Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Curhatan Arman Bersama Bu Ningsih


__ADS_3

Setelah mengantarkan wanita itu, Arman bergegas menuju kediaman orang tuanya. Di saat mana ia sempat menitipkan Amara. Setibanya di tempat itu, kedatangan Arman langsung disambut oleh Amara dan ibunya, Bu Ningsih.


Bocah kecil itu berlari kecil menuju Arman lalu memeluknya dengan begitu erat. Arman lalu mengangkat tubuh mungil Amara sembari menciumi kedua pipinya.


"Bagaimana, Arman? Apa urusanmu bersama para rentenir itu sudah selesai?" tanya Bu Ningsih dengan harap-harap cemas.


Arman mengangguk pelan. "Ya, semua sudah selesai, Bu."


"Syukurlah. Beruntung ada majikanmu yang kaya itu, ya. Jika tidak, hmmm ... entah bagaimana jadinya," gumam Bu Ningsih.


"Bu, ada yang ingin aku bicarakan padamu. Ini sangat penting," ucap Arman dengan wajah memelas.


Bu Ningsih menatap heran kepada anak lelakinya itu. Wajah Arman terlihat sendu, seakan ada beban berat yang sedang ia tanggung saat ini.


"Ada apa, Arman?"


"Sebaiknya kita bicara di dalam saja, Bu. Aku tidak ingin kedengaran siapa pun," ucap Arman kemudian.


"Baiklah." Bu Ningsih pun bergegas masuk ke dalam rumah sederhananya. Sementara Arman dan Amara mengikuti dari belakang.


Setibanya di ruang depan, Bu Ningsih pun segera duduk di sofa yang ada di sana lalu disusul oleh Arman bersama putri cantiknya.


"Ada apa, Arman. Ceritakan lah," ucap Bu Ningsih, memulai kembali percakapan mereka.


Arman membuang napas berat sebelum menceritakan permasalahannya kepada wanita paruh baya itu.


"Bu, ada sesuatu yang harus ibu ketahui. Di balik bantuan yang diberikan oleh Nyonya Ira kepadaku, ada imbalan yang diinginkan oleh Nyonya Ira dan wajib aku lakukan," tutur Arman dengan wajah sedih.


"Imbalan? Apa itu?" Bu Ningsih mulai cemas.


"Aku harus menikahinya, Bu. Nyonya Ira ingin aku bertanggung jawab atas kejadian yang pernah terjadi di antara kami pada malam itu. Malam di mana aku tidak sadar dan sudah tidur bersamanya," tutur Arman dengan wajah penuh penyesalan.

__ADS_1


"Apa!" pekik Bu Ningsih dengan mata membulat sempurna. "Kamu benar-benar memalukan, Arman! Apa yang sudah kamu lakukan kepada wanita itu? Kenapa kebaikannya malah kamu balas dengan perbuatan menjijikan seperti itu," kesal Bu Ningsih dengan wajah memerah.


Arman menggelengkan kepalanya pelan. "Saat itu aku tidak sadar, Bu. Aku yakin hal itu memang sudah direncanakan oleh Nyonya Ira. Wanita itu memang berniat menjebakku. Aku bahkan tidak yakin bahwa kami sudah melakukan hal yang tidak senonoh pada malam itu, secara aku benar-benar dalam kondisi yang tidak berdaya," jelas Arman.


Bu Ningsih membuang napas berat. "Lalu, setelah kalian menikah, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan tetap menjadi supir pribadinya?"


"Tidak, Bu. Ada tawaran yang memang cukup menggiurkan dari Nyonya Ira. Dia bilang, jika aku menikah dengannya, aku tidak perlu lagi susah-susah memikirkan soal pekerjaan. Nyonya Ira akan menjamin semuanya, termasuk kebutuhan Nadira dan Amara," sahut Arman.


"Wah, kalau begitu kenapa kamu harus pusing-pusing? Lagi pula, Nyonya Ira tidak terlalu buruk. Dia masih cantik dan energik, ya walaupun usianya sudah tidak muda lagi," tutur Bu Ningsih sambil tersenyum kecil.


"Jadi, Ibu setuju jika aku menikah dengan Nyonya Ira? Lalu bagaimana dengan Nadira? Aku masih sangat mencintai Nadira, Bu. Aku tidak ingin berpisah dengannya," lirih Arman.


"Jika tidak ada yang memberitahunya, dia tidak akan pernah tahu. Yang dia tahu 'kan kamu kerja sama Nyonya Ira dan Ibu yakin dia tidak akan curiga. Lagi pula seharusnya dia senang karena kehidupan kalian tidak akan serumit dulu, benar 'kan?" lanjut Bu Ningsih.


Arman lagi-lagi membuang napas berat. "Aku masih bingung, Bu."


"Memangnya kapan kalian akan menikah?" tanya Bu Ningsih yang mulai penasaran.


"Secepatnya, Bu. Nyonya Ira bahkan ingin mengadakan acara resepsi pernikahan yang meriah dan semua biaya, dia yang tanggung," jelas Arman.


"Sebaiknya aku pulang dulu, Bu. Kasihan Nadira. Dia sendirian di rumah dan aku yakin dia masih trauma dengan semu kejadian mengejutkan ini."


Arman bangkit dari posisinya lalu berjalan menuju halaman depan bersama wanita paruh baya itu.


"Bu, tolong jangan bicarakan masalah ini kepada siapa pun. Aku tidak ingin siapa pun tahu soal rencana pernikahanku dengan Nyonya Ira," ucap Arman sebelum ia pergi meninggalkan halaman rumah Bu Ningsih.


Bu Ningsih tersenyum lebar. "Kamu tenang saja, Arman. Semua rahasiamu aman bersama Ibu. Memangnya Ibu sebodoh itu mengumbar aib anak Ibu sendiri?"


Arman pun mengangguk lalu bergegas menghidupkan mesin motor tersebut menuju kediaman sederhananya bersama Nadira.


Selang beberapa menit kemudian, ia pun tiba di sana. Pintu rumahnya masih terkunci rapat dan ia yakin Nadira masih berada di dalam.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok!


"Nadira, buka pintu. Ini aku, Mas Arman."


Tidak berselang lama terdengar drap langkah kaki dari dalam rumah. Drap langkah kaki yang begitu cepat menuju pintu tersebut.


Ceklek! Pintu terbuka dan tampak Nadira berdiri di ambang pintu dengan wajah yang masih pucat.


"Mas Arman! Syukurlah, aku takut sekali, Mas. Takut para lelaki itu kembali lagi," ucap Nadira.


Arman merengkuh tubuh Nadira lalu menutup kembali pintu rumah sederhana mereka. "Kamu tenang saja, Sayang. Mereka tidak akan berani kembali lagi ke sini."


"Semoga saja, Mas. Aku benar-benar trauma. Aku takut Juragan Bahri kembali lalu membawa aku kembali ke rumahnya."


"Tidak akan, Sayang. Percayalah sama Mas." Arman mencoba menenangkan Nadira yang masih ketakutan.


"Ibu, Amara kangen Ibu." Suara kecil itu membuat Nadira terisak. Ia meraih tubuh mungil Amara dari pelukan Arman lalu memeluknya dengan erat.


"Ibu juga, Nak. Ibu sangat mengkhawatirkanmu."


Arman terdiam sejenak. Kini tatapan lelaki itu terfokus pada sekeliling rumah sederhana milik mereka. Ia lihat rumah itu sudah kembali bersih dan rapi sama seperti sedia kala, sebelum kejadian penyerangan itu terjadi. Ya, walaupun ada beberapa benda yang sudah hancur dan tidak bisa digunakan lagi.


"Mas. Mas belum bercerita soal uang tebusan itu. Apakah Nyonya Ira juga ikut andil di dalamnya?" tanya Nadira yang berhasil membuyarkan lamunan Arman saat itu.


"Ya, Nadira. Aku sudah tidak punya pilihan lain selain meminta tolong kepada Nyonya Ira. Beruntung dia bersedia membantu kita," sahut Arman sambil tersenyum kecut.


"Nyonya Ira benar-benar baik ya, Mas. Semoga Tuhan membalas semua kebaikannya." Nadira menyandarkan kepalanya di pundak Arman.


"Ya, semoga."


"Nanti sampaikan ucapan terima kasihku ya, Mas. Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika Mas dan Nyonya Ira tidak datang. Mungkin aku sudah ...." Nadira kembali terisak di dalam pelukan Arman.

__ADS_1


"Maafkan aku, Sayang. Aku berjanji hal ini tidak akan pernah terjadi lagi."


...***...


__ADS_2