
Tak terasa seminggu sudah Arman berada di kota dan hari ini lelaki itu sudah berjanji sama Nadira bahwa ia akan kembali ke kediaman mereka.
Nadira mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan Arman. Ia memasak masakan favorit Arman dan berdandan lebih cantik dari biasanya.
Sementara itu di kediaman Laras dan Budi.
"Bagaimana, Laras? Apa kamu sudah cerita soal foto-foto itu kepada Nadira?" tanya Budi sembari menyeruput kopi manis buatan Laras.
"Belum, Mas. Rencananya hari ini aku akan berkunjung ke kediamannya dan memberitahu soal itu. Kebetulan hari ini aku gak ada job," jawab Laras.
"Loh, kenapa baru sekarang?" tanya Budi sambil menautkan kedua alisnya.
"Beberapa hari ini aku sibuk, Mas. Aku banjir orderan 'kan, jadi gak sempat berkunjung ke kediaman Nadira," jelasnya.
Setelah Budi berangkat kerja, Laras pun bersiap-siap mengunjungi Nadira di kediamannya. Dengan menggunakan sepeda listrik miliknya, Laras menuju tempat tinggal Nadira. Hanya butuh beberapa menit saja, ia pun tiba di tempat tersebut. Di mana Nadira tengah asik mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Arman.
"Amara!" panggil Laras sembari mengetuk pintu rumah sederhana milik Nadira.
"Eh, itu sepertinya suara mbak Laras, deh."
Nadira bergegas keluar bersama Amara yang mengikutinya dari belakang. Ia membuka pintu dan ternyata benar, Laras tengah berdiri di depan rumahnya sambil tersenyum hangat.
"Eh, Mbak Laras. Masuk, Mbak!"
Nadira membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan Laras untuk masuk. Laras pun masuk lalu duduk di kursi yang ada di ruang depan dan diikuti oleh Nadira.
"Kamu mau ke mana, Dira? Kok, cantik sekali," tanya Laras sembari memperhatikan penampilan Nadira yang terlihat berbeda dari biasanya. Nadira terlihat sangat cantik walaupun hanya dengan polesan make up seadanya.
"Tidak ke mana-mana, Mbak. Hari ini Mas Arman kembali jadi aku ingin menyambutnya," sahut Nadira sambil tersipu malu.
"Owalah, begitu, ya."
Ekspresi Laras terlihat sedikit berubah. Ia merasa iba kepada Nadira yang begitu antusias menyambut kedatangan sang suami. Padahal di belakang istri cantiknya itu, Arman sudah tega berkhianat.
"Mbak? Mbak Laras kenapa?" tanya Nadira setelah melihat Laras yang terdiam sambil menatap lekat dirinya.
Laras tersenyum getir. Dengan ragu-ragu, ia mulai membuka suaranya lagi. "Dir ... sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu. Ini tentang ...."
Tiba-tiba terdengar suara motor Arman yang memasuki halaman depan. Motor itu berhenti dan terparkir di sana. Laras yang tadinya ingin menceritakan soal Arman kepada Nadira, mendadak terdiam dan segera menoleh ke arah luar.
"Ah, syukurlah! Mas Arman sudah pulang," gumam Nadira dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Amara yang menyadari kedatangan sang ayah, segera berlari ke arah luar. Ia merentangkan tangan dan minta disambut oleh lelaki itu.
"Ayah!"
"Amara sayang!" Arman segera menyambut putri kecilnya itu lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
Bukan hanya Amara, Nadira pun tak mau ketinggalan menyambut kedatangan suaminya itu.
"Sebentar ya, Mbak."
Laras pun mengangguk dan memperhatikan keluarga kecil itu dengan seksama. Melihat kebersamaan mereka, Laras kembali bersedih. Ingatannya tiba-tiba kembali pada foto-foto mesra Arman yang diambil oleh suaminya itu beberapa hari yang lalu.
"Ayah, mana oleh-olehnya," celoteh Amara dengan bahasa khas anak kecil.
"Amara," sela Nadira.
"Wah, masih ingat aja Ara sama oleh-oleh," balas Arman sambil tertawa pelan. Ia memperlihatkan beberapa buah paperbag yang ia bawa kepada Amara dan membuat bocah cantik itu tersenyum lebar.
Arman tiba-tiba melihat ke arah Laras dan ia pun melemparkan senyumannya kepada wanita itu. "Eh, ada Mbak Laras rupanya," ucap Amran.
"Iya, Mas Arman. Tapi sekarang aku udah mau balik, kok," jawab Laras.
"Ehm, aku tidak enak ganggu kalian. Biar bicaranya nanti saja. Ya, sudah. Aku pulang dulu ya, Dir. Mas Arman," ucap Laras sembari bangkit dari posisinya lalu berjalan menuju pintu utama.
"Mbak Laras, baik-baik saja 'kan?" tanya Nadira lagi, sebelum wanita itu benar-benar pergi dari rumahnya.
"Tidak apa-apa, Dir. Mungkin besok aku akan kembali lagi ke sini," jawab Laras. Ia lalu pergi dari rumah itu sambil memacu sepeda listrik kesayangannya.
Sepeninggal Laras.
"Mbak Laras kenapa, Dir?" tanya Arman sembari menyerahkan beberapa buah paperbag yang ia bawa kepada Nadira.
"Entahlah, Mas. Mbak Laras memang terlihat terlihat sedikit aneh hari ini dan katanya dia ingin bicara sesuatu sama aku. Apa dia punya masalah sama mas Budi, ya?" sahut Nadira sembari meraih paperbag itu dari tangan Arman.
"Ehm, bisa jadi, sih."
Arman mengajak Nadira dan Amara untuk duduk di kursi lalu meminta istrinya itu untuk membuka paperbag yang ia bawa.
"Bukalah, itu untuk kalian."
Nadira pun bergegas membukanya, ternyata ada beberapa potong pakaian baru yang sengaja dibeli Arman untuk Nadira dan Amara. Nadira terlihat begitu senang. Ini pertama kalinya Arman membelikannya oleh-oleh seperti itu.
__ADS_1
"Ya ampun, Mas. Bagus sekali!" pekik Nadira sembari menenteng sebuah dress semata kaki berwarna cream ke hadapannya.
"Bagaimana, apa kamu menyukainya?" tanya Arman sambil tersenyum lebar.
Nadira mengangguk dengan cepat. "Ya, Mas. Aku sangat menyukainya."
"Dan ini untukmu, Sayang. Selama ini Ayah tidak pernah sekali pun membelikanmu boneka, 'kan?" Arman membuka paperbag lainnya yang ternyata berisi sebuah boneka beruang untuk Amara.
Amara berteriak kegirangan. Ia begitu senang mendapatkan boneka beruang berwarna coklat dan berbulu lembut itu. Ia memeluknya dengan erat sambil terus menciumi boneka tersebut.
"Ayo, bilang apa sama Ayah?" ucap Nadira sambil tersenyum bahagia menatap Amara.
"Makasih, Ayah!"
"Sama-sama." Arman melabuhkan sebuah ciuman di puncak kepala Amara.
"Aku masih punya sebuah kejutan untuk kalian." Arman mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah kotak perhiasan kecil lalu membukanya di hadapan Amara dan Nadira.
"A-apa itu, Mas?" tanya Nadira terheran-heran.
"Sini, mana tanganmu?" Arman meraih tangan Nadira lalu memasangkan sebuah cincin emas 24 karat seberat 10 gram ke jari manis Nadira. Nadira kaget bukan main. Matanya sampai membulat sempurna karena tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya.
"Ya Tuhan, Mas! Cincin?" pekiknya.
Arman tersenyum kecil lalu melabuhkan sebuah ciuman di atas punggung tangan Nadira. "Ya, ini cincinmu. Maafkan aku yang baru bisa mengembalikannya sekarang."
Saking terharunya, Nadira sampai meneteskan air mata. "Terima kasih banyak, Mas."
"Dan ini anting untuk Amara, semoga Amara menyukainya." Arman juga menyerahkan sepasang anting kecil untuk putri semata wayangnya kepada Nadira.
Nadira menyambut anting itu dengan ragu-ragu. Tiba-tiba hatinya kembali bertanya-tanya soal dari mana Arman mendapatkan uang sebanyak itu untuk membeli cincin serta anting emas tersebut.
"Mas, maafkan aku. Tapi, dari mana Mas mendapatkan uang sebanyak ini untuk membeli cincin serta anting ini?"
Arman menepuk pundak Nadira pelan. "Sudah. Tidak usah dipikirkan dari mana aku mendapatkannya. Yang penting sekarang semua itu sudah menjadi milik kalian. Dan satu lagi, uang yang aku hasilkan kali ini semuanya aman, tidak akan ada drama seperti dulu lagi. Percayalah," tutur Arman.
Nadira menatap Arman dengan wajah sendu. "Tapi, Mas ...."
"Sudah, Nadira. Cukup! Aku tidak ingin membahasnya. Aku sudah lelah dan butuh istirahat," ucap Arman dengan sedikit menegas. Ia bangkit dari posisinya lalu pergi melenggang begitu saja, masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Nadira yang masih dihantui berbagai pertanyaan.
...***...
__ADS_1