
"Sejak saat itu hidupku hancur, Renato. Benar-benar hancur berkeping-keping. Tidak artinya lagi aku hidup. Tidak ada artinya lagi uang triliunan dalam rekeningku. Tidak ada artinya lagi rumah mewah, apartemen, dan harta kekayaanku. Tidak ada artinya lagi perusahaan besar yang kumiliki. Semuanya hampa. Tidak ada gunanya semua ini. Keluargaku telah pergi, dan aku tinggal sendiri. Kalau bukan untuk mereka yang aku sayangi, untuk apa juga aku hidup dan bekerja keras sejauh ini? Dengan perginya keluargaku, hidupku benar-benar berantakan dan hilang arah. Aku menangis setiap malam, meratap, mengamuk, dan mengutuk tuhan. Mungkin aku juga menjadi seperti Sam, menjadi gila karena segala kenyataan menyakitkan yang harus diterima. Kau tidak tahu itu 'kan, Renato?"
Aku masih belum bisa berkata apa-apa.
"Keluargaku adalah segalanya untukku. Saat keluargaku telah pergi, dan bahkan dengan cara menyakitkan di depan mataku sendiri, maka aku sudah kehilangan semangat hidup. Semua yang aku punya tak berguna lagi. Hidupku tak berguna lagi. Untuk siapa lagi aku berlari? Lebih baik aku berhenti. Aku memutuskan untuk berhenti berlari. Aku ingin mati, Renato! Aku ingin mati."
Aku meneguk ludah.
"Namun, sebelum mati, aku ingin memastikan bahwa semua orang yang bertanggung jawab telah menerima konsekuensi atas perbuatan mereka. Semuanya, siapapun. Aku mulai dari Sam. Sudah hilang di kepalaku bahwa dia teman lamaku. Yang aku tahu adalah dia pembunuh keluargaku. Maka dengan tanganku sendiri, kuhabisi hidupnya beserta beberapa orang terdekatnya. Itulah mengapa kau tak pernah mendengar berita tentangnya lagi. Karena Sam Soetadji sudah aku lenyapkan dari dunia ini."
Aku melotot.
"Setelah membereskan Sam, maka kalianlah targetku selanjutnya. Karena kalian, karena kau, telah membuat PT. Jarilangit sampai bangkrut dan membuat Sam hilang akal sampai membunuh keluargaku. Jadi dengan kata lain, kalian juga bertanggung jawab atas kematian orang-orang yang aku sayangi itu. Maka aku baru akan mati dengan tenang setelah menghancurkan kalian dari pucuk hingga ke akar-akar. Dan kebetulan sekali kalian sedang melaksanakan proyek besar menciptakan mesin waktu, inilah kesempatan untukku. Proyek besar-besaran yang menggandeng investor kelas dunia, dan sudah berjalan lama sekali hingga hampir selesai. Maka akan sangat menarik, jika kubuat gagal proyek ini. Kerugian yang dialami akan berkali-kali lipat lebih besar dibanding PT. Jarilangit saat itu. Korp. Masadepan yang kalian banggakan akan kolaps, jatuh dan hancur. Sehancur kehidupanku yang kalian sebabkan. Kau bilang apa tadi? Perusahaanku juga akan terkena imbas menjadi ikut-ikutan rugi besar? Persetan. Aku tidak peduli apapun lagi tentang harta, bisnis, dan kekuasaan. Sekalipun perusahaan itu turut bangkrut dan tumbang, aku tidak peduli. Aku tak butuh apapun lagi dalam hidupku."
Sejauh ini aku masih terus bungkam. Tak mampu berkata apa-apa. Kisah Koh Shung membuat aku terheran-heran tak percaya. Aku menatap kosong. Ruangan yang terang benderang terasa redup seperti mau padam dan gelap lagi. Sementara Koh Shung di depan sana masih menatap sinis penuh amarah.
"Kenapa kau diam?" bentaknya.
"Koh, saya tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling saya sayangi. Tapi ...."
"Tak usah coba menasihati aku!" potong Koh Shung. "Kau masih muda, Ren! Aku sudah seusiamu sekarang saat kau baru lahir. Kau ingat itu!"
"Kehilangan orang yang disayang memang hal yang menyakitkan, Koh. Saya sendiri berhari-hari hilang tujuan hidup. Saya tahu rasanya, tapi tidak begini cara untuk menyelesaikannya. Anda telah memilih cara yang salah," ucapku.
"Peduli setan!" bentak Koh Shung. Ia mendengus penuh kebencian.
Dorr! Dorr!
Tiba-tiba ia melepaskan dua kali tembakan ke arahku. Aku terkesiap dan langsung menjatuhkan diri. Melompat berlindung di balik kursi besi tempat Prof. Ram dibelenggu. Aku berusaha sekuat tenaga untuk memutar arah kursi tersebut agar membelakangi Koh Shung. Sementara Prof. Ram hanya bisa terdiam dengan kedua tangan diterikat panel besi ke lengan kursi.
"Dan sekarang, kau b*jingan kecil yang hampir merusak segala rencanaku, Ren!" Koh Shung berkoar-koar di ujung ruangan sana.
"Biar bagaimanapun, saya takkan biarkan anda menggagalkan proyek kami!" Aku balas berseru dari tempat persembunyian.
Dorr! Dorr! Dorr!
__ADS_1
Beberapa tembakan meletus lagi menyahut seruanku. Setelah itu aku mendengar bunyi langkah. Aku mengintip sedikit, Koh Shung datang mendekat. Aku berpikir cepat. Apa yang harus aku lakukan? Mataku menilik tajam ke banyak arah. Mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan senjata. Aku menatap ke arah luar, terlihat Jan sedang memegang sebuah pisau dan siap untuk melemparnya padaku. Ia memberi isyarat agar aku bersiap-siap menyambut senjata pemberiannya tersebut. Kami bertukar isyarat beberapa saat. Setelah bersepaham, maka aku pun keluar dari persembunyianku.
"Saya tahu anda melakukan semua ini atas nama keluarga," ucapku lantang sambil bangkit berdiri. Pistol Glock 24 Koh Shung menyambutku empat meter di depan sana. Teracung tepat membidik kepalaku. Aku tersenyum licik.
Koh Shung mendelik heran melihat senyumku. Ia maju satu langkah lagi, mempersempit jarak kami. Saat itulah tiba-tiba terdengar bunyi kertakan dinding papan. Yang sengaja dibuat Jan sebagai pengalih perhatian. Koh Shung yang terkejut spontan menoleh dan langsung melepas tembakan ke arah tersebut. Maka saat itu juga Jan melemparkan pisaunya kepadaku. Aku menangkap lemparan Jan dengan gesit. Detik selanjutnya, pisau itu aku lontarkan ke arah Koh Shung dengan teknik melempar yang aku pelajari baik dari Jan. Secepat kilat pisau itu melayang di udara memburu mangsa.
Koh Shung sempat terkejut melihat aksi cepatku dalam detik-detik itu, tapi terlambat untuknya mengelak. Lempengan tipis logam tajam itu menghantam kedua tangan Koh Shung yang menggenggam pistol. Pistol terlempar ke belakang, sementara jari-jari tangan orang tua itu terluka oleh tajamnya pisau serta kuatnya kecepatan lemparanku. Ia meringis sambil memegangi jarinya yang terluka.
Tanpa membuang waktu lebih lama, aku melompat dari persembunyian dan langsung menerkam tubuh Koh Shung. Koh Shung tak sanggup berkelit, tubuhnya kubawa tumbang ke lantai dan kupiting dari belakang. Ia meronta-ronta, tapi tetap tak mampu melepaskan diri.
"Saya tahu, Koh. Saya tahu anda melakukan semua ini atas nama keluarga," bisikku di samping telinganya.
Orang tua ini mendengus.
"Tapi asal anda tahu saja," sambungku. "Bahwa saya melakukan ini semua juga atas nama keluarga. Bukan diri saya, karir saya, atau perusahaan itu yang saya prioritaskan, tapi ini demi ayah saya, Koh. Dan anda tak akan mengerti!"
"Peduli setan!" Koh Shung melirih sinis. "Kau akan mati hari ini, Ren!"
"Sebaiknya anda sadari semua ini, sebelum anda menyesal lebih dalam lagi nanti, Koh!"
"Berhenti berlagak bijak, kau b*jingan!" Koh Shung membentak garang sambil meronta-ronta.
"Kau harus mati!" lirih Koh Shung sekali lagi. "Atau aku saja yang mati!"
"Hah?"
"Ya, bunuh aku sekarang, Ren! Bunuh aku!" ucap Koh Shung dengan suara penuh emosi bercampur aduk. Aku meneguk ludah mendengarnya.
"Tidak, Koh. Saya tidak ingin membunuh anda!"
"Bunuh aku, Renato! Tolong akhiri penderitaanku selama ini!"
"Tidak ...."
"BUNUH!" teriak Koh Shung lantang. Suara terdengar payat dan tersekat di kerongkongan.
__ADS_1
"Ren," panggil Jan. "Ini sulit sekali!"
"Gunakan pistol itu!" jawabku sambil menuding pistol milik Koh Shung tadi yang terletak di pinggir dinding.
"Baik, aku coba!" Jan segera beranjak untuk mengambil pistol Glock 24 tersebut. Kemudian ia kembali ke dekat kursi Prof. Ram. Bersiap untuk merusak belenggu tersebut dengan tembakan pistol.
"Hati-hati, Jan!" pesanku.
Dorr! Dorr!
Dua tembakan meletus. Jan melakukan tugasnya dengan baik. Belenggu logam di kedua tangan Prof. Ram langsung putus dan rusak. Kedua tengan lepas.
Dorr! Dorr!
Dua tembakan lagi menyusul. Kedua kaki Prof. Ram yang kali ini lepas dari belenggunya. Profesor itu langsung berdiri tergesa-gesa dan menggerak-gerakkan tangan dan kakinya merasakan bebas setelah entah beberapa lama tersekap dan terbelenggu. Ia berseru-seru girang. Wajahnya yang penuh tekanan tampak berkerut-kerut.
Setelah melihat Prof. Ram berhasil dilepaskan, aku lantas memaksa Koh Shung untuk berdiri. Sambil terus meronta, orang tua ini akhirnya berdiri dengan tergopoh-gopoh. Sementara aku tak melepaskan pitingan. Kedua tangannya kubekuk ke belakang membuatnya tak bisa berkutik.
"Sekarang kita harus cepat-cepat kembali!" ucap Jan. Ia menuntun Prof. Ram yang tubuhnya terlihat lemah dan ringkih. Mereka berdahulu melangkah keluar ruangan. Sementara aku menyusul di belakang dengan mendorong-dorong Koh Shung yang berjalan dengan enggan. Dari tadi ia terus meronta, membentak, dan mengomel. Kami terus berjalan melintasi ruangan. Melewati tubuh Si Orang Tua Tanpa Nama yang terkapar dan bergerak lagi. Lalu keluar lewat celah dinding yang tadi rubuh karena terbentur tubuhku saat bertarung.
"Ke mana kau mau bawa aku?" tanya Koh Shung gemas.
"Kantor polisi," jawab Jan memotong ucapanku.
Seketika Koh Shung mendengus sarkas.
"Tidak perlu!" ucapnya. "Kalian bunuh saja aku dan tinggalkan aku di sini!"
"Tidak, Koh!" sangkalku. "Anda harus tetap hidup, dan mempertanggungjawabkan perbuatan anda di depan pengadilan nanti."
Koh Shung mendengus lagi penuh kesal.
***
Tak butuh waktu yang lama, kami tiba di ambang pintu dari gubuk tua penuh rahasia itu. Menyisakan dinding-dinding papannya yang reyot atau isi ruangannya yang berantakan. Meninggalkan kesunyian ruang kosong yang tadi sempat menjadi arena pertarungan paling sengit antara tiga petarung andal. Pertarungan yang benar-benar ketat sepanjang sejarah karir karirku. Kini ruangan itu senyap sunyi. Maka kami segera keluar dari gubuk itu, lewat pintu yang hampir lepas dari tempatnya.
__ADS_1
Akan tetapi, baru satu langkah kami keluar dari gubuk, langkah kami mendadak membeku di tempat. Mata langsung melotot dan mulut langsung menganga. Raut yang terperangah luar biasa terlukis di masing-masing wajahku, Jan, Prof. Ram, bahkan Koh Shung. Pemandangan di sekeliling kami benar-benar membuat aku tercengang dan meneguk ludah. Bagaimana tidak, kami dikepung dari seluruh penjuru oleh lusinan pasukan bersenjata lengkap. Dari sisi setiap semak, dari balik pohon besar, semuanya bermunculan satu per satu. Entah berapa puluh orang total jumlah pasukan tempur itu, yang jelas masing-masing mengangkat M16 di tangan menghadang kami dengan wajah beringas. Kalau aku perhatikan, seluruh pasukan itu berpakaian hitam dengan rompi antipuluru. Maka tidak heran lagi siapa mereka.
"Tengkorak Hitam!" desis Jan.