Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
EPILOG


__ADS_3

Pagi ini aku duduk di atas pasir pantai. Berdampingan dengan istriku. Menatap lautan luas yang bagai tak bersisi. Dihiasi oleh deburan ombak yang menghantam bibir pantai sampai ke dekat kami mengamparkan kaki. Dengan angin yang semilir, lambaian nyiur, bermandikan cahaya mentari, dan damainya suasana pagi. Membuat sempurna momen kami menikmati tenangnya alam, berdua.


"Sayang," panggil Hadni.


Aku diam.


"Sayang!"


Aku masih diam.


Hadni meraih tanganku dan menggenggamnya erat.


"Sayaaaang!" Ia setengah berteriak geram.


"Eh, kamu memanggilku?" tanyaku kaget.


"Ya, tentu saja," jawabnya. "Memangnya siapa lagi yang aku panggil sayang?"


"Bukan, biasanya sebelum ini kamu memanggilku dengan panggilan Ren saja," ucapku.


"Yah, memang, tapi aku ingin memanggilmu dengan panggilan sayang kali ini, memangnya tidak boleh?"


"Bu ... Bukan tidak boleh," jawabku. "Tapi bagaimana, ya. Aku sudah lama tidak menggunakan panggilan sayang seperti itu. Sejak aku berhenti menjalin hubungan, aku benci panggilan seperti itu. Dan, sekarang rasanya panggilan seperti itu terdengar berlebihan, dan menggelikan. Sebaiknya tidak usah, kamu panggil aku Ren saja, ya!"


"Yah, sayang," Hadni merengut.


Aku diam. Hadni menatapku sambil menghela napas.


"Baiklah, Ren, Baiklah," ucapnya kemudian. "Tapi cobalah panggil aku sayang!"


"Hah? Memanggilmu dengan panggilan sayang?" Aku tercengang.


"Iya, kumohon!"


"Tidak bisa, Hadni!" Aku mengeleng.


"Oh, ayolah!"


"Tidak bisa, kata-kata itu tertolak di lidahku!" jawabku.


"Oh, Ren, ayolah, katakan, sayang! Sa ... yang! S-a-y-a-n-g!" Hadni melafalkan kata itu seakan-akan mengajari aku.


"Sa ... Sa ... Sa ... Sa ... aahh, aku tidak bisa!" Aku bersusah payah mengucapkannya tapi tetap tak bisa.

__ADS_1


"Kamu lucu sekali, sayang!" ucap Hadni.


"Ahh, tidak!" Aku memegangi kepala seperti orang panik—bercanda. "Jangan panggil aku dengan panggilan itu!"


"Hahaha," Hadni tergelak dengan tawanya yang menggemaskan. Kemudian ia mendekat dan merangkulku. Menenggelamkan dirinya dalam pelukanku.


"Aku sayang kamu, Ren!" bisiknya.


"Aaah, tidaaaak!" Aku bangkit. Melepaskan pelukan dan berdiri sambil berpura-pura panik seolah-olah alergi dengan kata sayang.


"Ren, kamu ini menyebalkan!" Hadni memalingkan wajah sambil bersungut. Wajahnya terlihat imut dengan ekspresi itu.


"Eh, jangan merajuk, Hadni, aku hanya bercanda." Aku kembali duduk di sisinya.


"Tidak mau, kamu jahat!" omelnya.


"Tidak, Hadni. Aku sayang padamu, sungguh!"


"Nah, itu bisa kamu bilang sayang!" ucap Hadni seketika langsung menatapku dengan riang. Aku sendiri garuk-garuk kepala tak sadar.


"Em, anu, yang barusan itu tidak sengaja!" celetukku.


Hadni tertawa gelak. Aku pun demikian. Sejenak suasana dipenuhi tawa kami.


"Ren," ucapnya kemudian. "Aku mau kita liburan, bulan madu. Kamu maunya ke mana?"


"Ke mana saja, asal bersamamu!"


"Tapi ke mana?"


"Ke mana saja kamu mengajak. Ke Maladewa? Eropa? Amerika? Jepang? Selandia Baru? Tahiti? Ke mana pun, aku akan ikut. Pilih saja, Hadni! Pagi ini langsung berangkat juga bisa."


"Tapi aku bingung."


"Aku juga."


"Jadi bagaimana?"


"Kita tunggu saja sampai kita tidak bingung lagi."


"Sampai kapan?"


"Tidak tahu."

__ADS_1


"Ya ampun!" Hadni menepuk keningnya.


Aku terkekeh.


"Oh iya, aku juga mau menanyakan sesuatu," ucap Hadni. Ia bangkit dari sandaran dan segera merogoh kantong baju. Mengeluarkan secarik kertas putih yang sudah pudar dan berlipat-lipat.


"Ini kertas apa?" tanyanya.


"Kamu dapat dari mana?" Aku bertanya balik sambil menerima kertas itu dari tangannya.


"Tadi pagi," jawabnya. "Aku sedang merapikan baju-baju kamu. Aku temukan kertas ini di dalam saku jas kamu!"


"Saku jas?" Aku menatap bingung. "Kertas apa ya ini?"


Perlahan kubuka lipatan kertas tersebut. Kuteliti dengan cermat. Kertas itu berisi tulisan tangan yang tak begitu rapi. Tulisan itu berbunyi :


.....................................................


Untuk Om Baik


Terima kasih banyak, Om. Berkat Om Baik, aku bisa menulis ini.


Steven.


.....................................................


Seketika aku terbelalak melihat nama di baris paling bawah kertas tersebut. Detik itu juga aku langsung teringat sesuatu. Hadni menatapku heran seakan bertanya ada apa.


"Hadni, sekarang aku tahu ke mana kita akan pergi liburan," ucapku.


"Ke mana?"


"Nusa Tenggara Timur!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


............... T A M A T ..............


__ADS_2