Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Kembali ke Tujuan


__ADS_3

Ini benar-benar tidak masuk akal. Aku mengatur tanggal tujuan pada hari kelahiran Jan, di mana merupakan beberapa bulan sebelum kelahiranku. Akan tetapi, ibuku saja tadi sama sekali tidak terlihat sedang mengandung. Dan bagaimana mungkin hubungannya dengan ayahku berakhir? Apakah semudah itu? Tentu tidak. Dan tambah lagi kata-kata "lupakan saja pernikahan!" yang diucapkan ibuku tadi, tentu memberitahu kami bahwa artinya mereka belum menikah. Belum menikah? Tapi bagaimana mungkin? Ada yang aneh dengan hal ini, lagi-lagi.


Aku berpikir lama. Menatap suasana sekitar dalam waktu yang berhenti. Jan pun turut bingung. Hingga akhirnya aku sadar sesuatu. Bahwa aku telah membuat kesalahan. Kesalahan sederhana yang menjawab semua keanehan ini.


"Ya ampun!" Aku menepuk kening setelah menatap layar kendali yang menyala di depan mata. Geleng-geleng sendiri.


"Kenapa?" tanya Jan.


"Ternyata aku salah mengatur waktu!" jawabku.


"Hah? Bagaimana maksudnya?"


"Tadi, sebelum kita berangkat, aku salah memasukkan tahun. Aku terlalu buru-buru dan kurang fokus. Kita sampai di tahun yang salah. Ini bukan tahun kelahiran kita, melainkan satu tahun sebelumnya."


"Ya ampun, Ren, benarkah? Itu artinya kita mundur 31 tahun, 'kan?" sambut Jan dengan raut setengah tak percaya. "Setidaknya itu cukup menjelaskan kenapa ayah dan ibumu belum menikah."


"Ya, pastinya begitu. Namun, apa menurutmu yang barusan tadi tidak terlihat aneh? Hubungan ayah dan ibuku berakhir, mustahil, 'kan?"


"Kurasa sebaiknya kau lanjutkan lagi waktu dan kita lihat apa yang selanjutnya terjadi," ujar Jan.


"Tentu saja!" Aku membuka panel kendali. Menekan tombol. Tik. Maka waktu berlanjut.


Ayahku yang tadi mematung kini bergerak. Ibuku juga berjalan menjauh di pinggir jalan raya. Suasana sekitar kembali sediakala.


Aku dan Jan takzim menonton di tempat kami. Menyaksikan bagaimana ayahku berdiri dengan rasa hampa menatap punggung ibuku yang semakin jauh. Lama kelamaan, wajah itu terlihat pilu jua. Usai menghela napas panjang yang mungkin artinya merelakan, ayahku balik badan. Berangsur masuk ke dalam rumah dengan langkah kecewa.


Aku garuk-garuk kepala. Potongan kisah ini begitu unik hingga membuat aku penasaran akan lanjutannya.


Dan yang terjadi selanjutnya benar-benar tidak aku sangka. Baru beberapa langkah ayahku di dalam rumah, ibuku kembali. Itu dia. Dari tadi aku hanya fokus memerhatikan ayah, sampai aku tidak sadar bahwa ibuku yang tadi pergi menjauh kini berbalik arah dan datang kembali. Ya, benar-benar datang kembali. Wanita yang kelak melahirkanku itu berdiri di depan pintu dan memanggil ayahku dengan nada yang terdengar tidak biasa.

__ADS_1


Ayahku segera keluar. Menyambut dengan senyum ramah, seakan-akan sudah tahu itu akan terjadi. Sedikitpun tidak ada sinisme atau penolakan. Begitu ia melewati pintu, maka ibuku langsung memeluknya. Erat. Memeluk dengan penuh penyesalan.


"Maafkan aku, Tan!" ucapnya. "Aku tidak pernah berniat mengakhiri hubungan kita, aku ... aku terbawa emosi."


"Aku mengerti, Liani," jawab ayahku dengan lemah lembut, masih dalam dekapan itu. "Aku mengerti perasaanmu, untuk itu aku minta maaf atas kesibukanku belakangan ini."


"Aku juga minta maaf, Tan. Aku terlalu menuntutmu macam-macam. Aku mencintaimu, sungguh. Aku tidak mau kehilanganmu."


"Terima kasih untuk itu, Liani. Aku tahu sekedar minta maaf mungkin tidak cukup," ucap ayahku.


"Maksudmu?" Ibuku melepaskan pelukannya. Terlihat kaca-kaca menghiasi kedua bola matanya.


"Aku tidak berjanji untuk selalu ada," jawab ayahku. "Tapi aku akan berusaha untuk menyempatkan waktu bersamamu. Untuk hari ini, sebenarnya aku masih ada urusan dengan pekerjaanku. Dan aku telah mengambil keputusan untukmu, sekarang juga akan aku tunda urusan itu dan kita akan pergi bersama."


"Sungguh?"


"Tan!" Ibuku langsung mendekap erat lagi lelaki yang dicintainya itu. "Apakah kamu tidak marah atau kesal dengan tindakan dan kata-kataku yang tadi?"


"Hmm, kesal itu ada, tapi aku tidak ingin memperlihatkannya. Aku tahu hatiku tidak terima, tapi aku harus menghormati keputusanmu. Karena aku percaya bahwa jalan terbaik atas segala sesuatu adalah ikhlas dan bersabar. Aku memang takut kehilanganmu, tapi kalau takdir harus begitu, aku tak bisa protes. Jadi, aku pasrah pada segala ketentuan. Dan inilah ketentuannya, kamu kembali. Dan kita akan kembali ke tujuan, yakni pernikahan."


"Kamu memang laki-laki yang bijak, Tan!" puji ibuku. "Kuharap anak kita nanti akan sebijak dan secerdas dirimu."


Tik. Aku menghentikan lagi waktu. Ayah dan ibuku berhenti bergerak dalam posisi berpelukan penuh kasih. Dengan masing-masing senyum menghiasi wajah.


Aku menghela napas panjang. Sebuah pemandangan yang benar-benar indah. Jika rinduku adalah padang pasir yang gersang, maka pemandangan ini adalah hujan deras berkepanjangan. Aku rindu ayahku, ibuku, dan suasana seperti ini. Betapa campur aduk isi hatiku. Antara haru, sedih, rindu, senang, dan sekelumit rasa yang tak mampu kugambarkan. Tentang bagaimana akhirnya aku bisa melihat ibuku, dan wajah cantiknya, serta senyum manisnya. Benar-benar persis seperti yang aku pinta bertahun-tahun lamanya. Setelah 30 tahun aku hidup di dunia, akhirnya kudapatkan kesempatan ini. Wajah itu, suara itu, akhirnya aku melihat dan mendengarnya. Ibuku, wanita manis yang mengorbankan nyawanya untukku.


Kini kutatap wajahnya penuh haru. Mahakarya Tuhan yang sempurna. Wajah cantiknya. Raut menggemaskan. Dan, senyuman manisnya. Senyum itu, senyuman yang benar-benar ingin terus kupandang. Senyuman yang ... tunggu, kenapa aku merasa pernah melihatnya? Senyuman yang mendamaikan, tapi siapa? Lantas perasaan apa ini? Senyuman itu seperti pernah kulihat dengan jelas. Siapa? Siapa yang sedang coba kuingat-ingat ini. Senyum yang mendamaikan. Aku berusaha keras mengingat. Senyuman. Manis. Mendamaikan. Hingga muncullah satu nama dalam otakku.


Hadni. Ah, benar sekali, Hadni. Itu dia jawabannya. Gadis itu. Gadis yang aku penuh pertanyaan tentangnya. Dan ini dia jawaban selama ini mengapa aku selalu merasa damai menatap senyum Hadni. Mengapa aku selalu senang menikmati senyum manisnya. Mengapa senyuman itu benar-benar memikat dan selalu mengingatkanku pada seseorang. Itu semua karena, senyuman Hadni dan senyuman ibuku serupa. Benar-benar identik, dan sama manisnya. Tidak salah lagi, Hadni benar-benar mirip dengan ibuku. Itulah jawaban dari pertanyaan panjangku tentang sesuatu yang aneh padanya. Bahwa gadis sekretaris itu berwajah mirip dengan ibuku. Mereka memang tidak kembar atau persis sama, tapi pada wajah keduanya terdapat banyak kesamaan, terutama senyuman manis itu. Benar-benar memberi sensasi damai dan teduh. Gadis itu, dan ibuku, hari ini aku mengungkap satu keajaiban lagi.

__ADS_1


Aku menghela napas lagi. Kemudian Jan menepuk-nepuk punggungku.


"Aku tahu kau merindukan pemandangan ini, sobat!" ucapnya. "Kuharapkan kau benar-benar iklash dengan kenyataan."


"Tenang saja, Jan," jawabku. "Aku mengerti. Aku tidak berharap apa-apa lagi, hari ini aku sudah lebih dari bersyukur atas apa yang aku dapatkan. Aku benar-benar bahagia dan terharu, dengan pemandangan ini. Namun, aku sepenuhnya mengerti dan akan tetap sadar pada kenyataan bahwa semua ini hanyalah semu. Ayah dan ibuku sudah tiada, aku tahu itu. Setidaknya rasa rindu ini sudah terbayar lunas. Dan aku benar-benar iklash."


"Begitulah cara Tuhan memberikan keadilan untukmu, sobat," ucap Jan pula. "Melalui ketidaksengajaan, mengantarkan kita pada pemandangan ini."


"Yah, aku rasa ini sudah lebih dari cukup," jawabku. "Aku sudah bersyukur dengan apa yang aku dapat. Sekarang mari lanjutkan urusan kita yang sebenarnya. Kita kembali ke tujuan."


"Benar juga," sambut Jan. "Aku harap, aku akan seiklash dirimu dalam menghadapi kenyataan nanti."


"Kau bahkan lebih kuat, Jan!" celetukku.


Jan tersenyum simpul. Setelah itu, kami pun berlalu. Meninggalkan ayah dan ibuku yang masih dalam posisi berpelukan. Sementara kami pergi ke sudut lain kota ini. Bangunan yang seharusnya adalah tujuan awal kami. Yakni, rumah sakit. Rumah sakit tempat kelahiran Jan.


Kami sampai di sana tidak begitu lama. Namun, tentu saja kami tidak akan menemui apa yang kami cari, karena kami datang terlalu cepat satu tahun. Maka kami harus melakukan lompatan waktu lagi, satu tahun lebih. Kali ini aku tidak boleh salah lagi mengatur tanggal, bulan, dan tahun kelahiran Jan.


Di depan gerbang rumah sakit itu, kami bersiap. Aku membuka layar. Memilih kolom untuk melakukan lompatan waktu. Mengatur waktu. Lalu memulai.


Tik. Satu kali tombol kutekan, maka realita berhamburan. Pemandangan berputar kencang. Cahaya terang mendominasi. Desis angin berbisik. Desir dan bunyi-bunyian yang acak melengkapi. Berikut dengan kilatan cahaya dan sensasi lainnya. Semua berlangsung beberapa detik saja, hingga kami pun tiba.


Masih berdiri di depan bangunan yang sama. Pemandangan yang identik. Tanpa banyak perubahan berarti selain tumbuhan yang semakin tinggi. Maju satu tahun, bangunan di depan kami tidak banyak berubah. Hanya saja cat temboknya lebih cerah.


"Baiklah, ayo!" Jan berdahulu melangkah. Bukan, bukan melangkah, dia berlari. Berlari melewati gerbang dan menyusuri koridor rumah sakit.


Aku pun bergegas menyusulnya. Aku tidak tahu di ruangan mana ia ditempatkan, jadi aku mengekor saja di belakang. Kami berlari melewati orang-orang yang berlalu lalang bagai sedang kejar-kejaran. Sambil berlari, aku membuka layar kendali di tangan. Mengeklik tombol percepatan waktu. Menyesuaikan waktu kami agar tepat pada saat kejadian kebakaran itu.


Maka tidak heran begitu Jan berhenti dan kami tiba di depan pintu ruangan tempat khusus bayi yang baru lahir, di sekeliling kami sudah berkobar-kobar dikepung api. Teriakan panik dan histeris mulai terdengar memenuhi seluruh ruangan dan koridor. Derak kayu yang dimakan api berpadu dengan jeritan pilu para orang tua. Tambah pula tangisan dari belasan bayi yang berkumpul jadi satu—yang salah satu dari bayi tersebut pasti merupakan Jan—. Maka dalam sekejap suasana menjelma penuh dengan kepanikan dan kekacauan.

__ADS_1


__ADS_2