Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Bab 61


__ADS_3

"Kembali?" Nadira mengerutkan kedua alisnya. Tidak pernah sekali pun terbesit bahwa ia ingin kembali kepada lelaki itu meski ada Amara di antara mereka.


"Ya, Nadira. Kita kembali seperti dulu, menjadi sebuah keluarga yang utuh." Mata Arman berkaca-kaca, berharap Nadira bisa menerima kehadirannya lagi.


"Nadira." Tiba-tiba Andrew muncul di ruangan itu sambil menenteng sebuah paper bag. Ia tersenyum kecut melihat kebersamaan Nadira dan Arman di sana.


"Mas Andrew," sapa Nadira sambil tersenyum hangat. Berbeda dengan ekspresi Arman yang terlihat tidak bersahabat ketika bertatap mata dengan Andrew.


Andrew menghampiri Nadira lalu duduk di sampingnya. Ia menyerahkan paper bag itu kepada Nadira dan wanita itu pun segera menyambutnya.


"Sudah selesai?" tanya Nadira sembari menatap lekat lelaki tampan itu.


"Ya, itu bagianmu." Andrew pun membalas senyumannya.


Nadira mengintip isi paper bag itu kemudian kembali menatap Andrew. "Ini banyak sekali, Mas. Aku bingung harus membagikannya ke mana," ucap Nadira sambil tersenyum tipis.


"Kamu bisa bagikan ke mana saja. Sahabatmu, pelangganmu, dan siapa pun yang kamu mau," jawab Andrew.


Nadira meraih sesuatu dari dalam paper bag itu lalu menyerahkannya ke hadapan Arman. "Ini undangan pernikahan kami, Mas. Jika Mas berkenan hadir, maka ajaklah ibu sekalian," ucap Nadira yang berhasil membuat Arman terpelongo.


"Undangan pernikahan?" Tangan Arman bergetar hebat ketika menyambut undangan pernikahan itu dari tangan Nadira. Ia membuka undangan itu lalu membacanya dengan seksama.


"Ya Tuhan, ternyata aku terlambat," gumam Arman dalam hati, sembari menelan salivanya dengan susah payah.


Arman merasa sangat malu. Ia bergegas bangkit dari posisinya lalu berpamitan kepada pasangan itu.


"Ehm, aku permisi dulu. Terima kasih atas waktunya. Jangan lupa sampaikan salamku buat Amara," ucap Arman.


Nadira dan Andrew tampak kebingungan melihat sikap Arman saat itu.


"Loh, kok pulang, Mas Arman?" tanya Andrew.


"Aku sibuk. Ada yang harus aku kerjakan," sahut Arman sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Andrew.


Setelah bersalaman, Arman pun segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Sepeninggal Arman.


"Ada keperluan apa dia ke sini?" tanya Andrew kepada Nadira yang masih terdiam dengan pikirannya sendiri.


"Ehm, itu, Mas. Mas Arman pengan mengajak aku balikan."


Andrew tersenyum kecut. "Benarkah? Lalu?"


"Aku sudah menjawabnya dengan surat undangan ini," jawab Nadira.


Andrew tersenyum kemudian merengkuh pundak Nadira.


Sementara itu.


Arman melenggang dengan penuh kesal. Ia merasa begitu kecewa dengan keputusan Nadira yang lebih memilih Andrew dari pada dirinya.


"Aku tahu, dia memang jauh lebih kaya dariku! Tapi biar bagaimanapun aku adalah ayah dari Amara! Seharusnya Nadira berpikir seribu kali untuk menerima lamaran laki-laki lain," gerutunya sambil sesekali


ke udara.


Di tengah-tengah rasa kekesalannya, tiba-tiba terlintas sebuah ide yang menurut Arman cukup bagus. Ia tersenyum miring lalu meraih dompet dari dalam saku celana.


"Hampir saja aku lupa! Aku masih punya ladang emas yang bisa kugarap!" ucapnya.


Arman membuka dompet tersebut lalu mencari-cari sesuatu di dalamnya. Akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Sebuah kartu nama milik wanita bertubuh semok yang dulu pernah berbincang dengannya. Ia membaca alamat yang tertulis di kartu tersebut kemudian mencoba mengingat-ingatnya.


"Baiklah, aku akan ke sana! Nadira menolak, Wanita tua itu pun jadi!"


Dengan penuh percaya diri, Arman kembali melanjutkan perjalanannya. Namun, bukan menuju kediaman sederhana milik ibunya, melainkan menuju kediaman mewah milik wanita bertubuh semok tersebut.


Tidak butuh waktu lama, tukang ojek yang mengantarkannya, berhenti tepat di depan rumah mewah milik wanita tua tersebut. Setelah membayar jasa tukang ojek itu, Arman pun segera menemui security yang berjaga di depan rumah mewah itu.


Ia meminta izin untuk masuk dan security itu pun mengizinkannya atas perintah wanita tua bertubuh semok itu sendiri. Arman melangkah masuk dengan begitu percaya diri. Ia sangat yakin, tambang emasnya sudah berada di depan mata.


"Ini dia, Nyonya," ucap Security itu.

__ADS_1


Wanita tua bertubuh semok itu memindai Arman dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Ia menatap dengan penuh keheranan melihat Arman yang kini berdiri di samping sofanya.


"Duduklah," ucap wanita itu, mempersilakan Arman untuk duduk di sofa mewah itu bersamanya.


"Terima kasih, Nyonya." Arman pun segera duduk, sementara security yang tadi mengantarkannya, kembali ke depan untuk melanjutkan tugasnya.


"Kamu Arman, 'kan? Suami brondongnya si Ira penipu itu. Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya wanita itu dengan tatapan tajam, menatap Arman.


"Ehm, iya, Nyonya." Arman tampak malu setelah mendengar ucapan wanita itu. "Sebenarnya saya ingin menanyakan soal tawaran Nyonya dahulu kepada saya. Apakah tawaran itu masih berlaku buat saya," tanyanya.


Wanita tua bertubuh semok itu tertawa lepas setelah mendengar kata-kata Arman barusan. "Astaga, ternyata itu! Jadi setelah Ira ditangkap, sekarang kamu ingin menjadi brondongku, begitu?"


"I-iya, Nyonya. Itu pun jika Nyonya berkenan." Arman mulai terbata-bata.


Lagi-lagi wanita bertubuh semok itu tertawa lantang. "Sayang! Kemarilah," teriak wanita itu sambil melirik ke atas.


Dari atas, seorang laki-laki muda berwajah tampan turun dari lantai atas. Lelaki bertubuh kekar itu segera menghampiri wanita tua tersebut lalu duduk di sampingnya sambil bermanja-manja.


"Ada apa, Mommy?" ucap lelaki muda itu sambil mencium pipinya.


"Kenalkan, Sayang. Ini namanya Arman, mantan suami brondongnya si Ira. Wanita penipu itu. Yang sekarang sudah meringkuk di penjara," ucap wanita itu.


"Oh, ya? Mau apa dia ke sini?" tanya lelaki muda itu. Bahkan usianya jauh lebih muda dari Arman.


"Katanya dia ingin menjadi seperti kamu. Tapi ... sepertinya enggak, deh! Udah bekas Ira dan aku enggak mau barang bekas pakai si wanita penipu itu," sahutnya sambil tersenyum sinis.


Arman malu bukan kepalang. Tanpa pikir panjang, Arman segera bangkit dan pergi dari ruangan itu dengan langkah yang begitu cepat. Sementara pasangan beda usia itu menatapnya sambil terkekeh.


"Kurang ajar! Ternyata wanita tua itu pun menolakku! Ia bahkan mempermalukan aku di depan lelaki itu," gerutu Arman sambil berjalan menelusuri jalan.


Kini Arman kembali putus asa. Tambang emas yang menurutnya sudah berada di depan mata, ternyata sudah memilih penambang lain. Yang usianya jauh lebih muda dan lebih tampan darinya.


***


Akkkhhh! Akhirnya otor bisa up juga setelah sekian purnama tenggelam di dasar samudra. Hmmm ...

__ADS_1


Buat yang sudah lupa sama ceritanya, baca ulang lagi ya, biar ingat! 😂😂😂


__ADS_2