
Di tengah kekalutan itu, kami tak bisa langsung menerobos masuk ke dalam ruangan bayi tersebut. Kami tidak bisa menembus pintu yang tertutup. Namun, kami tidak perlu menunggu lama, karena suasana yang semakin memanas beberapa orang akhirnya berlarian mendobrak pintu dan menyerbu masuk. Para orang tua, dokter, dan lain-lain. Maka kami turut menerbitkan masuk menembus tubuh orang-orang itu. Aku dan Jan berlarian seakan-akan kami turut merasakan panasnya suasana yang kian berkobar itu. Ruangan bayi ini termasuk yang paling parah diserang api. Si jago merah melahab dari langit-langit, menjalar ke gorden dan tempat tidur bayi. Api menjalar begitu cepat dan mengobarkan tempat ini dalam beberapa kejapan saja. Beberapa bayi tak dapat diselamatkan, api membawa mereka ke dalam takdirnya. Selain bayi, beberapa orang dewasa juga bernasib tragis. Mereka menyerbu masuk dengan niat menyelamatkan bayi-bayi ini justru berakhir memilukan. Ada yang berhasil menyelamatkan bayi, tapi tubuhnya dimakan api. Bahkan ada yang terbakar bersama dengan bayi di dekapannya.
Aku tak tahu dari mana datangnya kobaran api ini. Entah apa pucuk penyebab kebakaran ini. Yang pasti kobaran itu semakin dahsyat terutama di ruangan ini. Ruangan yang penuh dengan bayi, justru kini penuh dengan api. Hanya orang-orang dengan mental yang kuat untuk sanggup menyaksikan peristiwa tragis dan mengerikan seperti ini. Lebih daripada itu, Jan sendiri memandang semua ini dengan menyadari bahwa ia termasuk dalam bayi-bayi yang dikepung ganasnya api.
Aku mematung di tempat. Aku tak tahu yang mana bayi Jan. Aku tak dapat mengenalinya. Aku hanya dapat membaca nama di bawah tempat bayi yang mencantumkan nama orang tuanya. Itu pun ada yang sudah termakan api hingga tak terbaca lagi. Jan sendiri sibuk memperhatikan satu per satu bayi yang masih dalam ancaman itu. Mencari yang mana yang merupakan dirinya. Ruangan ini sekarang huru-hara, segala jeritan berpadu. Api yang semakin menjadi-jadi. Hampir segala benda yang ditemuinya, mudah terbakar hingga jalar-menjalar tak putus-putusnya.
"Ren, hentikan waktunya!"
Tik. Aku sigap sekali. Waktu berhenti tepat pada detik Jan memerintahkannya. Seketika ruangan mendadak sunyi. Segala macam keributan lenyap tak bersisa. Masing-masing orang, bayi, dan yang apapun bergerak, kini mematung di posisi masing-masing. Api membeku di udara. Waktu berhenti. Sejenak dalam hening, dapat kulihat betapa mengerikannya kondisi ruangan ini.
"Itu ...." Jan bergegas menghampiri sesosok lelaki mematung di depan pintu. Lelaki itu mengendong seorang bayi dan melindunginya dari lidah-lidah api di sekitar. Lelaki itu adalah seorang dokter. Terlihat dari seragam yang ia kenakan, meskipun seragam itu terlihat mulai dimakan api pula.
"Ini, ayah angkatku," jelas Jan. "Pasti bayi di dekapannya itu adalah aku."
"Benar," tambahku. "Sekarang bagaimana?"
"Mundurkan waktu," jawab Jan. "Mundurkan waktu sampai sebelum kebakaran. Kita lihat di mana aku diletakkan. Mundurkan lagi, kita lihat suster yang membawaku ke sini datang dari ruangan mana. Maka kita akan sampai ke ruangan tempat ibuku melahirkan aku."
"Baiklah." Aku tak banyak bertanya. Apa yang aku pikirkan persis seperti itu.
Satu tombol aku tekan, waktu pun bergerak mundur. Orang-orang bergerak ke belakang. Suara teriakan terdengar aneh. Dokter yang kami amati pun melangkah mundur. Sampai ia terlihat meletakkan bayi Jan di salah satu ranjang bayi di sana. Pemunduran waktu semakin kencang. Orang-orang berlarian mundur keluar dari ruangan. Benda yang dilahab api kembali sediakala. Lidah api pun yang tadi menjalar turun, kini mundur, naik, dan berangsur mengecil dan hilang. Tentu saja itu semua adalah efek pemandangan kami pada waktu yang bergerak mundur.
Tik. Waktu berhenti. Ruangan ini kembali normal tanpa ada sedikit pun kerusakan. Tidak ada api atau teriakan panik. Sekarang ruangan ini masih damai dan tentram. Maka kami dapat leluasa melihat bayi Jan di atas ranjang khusus tempatnya dibaringkan. Di tempatnya tertera, "Bayi Winia." Winia? Itukah nama ibu Jan? Aku sedikit tercengang melihat nama itu. Pasalnya nama itu tidak asing untukku. Aku mulai berpikir pada banyak kemungkinan. Namun, berakhir pada kesimpulan bahwa ini hanya kebetulan.
"Mundur lagi, sobat!" pinta Jan. "Kita akan menyusuri suster yang membawa aku ke sini.
Tik. Aku tak banyak bicara. Langsung sekali tekan seperti biasa. Maka waktu kembali bergerak ke belakang.
Kami menunggu dengan sabar. Hingga seorang suster masuk ke dalam ruangan. Bergantian. Ada yang membawa masuk bayi, ada yang membawa keluar, ada juga yang sekedar memeriksa keadaan bayi-bayi lainnya. Hingga suster yang kami tunggu akhirnya tiba. Sebab suster ini datang menghampiri bayi Jan, menggendongnya dan membawanya keluar. Yang terjadi sebenarnya pastilah Jan dibawa dari luar dan diletakkan di ranjang ini. Namun, karena aku memundurkan waktu maka yang terlihat sebaliknya. Suster itu membawa Jan keluar ruangan—dengan langkah mundur.
Aku dan sahabatku segera menyusul. Mengikuti setiap langkah sang suster ke mana pun ia pergi membawa bayi Jan. Kami keluar dan meninggalkan ruangan NICU, menyusuri koridor panjang rumah sakit. Melewati berbagai pintu kamar-kamar pasien. Melewati orang-orang yang sedang berdiri cemas menunggu kabar dari sang dokter.
Penelusuran itu berakhir di satu ruangan. Yakni ruangan bersalin. Pasti di sinilah Jan dilahirkan. Di sini pula bertempat ibu Jan. Maka kami tidak perlu memundurkan waktu lagi. Kami telah tiba di tempat yang kami cari.
__ADS_1
Tik. Waktu berhenti. Tik. Waktu berlanjut. Berlanjut dengan normal dan bergerak lurus ke depan. Maka suster yang tadi berjalan mundur, kini kembali berjalan maju dengan benar. Melangkah menjauh membawa bayi Jan meninggalkan kami. Tentu saja kembali ke ruangan NICU tadi untuk meletakkan bayi Jan di sana.
Sementara Jan dewasa dan aku di sini, berdiri di depan pintu ruangan bersalin. Ruangan itu tertutup. Dan kami tidak bisa masuk dalam kondisi seperti itu. Terpaksa kami harus menunggu beberapa saat, menunggu seseorang di dalam maupun di luar membukakan pintu untuk kami masuk.
Untung saja tidak berlangsung lama. Karena seorang dokter akhirnya datang dari belakang kami dan membuka pintu. Bersamaan dengan sang dokter, kami pun masuk ke dalam ruangan itu.
Di dalam, suasana begitu damai dan sepi. Seorang wanita masih terbaring lemas di atas ranjang. Pasti itu adalah ibu kandung Jan. Sementara di sisinya, duduk seorang pria muda berperawakan sanggam. Duduk dengan wajah haru menyambut kelahiran putranya. Pria ini sudah pasti ayah Jan. Orang tua kandung Jan yang selama ini tak pernah aku tahu. Aku bisa menebak bagaimana harunya perasaan Jan saat ini. Untuk pertama kalinya menatap kedua orang tua kandung yang selama ini tak pernah ia lihat. Persis seperti aku melihat sosok ibuku.
"Eh?" Aku dan Jan kompak terpaku di tempat. Alih-alih terpana, kami terkejut.
Siapa sangka, begitu aku dan Jan teliti lagi pria yang duduk dan wanita yang terbaring itu, kami kompak terbelalak. Terkejut tak main-main. Kening berkerut. Mengusap mata berkali-kali, tapi tetap tak percaya pada apa yang kami lihat.
"Apa kita tidak salah lihat?"
"Sumpah, ini ... Ini tidak pernah aku duga sedikitpun!" Jan geleng-geleng kepala.
"Gila. Kenapa jadi begini? Pak ... Pak ... Roy?" Aku terbata-bata penuh rasa tak percaya.
Kami tidak mungkin salah lihat. Wajah itu memang terlihat sangat muda, tapi kami mengenalnya dengan baik. Terutama aku, aku mengenalnya lebih dari siapapun. Pria yang merupakan ayah dari Jan itu, rupanya adalah Pak Roy. Ya, Pak Roy ayah angkatku. Direktur Korp. Masadepan yang kini mendekam di penjara atas pembunuhan ayah kandungku. Itulah mengapa aku dan Jan mendelik heran serta berulang kali berpikir apakah ini benar. Satu lagi kejutan pada jalan hidup kami. Kenyataan yang menjungkirbalikkan ekspektasi untuk kesekian kalinya.
"Ja–Jadi ...."
"Ibu angkatku adalah ibu kandungmu," potongku terhadap kalimat Jan.
"Dan Pak Roy ... adalah ayah?" ucap Jan pula. "Aku hampir tak bisa percaya ini, tapi ini tidak mungkin salah."
"Yah, aku juga begitu."
Lama sekali kami mematung di sana. Berdiri bingung, melongo, dan tak habis pikir akan kenyataan yang baru kami dapat. Bukan kami tidak terima, tapi kami hanya benar-benar syok dan tidak menyangka akan semua ini. Kejutan luar biasa yang tak pernah diduga siapapun.
Hingga akhirnya Jan buka suara kembali.
"Yah, Ren." ucapnya. "Hidup ini memang penuh misteri dan kejutan. Satu-satunya yang harus kita lakukan, adalah menerima dengan lapang hati. Setidaknya aku bisa ambil hal positifnya, bahwa ini artinya ayahku masih hidup."
__ADS_1
"Benar juga, tapi ...."
"Ya, aku tahu Pak Roy, atau sekarang kusebut ayah, sedang menjalani masa tahanan. Aku menerima hal ini, itu artinya ayahku adalah orang yang bertanggung jawab atas perbuatannya. Kita tahu, semua orang pasti punya kesalahan di masa lalu."
"Baiklah."
"Atas nama ayahku, aku minta maaf, Ren!" ucap Jan.
"Tidak perlu minta maaf, Jan," jawabku. "Aku sudah mendapatkan banyak sekali pelajaran dari segala pengalaman yang aku alami. Termasuk hal ini, lagipula Pak Roy sudah menebus kesalahannya."
"Baiklah," ucap Jan. "Sekarang aku sudah tahu siapa orang tua kandungku. Kita bisa pulang sekarang!"
"Pulang sekarang?"
"Ya, sudah kubilang, aku benar-benar hanya ingin tahu siapa. Itu saja."
"Apa kau tidak ada keinginan lain?" tanyaku. "Maksudku tidak ada sesuatu yang ingin kau lihat-lihat lagi?"
"Sebenarnya ada," jawab Jan. "Tapi, mengingat bahwa aku masih bisa menemui ayahku, aku ingin cepat kembali ke masa depan saja."
"Baiklah, kalau begitu." Aku membuka layar kendali. Memilih kolom untuk mengembalikan kami ke masa depan.
Tik.
Tubuh kami seketika terhisap tenaga yang kuat. Melayang naik ke langit-langit ruangan bagai ada penyedot debu raksasa di sana. Kami menembus atap rumah sakit. Terapung di langit saat pemandangan berubah kabur. Cahaya bertabrakan. Suara guruh datang seiring sensasi melayang-layang yang kami rasakan.
***
Aku membuka mata seperti bangun dari mimpi. Mengerjap bingung beberapa saat. Memandangi sekeliling yang hening. Menyadari bahwa aku duduk di ruangan sepi dengan seluruh anggota tubuh terikat perangkat pada kursi tempat aku duduk. Kembali di masa depan.
Laboratorium. Di sanalah kami sekarang. Ruangan yang sunyinya tiada terkira. Sesaat aku merasakan penyegaran pada indera pendengaran, karena suasana yang kontras. Beberapa menit yang lalu kami di masa lalu, penuh dengan bising dan haru-biru, sekarang di ruangan ini semua itu lenyap seketika. Hanya ada kami bertiga di sini, aku, Jan, dan kesunyian. Namun, kami tak mau membuang waktu berlama-lama, dengan cekatan segera aku lepaskan atribut-atribut di kursi mesin waktu ini satu per satu. Jan pula demikian.
Begitu lepas dari kursi, aku buru-buru beralih ke meja kendali. Mengatur beberapa program pada komputer induk. Menonaktifkan apa-apa yang tadi menyala. Begitu aku selesai, maka selesai pula Jan dengan kursinya.
__ADS_1
Maka dengan langkah sepatu yang terdengar, kami pun berlalu meninggalkan ruangan senyap itu. Keluar dari aula besar gedung tersebut. Di luar, kami kembali bertemu dengan petugas yang sedang berjaga. Menyapa mereka dengan ramah, sebelum akhirnya Chevrolet Camaro ZL1 milik Jan membawaku meninggalkan area parkir dan melaju di jalanan.
Menuju satu tujuan pasti yang tak perlu lagi Jan katakan, karena sudah bisa kutebak dengan yakin sekali. Bahwa destinasi kami selanjutnya adalah, lapas kota. Di mana bertempat ayah kandung Jan sekaligus ayah angkatku. Pak Roy.