
Di tempat yang berbeda. Di mana Arman dan Nyonya Ira tengah asik bersantai di ruang televisi. Arman fokus pada layar televisi, sementara Nyonya Ira tengah asik berbincang bersama salah satu sahabat di sambungan teleponnya.
"Ah, iya. Nanti aku usahakan. Kamu tahu sendiri 'kan bagaimana rasanya ngidam di awal-awal kehamilan? Hmmm, rasanya sesuatu banget. Aku aja sampai gak bisa ngapa-ngapain. Tiap hari kerjaannya hanya rebahan sambil menahan rasa mual," tutur Nyonya Ira sembari melirik Arman yang masih fokus pada layar kaca berukuran besar di hadapannya.
Di saat Nyonya Ira masih asik berbincang, tiba-tiba Arman menepuk-nepuk paha wanita itu berkali-kali dengan mata membulat menatap layar televisi.
"Ira, Ira, lihatlah!" kata Arman.
"Apaan 'sih, Sayang? Kamu ini ganggu aku aja," sahut Nyonya Ira dengan wajah yang sedikit menekuk.
"Coba lihatlah ke televisi! I-itu ada Amara, anakku!" pekik Arman lagi dengan terbata-bata.
"Amara?" Nyonya Ira pun segera menoleh ke arah televisi dan betapa terkejutnya ia setelah melihat Amara menjadi salah satu bintang iklan di layar televisi.
"I-itu Amara?" tanya wanita itu dengan mata membulat sempurna. Ia bahkan lupa akan sahabatnya yang masih berceloteh di sambungan telepon.
"Iya, Ra! Aku juga kaget. Ternyata anakku ...." Arman terdiam dan tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sementara matanya masih fokus pada tayangan iklan tersebut dengan berkaca-kaca.
"Tidak mungkin! Bagaimana bisa Amara menjadi bintang iklan di televisi! Memangnya tahu apa mantan istrimu yang kampungan itu soal dunia hiburan," celetuknya dengan kasar.
Nyonya Ira tidak bisa menerima bahwa anak kecil yang sedang membintangi sebuah iklan produk terkenal seantero negeri itu adalah anak dari suaminya.
"Ira? Kamu masih di sana?" tanya wanita yang sedang bicara bersama Nyonya Ira di telepon. Ia bingung setelah mendengar celetukan Nyonya Ira yang melenceng dari topik pembicaraan mereka.
"Ah, iya. Maafkan aku, Rita! Aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus aku lakukan," jawabnya dengan berbohong.
"Tapi, Ra!" Belum habis wanita itu berkata, Nyonya Ira sudah memutuskan panggilannya.
"Hhh, dasar Ira!" geram wanita itu dengan wajah menekuk sempurna.
Baru saja Nyonya Ira meletakkan ponselnya ke atas meja, tiba-tiba ponsel milik Arman berdering. Arman bergegas menerima panggilan tersebut, yang ternyata dari Bu Ningsih.
"Ya, Bu?"
__ADS_1
"Arman, coba lihat di TV. Ada anakmu di sana. Dia jadi bintang iklan, Arman! Ya Tuhan, aku jadi ikutan bangga karena cucuku bisa masuk TV!" seru Bu Ningsih tanpa basa-basi.
Ia begitu senang ketika salah satu tetangga memberi tahu soal Amara yang kini menjadi seorang bintang iklan. Bahkan dengan bangganya ia mengakui Amara sebagai cucunya di depan para warga desa.
"Ibu juga melihatnya? Aku juga melihatnya, Bu. Jujur aku merasa sangat bangga walaupun aku tidak berada di sisinya." Arman tersenyum semringah.
"Ya, Arman. Barusan Ibu lihat di televisi." Bu Ningsih terdiam sejenak lalu kembali bicara.
"Ehm, Arman. Apa kamu tidak berniat mengambil hak asuh Amara dari Nadira? Siapa tahu nanti Amara menjadi orang yang sukses. Benar 'kan?" Tiba-tiba niat licik Bu Ningsih kembali terlintas di pikirannya.
"Entahlah, Bu. Aku tidak pernah memikirkan itu sebelumnya," sahut Arman dengan wajah bingung.
"Kalau boleh Ibu sarankan, ya. Mending ambil saja hak asuk Amara dari Nadira. Lagi pula Amara 'kan perempuan dan wajar saja jika perempuan itu menjadi hak asuh si ayah," ucap Bu Ningsih mencoba memberi saran.
"Hmm, ya sudah, Bu. Nanti aku pikirkan lagi." Arman segera memutuskan panggilan itu karena ia sadar bahwa ekspresi Nyonya Ira sudah berubah.
Wajah Nyonya Ira tampak menekuk kesal. Ia benar-benar tidak suka melihat reaksi Arman dan Bu Ningsih yang menurutnya terlalu berlebih-lebihan membanggakan sosok Amara.
Selain itu ia pun tidak setuju jika Arman mengambil hak asuh Amara dari Nadira. Ia tidak ingin kehidupannya bersama Arman terganggu hanya karena hadirnya gadis mungil itu.
Arman terdiam sejenak sambil menghela napas panjang. Ia menatap wanita itu dengan wajah sendu.
"Jujur, aku bangga, Ra. Setidaknya bakat anakku tersalurkan dan soal Amara, kamu tenang saja karena aku sama sekali tidak pernah kepikiran untuk merebut hak asuh Amara dari Nadira," sahut Arman.
"Hhh, baguslah! Lagi pula ya, nanti kalau anakku sudah besar, aku akan jadikan dia super model! Melebihi anakmu itu," geram Nyonya Ira.
Arman tersenyum kecut. "Iya, iya. Aku percaya bahwa anak kita pun akan jadi super model sama seperti keinginanmu."
Nyonya Ira mendengus kesal lalu membuang muka.
***
Beberapa bulan kemudian.
__ADS_1
Amara semakin sukses saja. Sudah banyak iklan yang ia bintangi dalam waktu yang begitu singkat. Bukan hanya Amara, Nadira pun ikut kebanjiran job. Hingga pundi-pundi uang yang mereka hasilkan pun semakin banyak.
Nadira mengajak Laras untuk bekerja bersama, menjadi asisten yang mengurus kebutuhan serta jadwal Amara. Sementara ia bisa lebih fokus pada pekerjaannya.
"Mbak Nadira, ruangan ini sudah terlalu sempit untuk kita. Kenapa Mbak gak nyari sebuah tempat yang lebih luas lagi biar kita bisa bekerja dengan lebih leluasa?" keluh salah satu karyawan yang membantu Nadira di tokonya.
Nadira tersenyum kecut. "Sebenarnya aku sudah memikirkan hal itu. Tapi menurutku lebih baik tempat ini direnovasi saja, diperbesar ruangannya."
"Nah, itu boleh juga, Mbak. Beli saja lahan kosong di samping kiri dan kanan tempat ini," sahut yang lain.
"Iya, nanti akan kucoba menemui pemilik tanah di samping ruko ini. Semoga saja pemiliknya bersedia menjualnya kepadaku," jawab Nadira.
Tepat di saat itu Andrew datang berkunjung ke ruko. Lelaki itu datang tanpa memberitahu Nadira sebelumnya dan membuat wanita itu sedikit terkejut.
"Hai, semua!" sapa Andrew.
"Hai, Tuan Tampan!" sahut para karyawan Nadira sambil tersenyum lebar menatap pria tampan itu.
"Mas Andrew, kok tumben tidak memberitahu aku terlebih dahulu?" Nadira menghampiri lelaki itu dan mengajaknya duduk di sebuah kursi yang ada di ruangan tersebut.
"Hari ini aku punya waktu senggang jadi aku mampir saja ke sini. Ngomong-ngomong di mana Amara?" Andrew melirik kiri dan kanan, mencari sosok gadis mungil itu.
"Ada di dalam. Lagi bermain sama mbak Laras," jawab Nadira sembari menunjuk lantai atas, di mana Amara dan Laras berada.
Andrew pun mengangguk pelan. "Oh ya, Nad. Sebenarnya aku ke sini untuk mengajakmu main ke rumahku. Aku ingin memperkenalkanmu dengan daddy-ku. Bagaimana, apa kamu tidak keberatan? Jika kamu keberatan, tidak apa-apa, kok. Kita bisa menundanya di lain waktu."
Nadira memperhatikan satu persatu wajah karyawan yang membantunya dan mereka pun menganggukkan kepala. "Pergi saja, Mbak. Tidak apa-apa, kok. Pokoknya kami bisa dipercaya," ucap salah satu dari mereka.
Nadira tersenyum tipis lalu kembali menatap Andrew. "Lalu Amara?"
"Kita ajak bersama. Lagi pula daddy-ku itu pencinta anak kecil. Aku yakin daddy akan senang bertemu dengan Amara," jawab Andrew dengan begitu antusias.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Nadira pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku setuju."
__ADS_1
Andrew tersenyum puas. Ia begitu senang karena Nadira bersedia ikut dengannya.
...***...