Setelah Dua Dekade

Setelah Dua Dekade
Harta dan Ketenangan Hidup


__ADS_3

Setelah mengobrol berbagai topik sepanjang jalanan, kami tiba di tujuan. Di sebuah komplek perumahan yang letaknya di pesisir pulau. Di sana tersaji deretan rumah berdesain mewah yang berdiri menghadap pantai. Masing-masing masih kosong dan belum ada yang membelinya. Menatap pada pemandangan itu, aku terpana. Sepertinya enak juga tinggal di sini dengan suasana alamnya yang orisinil, pemandangan laut, desain rumah yang nyaman dan sederhana, dan ketersediaan banyak fasilitas umum. Sempurna. Tidak salah lagi, Kaka Danu memang bisa diandalkan.


Mobil yang kami naiki—yang merupakan milik Kaka Danu—berhenti di salah satu area parkir. Kami pun turun. Aku diajak melihat-lihat pemandangan di sana, memeriksa bangunan yang tersedia di sana, melihat apakah lokasi dan properti yang tersedia benar-benar cocok. Sebenarnya, aku tidak terlalu peduli dengan variasi atau spesifikasi lain, aku hanya perlu rumah yang layak untuk Kakek Baik serta anak-anak yang bersamanya. Tidak perlu banyak pertimbangan atau permintaan tertentu. Maka setelah berkeliling beberapa menit, aku sudah memutuskan untuk membeli salah satu rumah di sana.


Kaka Danu segera menghubungi seorang agen properti terkait perumahan yang sedang kami datangi ini. Kebetulan pula, agen properti itu adalah teman dekat Kaka Danu. Maka tidak heran segalanya bisa dibuat mudah. Kaka Danu menyampaikan bahwa aku sudah benar-benar yakin untuk membeli salah satu rumah di sini.


Setelah menunggu lebih dari setengah jam, si agen properti tiba di lokasi. Datang menyapa kami dengan ramah. Ia antusias sekali mengingat properti mereka yang baru beberapa hari selesai dibangun sudah mulai laku. Aku menyambutnya dengan baik, tapi aku tidak mau berlama-lama dengan urusan ini. Aku ingin mempercepat saja segala proses dan prosedurnya. Meski si agen properti tentu tidak akan lupa untuk melakukan pekerjaannya, mempromosikan segala fasilitas dan keunggulan properti mereka. Bicara panjang lebar tentang semua yang mereka tawarkan dan keuntungan berbisnis dengan mereka. Apapun yang ia jelaskan, aku iya-iyakan saja. Apa yang mereka tawarkan sudah lebih dari cukup. Jadi kupotong penuturan panjangnya.


"Maaf sebelumnya, jadi untuk tidak memperpanjang perkara. Saya sudah pastikan saya mantap untuk membeli rumah di sini, lebih tepatnya unit A di unit paling depan. Bisa kita langsung urus semuanya?"


"Kami senang sekali, Tn. Ren. Nah, untuk pembayaran, kami menawarkan program untuk pembayaran bertahap dengan cicilan lebih hemat dan terjangkau dengan ...."


"Maaf!" potongku. "Saya beli tunai!"

__ADS_1


Si agen tekejut dah terperangah.


"Wah, pilihan yang bagus, Tn. Ren. Kita bisa diskusikan untuk harga terbaik yang anda inginkan, nanti saya akan ...."


"Tidak perlu," potongku. "Katakan saja berapa ratus juta dan ke rekening mana? Bisa saya transfer sekarang!"


Si agen melotot tak percaya.


"Bisakah kita selesaikan lebih cepat?" tanyaku lekas.


Begitulah negosiasi singkat kami hari itu. Sebuah hal unik dalam transaksi jual beli properti yang mungkin saja tidak lumrah. Setelah deal-deal itu, aku kembali ke pemukiman tempat Kakek Baik tinggal. Menyampaikan hal tersebut dan menunggu kabar selanjutnya dari pihak pengelola perumahan.


***

__ADS_1


Hari selanjutnya, urusan sudah selesai mudah. Pembayaran yang bernilai ratusan juta sudah kulunasi. Akta jual beli dan surat kepemilikan sudah selesai dengan nama yang tertera adalah nama dari Kakek Baik. Aku sengaja, karena aku memang tak mau memasukkan namaku dalam urusan ini. Resmi sudah rumah itu menjadi milik kami. Maka kami segera melakukan pindah rumah. Membawa Kakek Baik dan anak-anak meninggalkan pemukiman kumuh itu, menuju rumah mewah dengan harga tinggi untuk mereka tempati. Mungkin menjadi sebuah kejutan untuk mereka karena tidak pernah sedikitpun merasakan kemewahan seumur hidupnya. Namun aku yakin, lama-lama mereka akan beradabtasi dan terbiasa.


Dalam pindahan itu, aku masih dibantu oleh Kaka Danu. Memang awalnya aku hanya meminta bantuannya untuk urusan jual beli rumah, tapi setelah ia tahu bahwa tujuanku adalah untuk menolong keluarga Kakek Baik, ia jadi tertarik untuk ikut menolong pula. Dengan mobil miliknya, Kakek Baik dan anak-anak kami bawa menuju rumah baru mereka. Sebenarnya tidak tepat untuk disebut pindahan, karena harfiahnya hanya orangnya yang kami bawa. Hanya Kakek Baik dan semua anak-anak yang tinggal bersamanya. Sementara barang ataupun perabot usang di rumah lama, tidak satu pun yang dibawa. Aku katakan pada mereka, untuk membiarkan saja semua itu. Termasuk baju-baju usang mereka yang harusnya dibuang saja. Nanti semuanya akan dibelikan yang serba baru.


Hari itu berjalan baik. Steven dan teman-temannya terlihat antusias sekali dengan lingkungan baru mereka, bermain ke sana-sini melihat pemandangan mewah yang seumur-umur hanya menjadi hayalan mereka. Sementara Kakek Baik, menangis terharu dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih padaku. Padahal rasanya itu belum seberapa dibanding pelajaran berharga yang aku dapat dari mereka.


Untuk sebuah keluarga miskin yang hidup serba kurang serba usang, dibelikan rumah baru saja belum cukup. Atau mungkin lebih tepatnya tanggung. Masih ada yang kurang. Jadi, siang itu aku mengajak Kakek Baik, Steven, dan teman-temannya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan kota. Membelikan berpuluh-puluh pasang pakaian yang bagus, aksesori, atau apapun untuk memperbarui penampilan mereka. Untuk Kakek Baik, untuk Steven, dan untuk semua anak-anak. Aku tak ragu untuk menghabiskan uang ratusan bahkan jutaan hanya untuk mereka.


Pulang dari pusat perbelanjaan, mereka sudah berubah. Tidak ada lagi anak jalanan lusuh dan usang, baju yang sobek, atau wajah-wajah kusam. Kini mereka tampil keren dengan setelan mahal ala orang kaya. Dengan baju, celana, sepatu, dan berbagai aksesori fashion yang membuat mereka berubah seratus delapan puluh derajat. Steven, terutama Steven. Ia terlihat elegan penuh gaya dengan pakaian barunya. Ia dan seluruh teman-temannya bukan lagi anak jalanan yang tak terurus, kini mereka adalah geng anak-anak elit dengan barang serba mewah menempel di badan. Kakek Baik juga, dengan pakaian baru yang layak orang tua ini terlihat berwibawa dan penuh kasih sayang. Meski ia beribu kali merasa tidak enak denganku, tapi aku terus mengingatkan bahwa itu tidak apa-apa. Aku sudah memantapkan diriku untuk mengubah hidup keluarga ini. Agar mereka hidup dengan layak dan cukup. Tidak lagi kesusahan.


Selesai urusan pakaian, selanjutnya perabot rumah. Aku mulai mengisi rumah baru itu dengan berbagai perabot yang diperlukan. Mulai dari sofa-sofa, meja, lemari, tempat tidur, televisi, pendingin ruangan, kompor, piring, sendok, pisau, dan lain sebagainya. Apapun. Apa saja yang rumah ini dan penghuninya butuhkan, semua akan aku penuhi. Maka tatkala hari menjelang sore, semua barang pesanan sudah diterima. Rumah sudah diisi dengan satu set sofa dan meja tamu, satu set meja makan dan peralatan dapur, sofa-sofa dan televisi di ruang tamu, tempat tidur nyaman beserta lemari, dan banyak lagi yang lain. Dengan kemudahan akses internet, semua hal dapat kulakukan dengan instan tanpa perlu menunggu berhari-hari. Puluhan juta rupiah kuhabiskan lagi untuk itu, tapi tidak sedikitpun kusesalkan. Dengan besar hati aku lakukan semua ini. Bahkan aku tak perlu susah payah mencari harga murah atau promo atau apapun, yang harganya paling mahal sekalipun kusanggupi. Aku tidak mau tanggung-tanggung. Harta kekayaanku terlalu banyak untuk kuhabiskan sendiri. Lagipula selama ini aku bekerja untuk siapa? Uang yang aku punya untuk apa? Maka tidak perlu banyak perhitungan, tanpa takut hartaku akan habis, aku gunakan saja semua untuk keperluan keluarga kecil ini. Inilah saatnya kujadikan hartaku berguna. Selama ini aku terlalu fokus bekerja dan bekerja, sehingga lupa tujuan hidup. Sekarang aku menemukan sedikit demi sedikit kedamaian itu, dari senyum-senyum bahagia Steven dan teman-temannya. Dari tangis haru Kakek Baik, dari suasana kegembiraan dalam keluarga kecil ini. Di sana kutemukan kedamaian. Aku tidak peduli jika dengan melakukan ini hartaku akan habis, bahkan jika aku harus jatuh miskin. Tidak takut sedikitpun. Aku hanya berharap, atas semua pedih yang menimpa hidupku, atas semua kenyataan pahit dan kejinya dunia terhadapku, dapat kurelakan dengan perbuatan baik ini. Selama ini aku hanya bisa mengutuk Tuhan dengan segala ketetapannya, tapi aku tak pernah memeriksa pada diriku sendiri. Sudah dewasakah aku?


Maka dengan mengeluarkan ratusan juta rupiah dari hartaku, untuk keluarga kecil Kakek Baik, kuharap aku benar-benar mendapatkan ketenangan itu. Sudah sepatutnya harta kekayaanku kumanfaatkan untuk hal semacam ini, alih-alih bermewah-mewah seorang diri. Jika selama ini aku tak menemukan ketenangan dengan harta berlimpah, mungkin aku yang salah berpikir tentang harta dan ketenangan hidup. Mungkin dengan seperti inilah seharusnya aku menjalani hidup. Bukannya sibuk memikirkan diri sendiri. Bagaimana bisa aku merasa menjadi orang paling menderita sedang Steven masih sanggup tersenyum lepas di tengah kondisi kemiskinan. Bahkan ia tak tahu siapa orang tuanya.

__ADS_1


Hari-hari selanjutnya, kehidupan keluarga ini mulai berubah. Kakek Baik juga tak kuizinkan lagi menjadi petugas kebersihan. Tubuhnya sudah tua dan lelah, ia harus beristirahat saja. Untuk makanan dan kebutuhan lain, aku yang akan menanggung. Tidak cukup sampai di situ, langkah yang kuambil seterusnya adalah memberikan hak yang harus didapatkan Steven dan teman-temannya. Yaitu pendidikan. Mereka adalah bibit bagus penerus bangsa, generasi emas yang tidak boleh disia-siakan. Mereka harus mendapatkan pendidikan yang layak. Maka untuk itu, aku kembali memanggil Kaka Danu. Meminta bantuannya untuk mencari orang yang tepat. Mencarikan orang yang tepat untuk mengurus urusan pendidikan anak-anak itu. Steven dan teman-temannya harus bersekolah dan menjadi anak-anak terpelajar. Mereka semua pun didaftarkan sekolah dasar. Memulai dari awal. Beberapa di antara mereka ada yang usianya sudah melewati batas usia SD, maka dengan bantuan Kaka Danu tadi aku mengurus bagaimana agar mereka dapat mengejar ketinggalan pendidikan di usianya itu. Hingga nantinya mereka bisa ikut bergabung dengan anak-anak sekolah seusia mereka. Jadi, mulai hari itu dan seterusnya, Steven dan kawan-kawan bersekolah. Aku menanggung semua biaya yang dibutuhkan. Hingga mereka pandai membaca, berhitung, dan mempelajari banyak ilmu. Kelak mereka akan sukses seperti aku. Sementara Kakek Baik hanya duduk menikmati hari-hari tuanya di depan rumah memandangi pantai, mengobrol banyak denganku.


Waktu bergulir. Seminggu dua minggu berlalu. Sebulan pun tak terasa. Aku mulai terbiasa tinggal bersama mereka, melewati hari-hari dengan penuh keceriaan. Hidup mereka benar-benar berubah sekarang. Mereka sudah beradaptasi dan tidak lagi menjadi orang yang canggung dalam menghadapi teknologi di sekeliling mereka. Sudah mulai bergaul dan bersosialiasi dengan anak-anak lain yang seumuran mereka. Aku bersyukur, apa yang aku inginkan akhirnya tercapai. Sejak pertama kali bertemu Steven beberapa bulan lalu, aku sudah terbesit untuk melakukan semua ini. Akhirnya keinginan itu benar-benar terealisasikan. Steven akhirnya bersekolah dan hidup dalam kecukupan. Senang rasanya.


__ADS_2