
"Ya ampun, Arman!" Bu Ningsih menggelengkan kepalanya. Ia tak percaya bahwa sekarang anak lelakinya harus berurusan dengan para lintah darat yang kejam itu.
"Sejak kapan kamu berurusan dengan juragan Bahri dan berapa jumlah hutangmu kepadanya?" tanya Bu Ningsih.
"Kurang lebih satu bulan yang lalu, Bu. Tepatnya ketika saya datang ke sini untuk meminjam uang kepada Ibu. Namun, Ibu tidak dapat memberikannya dan dengan terpaksa saya pun mengambil jalan itu," lirih Arman dengan kepala tertunduk menghadap lantai.
Bu Ningsih menghembuskan napas berat. Ada sedikit rasa penyesalan di hatinya karena saat itu tidak memberikan pinjaman kepada Arman.
"Jumlahnya?"
"Dua puluh lima juta, Bu."
"Dua puluh lima juta? Apa kamu sudah gila, Arman! Kamu itu kerja apa hingga berani berhutang sebanyak itu kepada juragan Bahri, ha!" geram Bu Ningsih.
"Itu hutang sekaligus bunganya, Bu. Hutangku hanya 5 juta dan sisanya adalah denda serta bunga yang harus aku bayarkan kepada juragan Bahri. Lagi pula aku terpaksa, Bu. Keadaan yang memaksa aku harus berurusan dengan mereka," jelas Arman dengan mata berkaca-kaca.
"Ya, ampun! Benar-benar gila rentenir itu. Hutang 5 juta malah jadi 25 juta," ucap Bu Ningsih sambil menggelengkan kepalanya.
"Juragan Bahri memuntaku untuk melunasinya besok," lanjut Arman sambil mengusap wajahnya. Lelaki itu tampak frustrasi memikirkan hutang-hutangnya kepada juragan Bahri.
"Lalu sekarang bagaimana cara kamu membayarnya?" tanya Bu Ningsih.
"Itulah sebabnya saya datang ke sini, Bu. Mungkin Ibu punya simpanan uang dan saya ingin pinjam uang itu untuk membayar semua hutang-hutangku kepada juragan Bahri."
"Ya Tuhan, Arman. Ibu tidak punya uang sebanyak itu. Bahkan kalung emas Ibu ini pun jika dijual kembali, jumlah uangnya tidak seberapa. Oh ya, bukankah kamu pernah bercerita soal majikanmu yang kaya raya itu. Kenapa kamu tidak mencoba meminjam kepadanya?" tutur Bu Ningsih.
Arman menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak bisa, Bu."
"Kenapa tidak bisa? Oh ya, kamu 'kan punya motor serta handphone baru yang dibelikan oleh wanita itu, kenapa tidak dijual saja?" Bu Ningsih mencoba memberi saran.
"Aku takut, Bu. Aku takut Nyonya Ira meminta kembali barang-barang ini. Jika aku jual dan dia memintanya kembali, aku harus bagaimana?" Arman menghela napas berat.
"Hah, taulah! Kamu pikirkan sendiri aja lah! Ibu pun pusing memikirkannya. Dikasih solusi ini dan itu, kamunya malah enggak mau," celetuk Bu Ningsih sambil menekuk wajahnya.
__ADS_1
Arman menghembuskan napas berat. "Jadi beneran Ibu tidak bisa meminjamkan saya uang itu?" tanya Arman untuk memastikan.
"Bukannya tidak bisa, Arman. Ibu memang tidak punya uang dengan jumlah sebanyak itu," jelas Bu Ningsih.
Arman bangkit dari posisi duduknya dan raut wajah lelaki itu terlihat kecewa. "Ya sudah kalau begitu, saya pamit dulu, Bu."
"Ya. Hati-hati di jalan."
***
Malam itu Arman terlihat gelisah. Pikirannya benar-benar kalut. Ia bingung harus ke mana lagi mencari uang untuk mengembalikan uang milik Juragan Bahri. Ia bersandar di dinding kamar sambil menatap Nadira dan Amara yang tengah tertidur lelap di atas kasur lusuh itu.
Tanpa ia sadari, air mata Arman sudah merembes ke luar dan membasahi kedua pipinya. "Maafkan Mas, Nadira. Sampai saat ini Mas bahkan belum bisa membahagiakanmu. Cincin kawin kita pun sampai sekarang belum bisa Mas gantikan," ucapnya sambil mengelus lembut puncak kepala Nadira.
Tak terasa, pagi pun menjelang. Arman bahkan belum sempat memejamkan matanya barang sejenak. Nadira yang terbiasa bangun pagi-pagi sekali, tersentak kaget saat melihat Arman masih duduk di sampingnya dengan posisi menyandar di dinding kamar.
"Loh, Mas Arman belum tidur?" pekik Nadira dengan wajah heran menatap sang suami.
Nadira pun manggut-manggut saja. Ia percaya dengan apa yang diucapkan oleh suaminya itu. "Ya, sudah. Kalau begitu Nadira ke dapur dulu, ya. Mau mandi kemudian menyiapkan sarapan untuk Mas. Bukannya hari ini Mas kembali bekerja?"
Arman mengangguk pelan. "Ya, hari ini Mas bekerja lagi."
Nadira tersenyum lalu bangkit dari posisinya. Ia berjalan meninggalkan kamar utama dan kini menuju dapur. Di mana ia akan melakukan ritual mandinya kemudian mempersiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya tersebut.
Selang beberapa jam kemudian. Setelah selesai memasak dan memandikan putri kecilnya, kini Nadira menunggu di dapur, di mana mereka biasanya melewati waktu makan bersama-sama.
"Nah, itu Ayahmu." Nadira tersenyum lebar menyambut kedatangan Arman yang sudah rapih dengan setelan kemeja mahal pemberian Nyonya Ira.
"Pagi, Ayah!" panggil Amara sambil tersenyum menatap Arman yang kini duduk di sampingnya.
"Pagi juga, Sayang." Arman mengusap puncak kepala Amara dengan penuh kasih sayang.
"Ayo, Mas. Dimakan sarapannya," ucap Nadira sembari mendorong pelan sepiring nasi goreng buatannya ke hadapan Arman.
__ADS_1
Arman pun mengangguk lalu meraih nasi goreng tersebut. Baru saja ia ingin memasukkan suapan pertama ke mulutnya, tiba-tiba terdengar suara pintu rumah yang digedor-gedor dengan sangat keras.
Arman dan Nadira tersentak kaget. Amara bahkan sampai ketakutan dan memeluk tubuh Arman dengan mata berkaca-kaca.
"Siapa itu, Mas?" tanya Nadira dengan alis yang saling bertaut.
Arman melepaskan sendok yang ada di tangannya kemudian membawa tubuh mungil Amara ke dalam pelukannya.
"Aku tidak tahu, Nadira. Kalian tunggu di sini, biar aku keluar untuk memeriksanya," sahut Arman sembari menyerahkan Amara ke pelukan Nadira.
Nadira mengangguk pelan. "Baik, Mas."
"Arman! Hei, Arman! Keluar kamu!" Terdengar suara teriakan dari halaman depan rumahnya. Suara-suara berat yang merupakan suara dari kedua anak buah juragan Bahri.
"Ya, Tuhan! Ternyata itu anak buahnya juragan Bahri! Apa mereka sudah gila, ini masih terlalu pagi untuk menagih hutang," gumam Arman sambil mengintip dari balik kaca rumahnya.
"Kami sudah mencoba menghubungi nomor ponselmu, Arman! Tetapi sepertinya kamu memang tidak punya itikad baik sama sekali. Nomor ponselmu bahkan dengan sengaja kamu nonaktifkan agar kami tidak bisa menghubungimu. Iya, 'kan!" sambung lelaki sangar itu dengan setengah berteriak.
Para tetangga sebelah kiri dan kanan Arman pun mulai bermunculan. Mereka mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di kediaman sederhana milik Arman dan Nadira sepagi itu.
"Hei, Arman! Keluar! Atau kami hancurkan gubukmu ini!" teriak salah satunya.
"Jangan! Baiklah aku keluar," jawab Arman dari dalam rumah. Ia segera membuka pintu kemudian menghampiri kedua lelaki sangar itu.
"Apa kamu sudah lupa akan janjimu, Arman?" tegas lelaki sangar tersebut.
Arman menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mas. Saya tidak lupa. Saya ingat bahwa hari ini saya harus mengembalikan uang milik juragan Bahri. Tetapi, saya mohon, berilah saya waktu hingga siang nanti. Saya berjanji akan segera membayarnya," jawab Arman.
"Membayar apa, Mas?" Tiba-tiba Nadira sudah berada di belakang Arman. Wanita itu begitu syok setelah tahu bahwa suaminya sudah terikat hutang kepada lintah darat tersebut.
"Nadira, i-ini tidak seperti yang kamu pikirkan," sahut Arman sambil mencoba menenangkan Nadira.
...***...
__ADS_1