Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Mata Dibalas Mata


__ADS_3

"Dahulu, aku dan Tan adalah rekan kerja," Pak Roy mulai bercerita. "Kami bersama-sama meniti karir di perusahaan ini. Dua puluh satu tahun yang lalu, perusahaan kita yang besar ini baru saja dibangun. Masih perusahaan kecil yang tak punya cabang di mana-mana. Bahkan namanya dahulu bukan Korp. Masadepan, melainkan PT. Megatekno. Masih di awal-awal masa perintisan. Mulai merangkak dari bawah, memulai dari nol. Aku dan Tan adalah karyawan yang sama-sama bekerja di sana sejak awal. Singkatnya, perusahaan terus berkembang. Meski dahulu kami belum memiliki sektor pengembangan teknologi, masih fokus untuk memproduksi barang elektronik biasa. Masih membangun kejayaan. Memperkenalkan produk kami pada pasar yang bahkan masih dalam negeri saja. Dalam satu tahun, perkembangan yang kami capai begitu pesat. Produk keluaran kami semuanya laku di pasaran. Nama Megatekno mulai terkenal di seluruh negeri. Intinya, perjalanan perusahaan ini terus mendaki kejayaan. Karir kami juga mulai menanjak naik. Aku dan Tan menjadi orang yang paling diandalkan oleh Pak Bram, direktur pertama sekaligus pendiri PT. Megatekno itu sendiri. Posisi kami menjadi sangat penting karena paling berperan dalam berkembang pesatnya perusahaan. Hal itu membuat aku menjadi terobsesi dengan karir yang menanjak naik. Aku memburu jabatan direktur perusahaan. Aku merasa menjadi direktur adalah jabatan paling hebat dan keren. Aku mulai berusaha keras untuk mendapatkan jabatan itu. Dengan cara bekerja lebih giat demi mendapatkan hati Pak Bram, berharap suatu hari nanti aku akan diangkat menggantikannya. Akan tetapi, aku gelap mata karena dibutakan oleh obsesi. Padahal aku sudah dapat jabatan tinggi, tapi aku tak pernah puas."


Pak Roy jeda sejenak. Aku masih takzim mendengar saja sambil menahan emosi yang masih menggelegak.


"Suatu ketika, Pak Bram jatuh sakit. Awalnya biasa saja, tapi ternyata sakit yang diderita tidak biasa. Ia berbulan-bulan harus keluar masuk rumah sakit. Lama-kelaman fisiknya melemah dan harus di rawat di rumah sakit juga berbulan-bulan karena komplikasi penyakit yang menyerangnya. Sementara itu, perusahaan harus tetap berjalan dengan baik. Untungnya, dalam situasi seperti itu aku dan Tan mampu menjalankan tugas dengan baik. Kami berhasil menjaga stabilitas bisnis meski Pak Bram terbaring di rumah sakit. Pak Bram benar-benar bangga. Beliau bilang salah satu di antara kami akan menggantikannya jika ia sudah tiada. Seakan-akan sejalan dengan hal itu, ternyata penyakit yang diderita Pak Bram sudah akut dan parah. Fisiknya sudah tak sanggup lagi menahan semua penyakit itu. Hingga akhirnya ia tutup usia. PT. Megatekno berduka. Semua orang menghormatinya. Namun, saat itu aku sudah buta oleh ambisi, aku sudah tidak sabar untuk naik menjadi direktur menggantikannya. Masalahnya, semua karyawan kantor justru mendukung Tan untuk memangku jabatan itu. Semuanya. Tidak satu pun yang mendukung aku. Aku hanya dijadikan pilihan kedua. Akhirnya Tan benar-benar naik menjadi direktur dan aku tidak mungkin protes. Semua orang merayakan hal itu kecuali aku. Aku tidak terima. Aku diam-diam menyimpan kesal dan sakit hati. Selama beberapa bulan, Tan memimpin PT. Megatekno dengan baik. Sepanjang itu pula aku mulai tidak bersemangat bekerja. Aku masih tidak bisa terima kenyataan bahwa Tan yang naik jadi direktur. Harusnya aku, bukan dia. Aku benar-benar kalap hingga akhirnya aku mengambil keputusan yang sampai hari ini aku sesali berjuta-juta kali. Aku gelap mata. Berpikir pendek dan mengambil keputusan atas dasar ambisi dan ego. Aku memilih cara kotor bahkan dengan tanganku sendiri. Hari itu, aku dan semua ambisiku menyusun rencana matang-matang untuk menghabisi Tan. Sudah lupa dengan perjuangan kami sejak awal untuk membangun perusahaan ini bersama-sama. Obsesiku telah menutupi akal sehat. Jadi hari itu, dengan semua rencana yang sudah matang aku melakukan eksekusi. Jangankan Megatekno, satu negara heboh karena kasus pembunuhan itu. Perusahaan kami tiba-tiba kacau. Belum lama kehilangan direkturnya, sudah kehilangan lagi. Di sana aku mengambil kesempatan, untuk naik menjadi direktur. Tidak satu pun orang kantor yang berpikir bahwa akulah pembunuh Tan, jadi mudah saja untuk aku mendapat jabatan ini. Polisi sebenarnya melakukan penyelidikan panjang, tapi mereka menemui jalan buntu. Aku sempat jadi tersangka, tapi aku punya alibi dan mereka tak punya bukti. Aku benar-benar aman dengan semua rencanaku berjalan lancar. Setelah lama sekali kasusnya berlarut-larut, akhirnya ditutup begitu saja."


Aku menyorot tajam. Penuh dengan rasa benci yang mulai mendidih lagi ke ubun-ubun.


"Jadi, kau memang benar, Nak," lanjut Pak Roy. "Aku memang biadab. Aku memang manusia laknat yang hanya mementingkan diri sendiri hingga gelap mata oleh ambisi dan obsesi. Aku memang bajing*n hina yang menggunakan cara kotor untuk mendapatkan jabatan yang sampai hari ini masih kumiliki. Namun percayalah, aku telah menyesali semuanya. Bertahun-tahun hidupku tak pernah tenang. Karena dihantui oleh rasa bersalah yang datang setiap malam."


Aku mendengus.


"Beberapa bulan aku memimpin PT. Megatekno, perusahaan ini kembali bangkit. Aku pikir aku akan senang dan lega telah berhasil mencapai tujuanku. Namun, ternyata salah, aku justru tidak tenang. Aku mulai merasa begitu risau. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Barulah rasa bersalah itu muncul. Barulah penyesalan itu tiba. Terlebih lagi aku mendapat kabar tentang kau, Ren. Aku dengar kau yang masih sepuluh tahun, masuk rumah sakit karena berhari-hari mengurung diri dan tidak makan. Itu semua karena kesedihanmu kehilangan seorang ayah. Dan akulah penyebabnya. Seketika itu hatiku hancur, Ren. Aku iba sekali. Kau mengingatkan aku pada diriku sendiri saat aku kehilangan seseorang anak yang baru lahir ketika terjadi kebakaran di rumah sakit. Aku sama persis sepertimu saat aku kehilangan. Aku tahu bagaimana rasanya. Di situ akhirnya aku mendapat tamparan keras. Aku teramat sangat menyesal. Namun, semua sudah terlambat dan tak bisa diulang lagi. Aku bingung dan tidak bisa hidup tenang. Bayang-bayang Tan dan kau selalu saja menggentayangiku setiap malam."


Aku masih bungkam. Belum tahu harus berbicara apa.

__ADS_1


"Akhirnya, aku memutuskan untuk merawatmu, Ren. Itulah alasan mengapa aku dengan sukarela merawatmu sejak kecil hingga kau besar hari ini. Aku dengan sukarela membiayai seluruh kebutuhanmu, memberikan apapun yang kau inginkan. Aku selalu pastikan kau akan hidup enak dengan masa depan yang cerah. Itu semua aku lakukan karena aku merasa bersalah. Aku berharap bisa menebus dosaku dengan itu. Sampai sekarang kau sudah kuanggap anak kandung sendiri yang kusayangi sepenuh hati. Mungkin kau tidak tahu, tapi sejak kau kecil, setiap malam saat kau sudah terlelap aku selalu menangis meratap menyesali dosa masa laluku. Mau bagaimana lagi aku harus menebusnya? Kepada siapa lagi aku harus memohon pengampunan? Aku berharap aku bisa menebus dosa dengan merawat dan membesarkanmu. Dan itu juga alasan kenapa aku bersikeras agar kau mau menerima jabatan direktur menggantikan aku. Karena kau memang pantas memimpin perusahaan ini. Aku pernah bilang 'kan, kau layak dan berhak memimpin perusahaan yang diwariskan ayahmu. Maksudnya bukan aku yang ayah angkatmu, melainkan ayah kandungmu sendiri. Karena perusahaan ini seharusnya milik ayah kandungmu, hanya saja aku rampas dengan cara kotor. Sekarang kau mengerti 'kan mengapa aku selalu memaksamu untuk menerima jabatan direktur ini?"


Aku tertunduk sekarang. Seketika aku menjadi bimbang. Sulit sekali rasanya untuk dijelaskan, mau bagaimana juga orang tua ini sudah menjadi orang yang paling aku takutkan untuk kehilangan selama bertahun-tahun.


"Hampir sepuluh tahun kau tinggal bersamaku," lanjut Pak Roy. "Perlahan kau beranjak remaja dan tumbuh menjadi pemuda yang tangguh. Bertahun-tahun kita bersama, aku menyembunyikan rahasia ini rapat-rapat darimu agar kau tak pernah memikirkannya. Namun, aku mulai berpikir, tak mungkin juga selama-lamanya aku sembunyikan. Aku sudah merawatmu, menyekolahkanmu, dan memberikan kehidupan untukmu. Namun, rasa bersalah masih saja menghantui. Semua itu belum cukup untuk menebus kesalahanku. Pada akhirnya, aku harus menerima kenyataan bahwa kau memang harus tahu. Aku mulai berpikir keras bagaimana caranya untuk memberitahu hal ini padamu. Sedangkan kau sudah benar-benar menganggap aku ayahmu. Sangat tidak bisa aku langsung bercerita begitu saja. Itu sulit. Aku bingung lama sekali. Hingga tercetuslah ide gila untuk menciptakan mesin waktu. Aku pikir, kau harus tahu segalanya dan kau harus melihatnya dengan mata kepala sendiri agar kau percaya. Itulah alasan pertama mengapa aku menginginkan mesin waktu. Mungkin kemarin aku bilang untuk mencetak sejarah, tidak. Itu nomor dua. Aku ingin menciptakan mesin waktu agar kau bisa melihat masa lalu dan mengetahui semuanya. Aku tahu pada akhirnya kau pasti akan membenci aku setengah mati, tapi aku harus siap menerima konsekuensi atas perbuatanku sendiri."


Aku bungkam. Mataku menyorot tajam. Wajah renta di depan sana memang terlihat penuh penyesalan. Tak bisa dibohongi, raut itu benar-benar menampilkan ketulusan dari sebuah rasa sesal mendalam. Membuat aku semakin bimbang.


"Aku sudah merawatmu sejak kau sepuluh tahun. Sekarang kau sudah tiga puluh tahun. Setelah dua dekade, mungkin semua yang aku berikan padamu tak bisa terhitung. Namun, tetap saja semua itu tidak cukup. Aku sudah mengeluarkan biaya jutaan untuk membesarkanmu, untuk makanmu, untuk sekolahmu, untuk semua kebutuhan hidupmu. Aku kira itu cukup untuk menebus kesalahanku. Ternyata tidak, Ren. Tidak akan pernah cukup. Tetap saja hidupku tak pernah tenang. Dua dekade sudah berlalu, tapi rasa bersalah masih menghantui aku."


"Aku tahu," ucap Pak Roy dengan serak. "Semua yang aku lakukan untukmu, belum cukup untuk menebus kesalahanku. Aku mengerti ungkapan mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa. Aku sudah memohon pengampunan pada Tuhan, tapi aku tidak akan memohon pengampunan padamu, Ren. Maka dari itu ...." Pak Roy mulai merogoh kantong. Mengeluarkan sepucuk pistol Desert Eagle. Aku melotot kaget. Namun, alih-alih menodong, pistol itu ia lemparkan padaku.


Dengan refleks tentu kutangkap saja pistol itu. Kemudian aku menatap heran.


"Sekarang, silakan balaskan dendam ayahmu, Ren! Biarkan aku mati dengan damai setelah menebus kesalahanku!"

__ADS_1


Aku melotot tak percaya. Orang tua ini menyerahkan nyawanya padaku? Itu sudah cukup menunjukkan bahwa dia benar-benar menyesal. Aku berpikir sejenak.


Lantas aku mulai mengangkat pistol. Membidik tepat ke otaknya. Kudengar Jan dan Hadni di luar ruangan semakin keras menggedor pintu dan memanggil-manggil aku dengan panik. Tidak kupedulikan. Pistolku siap melepas tembakan akurat. Di depan sana, Pak Roy sukarela menerima hukumannya.


Detik-detik benar-benar menegangkan. Jariku beberapa senti dari pelatuk. Tinggal tarik, selesai hidup orang tua ini.


"Apakah Ibu tahu ... tentang semua ini?" Akhirnya aku bertanya dengan suara serak pula.


Pak Roy menggeleng. Menjawab, "Tidak. Sampai akhir hayatnya, ibumu tidak pernah tahu sedikit pun tentang apa yang telah aku perbuat di masa lalu."


Aku menghela napas. Baguslah, setidaknya aku tahu bahwa ibu angkatku yang telah menyayangi aku dengan benar-benar tulus dan tidak terlibat apapun dalam kasus ini. Aku lega mendengarnya.


Drap, pistol akhirnya kujatuhkan ke lantai. Pak Roy mendelik heran. Aku membalik badan untuk segera berlalu. Amarahku memang meluap dan kebencian sudah mencapai ubun-ubun, tapi aku tetap tak sanggup untuk membunuh ayah angkatku sendiri yang bertahun-tahun aku sayangi. Maka aku mulai melangkah meninggalkan orang tua itu yang tersandar di dinding.


"Ren, mau ke mana?"

__ADS_1


"Aku mundur dari perusahaan ini."


__ADS_2