Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Tuan Bian Ingat


__ADS_3

Maaf baru bisa Up sekarang 🤧 soalnya Author sekarang mudah sekali lelah. Apalagi mendekati hari lahiran seperti ini. Doakan Author sehat selalu, ya! Biar bisa update tanpa ada drama lagi. 🥰🥰🥰


...Happy Reading ......


"Coba lihatlah! Ini adalah Ira Lestari yang aku maksudkan. Apakah dia wanita yang sama, yang kamu maksud?" tanya Andrew sembari menyerahkan foto tersebut ke tangan Nadira.


Nadira meraih foto tersebut lalu melihatnya. Betapa terkejutnya Nadira setelah sadar bahwa Ira Lestari yang ia maksudkan adalah Ira yang sama dengan yang ada dipikiran Andrew.


Di foto tersebut tampak sosok nyonya Ira tengah bergelayut manja di pundak tuan Bian. Keduanya saling melempar pandang dan dari tatapan mereka di foto tersebut, Nadira yakin bahwa antara nyonya Ira dan tuan Bian terjalin sebuah hubungan yang begitu spesial.


"I-iya, Mas. Ini adalah nyonya Ira! Nyonya Ira Lestari yang menjadi istri muda dari mas Arman. Ta-tapi apa hubungannya dengan daddy?" tanya Nadira dengan terbata-bata sembari menyerahkan foto itu kembali ke tangan Andrew.


"Apa?" pekik Andrew. Lelaki itu tampak syok setelah tahu bahwa wanita berumur itu lah yang sudah berhasil merebut Arman dari Nadira dan menghancurkan rumah tangga mereka.


"Ja-jadi wanita inilah yang sudah merusak kebahagiaan rumah tanggamu?" lanjutnya, masih dengan mata membulat sempurna menatap Nadira.


Nadira mengangguk pelan. "I-iya, Mas."


"Ya, ampun!" Andrew mengacak rambutnya pelan lalu kembali meletakkan foto itu ke dalam laci meja kerjanya.


"Memangnya dia siapa, Mas? Sebenarnya ada hubungan apa antara nyonya Ira dengan daddy, Mas?" Nadira makin penasaran.


Andrew menghembuskan napas berat. "Dia adalah mantan istri daddy. Aku memilih pergi ke luar negeri setelah Daddy memutuskan untuk menikahi wanita itu. Entah kenapa, sejak pertama aku melihatnya, aku sudah tidak menyukai perangai wanita itu," tutur Andrew.


"Ya, Tuhan! Jadi Nyonya Ira adalah mantan istri daddy?" pekik Nadira yang turut tersentak kaget.


"Ya. Dan yang bikin aku benar-benar kecewa, dia memilih meninggalkan daddy setelah kecelakaan itu terjadi. Aku pikir dia akan setia menemani daddy, tetapi ternyata aku salah." Andrew kembali menghembuskan napas berat.


"Nyonya Ira memang benar-benar keterlaluan," gumam Nadira sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Padahal ketika daddy menghilang selama berbulan-bulan, Ira terlihat begitu sedih dan berduka. Namun, setelah daddy ketemu dengan kondisinya yang seperti itu, dia malah memilih meninggalkannya. Jadi, tidak salah 'kan jika aku berpikir bahwa cintanya selama ini sama daddy itu hanyalah sebuah sandiwara belaka," lanjut Andrew dengan penuh kekecewaan.


"Yang sabar ya, Mas. Entah ini kebetulan atau tidak, yang jelas kita dikecewakan oleh orang yang sama."


"Ya, kamu benar, Nad."


Beberapa jam kemudian.


Nadira dan Amara masih berada di kediaman mewah Andrew. Dia enggan pulang sebelum memastikan bahwa tuan Bian baik-baik saja. Nadira masih duduk di tepian ranjang lelaki tua itu sambil sesekali mengelus lembut tangannya yang sudah mulai keriput.


Sementara Andrew duduk di sofa yang terletak di depan ranjang mewah itu sambil memeluk Amara dengan penuh kasih sayang.


"A-Andrew ...."


Tiba-tiba terdengar suara lemah tuan Bian memanggil nama Andrew. Ini pertama kalinya setelah kecelakaan itu, tuan Bian memanggil nama Andrew. Andrew, Nadira, dan beberapa orang perawat yang berada di ruangan itu tersentak kaget. Mereka pun bergegas menghampiri tuan Bian lalu mengecek keadaannya.


"Daddy! Daddy baik-baik saja?" Andrew berdiri di samping ranjang lalu menggenggam erat tangan tuan Bian.


"Sebaiknya Daddy istirahat saja," ucap Andrew.


Tuan Bian menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, Andrew. Sekarang Daddy sudah ingat semuanya. Daddy sudah ingat semuanya," sahut Tuan Bian.


"Benarkah itu, Dad?" Andrew menatap heran, masih antara percaya dan tidak percaya dengan kata-kata yang diucapkan oleh daddy-nya barusan.


"Ya, Andrew. Daddy sudah ingat semuanya. Maafkan Daddy, Nak. Daddy benar-benar menyesal karena selama ini Daddy tidak pernah mendengarkan kata-katamu dan kamu benar. Seharusnya Daddy tidak memilih wanita itu untuk menjadi pengganti sosok mommy-mu karena pada dasarnya mereka memang benar-benar berbeda," tutur Tuan Bian sambil meneteskan air matanya.


Andrew menghembuskan napas panjang lalu tersenyum kecil. Ia begitu bahagia karena akhirnya sang daddy sudah ingat semuanya.


"Sudahlah, Dad. Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Sekarang yang terpenting daddy sudah ingat siapa aku dan itu sudah lebih dari cukup bagiku," sahut Andrew yang juga ikut meneteskan air mata bahagianya.

__ADS_1


"Sebaiknya daddy istirahat saja. Biar ceritanya besok saja," bujuk Andrew lagi.


Tuan Bian membuang napas berat. "Aku harus memberikannya pelajaran pada wanita itu! Harus!" ucapnya dengan raut wajah yang begitu serius.


Andrew dan Nadira saling lempar pandang untuk sesaat. Mereka terlihat bingung melihat reaksi tuan Bian saat itu.


"Sebaiknya Daddy istirahat dulu. Tidak usah memikirkan hal-hal yang berat dulu. Aku takut kondisi Daddy memburuk lagi," ucap Andrew kemudian sembari menyelimuti Tuan Bian hingga sebatas perut.


Tuan Bian hanya diam dan dari raut wajahnya saat itu terlihat jelas kekecewaan yang begitu mendalam. Setelah menenangkan Tuan Bian, Andrew pun segera mengajak Nadira serta Amara keluar dari ruangan itu dan membiarkan sang daddy untuk beristirahat.


"Mas, jujur aku penasaran dengan kata-kata daddy barusan. Aku rasa ada satu masalah yang belum terselesaikan antara daddy dan nyonya Ira," ucap Nadira setelah Andrew menutup pintu kamar tersebut.


"Ya, kamu benar, Nadira. Aku rasa juga begitu, tapi untuk saat ini biarlah daddy beristirahat. Jika nanti kondisinya sudah stabil, baru aku ajak daddy untuk bercerita," jawabnya.


"Ehm, Mas. Sepertinya aku dan Amara harus pulang sekarang sebab besok pagi Amara ada jadwal syuting lagi," ucap Nadira.


Andrew melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ehm, baiklah kalau begitu. Sebaiknya aku antar kalian pulang," jawab Andrew.


"Sebaiknya Mas di sini saja menjaga daddy. Biar sopir saja yang mengantarkan kami," ucap Nadira lagi.


Andrew tersenyum kecil lalu merengkuh pundak Nadira. "Tidak. Aku tidak akan tenang sebelum memastikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa kamu dan anak gadisku ini sampai di tempat kalian dengan aman," jawabnya.


Nadira hanya bisa tersenyum. Ia berjalan menuju halaman depan rumah mewah itu bersama Andrew dan Amara.


"Nadira, apakah kamu masih belum terpikirkan untuk melanjutkan hubungan kita ke jenjang pernikahan? Jujur, aku sudah tidak sabar menunggu hari itu. Hari di mana kamu menyatakan bahwa kamu bersedia menjadi istriku," ucap Andrew sambil melirik Nadira yang berjalan di sampingnya.


Nadira tersenyum kecil. "Bisa kah Mas menunggu jawabanku hingga beberapa bulan lagi? Setidaknya hingga daddy benar-benar sehat dan bisa menjadi saksi di pernikahan kita nantinya," jawab Nadira.


Andrew tersenyum lebar lalu menganggukkan kepalanya. "Ya, tentu saja aku bersedia! Tapi jangan lama-lama, ya."

__ADS_1


Nadira terkekeh pelan dan diikuti tawa kecil Amara yang seolah mengerti apa yang sedang pasangan itu bicarakan.


...***...


__ADS_2