
"Aku harus bisa meyakinkan Arman bahwa saat ini aku benar-benar tengah hamil. Aku ingin perhatiannya hanya tertuju padaku saja. Bukan Amara, apalagi Nadira!" gumam Nyonya Ira sembari menatap Arman yang tengah asik menikmati kopinya.
Nyonya Ira berjalan menghampiri Arman sambil menenteng sebuah kado kecil berisi testpack bergaris dua milik salah satu sahabatnya. Ia sengaja meminta testpack itu untuk menjalankan aksinya meyakinkan Arman.
"Mas Arman, aku punya kejutan untukmu," ucapnya sembari memeluk Arman dari belakang. Ia lalu menyerahkan kotak kecil berisi testpack tersebut ke hadapan Arman dan duduk di samping suaminya itu.
"Apa ini?" tanya Arman sembari memperhatikan kotak tersebut dengan seksama.
"Buka saja, Mas," sahut Nyonya Ira sambil tersenyum manis.
Arman bergegas membuka kotak tersebut. Ia begitu penasaran hadiah apa yang akan ia dapatkan dari wanita paruh baya tersebut. Setelah kotak itu terbuka, Arman melihat sebuah benda mungil dengan garis dua berwarna merah di tengahnya.
"Bukankah ini —"
"Testpack!" sela Nyonya Ira.
"I-iya, aku tahu ini testpack. Tapi testpack-nya siapa?" tanya Arman yang masih ragu-ragu.
Nyonya Ira tertawa pelan lalu menyentuh perutnya dengan lembut. "Punyaku lah, Mas. Punya siapa lagi? Aku positif hamil, Mas. Dan usia kandunganku sudah memasuki minggu ke-5," jawabnya.
"Apa, kamu hamil?!" Arman tampak kebingungan sekaligus ragu bahwa wanita paruh baya itu tengah mengandung anaknya. Secara usia Nyonya Ira sudah terlalu tua untuk mengandung.
Melihat reaksi Arman saat itu, Nyonya Ira pun menjadi bingung. "Ya, Mas. Aku hamil. Memangnya kenapa? Mas tidak percaya?"
Belum sempat Arman menjawab pertanyaan Nyonya Ira barusan, wanita itu kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam saku dress yang ia kenakan.
"Aku juga punya hasil USG-nya," lanjut wanita itu sembari menyerahkan hasil USG yang juga milik sahabatnya dan diakui sebagai miliknya.
Arman memperhatikan hasil USG tersebut dengan raut wajah yang masih terlihat bingung.
"Kapan kamu memeriksakannya? Dan kenapa kamu tidak mengajakku serta?"
Nyonya Ira tersenyum lagi. "Baru kemarin, Mas. Dan aku sengaja tidak mengajakmu karena aku ingin ini menjadi sebuah kejutan," jawab Nyonya Ira, mencoba meyakinkan.
__ADS_1
"Apa kamu senang mendengarnya?" lanjutnya.
Arman meraih tubuh Nyonya Ira lalu memeluknya. "Tentu saja aku senang karena sebentar lagi keluarga kita akan semakin komplit dengan kehadirannya."
"Oh, aku bahagia sekali." Nyonya Ira membenamkan kepalanya di dada bidang Arman.
"Oh ya, Mas. Aku juga punya kabar baik lainnya. Akhirnya surat keputusan cerai kalian sudah ditandatangani oleh Nadira dan itu artinya kamu dan wanita itu sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi. Aku bahagia sekali karena sekarang aku adalah istrimu satu-satunya," tutur Nyonya Ira.
Arman menautkan kedua alisnya heran. "Kapan Nadira menandatangani surat itu? Bukankah dia sudah tidak ada di sini?"
Nyonya Ira melerai pelukannya lalu tersenyum menatap Arman yang lagi-lagi kebingungan. "Tidak penting kapan dan di mana Nadira menandatangani surat perceraian itu. Yang penting sekarang semua sudah beres dan status kalian sudah tidak menggantung lagi. Benar 'kan?"
Arman menghembuskan napas berat. "Ya, sudahlah."
Ia tampak pasrah. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Arman begitu penasaran dan ingin sekali menjumpai Nadira dan Amara.
***
"Nadira, aku sudah mendaftarkan Amara di perlombaan itu secara online dan sekarang tinggal menunggu pengumumannya. Kita berdoa sama-sama ya, Nad. Biar Amara lolos," kata Laras dari seberang telepon dengan begitu antusias.
"Ya ampun, Mbak Laras, terima kasih banyak. Ya, kita berdoa saja semoga Amara lolos," jawab Nadira.
"Sama-sama, Nad. Ya, sudah. Nanti kita sambung lagi, ya! Aku mau mengantarkan kue pesanan orang dulu, bye!" ucap Laras, kemudian memutuskan panggilan tersebut.
"Ya, Mbak. Bye!"
Setelah Laras memutuskan panggilannya, Nadira kembali ke pekerjaannya, mengemasi barang-barang pesanan pelanggan online yang harus ia kirimkan.
Tanpa Nadira sadari, Amara malah bermain hingga keluar toko. Gadis kecil itu duduk di pinggir jalan sambil bermain dengan boneka beruang coklat pemberian Arman dulu.
Amara melempar-lemparkan boneka kesayangannya itu ke atas lalu menangkap dan memeluknya dengan erat sembari menimang boneka tersebut. Hal itu dilakukan Amara berulang kali, hingga pada lemparan terakhir gadis itu tidak bisa menangkapnya. Boneka itu jatuh ke jalan dan sempat terpental hingga ke tengah.
Amara pun panik. Ia takut boneka kesayangannya tertabrak mobil atau motor yang melewati jalan. Tanpa pikir panjang, Amara berlari ke tengah. Ia sama sekali tidak mempedulikan ramainya kendaraan yang tengah berlalu lalang di jalan tersebut.
__ADS_1
Bahkan tidak sedikit pengemudi kendaraan beroda dua dan empat yang menekan klakson mereka supaya Amara menyingkir dari tempat berbahaya tersebut.
Suara klakson yang saling bersahutan terdengar hingga ke telinga Nadira yang tengah sibuk mengemasi barang-barang dagangannnya. Nalurinya sebagai seorang ibu langsung bergerak. Ia bergegas bangkit lalu berjalan menelusuri setiap sudut ruangan sambil memanggil nama Amara.
"Amara! Kamu di mana, Nak?"
Kini Nadira berdiri di depan toko dengan mata membulat sempurna. Ia melihat Amara masih berdiri di tengah jalan sambil memeluk boneka kesayangannya.
"Amara!" teriak Nadira yang ingin segera menyusul anak perempuannya itu di tengah jalan.
Hingga sesuatu yang tidak diinginkan pun terjadi. Sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan sedang menuju ke arah Amara. Seseorang yang duduk di belakang kemudi sedang fokus pada ponselnya hingga tidak memperhatikan ada seorang anak kecil di depannya.
"Amara!" teriak Nadira sembari berlari dengan cepat ke arah Amara.
"Ya, Tuhan!" pekik seseorang yang sedang mengemudikan mobil tersebut dan refleks menginjak rem mobilnya.
Citttt!
Brugkhh!
Namun, sayangnya bumper mobil tersebut masih sempat menyentuh tubuh mungil Amara hingga bocah kecil itu terbaring di aspal sambil memeluk bonekanya. Tubuh Nadira seketika lunglai. Ia jatuh ke tanah tepat di hadapan Amara yang tidak sadarkan diri.
Nadira meraung. Ia meraih tubuh mungil itu lalu memeluknya sambil menangis histeris. Sementara lelaki pemilik mobil tersebut segera keluar kemudian menemui Nadira yang masih syok melihat kondisi Amara.
"Ya, Tuhan! Masuklah, Mbak. Kita bawa dia ke rumah sakit!" ajak lelaki bersetelan jas hitam itu tanpa basa-basi. Ia membuka pintu mobilnya dan meminta Nadira untuk masuk ke sana.
Nadira menoleh dan menatap lelaki itu dengan penuh kebencian. Namun, ia sadar bahwa saat itu tidak ada gunanya menyumpahi lelaki tersebut sebab keselamatan Amara jauh-jauh lebih penting.
Nadira segera bangkit dari posisinya dan berjalan memasuki mobil mewah tersebut dengan kaki bergetar. "Cepat, Tuan! Kamu harus selamatkan anakku," ucap Nadira dengan tegas.
"Baik, Mbak," jawab lelaki itu lalu bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit terbesar di kota tersebut.
***
__ADS_1