Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Nadira Menyusul


__ADS_3

Malam pun menjelang.


Malam ini Nyonya Ira akan pergi ke salah satu pesta ulang tahun pernikahan sahabatnya dengan ditemani oleh Arman. Nyonya Ira terlihat sangat cantik dan tampil elegan dengan dress mahal miliknya. Sementara Arman tampak begitu tampan dengan setelan jas mahal yang Nyonya Ira belikan ketika di kota.


Selesai berpakaian, Arman memperhatikan bayangannya di cermin sambil tersenyum tipis. Ia begitu bangga melihat penampilannya yang berubah 180 derajat. Yang tadinya hanya seorang pria sederhana dengan pakaian seadanya, kini terlihat seperti seorang pengusaha kaya raya dengan setelan jas mewah yang harganya fantastis.


"Kamu tampan sekali, Mas! Semua teman-temanku pasti akan iri," ucap Nyonya Ira yang tiba-tiba datang mendekat lalu memeluk Arman dari belakang.


Arman yang biasanya selalu menolak dan tampak risih jika dipeluk oleh wanita itu, kini seolah menjadi terbiasa.


"Tentu saja mereka akan iri karena hanya kamu yang mendapatkan suami seperti aku," jawabnya dengan bangga.


"Ah, Mas Arman. Aku makin cinta sama kamu!" Nyonya Ira makin mempererat pelukannya.


"Sayang, apa kamu ingin kita berpelukan seperti ini saja atau pergi ke pesta anniversary teman kamu?"


Nyonya Ira tersadar kemudian tertawa pelan. "Kamu benar, Mas. Sebentar, aku ambil tasku dulu."


Setelah meraih tas bermerek dengan harga ratusan juta tersebut, Nyonya Ira pun segera mengajak Arman untuk berangkat ke pesta anniversary salah satu sahabatnya.


Selang beberapa menit kemudian.


Arman dan Nyonya Ira tiba di tempat terselenggaranya pesta. Tampak tamu-tamu sudah terkumpul di ruangan yang luas dan megah itu. Kehadiran Arman dan Nyonya Ira di ruangan tersebut, menjadi pusat perhatian banyak orang. Terutama kerabat, teman dan para sahabat Nyonya Ira.


"Ira terlihat bahagia, ya. Apalagi sekarang ia sudah tidak sendiri lagi," celetuk salah satu sahabatnya yang mulai membuka percakapan.


"Halah, hati-hati jangan bangga dapat brondong tampan. Bisa-bisa harta kita habis dikeruknya," timpa yang lain sambil tersenyum sinis.


"Iya, benar. Apalagi Ira pernah mengalaminya sendiri. Tapi kok heran, ya. Dia gak trauma dengan masa lalunya dan malah mengulanginya lagi," sela yang lain.


Tiba-tiba percakapan mereka terhenti karena Nyonya Ira dan Arman sudah tiba di meja mereka. Mereka memasang senyuman semanis mungkin lalu menyambut kedatangan pasangan itu.


"Ayo, Ira. Duduklah," ucap mereka, sembari menunjuk ke area kursi kosong.


"Terima kasih," jawab Nyonya Ira dengan wajah semringah.


Pesta itu pun berlangsung. Pasangan Arman dan Nyonya Ira pun ikut terlarut dalam kemeriahan acara pesta tersebut.

__ADS_1


Seorang wanita berperawakan semok (salah satu sahabat Nyonya Ira) yang duduk di samping Arman, mulai mengajak lelaki itu berbincang.


"Sudah berapa lama kamu kenal sama Ira?" tanya wanita itu.


"Baru beberapa bulan terakhir. Memangnya kenapa, Nyonya?" sahut Arman sambil tersenyum hangat.


"Oh, aku pikir sudah lama. Oh ya, ngomong-ngomong berapa Ira membayar jasamu untuk satu malam? Kalau kamu bersedia menemaniku, maka aku akan membayarmu berkali-kali lipat dari jumlah yang diberikan oleh Ira kepadamu," bagaimana?" tanya wanita itu tanpa basa-basi.


Arman tersenyum kecut. Ingin sekali ia memaki wanita berperawakan semok itu karena sudah berani menghinanya. Menganggap dirinya seperti seorang gigolo yang siap memuaskan tante-tante kesepian.


"Maafkan aku, Nyonya. Aku bukan gigolo. Aku adalah suami sah dari Ira. Jadi, jangan berkata seperti itu lagi tentangku," tegas Arman.


Wanita itu hanya tersenyum kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain. "Jika kamu berubah pikiran, silakan hubungi nomorku."


Wanita itu meraih sebuah kartu nama dan meletakkannya di atas meja. Tepatnya di hadapan Arman. Walaupun kesal, Arman tetap meraih kartu nama tersebut lalu menyimpannya. Siapa tahu kartu nama itu akan berguna nantinya di kemudian hari. Begitulah pikir Arman.


Tepat di saat itu ponsel Arman tiba-tiba bergetar. Ia meraih benda pipih tersebut lalu memperhatikan siapa yang sudah mencoba menghubunginya.


"Ibu?" ucap Arman sambil menautkan kedua alisnya heran. "Mau apa Ibu menghubungiku malam-malam begini?"


Arman menerima panggilan itu lalu meletakkannya ke samping telinga. "Ya, Bu?"


Karena acara pesta itu cukup berisik, Arman tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Maaf, Bu. Tempat ini terlalu berisik dan aku tidak bisa mendengar apa yang Ibu katakan. Nanti aku hubungi Ibu kembali, seusai pesta."


"Arman! Arman! Jangan putuskan panggilannya! Ini penting. A ...." Tiba-tiba panggilan itu terputus dan membuat Bu Ningsih benar-benar marah.


"Dasar Arman! Apa dia tidak khawatir kelakuannya ketahuan sama Nadira? Aku 'kan ingin menceritakan soal Nadira kepadanya," gerutu Bu Ningsih sambil menyimpan ponselnya kembali ke samping bantal.


***


Pesta meriah itu berakhir. Semua tamu undangan sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing. Termasuk Arman dan Nyonya Ira yang kini sudah berada di perjalanan menuju kediaman mewah mereka.


"Arman sayang, aku cinta padamu," gumam Nyonya Ira sambil tersenyum manja kepada Arman.


Arman menahan tubuh Nyonya Ira yang kini tengah menekuk dirinya. Wanita berumur itu tengah mabuk karena terlalu banyak minum. Ia terus meracau tidak jelas hingga membuat Arman sedikit kesal.

__ADS_1


"Kenapa kamu hobi sekali menenggak minuman seperti itu, Ira?" kesalnya.


"Hanya sedikit saja, Sayang. Aku sudah lama tidak meminumnya," sahut Nyonya Ira.


Arman hanya bisa memutarkan bola matanya.


Tak terasa mereka pun tiba di kediaman Nyonya Ira. Dengan sabar Arman menuntun wanita itu hingga menuju kamar utama. Tidak sampai di situ, ia juga membantu menggantikan dan membersihkan tubuh Nyonya Ira, sebelum mereka pergi tidur.


Keesokan harinya, di kediaman Nadira.


Pagi-pagi sekali Nadira bangun dari tidurnya. Setelah selesai melakukan ritual paginya, Nadira pun bergegas membangunkan Amara lalu memandikannya.


"Kita mau ke mana, Bu?" tanya si kecil Amara yang kebingungan karena tidak biasanya ia dimandikan sepagi itu.


Nadira tersenyum kecut. "Kita menyusul ayah," jawab Nadira.


"Menyusul Ayah? Yeee ...."


Amara yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi, begitu senang apalagi setelah mendengar bahwa ia akan menemui sang ayah yang tidak pulang sejak semalam.


Setelah selesai memandikan Amara, memakaikannya pakaian yang bagus, kemudian sarapan bersama, mereka pun segera berangkat.


Di perjalanan menuju jalan besar, mereka tidak sengaja bertemu dengan Laras. Laras pun menyapa dan segera menghampiri mereka.


"Kamu mau ke mana pagi-pagi begini, Nadira?" tanya Laras sambil menautkan kedua alisnya.


"Aku mau menyusul mas Arman, Mbak. Semalam ia tidak pulang dengan alasan menemani majikannya," jawab Nadira.


Laras tampak sedih. Ia mengelus lembut pundak Nadira tanpa berkata sepatah kata pun.


"Sekalian aku ingin tahu apa yang sebenarnya mas Arman sembunyikan dariku. Jika firasatku benar, maka aku akan mengundurkan diri, Mbak. Aku tidak sanggup jika harus bersaing dengan orang kaya," lanjutnya.


"Aku tidak tahu harus bicara apa, Nadira. Tapi aku akan terus mendoakan yang terbaik untukmu," sahut Laras.


"Terima kasih, Mbak. Aku permisi dulu."


Nadira kembali meneruskan perjalannya menuju jalan besar. Sementara Laras masih terdiam sambil menatap lekat punggung Nadira yang semakin menjauh hingga menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


***


__ADS_2