
Setelah kepergian Arman, Bu Ningsih benar-benar menjadi seseorang yang berbeda. Ia lebih suka diam dan kadang suka menangis sendiri. Ririn, putri pertama Bu Ningsih pun terpaksa berhenti bekerja menjadi TKW dan balik ke negerinya demi menjaga sang Ibu.
Seperti hari ini, tanpa sepengetahuan Ririn, Bu Ningsih membuat segelas kopi hangat lalu meletakkannya ke atas meja. Ia duduk di sana kemudian memanggil nama Arman.
"Arman! Nak, ini kopimu. Jangan lama-lama, nanti kopinya keburu dingin," ucap Bu Ningsih.
Ririn yang sedang sibuk merapikan kamar Bu Ningsih, terkaget-kaget mendengar suara wanita paruh baya tersebut. Ia pun segera berlari menuju ruangan itu lalu menghampirinya.
"Bu! Ibu ngapain di sini? Dan kopi ini untuk siapa?" tanya Ririn dengan heran.
"Eh, Ririn. Ini kopi buat adikmu. Katanya dia ingin minta kopi. Jadi ya, Ibu buatin aja," jawab Bu Ningsih sambil tersenyum-senyum.
"Arman minta kopi? Ya ampun, Ibu. Arman sudah meninggal. Tolong, ikhlaskan dia," sahut Ririn sambil menangis lirih.
"Ish, kamu ini apaan sih, Rin! Arman dibilang sudah meninggal. Arman masih hidup, kok. Baru saja dia minta buatin kopi dan sekarang dia sedang berada di dalam kamar mandi. Katanya sudah gerah," jelas Bu Ningsih sambil terkekeh.
Ririn sedikit kesal. Ia segera menghampiri kamar mandi lalu membuka pintunya dengan lebar. "Sekarang Ibu lihat! Di mana dia? Tidak ada siapa-siapa di sini, Bu!"
__ADS_1
Bu Ningsih segera bangkit lalu berjalan menghampiri kamar mandi. Wanita paruh baya itu melongokkan kepalanya ke dalam kamar mandi dan sekarang ia sadar bahwa tidak ada siapa pun di dalam ruangan sempit itu.
Bu Ningsih kembali menangis histeris. Ia menjerit, memanggil nama Arman. Penyesalannya begitu dalam hingga wanita paruh baya itu tidak bisa menerima kenyataan pahit bahwa Arman sudah meninggal.
"Arman ...!"
"Sudahlah, Bu. Sebaiknya ikhlaskan saja Arman pergi. Biar dia tenang di sana," ucap Ririn mengingatkan, sambil memeluk tubuh renta Bu Ningsih.
Setelah beberapa menit kemudian. Bu Ningsih pun merasa kelelahan dan akhirnya ia ketiduran. Kini saatnya untuk Ririn melanjutkan pekerjaan rumahnya yang sempat tertunda.
"Ini ada kiriman dari Nona Nadira dan Tuan Andrew untuk Anda," ucapnya.
Ririn tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ini sudah yang kesekian kalinya mereka memberikan bantuan untuknya dan juga ibunya. Beras, telur, kopi, gula, minyak dan semua barang pokok tersedia dan cukup untuk bertahan sebulan lebih.
"Oh ya, hampir saja saya lupa." Lelaki paruh baya itu menyerahkan sebuah amplop berisi sejumlah uang untuknya. Sama seperti bulan-bulan sebelumnya.
"Terima kasih banyak, Tuan. Tolong sampaikan ucapan terima kasih saya untuk mereka. Semoga keluarga mereka selalu bahagia," ucap Ririn dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Karena tahu keluarga Bu Ningsih sudah tidak memiliki penghasilan lagi, Nadira dan Andrew pun berniat membantu mencukupi kebutuhan mereka.
Sementara itu.
"Bagaimana, Sayang?"
Andrew yang sudah tidak sabar, merebut alat tes kehamilan yang masih berada di tangan Nadira dengan cepat. Nadira mencoba menghalau, tetapi tidak bisa. Alat tes kehamilan itu sudah terlanjur berpindah tangan ke genggaman suaminya itu.
"Ah, Mas Andrew!" Nadira menekuk wajahnya lalu memeluk lengan kekar itu sambil menyandarkan wajahnya.
Andrew bergegas memperhatikan benda mungil itu dan setelah melihat hasilnya, ia pun berteriak kegirangan.
"Wohaaa! Terima kasih, ya Tuhan!" Andrew mengangkat tubuh mungil Nadira untuk sesaat kemudian memeluknya dengan erat.
"Terima kasih, Nadira. Terima kasih karena sudah bersedia menjadi Ibu untuk anakku," ucap Andrew.
"Sama-sama, Mas."
__ADS_1
... ***...