Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Keputusan Nadira 2


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Arman berdiri di balkon kamar utama sambil memperhatikan sekeliling bangunan megah itu dengan wajah kusut. Entah kenapa hari ini Arman tampak tak bersemangat, sama seperti biasanya.


Nyonya Ira tersenyum sembari berjalan menghampiri Arman. Ia memeluk lelaki itu dari belakang sambil sesekali menciumi punggungnya yang lebar.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, Mas?" tanya Nyonya Ira.


"Aku memikirkan Nadira yang hingga saat ini tidak kelihatan batang hidungnya. Aku tidak menyangka bahwa ternyata dia benar-benar keras kepala," jawab Arman. Ia masih memperhatikan jalan depan bangunan mewah itu. Berharap Nadira muncul di sana.


Nyonya Ira sempat memutarkan bola matanya ketika Arman kembali menyebutkan nama istri pertamanya itu. Ia tidak suka dan merasa cemburu jika Arman kembali teringat akan Nadira dan anak perempuannya.


"Untuk apa kamu mengingatnya lagi, Mas? Bukan kah itu memang keputusannya? Sebaiknya biarkan dia dengan egonya yang tinggi dan buat kamu ...." Nyonya Ira menarik pelan tubuh Arman hingga posisi mereka saat ini saling berhadap-hadapan.


"Tetaplah menjadi suami yang baik untukku." Nyonya Ira berjinjit lalu mencium bibir Arman.


"Sebaiknya ceraikan saja dia, Mas. Dan aku berjanji akan membantu mengurus surat-surat perceraian kalian dengan cepat. Bagaimana?"


Arman mengangguk pasrah. "Jika menurutmu itu yang terbaik untukku, maka lakukanlah."


Nyonya Ira tersenyum semringah setelah mendengar jawaban dari Arman. Ia bergegas memeluk lelaki itu lalu membenamkan wajahnya di dada bidangnya.


"Aku sangat mencintaimu, Mas! Sangat."


Sementara itu.


Nadira terdiam di ambang pintu rumahnya sambil memperhatikan si kecil Amara yang tengah mematung di teras rumah. Anak kecil itu terlihat tengah memeluk boneka beruang berwarna coklat pemberian Arman beberapa waktu yang lalu.


"Apa yang dilakukan oleh Amara di sana hingga ia tidak mendengar ketika aku panggil?" gumam Nadira.


Perlahan Nadira berjalan mendekati Amara. Terdengar suara isak tangis yang tertahan dari gadis kecil itu. Tubuh mungilnya bergetar dan sesekali terlihat pundaknya bergerak turun dan naik.


"A-ayah!" panggilnya dengan begitu pelan.

__ADS_1


"Amara, apa yang kamu lakukan di sini, Nak?" tanya Nadira sembari berjongkok di samping Amara.


Amara menoleh dan akhirnya Nadira sadar bahwa gadis kecil itu tengah menangisi sang ayah yang sudah seminggu terakhir tidak kelihatan batang hidungnya.


"Ke-kenapa Ayah belum pulang?" tanya Amara dengan terbata-bata sembari menahan tangisnya.


"Ya, Tuhan! Seandainya kamu mengerti apa yang sudah terjadi, Nak. Maka Ibu akan ceritakan semuanya kepadamu," gumam Nadira dalam hati.


"Mungkin ayah masih sibuk. Sebaiknya Amara ganti baju, kita akan ke rumah tante Laras," bujuk Nadira.


"Ara kangen ayah," celoteh anak itu lagi sambil terisak.


"Iya. Ayah pun pasti sama. Ayah juga merindukan Amara, tapi kamu tidak boleh sedih begini, ya." Nadira mengangkat tubuh mungil itu lalu menggendongnya.


Si kecil Amara menganggukkan kepalanya perlahan. "Baik, Bu."


"Bagus!" Nadira tersenyum lalu melangkah masuk ke dalam rumah sederhana mereka. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara teriakan Bu Ningsih dari depan rumahnya.


"Nadira! Nadira!"


"Nadira, aku ingin bicara padamu dan ini penting!" ucapnya lagi sembari masuk ke dalam rumah sederhana milik Nadira tanpa permisi sedikit pun.


Bu Ningsih menjatuhkan dirinya di kursi sambil memperhatikan Nadira yang kini berdiri tak jauh dari posisinya berada.


"Apa yang ingin Ibu bicarakan padaku?" tanya Nadira.


"Duduklah, Nadira. Apa kamu ingin berdiri saja di situ? Tidak sopan tau," sahut Bu Ningsih sembari menunjuk ke arah kursi kosong yang ada di sampingnya.


Dengan terpaksa Nadira pun duduk di sana. "Maafkan aku."


"Sebenarnya Ibu ke sini ingin membicarakan soal hubungan kamu sama Arman. Arman sudah menceritakan semuanya kepada Ibu." Bu Ningsih menghela napas berat.


"Eh, Nad, kamu itu bagaimana, sih? Kenapa kamu tetap bersikeras berpisah dari Arman? Apa kamu tidak pernah berpikir bagaimana nasib kalian nantinya? Seharusnya kamu itu bersyukur, Nad. Karena Nyonya Ira bersedia menjamin seluruh kebutuhan kalian dan Arman pun tidak perlu lagi susah-susah kerja banting tulang seperti dulu. Lagi pula ya, Nad. Nyonya Ira itu hanya membutuhkan sedikit waktu Arman. Itu saja, kok," tutur Bu Ningsih tanpa merasa berdosa sama sekali.

__ADS_1


Nadira tersenyum sinis. "Itu saja? Ibu bilang hanya 'itu saja'? Ya Tuhan, Bu. Mudah sekali Ibu berkata seperti itu kepadaku, seolah-olah Ibu bukanlah seorang wanita. Jika Ibu berada di posisiku, aku yakin Ibu pun akan melakukan hal yang sama sepertiku. Memangnya wanita mana sih, Bu, yang bersedia dimadu? Bahkan Mbak Ririn pun memilih mundur ketika suaminya ketahuan berselingkuh," kesal Nadira.


Bu Ningsih menghembuskan napas panjang. "Kasus kamu sama Ririn itu beda. Jika Arman terpaksa melakukannya demi kebahagiaan kalian, sementara suaminya berselingkuh karena dia memang seorang playboy," jelas Bu Ningsih.


Nadira menggelengkan kepala melihat sikap Bu Ningsih yang benar-benar menyebalkan menurutnya. Ia bangkit dari posisi duduknya lalu kembali membuka suara.


"Aku sudah tidak ingin membicarakan masalah ini lagi, Bu. Apa pun yang Ibu katakan, aku sudah tidak peduli karena keputusanku sudah bulat. Aku memilih mundur dari pada harus berbagi suami dengan wanita itu. Sebaiknya sekarang Ibu pergi karena aku masih sibuk," tegas Nadira.


"Cih, sombong sekali kamu!" Bu Ningsih mendengus kesal kemudian bangkit dari posisinya. "Ingat, Nadira! Kamu pasti akan menyesal," lanjutnya sembari melengos pergi meninggalkan kediaman sederhana milik Nadira. Wanita paruh baya itu terus saja menggerutu kesal bahkan hingga ia menjauh dari tempat tersebut.


Nadira bergegas menutup pintu utama lalu menguncinya agar siapa pun yang berhubungan dengan Arman tidak bisa masuk ke dalam rumahnya tanpa izin.


"Ibu benar-benar kejam! Dengan semudah itu ia bicara padaku tanpa memikirkan bagaimana perasaanku saat ini," kesal Nadira.


Nadira membawa Amara masuk ke dalam kamar lalu menggantikan pakaian gadis kecil itu dengan yang lebih bagus.


Selang beberapa saat kemudian.


"Mbak Laras!" Nadira mengetuk pintu rumah Laras sembari memanggil nama wanita itu.


"Ya, sebentar!" Terdengar suara Laras yang menyahutnya dari dalam rumah. Wanita itu berjalan cepat menuju pintu kemudian membukanya dengan lebar.


"Nadira? Wah, kebetulan sekali kamu datang. Bisa bantu aku membuat adonan kue? Hari ini aku kebanjiran orderan," ucapnya sambil tersenyum semringah.


"Ehm, tentu saja, Mbak."


Nadira pun bergegas masuk lalu mengikuti Laras yang berjalan menuju ruangan dapur, di mana Laras tengah sibuk membuat berbagai macam kue. Setibanya di ruangan itu, Nadira segera membantu pekerjaan wanita itu tanpa canggung sedikit pun. Sebab ia sudah biasa membantunya membuat kue. Sementara Amara duduk tak jauh dari tempat itu sambil bermain boneka miliknya.


"Oh ya, Nad. Bagaimana dengan tawaranku kemarin? Apa kamu berminat?" tanya Laras kepada Nadira yang tengah fokus mengaduk adonan kue miliknya.


"Sebenarnya aku ke sini memang ingin membicarakan soal itu, Mbak. Setelah berpikir panjang, akhirnya aku memutuskan untuk menjual rumah peninggalan kedua orang tuaku dan pergi dari sini. Kalau perlu aku akan merantau ke kota lain bersama Amara," jawab Nadira.


Laras pun tersenyum lebar. "Ish, jangan pergi jauh-jauh, Nad. Nanti aku tidak bisa mengunjungimu lagi," celetuk Laras sambil menekuk wajahnya.

__ADS_1


"Tidak apa, Mbak. Nanti aku akan beli ponsel agar kita bisa saling berhubungan satu sama lain," jawab Nadira.


...***...


__ADS_2