
Tidak terlalu lama aku dan Jan beristirahat di kantor kerjaku. Setelah menyelesaikan beberapa urusan kantor yang sudah lama aku tinggalkan, kami pun berangkat. Tentunya dengan mobil super mewah milik Jan yang membuat semua orang tak berhenti memandang takjub kalau mobil itu tak segera hilang di balik pagar gerbang.
Kami menuju sudut tenggara kota, ke tempat di mana mesin waktu Gerbang Masa Lalu dilahirkan. Yakni laboratorium utama milik Korp. Masadepan. Yang menurut laporan Hadni, belum ada beroperasi lagi sejak beberapa bulan terakhir. Laboratorium ini adalah tempat khusus untuk segala kegiatan di sektor pengembangan teknologi dan menciptakan penemuan. Sementara produksi masal untuk teknologi yang purwarupanya sudah selesai akan dilaksanakan di tempat khusus lain. Namun, sejak kejadian perginya aku dari acara peluncuran Gerbang Masa Lalu dan disusul kepergian sejauh-jauhnya selama empat bulan, kegiatan di laboratorium ini dihentikan. Acara peluncuran di auditorium kota ditutup dengan baik, meski mengalami sedikit masalah karena ulahku yang pergi begitu saja usai kembali dari masa lalu. Proyek besar kami berhasil, setelahnya sudah menanti aliran pemasukan dari perusahaan dan organisasi besar mana saja yang meminati produk kami. Serta banyak keuntungan lain yang membuat perusahaan ini semakin raksasa. Meskipun selama empat bulan kepergianku, euforia itu harus ditunda. Pak Roy diberitakan turun dan pensiun dari jabatannya—meski yang sebenarnya terjadi tidak diketahui publik—, sementara aku—yang bahkan tidak hadir—didapuk langsung menggantikannya tanpa kompromi. Semua kerja sama atau urusan mitra, proyek, langkah perusahaan, dan sebagainya menjadi tanggung jawabku. Jadi, selama aku belum kembali, tidak ada kegiatan apapun yang bisa dimulai di laboratorium ini.
Cukup untuk menjelaskan mengapa gedung luas ini begitu sepi saat kami tiba. Turun dari kendaraan, kami hanya disambut oleh petugas keamanan yang sedang bertugas. Memasuki ruangan lobi hingga ke ruang utama, selimut sunyi tebal mengungkung tempat ini. Layar-layar monitor mati, pendingin ruangan tidak menyala, desir angin pun tak terdengar di sini. Suara bising jalanan tiba-tiba redam di dalam sini. Kami bahkan bisa mendengar suara sepatu kami yang beradu dengan lantai pualam.
"Sepi sekali," desis Jan.
"Ya, kau tentu mengerti."
Aku tersenyum tawar sembari mempercepat langkah. Kami tiba tepat di tengah ruangan. Bertempat mahakarya abad ini, Bangsal, Gerbang Masa Lalu. Setelah acara peluncuran kemarin selesai, alat canggih ini dikembalikan ke sini.
"Silakan duduk dulu, biar kusiapkan!" ucapku.
"Siap!" Dengan antusias Jan langsung duduk di kursinya. Cekatan mengenakan semua perlengkapan satu per satu. Mulai di kaki, lutut, bahu, siku, sarung tangan, pinggang, helm di kepala, dan sekelumit perangkat lainnya. Seperti halnya pada hari peluncuran itu. Sementara aku menyalakan komputer kendali. Mengaktifkan program utama untuk perjalanan waktu. Memulai prosedur biasa seperti yang telah diajarkan Prof. Ram padaku. Mudah saja melakukannya. Maka begitu Jan selesai dengan perangkat keamanannya, aku pula selesai dengan komputer. Sejumlah perintah sudah kumasukkan, program telah dimulai, perangkat lunak yang menjadi pusat kendali telah diaktifkan.
Aku pun sendiri bergegas mengambil posisi. Duduk di kursi yang tersisa. Mengulangi tindakan Jan tadi, satu per satu memasang perlengkapan. Tangkas.
"Siap?" tanyaku pada Jan.
"Selalu."
"Baiklah." Layar kendali menyala di depan wajahku. Dengan tombol di tangan, aku mengatur penanggalan waktu yang akan dituju. Lalu seperti menekan tombol enter pada mesin pencari, aku menekan tombol mulai. Maka, kilatan cahaya mulai merundung kami. Gelap. Terang. Bergantian.
***
Untuk kedua kalinya, kami bepergian melintasi garis waktu. Pergi ke masa lalu bertahun-tahun lamanya. Mundur lebih jauh, bukan ke dua dekade, melainkan tiga dekade yang lalu. Tepat tiga puluh tahun dari masa sekarang, yakni tahun kelahiran kami. Tahun di mana aku dan Jan dilahirkan ke dunia. Yang itu artinya, adalah tahun kematian ibuku.
Setelah melewati sensasi kelebatan cahaya dan pusaran kilau yang membuat pusing jika terus dipandang, akhirnya kami sampai. Bagaikan jatuh dari tempat yang tinggi, kami mendarat di sebuah padang rerumputan, lagi. Bedanya kali ini kami tidak jatuh tersungkur, karena kami sudah belajar untuk bersiap-siap mendarat jika sensasi cahaya itu berakhir. Maka aku dan sahabatku langsung bisa berdiri dan menatap sekitar. Aku terperangah. Lagi-lagi aku salah mengira seperti sebelumnya. Kami bukan jatuh di padang rerumputan, melainkan semak belukar. Dan begitu pandangan diedarkan ke seluruh arah, sadarlah kami bahwa tempat ketibaan kami itu tidak lain merupakan hutan. Hutan lebat dan berbagai jenis pohon kayu, mulai pohon karet sampai pohon beringin. Dahan-dahan dan daunnya begitu lebat, hingga menutup cahaya matahari. Membuat area tanah tempat kami berpijak menjadi teduh.
Aku dan Jan terkesima sambil memandang berkeliling.
"Hutan!" desis Jan.
__ADS_1
"Tiga puluh tahun yang lalu, laboratorium megah itu masih berupa hutan lebat." Aku mulai melangkah melewati pepohonan. Menerobos semak-semak yang satu-dua tumbuh tinggi. Mencari jalan keluar dari rimbunnya dahan pohon di atas kami.
"Luar biasa." Jan tak henti-hentinya berseru takjub. Pemandangan ini memukau untuk mata kami yang selama ini terbiasa oleh gedung menjulang. Ditambah lagi begitu kami berhasil keluar dari hutan itu, tiba di pinggir jalan raya yang menyajikan pemandangan menyegarkan mata. Di seberang sana hanya ada beberapa rumah berdinding papan beratap daun yang berdiri cukup berjarak satu sama lain. Ada juga beberapa rumah mewah—dengan definisi mewah pada masa itu—dan bangunan ruko. Tidak ada pencakar langit. Beberapa kendaraan model zaman dulu terlihat berlalu-lalang. Nuasansa kuno terasa merasuk di jiwaku. Serasa seperti menonton film zaman dulu dengan semua kesederhanaannya.
Dari pinggir hutan, kami meneruskan berjalan menyusuri jalan raya. Daerah itu terasa begitu asing dan entah di mana. Padahal merupakan tanah kelahiran kami sendiri.
Jalanan terlihat sepi. Jam setempat di masa itu menunjukkan waktu pagi, tapi jalanan masih lengang. Atau mungkin diriku saja yang terbiasa dengan padatnya kota sehingga pemandangan ini terasa lengang. Entahlah.
Langkah kami berhenti. Masih belum jauh dari hutan tempat ketibaan kami, tapi ada sesuatu yang membuat langkah kami berhenti. Tepatnya langkahku yang berhenti. Jadi Jan tentu ikut berhenti. Aku mengusap mata dan memandang lagi ke seberang jalan. Membatin, tidak salah lihatkah aku?
Di seberang sana pada beranda sebuah rumah sederhana, seorang pria sedang berbicara dengan seorang wanita. Sekilas hanya hal biasa saja. Namun, pemandangan itu menjadi mengejutkan dan membuat aku tercengang sebab pria yang terlihat itu persis seperti aku. Butuh beberapa detik untuk aku dan Jan memahami, bahwa yang sedang kami lihat adalah ayahku. Ya, ayah kandungku. Di tahun yang kami datangi ini, usia ayahku sama dengan usiaku. Tiga puluh tahun. Aku terpengarah melihat bagaimana ayahku justru seperti kembaranku. Jan apalagi, ia sampai mengusap mata berkali-kali. Berseru takjub.
"Ayahmu, 'kan? Persis sekali, sobat!" ucap Jan.
Maka tak pikir dua kali, kami menyebarang jalan. Menghampiri rumah sederhana itu dan turut bergabung di beranda itu untuk mendengarkan obrolan mereka. Ayahku duduk di samping pintu. Wanita tadi duduk di hadapannya. Kondisi itu membuat kesan seperti ayahku adalah tuan rumahnya. Namun, aku bingung, seingat aku rumah kami tidak di sini. Ada yang aneh dengan hal ini.
Kemudian wanita itu. Siapa dia? Untuk mencari tahu, aku dan Jan takzim memperhatikan.
"Tan," ucap wanita itu. "Tolong jujurlah padaku, kenapa akhir-akhir ini kau berbeda?"
Liani? Aku melotot seketika. Melirik tajam wanita itu. Hampir aku berteriak saking tidak menyangkanya. Liani adalah nama ibu kandungku. Jadi, yang wanita itu adalah ibuku? Ternyata ia cantik sekali. Benar-benar cantik. Akhirnya aku bisa melihat wajah itu, wanita yang telah mengorbankan nyawanya untukku. Pedih sekali menatap wajahnya dengan tahu bahwa ia akan pergi. Sungguh di luar dugaan, alih-alih orang tua Jan, kami datang ke sini justru bertemu dengan orang tuaku. Tunggu sebentar, kenapa mereka tidak terlihat seperti suami istri. Ada yang aneh dengan hal ini, lagi.
"Itu ibumu?" desis Jan.
"Iya, sebaiknya kita dengarkan dulu!" jawabku.
Jan mengangguk. Kami lanjut menonton pembicaraan yang awalnya kami kira obrolan biasa, tapi ternyata mengarah pada perdebatan itu.
"Lebih sibuk apa?" cecar ibuku kemudian. Matanya menyorot marah pada pria bernama Tan, ayahku.
"Lebih sibuk untuk urusan pekerjaanku, Liani. Mengertilah!"
"Sudah berulang kali aku mendengar alasan itu, Tan. Lebih sibuk, banyak urusan, aku sudah bosan mendengar itu. Apa kau benar-benar sesibuk itu?"
__ADS_1
"Ta–Tapi memang seperti itu adanya," jawab ayahku.
"Sudahlah, Tan. Aku muak!" Ibuku berdiri dan mulai berbalik badan. "Sudahlah!"
"Liani, tunggu!" Ayahku bergegas menyusul berdiri. Menjangkau lengan wanita cantik itu dan menahannya dari pergi.
"Apa lagi?"
"Liani, aku minta maaf jika belakangan ini aku kurang punya waktu untukmu. Aku sedang berjuang untukmu, Liani. Untukmu juga!"
"Omong kosong!" Emosi ibuku pecah. Ia menyentakkan tangannya penuh amarah. "Aku terlalu sakit, Tan. Aku menunggumu, tapi kau tak pernah datang. Ke mana saja kau? Apa aku sudah tidak penting lagi?"
"Bukan aku tidak mementingkanmu, tapi selalu ada urusan mendadak dalam pekerjaanku. Hanya itu!" jelas ayahku.
"Aku tidak percaya," tandas ibuku. "Mengaku sajalah, Tan. Pasti ada wanita lain, benar, 'kan?"
"Ya ampun, Liani. Jangan pernah berpikir seperti itu, itu tidak mungkin!"
"Sudahlah, Tan. Hubungan kita tidak bisa diselamatkan lagi. Ini terakhir kalinya, lebih baik kita berpisah!"
"Tapi ...."
"Sudah!" potong ibuku. "Lupakan saja pernikahan, biarkan aku pergi!"
"Kalau begitu kumohon dengarkan aku untuk terakhir kalinya, Liani," pinta ayahku. Aku dapat melihat ketulusan di matanya dan suaranya.
"Apa lagi?"
"Aku minta maaf untuk perbuatanku yang menyakitimu. Mungkin memang ini takdir kita. Aku hanya ingin membuatmu bahagia. Namun, mungkin aku tidak berhasil melakukannya. Jadi, maafkan aku. Jika kamu ingin berpisah, tidak apa-apa. Semoga kamu tidak menyesalinya. Percayalah, aku masih mencintaimu. Kalaupun kamu benci, aku masih berharap kamu bahagia. Namun, pada akhirnya kamu akan pergi, aku hanya memohon maaf. Jika kamu benar-benar ingin hubungan kita diakhiri saja? Baiklah. Aku tidak apa-apa. Aku hormati keputusanmu."
"Baiklah!" jawab ibuku sinis. Kemudian berlalu melangkah pergi. Melangkah penuh rasa kesal.
"Hati-hati, Liani!" Dengan tegar ayahku menatap langkah demi langkah kepergian wanita itu. Wajahnya terlihat sedih dan terpukul, tetapi berusaha menutupinya.
__ADS_1
Tik. Aku menghentikan waktu.