
"Apa?! Arman kecelakaan? La-lalu bagaimana keadaannya sekarang?" pekik Bu Ningsih dengan mata membulat setelah mendengar kabar bahwa Arman mengalami kecelakaan.
Ia terdiam dan fokus mendengarkan suara seseorang dari seberang telepon yang tengah menjelaskan bagaimana kondisi Arman saat itu. Setelah petugas medis itu selesai menjelaskan, Bu Ningsih pun tak kuasa menahan tangisnya.
"Ya ampun, Arman! Cobaan apalagi ini, Nak!" pekik Bu Ningsih lagi. "Baiklah, Sus. Saya akan segera ke sana," lanjutnya.
Setelah selesai bicara dengan petugas medis tersebut, Bu Ningsih pun segera bersiap. Ia bersiap pergi ke rumah sakit untuk menemui Arman yang tengah dirawat di sana dengan kondisi yang cukup mengenaskan.
Selang beberapa menit kemudian, Bu Ningsih pun tiba di depan rumah sakit dengan menggunakan sebuah angkutan umum. Dengan langkah tergesa-gesa, Bu Ningsih melangkahkan kakinya menuju ruangan, di mana Arman tengah mendapatkan perawatan.
"Bagaimana kondisi anakku, Sus? Dia baik-baik saja, 'kan?" tanya Bu Ningsih kepada salah satu perawat yang baru saja keluar dari ruangan itu. Wajahnya tampak cemas, mencemaskan kondisi Arman saat itu.
"Sebaiknya Ibu masuk ke dalam. Tuan Arman sudah menunggu Anda sejak tadi," jawab perawat itu.
Bu Ningsih pun mengangguk dengan cepat kemudian bergegas memasuki ruangan tersebut.
"Nak!" pekiknya sembari berjalan cepat menghampiri tempat tidur pasien. Di mana Arman tengah terbaring lemah dengan kondisi yang cukup serius.
"I-Ibu," ucap Arman dengan lirih. Ia begitu lemah. Bahkan, untuk berbicara saja terasa sangat sulit untuknya.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Arman? Kenapa truk itu bisa menabrakmu? Apakah kamu tidak melihat truk sebesar itu melaju di belakangmu?" tanya Bu Ningsih bertubi-tubi, dengan air mata yang terus bercucuran.
"A-aku tidak melihatnya, Bu. Tiba-tiba truk itu datang dan menabrakku dari belakang. Padahal aku sudah berjalan di sisi jalan yang benar," jelas Arman, sambil mengingat bagaimana kejadian itu terjadi.
"Memangnya kamu dari mana, Nak?" tanya Bu Ningsih lagi.
"Setelah mendapatkan uang dari hasil menjadi kuli panggul, aku berniat membeli secangkir kopi, Bu. Namun, ternyata takdir berkata lain," lirihnya lagi dengan mata berkaca-kaca.
Bak disambar petir di siang bolong, Bu Ningsih membulatkan matanya setelah mendengarkan penjelasan dari Arman. Gara-gara secangkir kopi, Arman harus mendapatkan kecelakaan parah seperti itu.
__ADS_1
"Maafkan Ibu, Nak! Maafkan Ibu," ucap Bu Ningsih di sela isak tangisnya. Ia meraung di dalam ruangan itu, menyesali semua perbuatannya kepada Arman.
Arman meraih tangan Bu Ningsih lalu menggenggamnya dengan erat. "Bu, sudahlah. Tidak apa-apa, tapi bolehkah aku meminta sesuatu sama Ibu?"
"Apa itu, Nak? Katakan saja," jawabnya dengan suara bergetar.
"Bu, aku ingin bertemu Amara untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pergi," ucap Arman, yang berhasil membuat Bu Ningsih kembali meraung-raung.
"Jangan berkata seperti itu, Arman. Jangan berkata seperti itu! Kamu akan baik-baik saja. Kamu akan kembali sehat sama seperti semula," ucap Bu Ningsih di sela isak tangisnya.
"Kumohon, Bu. Ajak Amara ke sini, aku ingin bertemu dengannya untuk yang terakhir kali," jelas Arman lagi sambil memejamkan matanya. Merasakan rasa sakit yang amat sangat di kepalanya. Akibat tabrakan itu, Arman harus mengalami cidera kepala yang begitu serius. Akibat cedera itu, ia sempat tidak sadarkan diri.
Bu Ningsih pun akhirnya mengangguk. Ia bersedia menuruti permintaan anak lelakinya itu. "Baiklah, Ibu akan segera memberitahu Nadira soal ini dan semoga dia mengizinkan Amara untuk bertemu denganmu."
Karena tidak memiliki nomor ponsel Nadira, Bu Ningsih pun terpaksa menghubungi Laras dan meminta wanita itu untuk menyampaikan permintaan Arman tersebut.
"Siapa, Mbak?" tanya Nadira yang tengah sibuk dengan pekerjaannya di butik.
"Apa?! Kapan?!" pekik Nadira dengan mata membulat sempurna.
"Kemarin. Bagaimana, Nad? Apa kamu mengizinkannya?" tanya Laras.
"Tentu saja, Mbak. Biar bagaimanapun mas Arman adalah ayah kandung Amara dan aku tidak punya hak untuk melarang mereka bertemu," jawabnya.
Nadira bergegas menghubungi Andrew dan meminta izin kepada suaminya itu untuk mengantarkan Amara ke rumah sakit. Menemui Arman yang sedang dirawat di sana.
Andrew pun mengizinkan mereka. Lelaki itu bahkan bersedia mengantarkan mereka langsung ke rumah sakit. Tidak butuh waktu lama, Andrew datang ke butik Nadira untuk menjemput lalu mengantarkan anak dan istrinya itu menemui Arman di rumah sakit.
***
__ADS_1
Di rumah sakit.
"Mas Arman ...." Perlahan Nadira masuk ke dalam ruangan itu dengan menggandeng lengan kecil Amara.
"Nadira ... Amara ...." Arman tersenyum lalu mengulurkan tangannya.
Nadira melepaskan tangan mungil itu lalu membiarkan Amara untuk menghampiri Arman. Gadis kecil itu seakan tahu bahwa saat itu adalah hari terakhirnya bertemu dengan sang Ayah. Ia menangis lirih sambil memeluk tubuh Arman yang sudah melemah.
"Ayah, jangan tinggalkan Amara, ya!" ucap Amara di sela isak tangisnya.
Arman tersenyum kecut lalu mengelus puncak kepala gadis kecil itu dengan lembut. "Amara yang pinter, ya. Ayah sayang sama Amara. Jadilah anak yang sholeha, sukses dunia dan akhirat," ucap Arman dengan bibir yang bergetar.
"Amara juga sayang Ayah," sela gadis itu, masih menangis lirih di pelukan Arman.
Nadira dan Bu Ningsih hanya bisa menangis melihat pemandangan penuh haru itu. Setelah puas bicara dengan Amara, kini tatapan Arman beralih kepada Andrew yang juga berada di ruangan itu.
"Tuan Andrew, terima kasih sudah bersedia menjadi ayah sambung untuk Amara. Terima kasih pula untuk kasih sayang yang sudah Anda berikan untuknya. Dan hari ini saya memohon lagi kepada Anda, tolong jaga Amara untuk saya. Jaga dan sayangi dia seperti anak kandung Anda sendiri, Tuan," lirih Arman dengan mata berkaca-kaca menatap Andrew.
"Tentu saja, Mas Arman. Aku berjanji akan menjaga dan menyayangi Amara seperti aku menjaga dan menyayangi anakku sendiri," jawab Andrew.
Arman tersenyum lega. "Terima kasih banyak, Tuan."
Beberapa detik setelah itu, Arman pun menghembuskan napas terakhirnya. Ia meninggal dengan damai. Dengan seuntai senyum di wajahnya yang memucat.
Bu Ningsih menjerit. Ia tidak bisa mengikhlaskan kepergian Arman saat itu. Wanita paruh baya itu meraung sembari memeluk dan mengguncang tubuh Arman.
"Arman, jangan tinggalkan Ibu, Nak! Kembalilah, Ibu janji akan berikan kopi yang enak untukmu. Kopi hitam kesukaanmu, Arman!"
Nadira sudah mencoba menenangkan wanita paruh baya itu. Namun, Bu Ningsih tetap tidak menghiraukannya. Ia terus menangis dan meraung di atas tubuh Arman yang sudah tidak bernyawa.
__ADS_1
...🌸🌸🌸 The End 🌸🌸🌸...