
Dalam perjalanan pulang, aku masih mengobrol beberapa hal pada Jan. Hal-hal ringan dan tidak terlalu penting. Sebenarnya wajar, di mana pun kami berada selalu ada hal yang dibicarakan. Apapun itu. Namun, di antara hal-hal remeh itu ada satu hal penting yang harus kusampaikan. Aku terpikir sesuatu. Aku sudah terpikir akan hal ini sejak kami masih di masa lalu. Karena apa yang kami temukan di masa lalulah penyebab aku terpikir hal ini. Sejak awal aku ingin cepat-cepat menyampaikannya, tapi aku mengurungkan niatku itu. Menahan diri selama kunjungan kami terhadap Pak Roy hingga selesai. Dan sekarang kami dalam perjalanan pulang, maka inilah saat yang paling tepat.
"Jan," mulaiku. "Kalau aku punya permintaan, bisakah kau mengabulkannya?"
"Maksudnya?" Jan menatapku bingung. Ia sedang mengemudikan mobil, tapi sesekali menatapku.
"Mungkin ini personal, tapi aku benar-benar perlu kau melakukan permintaan ini."
"Kedengarannya serius sekali, sobat," celetuk Jan.
"Ini memang serius, benar-benar serius."
"Jadi?" Jan semakin tak sabar.
"Aku minta, kau menggantikan aku jadi direktur!" jelasku.
"HAH?" Jan terbelalak.
Aku tersenyum penuh arti.
"Bagaimana maksudnya?"
"Sejak awal 'kan sudah aku bilang," ungkapku. "Aku tidak menginginkan jabatan ini. Aku tidak pernah ingin jadi direktur perusahaan. Sekarang, aku jadi direktur saja secara tiba-tiba. Bahkan tanpa persetujuanku."
"Tapi kemarin kau bilang, kau harus menerima jalan takdirmu dan bla-bla-bla ...."
"Ya, tadinya aku berpikir begitu karena aku merasa tidak ada jalan lain menghindarinya. Namun, tidak ketika kita pergi ke masa lalu. Aku mendapat ilham, Jan. Setelah mengetahui bahwa kau adalah anak kandung Pak Roy, maka aku punya alasan untuk melepaskan jabatanku. Kau lebih pantas, kau adalah anak kandungnya, kau lebih berhak mendapatkan jabatan ini."
"Tapi sobat, kau 'kan tahu aku seorang agen polisi. Dan tugasku banyak, apalagi ...."
"Kau bisa," potongku. "Kau bisa menjadi direktur Korp. Masadepan tanpa melepaskan jabatanmu sekarang. Kau bisa, menjadi agen kepolisian paling elit sekaligus pemilik perusahaan paling kaya."
"Ren, tapi ini adalah perkara besar. Bukan perkara remeh dan main-main. Ini tentang kepemimpinan suatu perusahaan yang paling berdampak pada dunia. Dan kau semudah itu menyerahkan jabatanmu hanya seperti anak kecil menyerahkan sebuah balon kepada temannya. Yang dengan gampangnya berkata, 'Aku tidak suka balon ini. Nah, ambil saja untukmu!' Tidak, tidak bisa begitu, sobat!"
"Bisa, sobat."
__ADS_1
"Dengarkan aku," tegas Jan kali ini. "Kau adalah anak kandung dari pemilik asli perusahaan ini. Sementara aku, hanya anak dari orang yang mendapatkan kekuasaan dengan jalan merampas secara kotor. Menurutmu siapa yang lebih pantas?"
"Mungkin aku akan terlihat pantas. Namun, mengertilah bahwa aku tak bisa menerima ini. Aku tidak mau jadi pemimpin. Aku merasa kurang bebas, aku ingin dibebaskan. Kau tahu, sebelumnya aku adalah pemimpin Timsus Anti-Konflik, tapi aku yang terus-menerus turun tangan untuk semua urusan seakan-akan aku hanya anak buah atau bawahan. Di mana wibawa kepemimpinanku, sedangkan ke kantor saja aku malas. Aku lebih senang dibebaskan di lapangan. Aku benar-benar tak bisa jadi pemimpin. Maka, aku mohon padamu untuk menerima permintaanku ini. Gantikan aku sebagai direktur perusahaan. Jangan bilang tidak bisa! Kau itu ... Apa yang kau tidak bisa?"
"Tapi ...."
"Jan, aku mohon kali ini saja. Bukankah jarang aku memohon padamu!"
"Apakah menjadi direktur semengerikan itu?"
"Bukan mengerikan, tapi memang bagiku hal ini sulit diterima. Kumohon!"
"Beri aku waktu untuk berpikir dan menimbang, sobat!" jawab Jan.
"Baiklah, pertimbangkan dengan baik, Jan, tapi jangan lama-lama!"
"Aku juga harus bicarakan ini dengan Fitri, sobat. Istriku harus tahu, dan ini juga memerlukan persetujuannya."
"Baiklah, tenang saja. Malam ini juga kita diskusikan, aku akan senang hati untuk berkunjung ke rumahmu dan merundingkan hal ini bersama-sama dengan Fitri."
"Jangan!" tegas Jan. Ia lantas memandangku seperti memandang penjahat licik. Aku sendiri hanya terkekeh menahan tawa.
"Jangan berani-berani kau lakukan itu!" tegasnya pula. "Biarkan aku sendiri yang bicara dengan Fitri. Kau jangan ikut campur. Aku tahu, salah satu keahlian khususmu adalah menghasut orang, jadi aku tak akan biarkan kau memengaruhi istriku."
"Hahaha," Aku spontan tergelak. "Ya ampun, sobat. Pekerjaanku bukan menghasut orang, hanya sedikit negosiasi saja!"
"Itu kurang lebih saja," tukas sahabatku itu.
"Baiklah, baiklah," tandasku. "Silakan kau diskusikan dulu dengan istrimu. Dan jangan berpikir terlalu lama."
"Renato, Renato," celetuk Jan. "Kita benar-benar aneh, ya? Di mana-mana orang-orang berebut kekuasaan sampai melibatkan kekerasan. Lah, kita malah tolak-tolakan."
Gelak tawa kami pecah mengisi kabin mobil mewah ini.
***
__ADS_1
Malam itu aku diantar Jan pulang ke rumah. Sejak empat bulan terakhir, akhirnya aku menginjakkan kaki lagi di sini. Rumah ini mulai terasa asing. Padahal tidak ada sedikit pun perubahan, tidak ada perabot yang bergeser barang sesenti. Bahkan sepeda motor kesayanganku pun anggun terparkir di garasi—entah siapa yang memulangkannya sejak di bandara kemarin—.
Dan setelah kepergian sejauh mungkin, akhirnya aku pulang. Kembali ke rumah, masuk disapa oleh Dhen. Tidak banyak yang aku lakukan. Aku kelelahan.
"Selamat datang kembali, Tuan Renato. Bagaimana hari anda?"
Rumah ini sunyi. Mengingat tidak ada penghuni di sini selain aku, maka rumah ini benar-benar tak terurus selama kepergianku. Aku mulai berpikir bahwa rumah ini terlalu mewah untukku. Perabotnya terlalu mahal, sistem operasinya terlalu canggih, desain interiornya terlalu gagah, dan lain-lainnya mulai terasa sia-sia. Tidak berguna. Rumah ini terlalu mahal untuk ditinggalkan berbulan-bulan. Juga terlalu megah untuk dihuni seorang diri. Aku mulai berpikir rumah ini tidak cocok lagi untukku. Terlalu berlebihan, seharusnya aku memilih yang lebih sederhana lagi.
Pengalaman di Sabu Raijua sudah memberi aku banyak pelajaran. Kemewahan ini sama sekali tidak aku perlukan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk menjual rumah ini. Berikut dengan segala isinya, kecuali motorku. Keputusanku sudah bulat, aku akan menjual rumah ini. Jadi, malam ini aku akan tidur, untuk tidur yang terakhir kalinya di rumah ini.
Esok paginya, aku memulai hari dengan mengirimkan pesan pada Hadni. Menyampaikan beberapa perintah, arahan, dan tugas untuknya serta proyek yang mulai dikerjakan. Untuk sementara hari ini, aku memutuskan mengurus urusan kantor lewat daring saja. Cukup dengan mengirimkan pesan pada Hadni, menunggu laporan darinya, lalu mengirimkan arahan lagi. Jadi, aku bisa leluasa mengurus penjualan rumahku.
Bagiku, urusan menjual rumah adalah hal yang mudah. Dengan kekuatan sosial media, tidak ada yang sulit untuk dilakukan. Lagipula, kenalanku banyak sekali. Percaya tak percaya, aku sudah menemukan calon pembelinya sebelum siang hari tiba. Dan untungnya bukan orang jauh, masih dalam domisili kota ini juga. Jadi, si calon pembeli mudah untuk datang dan mengecek kondisi rumah yang akan dibelinya.
Urusan berjalan lancar. Setelah selesai melihat-lihat luar dan dalam rumah ini, mulai dari desain, ruangan dan kamar-kamarnya, perabot, teknologi yang melengkapi, sistem keamanan, dan lain-lain, sang calon pembeli mengambil keputusannya. Bersetuju denganku untuk mengambil alih kepemilikan rumah ini, dengan harga yang sedikit turun dari harga yang aku ajukan di awal. Aku tidak terlalu perduli dengan berapa harganya, yang penting rumah ini terjual dan aku pindah. Maka kami mencapai sepakat, kepemilikan rumah pun berpindah. Urusan surat-menyurat kami selesaikan hari itu juga. Pembayaran pun langsung dilunasi melalui transfer daring. Akhirnya aku bisa merasa lega. Akhirnya aku meninggalkan kemewahan itu, dan jiwaku yang tak nyaman selama ini dibebaskan.
Siang hari, aku berangkat meninggalkan bekas rumahku itu. Mengendarai sepeda motor kesayangan, membawa sekoper penuh pakaian—yang merupakan pakaian kesayangan pula. Sebenarnya ini agak aneh, aku menjual rumahku terlebih dahulu sebelum membeli rumah baru yang akan kutinggali. Sekarang rumahku sudah laku, dan aku melaju di jalanan sebagai seorang yang tak berumah. Sedikit menggelitik, tapi aku yakin sekali akan menemukan rumah baru sebelum malam hari tiba.
Dari siang sampai menjelang sore, aku habiskan dengan berkeliling kota. Singgah di berbagai yayasan, organisasi kemanusiaan, dan panti asuhan. Mendonasikan uang hasil penjualan rumahku. Kemudian lanjut berkeliling kota, hingga pemberhentian terakhirku. Yakni pesisir utara kota, pinggir pantai. Berdiri sebuah rumah sederhana di sana. Aku punya banyak kenalan di seluruh penjuru kota. Termasuk kalangan pebisnis properti, aku mengenal banyak orang penting dari mereka. Dan sejak lama aku sudah tahu ada satu kenalanku yang menawarkan bangunan properti berupa rumah sederhana di tepi pantai. Ketika aku tercetus untuk pindah rumah, maka yang pertama muncul di pikiranku adalah rumah di tepi pantai ini. Jadi, kuhubungi kenalanku itu untuk memastikan bahwa rumah yang aku cari masih ada dan belum dibeli oleh orang lain. Dan, begitulah, sore ini aku sudah tiba di sini.
Aku memilih rumah ini, karena kesederhanaannya. 107 meter persegi sebagai ukurannya membuat rumah ini lebih tepat disebut rumah yang mengusung tema minimalis—memanfaatkan ruang sehemat mungkin. Berlantai ubin dengan marmer berkilau, tapi berdinding papan. Tidak ada teknologi canggih seperti layar di dinding dan sebagainya, hanya ada televisi dan sambungan wi-fi. Pembeli rumah tipe ini biasanya adalah masyarakat kelas menengah, karena harganya yang sangat terjangkau. Kalau kuhitung, harga rumah ini tidak lebih dari seperempat harga rumah lamaku. Aku tak berpikir panjang-panjang, sore itu juga kesepakatan diraih. Rumah ini jadi milikku sekarang. Rumah baru dengan kesederhanaannya yang semoga saja memberi ketenangan untukku. Nuasansa sederhana, kuharap membuat diriku terbebaskan. Aku sudah berprinsip, aku tak mau jadi kaya jika dompet yang tebal saja tak cukup membuat aku bahagia. Esok lusa, aku berniat menghabiskan uangku yang berlimpah di rekening bank. Tentu saja dengan menyumbang pada kegiatan amal atau donasi untuk mereka yang membutuhkan, semua itu untuk membuat jiwaku merasa dibebaskan.
Semoga semua berjalan sesuai dengan rencana.
***
Resmi, malam berlalu dengan aku tidur di rumah baru. Namun, masih ada hal yang menganggu tidurku. Secuil perasaan tidak nyaman. Sehingga aku membatalkan niat untuk pergi ke kantor esok harinya. Padahal hari ini seharusnya aku mengurus pekerjaanku, tapi lagi-lagi aku mengurungkan niat. Aku memilih untuk mengulangi apa yang aku lakukan semalam, mengirimkan tugas dan arahan pada Hadni agar disampaikan pada staf lain, menunggu laporannya, kemudian menyampaikan perintah selanjutnya. Hari ini aku memutuskan untuk bertemu Jan. Mengundangnya untuk datang ke rumah baruku. Sekaligus membicarakan tentang hal yang sedikit mengganggu tidurku.
Reaksi pertama Jan saat sampai di rumah baruku adalah terkejut, terpana. Kemudian, sedikit bercanda soal seleraku terhadap desain rumah yang katanya rendah, tapi aku tak terlalu menanggapi. Aku mengundangnya bukan sekedar untuk memberitahukan bahwa aku pindah rumah, tapi ada hal serius yang ingin kusampaikan.
Aku terpikir tentang Pak Roy. Sejak pertemuan kami saat kunjungan di lapas kemarin, ada suatu rasa dalam diriku yang tak aku mengerti. Pada hari itu saja aku terdorong untuk merangkul ayah angkatku itu. Aku sakit hati, tapi setelah kutelisik lagi tidak ada rasa benci di hatiku. Sama sekali tidak ada. Aku sudah melihat ketulusan Pak Roy menyayangiku sejak kecil, ketulusannya meminta maaf, serta keseriusannya dalam menebus kesalahannya sampai-sampai memutuskan untuk menyerahkan diri ke polisi. Aku masih ingat, bagaimana Pak Roy melemparkan sepucuk pistol ke tanganku dan merelakan bila aku menuntut nyawanya sebagai balasan. Semua itu adalah bukti bahwa penyesalan Pak Roy bukan main-main. Dan setelah semalaman aku berpikir panjang, akhirnya aku paham apa yang aku rasakan. Aku memaafkan Pak Roy. Ya, aku benar-benar memaafkannya. Sedalam apapun kekecewaan dan sakit hati, ia tetap ayah angkat yang merawatku hingga dewasa. Aku tak bisa membencinya. Dan aku telah merasakan ketenangan ini, ketenangan karena memaafkan.
Jadi, aku sampaikan hal itu pada Jan. Sekaligus aku ingin tahu, bisakah aku melakukan sesuatu yang membuat Pak Roy dilepaskan dari tahanan. Aku tidak mengerti soal hukum dan peradilan, jadi bertanya pada Jan adalah langkah paling tepat. Kabar baik dari Jan, aku bisa melakukannya. Pak Roy bisa dilepaskan dari tuntutan pidananya, dengan satu cara.
Maka hari itu juga, aku dan Jan berangkat untuk mengurus hal ini. Melewati proses dan prosedur hukum serta ketentuan normal yang berlaku.
__ADS_1
Dengan saran Jan, aku mengajukan pernyataan kepada lembaga pengadilan yang menangani kasus Pak Roy. Aku menyampaikan bahwa, aku dari pihak korban atau pihak yang dirugikan telah memberikannya maaf kepada pihak pelaku atau terpidana. Memohon agar terpidana pelaku dibebaskan.
Pengadilan merespon dengan baik. Meski tidak semudah apa yang aku bayangkan. Mereka harus mempertimbangkan banyak hal terlebih dahulu. Mereka juga berkoordinasi dengan pihak lapas tempat Pak Roy ditahan. Setelah menunggu agak lama, akhirnya laporan dari pihak lapas diterima. Dan untungnya tidak berupa pemberatan, karena laporan tersebut berisi: terpidana yang bersangkutan berkelakuan baik selama empat bulan masa binaan, menyesali perbuatannya dan beritikad untuk menjadi individu lebih baik, tidak pernah mendapatkan hukuman disiplin, dan mendapatkan keringanan hukum karena terpidana dengan sukarela menyerahkan diri. Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, pihak pengadilan akhirnya mengambil keputusan. Bahwa terpidana mendapatkan pembebasan dari hukuman pidana. Pak Roy, dibebaskan.