
Akhirnya Shania sampai di rumah dengan berjalan kaki Jeno sudah beberapa kali menawari nya untuk diantarkan pulang bersama Aaron tapi di tolak oleh Shania terus terusan karena sudah banyak merepotkan mereka
Saat sedang berjalan menuju arah ke kamarnya Shania berpapasan dengan Heri dan juga Seen Shania sudah mengambil langkah agar menjauh dari kedua orang itu takut tidak sengaja menyenggol mereka yang akan berakibat buruk kepadanya
"Bruk"Heri menyenggol kaki Shania membuat Shania terjatuh lutut kaki kanan nya terasa sangat sakit karena terpentok pada lantai keramik
Seen tertawa sangat kencang begitu juga dengan Heri Seen berjalan mendekati Shania lalu menyentil kening Shania meninggalkan bekas merah
Shania mengelus bekas sentilan Seen untuk mengurangi rasa ngilu pada keningnya.belum selesai di situ Seen menghempaskan tubuh Shania menggunakan kakinya
Shania hanya diam sama menangis hanya akan membuat kedua orang itu senang dan semakin menyakitinya
"Tes.. tes"dua Tetesan darah kental jatuh pada lantai putih itu menghentikan tawa dua orang itu terutama Heri memandang lantai yang telah dinodai oleh darah Shania yang berasal dari hidungnya
Shania memegangi hidung nya yang mengeluarkan darah langsung menutup kedua lobang hidung nya dengan menjepitnya lalu berlari menuju ke kamar nya
"Sepertinya Tuhan mengabulkan doa doa ku"Ucap Seen lalu meninggalkan Heri yang masih mematung di tempatnya
__ADS_1
Di kamarnya Shania tengah menghambat keluarnya darah dari hidung nya dengan sedikit panik sebelum nya dari kecil Shania memang sudah sering mimisan tapi tidak separah ini biasanya hanya sedikit darah yang keluar tapi ini sudah berlebihan
Setalah darah itu berhenti keluar Shania memasukan kapas pada kedua lubang hidung nya
Shania memilih tidak ambil pusing Shania memilih mandi,setelah mandi Shania memilih untuk mempelajari beberapa materi yang tidak ia pahami dalam pelajaran Bahasa Inggris,untuk Matematika Shania benar benar menyerah Shania sebenarnya bisa hanya saja otak nya akan selalu sakit jika dipaksakan apa lagi karena pelajaran perhitungan
Setelah dua jam belajar akhirnya mata Shania mulai mengantuk dan memilih untuk tidur,baru saja Shania ingin membaringkan tubuhnya pintu kamarnya didobrak keras oleh Seen
Shania bisa melihat jelas Seen membawa sesuatu di tangan nya sebuah gelas yang terlihat masih sangat panas dan mengeluarkan asap
Shania menelan Saliva nya berusaha untuk tidak takut walau masih saja terlihat ada ketakutan di diri Shania karena wajah nya seketika berubah menjadi pucat
Entah kemana setiap melihat wajah Seen Shania akan selalu merasakan ketakutan yang luar biasa dan panik tubuhnya akan otomatis gemetaran Shania tidak tau apa penyebabnya se berusaha apapun Shania untuk menghilangkan rasa takut nya tapi tubuhnya tidak bisa berbohong
Dengan tanpa perasaan Seen menjambak rambut Shania menyuruh Shania untuk berdiri Shania hanya diam dan berusaha menahan rasa sakit di kulit kepalanya
Setelah itu Seen mengambil tangan kiri Shania memasukkan tangan mungil itu ke dalam gelas yang berisi air panas
__ADS_1
Shania memejamkan matanya menikmati sensasinya rasanya tangannya seperti di sayat sayat,panas dan perih secara bersamaan
Seen kesal melemparkan gelas air panas itu pada Ding Ding kamar Shania karena melihat Shania sama sekali tidak menangis hanya meringis saja
"Oh masih kurang yh nangis gak Lo Bab*"
Shania menggeleng geleng sambil mengibas ngibaskan tangan nya yang memerah
"Dasar anak haram,gak tau diri mati aja lo sana."
Mata Shania memerah hatinya sakit rasanya ingin berteriak saja
"BUNUH AJA KAK,BUNUH SHANIA KAK SHANIA UDAH CAPEK DIPERLAKUKAN SEPERTI INI"Teriak Shania sambil menyatukan kedua tangan nya memohon agar Seen membunuh nya.Mata nya memerah tapi air mata sama sekali tidak keluar dari matanya
......................
#Jangan lupa untuk ninggalin jejak nya biar otor lebih semangat lagi nulis nya
__ADS_1