. Jarilangit kala itu. Lama-kelaman kami akan mengalami kesulitan finansial, jatuhnya saham dan turunnya grafik pemasaran. Bahkan untuk menggaji karyawan saja mungkin saja akan tidak cukup lagi. Maka perlahan-lahan Korp. Masadepan akan mengalami kolaps. Runtuh. Mengerikan sekali. Hal yang tidak akan pernah aku biarkan terjadi. Namun, hal itu telah membuat aku berpikir, bahwa sangat masuk akal jika orang-orang dari bekas PT. Jarilangit dahulu yang berada di balik penyerangan laboratorium itu. Karena itu akan menjadi ajang balas dendam paling tepat, telak, dan benar-benar akurat. Terutama untuk Sam Soetadji, bekas direkturnya itu, akan menjadi pesta kemenangan untuknya jika Korp. Masadepan bangkrut.

__ADS_1


Aku sangat mengerti resiko ini. Dunia bisnis telah berevolusi selama bertahun-tahun. Persaingan dengan cara seperti ini tidak bisa dihindarkan. Juga bukan lagi hal yang mengherankan. Bukan hanya rivalitas antara Korp. Masadepan dan PT. Jarilangit saja, tapi perusahaan-perusahaan kelas dunia di berbagai penjuru bumi juga mengalami hal yang sama. Persaingan yang sama, berikut dengan cara-cara kotor yang juga bermain di belakangnya. Hal seperti ini tidak lagi sesuatu yang aneh. Persaingan bisnis yang berlanjut menjadi dendam sudah menjadi hal lumrah. Dan ketika dendam sudah berakar, maka resiko selanjutnya akan menimbulkan banyak kerugian yang tidak dapat dielakkan. Ambisi yang gagal dan dendam yang belum selesai, adalah kekuatan besar yang dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan apapun, untuk menyelesaikan tujuannya. Dan di situlah mata tidak dapat melihat lagi mana yang baik atau yang buruk. Bukan hanya dalam ruang lingkup dunia bisnis, tapi semua bidang lain dalam kehidupan memiliki masalah seperti ini. Dendam kesumat yang membuat manusia lupa diri. Apalagi kalau sudah mencapai skala besar seperti sekarang ini, hanya karena dendam yang belum selesai dan masih disimpan, banyak nyawa yang harus dikorbankan.


Akan tetapi, aku merenung lagi untuk hal lain. Sejauh ini dalam pencarian kami, tidak ada indikasi apapun yang mengarah pada PT. Jarilangit atau orang-orang yang terkait dengan perusahaan tersebut. Yang ada adalah, penyerangan laboratorium oleh pasukan misterius ternyata didalangi oleh Gedung Lantai Hijau, dan Prof. Ram Ranayuda diculik dan dibawa ke Nusa Tenggara Timur oleh Tengkorak Hitam. Kedua-duanya tidak memiliki hubungan apapun dengan PT. Jarilangit. Bagaimana pula mereka mau menjalin hubungan kerja sama sedangkan PT. Jarilangit sudah lama menjadi perusahaan yang tinggal nama. Jadi, bagaimana mungkin Sam Soetadji atau siapapun yang berada bersamanya, bisa mengirim pasukan bersenjata untuk menyerang laboratorium kami lalu menculik ilmuwan kunci yang paling penting dalam proyek kami? Hal itu membuat aku menjadi sangsi pada asumsi awalku tadi. Ragu bahwa PT. Jarilangit berada dibalik semua ini. Rasanya tidak mungkin. Mereka memang punya motivasi kuat dan jelas, tapi mereka tak mungkin punya kekuatan untuk melakukannya, ditambah pula tidak adanya bukti yang mengarah pada mereka. Tidak ada sedikit pun. Namun di sisi lain, baik Gedung Lantai Hijau maupun Tengkorak Hitam, juga belum aku ketahui motivasi dan alasan mereka menyerang kami.


Atau mungkin perusahaan lain? Entahlah. Aku merenung lagi. Tidak mungkin, perusahaan lain jelas tidak ingin mengambil keputusan berisiko untuk cari masalah dengan kami. Mereka tidak bodoh. Belajar dari apa yang dialami oleh PT. Jarilangit, sudah pasti mereka tidak mau salah langkah dan sampai mengalami nasib yang sama.


Aku meletakkan ponsel dan menyandarkan diri. Menghela napas panjang. Menenangkan tubuhku yang letih, tapi lebih letih lagi otak yang berpikir keras seperti ini. Itulah mengapa aku lebih suka turun ke lapangan dan beradu argumen atau bertarung, alih-alih duduk di kantor untuk memikirkan banyak sekali keputusan penting.

__ADS_1


__ADS_2