
"Nenek," ucap si kecil Amara yang ingin berkunjung ke kediaman sang nenek. Sudah beberapa kali si kecil itu mengajak Nadira agar membawanya ke tempat itu.
Entah kenapa si gadis kecil itu yakin bahwa ayahnya sedang berada di sana. Walaupun Nadira sudah mencoba mengatakan bahwa ayahnya tidak ada di sana. Namun, si kecil Amara tetap yakin bahwa sang Ayah menginap di kediaman neneknya.
Nadira menghembuskan napas berat. "Amara sayang, bukankah Ibu sudah bilang. Ayah tidak ada di sana. Tapi tidak apa, sekalian kita berkunjung ke rumah nenek," jawab Nadira.
Si kecil Amara pun melebarkan senyumnya. Ia bertepuk tangan lalu meminta Nadira untuk mengangkat tubuh mungilnya. Nadira ikut tersenyum dan segera meraih tubuh mungil Amara.
"Baiklah, kita berangkat sekarang saja. Mumpung cuaca belum panas."
Kini Nadira pergi meninggalkan kediaman sederhananya, menuju kediaman sang mertua dengan berjalan kaki.
Setibanya di tempat itu, Nadira melihat pintu dan jendela rumah ibu mertuanya tertutup rapi. Ia tampak heran karena tidak biasanya sang mertua menutup pintu dan jendela seperti itu pada siang hari.
"Nenekmu ke mana ya, Ra? Tumben pintu rumah dan jendela masih tertutup padahal ini sudah siang. Apa nenekmu sedang sakit? Oh, semoga saja tidak," gumam Nadira dengan sedikit cemas.
Nadira mempercepat langkahnya. Ia segera menghampiri pintu lalu mengetuknya sambil memanggil wanita paruh baya itu.
Tok ... tok ... tok!
"Bu! Ibu di dalam?" panggil Nadira.
Namun, hingga berkali-kali ia memanggil ibu mertuanya itu, tetap tak ada jawaban dari dalam rumah tersebut.
"Apa nenekmu sedang tidak ada di rumah, ya?" gumam Nadira lagi.
"Dira!"
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari depan rumah mertuanya. Nadira sontak menoleh dan ternyata wanita itu adalah ibu-ibu tetangga sebelah rumah Bu Ningsih.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Ibu mertua saya ke mana, ya? Kok, pintu dan jendelanya dikunci?" tanya Nadira kepada wanita paruh baya itu.
"Lah, bukannya bu Ningsih memang tidak ada di rumah. Kan katanya ada kerabat beliau yang mengadakan pesta pernikahan. Memangnya kamu gak diajak? Bu Ningsih 'kan perginya barengan Arman," tuturnya dengan alis bertaut.
"Bareng Mas Arman? Jadi, ibu berangkat bareng Mas Arman dan belum kembali sampai sekarang?" tanya Nadira lagi dengan wajah heran.
Wanita paruh baya itu mengangguk. "Ya, begitulah. Ibu pikir kamu tau, Dir."
Nadira menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, Bu. Aku malah baru tahu sekarang," jawab Nadira dengan lirih.
"Ya, sudah. Ibu tinggal dulu, ya."
"Baik, Bu. Terima kasih informasinya," ucap Nadira sambil tersenyum kecut.
Wanita paruh baya itu pun kembali ke rumahnya. Sementara Nadira dan si kecil Amara masih terdiam di depan rumah Bu Ningsih dengan seribu tanda tanya di kepalanya.
"Nah, sekarang Amara udah dengar 'kan? Nenek gak ada di rumah, begitu juga ayah. Sebaiknya kita pulang dan menunggu kedatangan ayah. Bagaimana?" bujuk Nadira kepada Amara yang terlihat jelas bahwa ia masih berharap ayahnya ada di rumah itu.
Akhirnya Amara pun mengangguk. Sekarang ia percaya bahwa ayahnya tidak ada di sana. Nadira kembali melangkahkan kakinya dan membawa Amara pulang ke kediaman sederhana mereka.
Di sepanjang perjalanan, Nadira terus terpikirkan soal kepergian ibu mertuanya bersama Arman. Nadira heran, Arman bahkan tidak bercerita apa pun soal Bu Ningsih yang akan pergi ke acara pernikahan salah satu kerabatnya itu.
"Apa mungkin acara pernikahan dan kepergian Mas Arman ke kota hanya kebetulan saja? Atau memang ...." Nadira terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya. "Ah, tidak-tidak! Aku tidak boleh berpikiran buruk," tepisnya.
Sementara itu.
Pesta pernikahan Arman dan Nyonya Ira digelar dengan begitu meriah di hotel berbintang tersebut. Banyak kerabat serta rekan bisnis Nyonya Ira berdatangan ke pesta pernikahan mereka dengan membawa berbagai macam hadiah.
Nyonya Ira terlihat begitu cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih. Sementara Arman terlihat begitu tampan dengan setelan jas mahal yang dibelikan oleh wanita itu.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu tersenyum semringah menyambut para tamu undangan yang berdatangan dan memberikan selamat untuknya.
"Wah, Ira! Kamu benar-benar hebat! Lepas satu, dapat lagi satu. Bahkan yang ini jauh lebih tampan dan lebih menggairahkan dari yang sebelumnya," celetuk salah satu sahabatnya sambil tersenyum lebar.
"Kan sudah aku bilang, aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan yang satu ini!" jawabnya dengan penuh bangga karena berhasil menjerat Arman ke dalam pelukannya.
"Ya, sudah. Selamat menempuh hidup baru. Semoga saja yang satu ini selalu tunduk dengan perintahmu. Mengingat yang dulu ... ah, sudahlah. Aku tidak ingin mengingatkanmu soal itu lagi," sambung wanita itu.
"Kali ini aku bisa pastikan bahwa dia akan bertekuk lutut kepadaku dan aku tidak akan membiarkan kejadian yang dulu terjadi lagi," sahut Nyonya Ira.
Sementara kedua wanita sosialita itu tengah asik berbincang, Arman tengah di sibukkan dengan tamu undangan yang ingin bersalaman dengannya hingga ia tidak mendengar topik pembicaraan kedua wanita kaya tersebut.
Bu Ningsih terus berfoto-foto ria di acara pernikahan tersebut lalu mengirimkannya kepada Ririn, anak perempuannya yang masih berada di luar negeri.
Ia begitu bangga memperlihatkan kepada Ririn bagaimana meriahnya pesta pernikahan Arman saat itu.
"Lihatlah, Rin! Seharusnya kamu berada di sini bersama kami. Pesta pernikahan ini begitu meriah. Yang datang pun bukan dari kalangan biasa. Semuanya berduit dan bermobil mewah. Coba perhatikan penampilan mereka! Seperti bos-bos semua, 'kan?" celetuk Bu Ningsih kepada Ririn yang tengah melakukan video call dengannya.
Ririn menghembuskan napas berat. "Maklum, Bu. Bukankah Nyonya Ira itu seorang pebisnis, jadi ya, wajar saja jika yang tamu datang bukan dari kalangan biasa seperti kita. Tapi ... aku masih kepikiran soal Nadira, Bu. Dia pasti sangat sedih jika tahu bahwa ternyata suaminya menikah lagi."
"Ya, itu pun jika ada yang memberitahunya, Rin. Kalau tidak, ya tidak mungkin dia tahu!" celetuk Bu Ningsih.
"Ya, sudah. Ibu mau makan dulu. Ibu pengen mencoba berbagai menu yang tersedia di atas meja saji. Semuanya enak-enak loh, Rin. Pokoknya siapa pun yang datang ke pesta pernikahan ini, tidak akan pernah menyesal!" ucap Bu Ningsih lagi.
"Baiklah, Bu. Sampaikan salamku buat Arman," sahut Ririn sebelum ia memutuskan video call tersebut.
Bu Ningsih segera menghampiri meja saji dan mengambil beberapa macam menu masakan lezat yang tertata rapi di atas sana. Setelah merasa cukup, ia pun membawanya ke sebuah kursi tamu lalu menikmatinya hingga puas.
***
__ADS_1