
"Baik kalau begitu," sahut Jan. "Kau cepatlah cari Prof. Ram, biar aku mengulur-ulur Orang Tua ini."
Aku mengangguk takzim dan hendak mengambil langkah. Akan tetapi, langkahku ditahan oleh seruan Si Orang Tua itu.
"Mau ke mana, Renato?" serunya. "Selesaikan pertarungan kita. Pegang kata-kata kalian. Jika ingin bertarung dua lawan satu, lakukan sampai selesai. Aku masih sanggup."
Aku mendengus kesal. Orang Tua ini menyebalkan sekali. Aku jadi bingung sekarang. Panas telingaku mendengar kata-katanya tadi. Aku mau saja meladeni permainannya, tapi itu membuang waktu. Pertarungan ini akan memakan waktu lama sekalipun kami sanggup menaklukkan orang ini. Karena dasarnya, dari yang aku teliti sejak pertarungan pertama kami, Si Orang Tua Tanpa Nama senang dengan gaya pertarungan yang santai dan lebih kepada estetis. Mau bagaimana pun aku mengubah gaya, dia tetap saja penuh dengan ketenangan dan seakan menikmati detik demi detik pertarungan itu.
Aku tertegun lama dalam berpikir. Menatap tajam di Orang Tua dengan geraham mengeras. Menggeram kesal.
"Ren," panggil Jan. "Kita turuti mau Orang Tua ini, kita habisi dia."
"Tapi, Jan ...."
"Tenang saja," potong Jan. Ia segera mendekat dan membisikkan sesuatu. Mendengarkan bisikannya, aku mengangguk setuju. Sebuah ide yang tak pernah terpikir olehku. Kemudian aku beralih menatap Si Orang Tua Tanpa Nama yang tak sabar menunggu. Aku menatap tajam lawan kami, dengan tatapan licik.
"Baiklah," ucapku penuh gaya. "Aku akan selesaikan pertarungan kita, tapi aku minta jaminan bahwa Prof. Ram dalam keadaan baik-baik saja."
"Dia aman, anak muda. Kau kalahkan aku, kau dapatkan dia." Orang Tua Tanpa Nama tersenyum jahat penuh muslihat. Lantas memasang kuda-kuda untuk pertarungan babak selanjutnya.
Aku dan Jan pun demikian pula. Langsung bersiap dengan lengan dan tinju yang sedia menghajar lawan. Didahului dengan bentakan, aku menghambur maju. Membawa pukulan kedua tangan.
Orang Tua Tanpa Nama tersenyum meremehkan, ia menyambutku dengan meliukkan tubuh. Menghindar lincah lantas membalas dengan tinju kiri yang santai. Aku menangkisnya, menarik lengan tersebut ke tengah. Tubuh Si Orang Tua terhuyung maju, maka saat itulah Jan datang dari samping dengan terjangan maut. Orang Tua itu secepat kilat menhentakkan tanganku lalu berkelit dari terjangan Jan. Ia berhasil lolos. Namun ia tidak sadar dengan gerakan kilatku, sehingga terjangan yang datang dari depan matanya langsung tepat menghantam dada.
__ADS_1
"Aakh!" Ia terdorong jauh ke belakang sambil memegangi dada. Aku maju mengejar dengan buas. Lalu menerjang lagi dengan menyamping. Orang Tua ini menghindar cepat. Jan datang dari belakangnya untuk menyergap dan berusaha memiting lehernya. Akan tetapi, lawan kami gesit sekali meronta melepaskan diri, Jan sempat terhuyung karena serangan balik lawan. Aku segera mengirim rentetan pukulan tanpa jeda. Maka tanpa jeda pula, lawanku menangkis pukulan itu satu per satu. Ia tak sedikitpun kelihatan gentar, malah terlihat semakin bersemangat dan antusias dengan pertarungan yang kian ketat dan sengit. Jan di belakang, memberondong punggung lawan dengan pukulan kilat yang cepat luar biasa. Orang Tua Tanpa Nama ini terperenyak, aku menyambutnya dengan pukulan telak ke wajah. Lawanku tertolak mundur dengan pukulan itu. Namun, ia hanya mengerjap sejenak lantas balas menyerang lagi. Aku menggeram gemas. Pukulan dan tinjuan kutangkis lincah. Namun, semakin lama, pertarungan ini hanya akan membuang tenaga. Sementara momentum yang aku dan Jan butuhkan tak kunjung tiba. Kami masih kesulitan mendapat posisi yang leluasa untuk menghajar telak Orang Tua ini.
Pada kejap kesekian, terjangan lawan tak terelakkan menghantam dadaku. Aku terpekik saat terhuyung mundur beberapa langkah. Jan menggeram melihat aku begini rupa, ia maju laksana hewan buas mengamuk. Membabi buta menyerbu lawan. Aku pun tak mau membuang waktu, aku menyusul maju sama buasnya. Tinjuku yang sudah mengecap banyak sekali sakit dan perih, melayang secepat kilat mencari mangsa. Berdebak-debuk pukulan silih berganti. Sialnya, Orang Tua menyebalkan ini tetap pada performanya.
Aku menggeram. Pukulanku menderu-deru gesit dan lincah. Pada pukulan kesekian, akhirnya berhasil mengenai sasaran. Wajah Si Orang Tua bukan main termakan pukulanku. Ia langsung terhuyung mundur. Bersamaan pula, datang terjangan Jan yang berputar laksana menampar wajahnya.
Orang Tua Tanpa Nama terhuyung ke samping. Serangan kompak kali ini sukses membuatnya linglung dan kehilangan fokus sesaat. Sensasi sakit luar biasa yang menjalar di tubuhnya membuat ia tertegun beberapa detik. Berdiri kurang seimbang seperti akan rubuh.
Aku dan Jan tak mau membuang waktu lebih lama. Ini momentum yang kami tunggu. Ini saatnya. Daya Orang Tua itu sudah mulai turun. Lama-kelaman akhirnya ia terlihat juga lelah dan kewalahan. Dengan memaksakan diri, ia maju mengejar kami. Aku memapasinya tanpa ragu. Ia melayangkan tinju, aku sambut dengan jenis tinju yang sama. Namun kali ini, tuah berada di pihakku. Gerakanku lebih gesit dan lebih cepat sepersekian detik. Maka tinjuku lebih dahulu sampai menghantam wajahnya. Orang Tua ini mengeluh sakit. Tubuhnya doyong ke belakang. Sekali lagi, pukulanku membuat Orang Tua ini linglung. Ini yang kami tunggu dari tadi. Aku segera mundur beberapa langkah, sampai ke pinggir dinding. Di seberang sana, Jan juga mundur beberapa langkah. Mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan jurus pamungkas. Bersiap dan mengumpulkan tenaga.
Inilah yang tadi dibisikkan Jan padaku sebelum pertarungan babak dua ini dimulai. Ia berbisik untuk mengajakku melakukan jurus paling maut ini. Jenis serangan yang tak sembarang orang melakukannya. Sebuah tendangan maut. Sebenarnya aku belum sempurna dapat melakukan gerakan ini. Aku dan Jan belajar bela diri sejak remaja, semakin hari kami semakin lihai. Namun, Jan lebih jauh di depan dibanding aku. Dia lebih jago. Aku tahu, dia mahir melakukan jurus serangan ini, sementara aku tidak. Aku berkali-kali belajar untuk melakukannya, tapi selalu gagal untuk sempurna. Saat Jan berbisik tentang hal ini, aku sedikit kaget dan berpikir dua kali tadi. Namun, aku tak punya pilihan lain, jadi aku mengambil resiko berbahaya mempertaruhkan keselamatanku sendiri, untuk melakukan gerakan serangan yang padahal belum pernah berhasil aku lakukan. Jika aku gagal, aku yang akan terluka parah. Bisa-bisa aku tamat di sini.
Aku sekilas menatap Jan, kemudian beralih menatap tajam kepada sasaran kami. Maka setelah ancang-ancang, aku dan Jan serentak berlari mendatangi lawan diiringi bentakan keras. Dalam lari ini, aku pertaruhkan nyawaku. Antara Orang Tua Tanpa Nama itu atau aku, yang akan berakhir di tempat ini. Gerakanku dengan Jan sempurna kompak. Kami mengepung lawan yang tengah terhuyung dari arah samping kiri dan kanannya.
Pada momentum dan jarak yang tepat, mulailah aku dan Jan melakukan gerakan tersebut. Kami kompak mengayunkan kaki kanan masing-masing sekuat tenaga. Mengayun ke depan membawa kami melompat salto dengan putaran yang sangat cepat. Melakukan tendangan salto yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Kaki kami berputar ganas di udara bagai deru tornado kencangnya luar biasa. Kecepatan berputar itu membuat tenaga hantaman bertambah kuat pula. Pada detik-detik yang krusial dan momentum yang pas, kaki kananku yang penuh kecepatan tinggi dari putarannya berakhir dengan menyambar kencang pada sasaran. Menghantam keras tepat ke pangkal tengkuk lawan. Sementara pada detik yang sama, kaki kanan Jan pula menghantam kening lawan dengan sama kencang dan sama kerasnya. Persis di detik yang sama. Begitu parahnya efek tendangan kami. Lawan kami terpekik tertahan dengan suara tercekat. Tak main-main, Si Orang Tua Tanpa Nama ini dihantam terjangan keras dari dua arah yang bertolakan. Menjadikan detakan keras di kepalanya. Aku dan Jan segera mendarat penuh gaya. Si Orang Tua Tanpa Nama tak ampun lagi tumbang. Jatuh terkapar, entah tak sadarkan diri atau mungkin lepas nyawanya.
Aku bangkit berdiri dengan wajah tak percaya. Tak percaya bahwa aku berhasil melakukan tendangan tornado. Begitu luar biasa adrenalin yang kurasakan. Aku selamat dari maut. Aku tersadar dan merasa senang sekali. Selama berbulan-bulan aku belajar dengan Jan, selalu gagal mempraktekkan tendangan ini. Aku telah pasrah dengan nasibku hari ini jika jalannya aku harus tamat di sini. Inilah pilihan terakhir yang aku pilih. Tanpa sedikitpun berpikir aku akan berhasil, dengan kemungkinan yang juga kecil. Aku hanya bermodalkan nekat, dan ambisi serta amarah yang membara. Dan akhirnya pertaruhan antara hidup dan mati ini aku yang menangkan. Setelah selalu gagal melakukannya berkali-kali, akhirnya aku dapat melakukan tendangan tornado dengan sempurna dalam pertarungan yang sesungguhnya. Luar biasa girangnya aku.
"Kau berhasil, sobat!" seru Jan di seberang sana.
"Ya, akhirnya aku berhasil!" sahutku dengan gembira. Aku langsung mendekat ke arah Jan.
"Sekarang kita cepat-cepat cari Prof. Ram," ucap Jan.
__ADS_1
Kami segera menyusuri setiap sisi ruangan tersebut. Mencari di mana Prof. Ram tersekap. Aku yakin sekali, suaranya yang memanggilku tadi masih berada dalam ruangan ini.
"Jan," panggilku. "Apakah menurutmu Orang Tua Tanpa Nama ini adalah benar-benar garda terakhir untuk keamanan di tempat ini?"
"Apa?"
"Maksudku, apakah setelah sekarang dia kita taklukkan, benar-benar tidak ada lagi pasukan di sini? Sudah habis, kah?"
"Aku rasa begitu. Pasukan berjas hitam yang muncul sejak di pelabuhan tadi pagi, pasti anak buah dari Orang Tua ini. Pasukannya sudah habis saat kita sampai di sini, dan dialah lawan terakhir kita."
"Tapi Orang Tua ini bekerja untuk siapa?" tanyaku.
"Aku tidak tahu," jawab Jan. "Aku rasa dia bekerja untuk diri sendiri."
"Aku tidak yakin begitu," jawabku. "Aku kenal saja tidak dengan Orang Tua ini, apalagi punya urusan. Kalau sejak awal penyerangan terhadap laboratorium adalah tanggung jawabnya, kira-kira apa motifnya melakukan itu? Aku tak pernah tahu ada perselisihan gembong kriminal ini dengan Korp. Masadepan."
"Benar juga ya," sahut Jan sambil mengangguk-angguk setuju.
"Jadi, aku yakin," ucapku. "Bahwa ada orang yang menjadi otak di balik semua ini, yang mengerahkan pasukan besar untuk menyerang kami."
"Tapi siapa?"
"Tersangka yang aku tetapkan, adalah Sam Soetadji. Pebisnis yang kini bangkrut dan merupakan musuh bebuyutan perusahaan kami. Orang ini dapat aku pastikan menyimpan dendam kesumat terhadap kami. Terutama aku sendiri. Dia pernah menyewa pembunuh bayaran untuk membunuhku."
__ADS_1
"Sam Soetadji?" ulang Jan sambil coba mengingat-ingat. "PT. Jarilangit itu, 'kan?"
"Ya, mereka kemarin pernah ... Eh, ini dia!" Aku berseru setelah menemukan sebuah celah di dinding. Pada suatu sudut ruangan, dinding papan tersebut terlihat biasa. Namun, begitu aku dorong, tiba-tiba terbuka menjadi sebuah pintu rahasia. Jan buru-buru datang mendekat.