Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Penuturan Laras


__ADS_3

"Sebenarnya ada apa, Mbak? Jangan bikin aku khawatir," ucap Nadira. "Apa ini ada hubungannya denganku?"


Laras mengangguk dengan cepat. "Ya, Nadira. Ini ada hubungannya denganmu. Lebih tepatnya lagi dengan kehidupan rumah tanggamu," jawab Laras.


"Rumah tanggaku?" Nadira makin cemas. "Ehm, sebaiknya kita bicara di dalam saja, Mbak. Aku tidak ingin kedengaran orang lain," ajaknya.


Ia meraih baskom plastik yang sudah kosong yang tergeletak di tanah lalu membawanya menuju rumah. Namun, baru beberapa langkah ia beranjak dari posisi awalnya, tiba-tiba Laras kembali meraih tangannya.


"Mas Arman tidak ada di rumah, 'kan?"


Nadira menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Mbak. Masuklah," jawabnya.


Setelah mendengar jawaban dari Nadira, Laras pun bergegas mengikuti langkah wanita cantik itu memasuki kediaman sederhananya.


"Duduklah, Mbak. Mbak mau minum apa? Biar aku buatin," tanya Nadira.


"Tidak usah repot-repot, Dir. Lagi pula aku hanya sebentar," tolak Laras.


Nadira duduk tak jauh dari posisi Laras berada kemudian menatap wanita itu dengan seksama. "Sebenarnya apa yang ingin Mbak katakan padaku?"


Laras meraih ponselnya dari dalam saku. Ia membuka folder penyimpanan foto lalu menyerahkannya kepada Nadira.


"Lihatlah sendiri, Nadira. Aku tidak berani menjelaskan panjang lebar. Takut salah," ucap Laras.


Nadira meraih ponsel itu lalu memperhatikan sebuah foto yang terpampang di sana dengan begitu serius. Mata Nadira tampak membulat. Ia menggigit bibir bawahnya yang mulai bergetar.


"Bu-bukankah ini Mas Arman?" gumamnya sembari menatap Laras dengan mata berkaca-kaca.


"Ya, Nadira. Itu Mas Arman dan Ibu mertuamu. Lalu, apakah kamu mengenali siapa wanita yang digandeng mesra oleh Mas Arman?" tanya Laras balik.


Nadira mengangguk pelan. "Ya, aku tahu. Wanita ini adalah majikan baru suamiku. Namanya Nyonya Ira," tutur Nadira.


Nadira kembali fokus pada layar benda pipih milik Laras dan memperhatikan satu persatu foto mesra Arman dengan wanita berumur tersebut.


"Dari mana Mbak mendapatkan foto-foto ini?" tanya Nadira, dengan tatapan yang masih fokus pada foto-foto tersebut.


"Sebenarnya bukan aku, Nadira. Tapi Mas Budi. Mas Budi lah yang mengambil foto-foto tersebut dengan kamera ponselnya. Beberapa hari yang lalu ia tidak sengaja melihat Mas Arman, Bu Ningsih dan wanita itu di kota. Karena gelagat Mas Arman terlihat mencurigakan, makanya Mas Budi mengambil foto-foto mereka," jelas Laras.

__ADS_1


Setelah puas memperhatikan foto-foto tersebut, Nadira pun segera mengembalikannya kepada Laras.


"Maafkan aku, Nadira. Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu. Ini semua aku lakukan karena aku peduli padamu. Aku peduli pada nasibmu dan juga Amara," tutur Laras lagi sembari meraih tangan Nadira lalu menggenggamnya dengan erat.


"Tidak apa-apa, Mbak. Malah sebaliknya, aku sangat senang karena Mbak Laras memberitahukannya kepadaku," jawab Nadira dengan mata berkaca-kaca.


"Nadira, sebaiknya kamu cari tahu soal ini lebih jauh lagi agar kamu tidak salah dalam mengambil sebuah keputusan," ucap Laras, mencoba mengingatkan Nadira.


"Ya, Mbak. Aku tahu itu," jawabnya.


"Kemarilah!" Laras merentangkan tangannya di hadapan Nadira dan Nadira pun segera memeluk wanita itu sambil menitikkan air matanya.


"Tidak apa, Nadira. Menangislah, keluarkan semua beban di hatimu," ucap Laras sambil membelai lembut punggung Nadira.


"Pantas saja, Mbak. Pantas saja belakang ini aku merasakan firasat yang tidak baik tentang Mas Arman. Aku merasa ada sesuatu yang sengaja ia tutup-tutupi dariku," lirih Nadira sambil terisak.


"Jika seandainya itu benar, apa yang akan kamu lakukan, Nadira?"


"Entahlah, Mbak. Selama ini aku tidak pernah membayangkan akan berpisah dari Mas Arman. Aku pikir dia berbeda dan membuat aku yakin bahwa kami akan terus bersama hingga akhir hayat," tutur Nadira di sela isak tangisnya.


Nadira mengangguk pelan. "Ya, Mbak. Harus, setidaknya untuk Amara."


Setelah beberapa menit kemudian.


"Aku pamit dulu ya, Nadira. Ingat, jangan larut dalam kesedihan! Amara masih sangat membutuhkan dirimu," ucap Laras sebelum ia beranjak dari kediaman sederhana milik Nadira.


"Ya, Mbak. Terima kasih banyak. Seandainya Mbak tidak memberitahuku soal ini, mungkin sampai sekarang aku akan terus bertanya-tanya kenapa Mas Arman berubah sikap kepadaku," jawab Nadira.


Laras ikut sedih. "Semangat! Kamu pasti bisa!"


Nadira pun mengangguk sambil tersenyum getir. Setelah Laras pergi meninggalkannya, Nadira segera masuk ke dalam kamar. Ia duduk di tepian ranjang dengan raut wajah sedih. Sesekali ia menatap Amara yang tengah asik bermain bersama boneka beruang pemberian Arman.


"Sekarang kita harus bagaimana, Nak? Apakah Ibu harus menerima kenyataan pahit ini dan memutuskan tetap bersama Ayahmu walaupun Ibu tahu bahwa dia sudah mendua? Atau kita pergi darinya dan memulai kehidupan baru?" gumam Nadira di sela isak tangisnya.


Kini tatapannya beralih pada cincin yang kemarin disematkan oleh Arman di jari manisnya. Karena kekecewaannya begitu besar, Nadira pun memutuskan untuk melepaskan cincin tersebut lalu menyimpannya di dalam lemari pakaian.


Tak terasa sore pun menjelang. Nadira masih saja uring-uringan di dalam kamarnya. Perasaannya campur aduk, ada rasa kecewa, kesal dan marah, bercampur menjadi satu.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok! Terdengar suara ketukan dari luar. Nadira bergegas keluar dari dalam kamarnya kemudian berjalan menuju pintu utama.


"Nadira! Nadira!" panggil seseorang yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya.


"Ibu?" gumam Nadira sambil mengerutkan alisnya. "Ah, kebetulan sekali! Aku ingin mempertanyakan soal Mas Arman kepada Ibu. Bukankah Ibu juga ada di sana?" lanjutnya.


Nadira bergegas membuka pintu dan ternyata dugaannya benar. Wanita paruh baya yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya adalah Bu Ningsih, Ibu mertuanya.


"Ya, Bu? Mari masuk," ucap Nadira sembari membuka pintu lebih lebar lagi.


"Ehm, enggak usah. Ibu ke sini cuma mau menyampaikan pesan dari Arman. Katanya malam ini ia tidak bisa pulang. Ada acara yang harus dihadiri oleh majikannya dan mau tidak mau ia pun terpaksa ikut bersamanya," tutur Bu Ningsih.


Nadira sama sekali tidak terkejut mendengar penuturan dari Bu Ningsih barusan. Hal itu membuat Nadira semakin yakin dengan firasat buruknya.


"Bu, ada yang ingin aku tanyakan sama Ibu. Sebaiknya Ibu masuk biar kita ngobrolnya enak," ajak Nadira.


Namun, wanita paruh baya itu tetap tidak ingin masuk ke dalam rumah sederhana milik Nadira tersebut. Ia menolak dengan dalih bahwa ia sedang sibuk.


"Ibu tidak bisa lama-lama, Nadira. Sebentar lagi gelap dan Ibu belum menutup jendela dengan benar," jawabnya beralasan.


"Bu, sebenarnya apa sih yang dilakukan oleh Mas Arman di kota? Bukankah kemarin Ibu ikut Mas Arman ke kota dan aku yakin Ibu pasti tau jawabannya," tanya Nadira.


"Kamu bicara apa sih, Nadira? Bukankah kamu sudah tahu bahwa suamimu itu sopir pribadi Nyonya Ira. Ya kerjaannya mengemudikan mobilnya Nyonya Ira lah, trus apa lagi?" jawab Bu Ningsih dengan sedikit kesal dengan pertanyaan Nadira.


"Sopir pribadi? Kok, bisa sampai peluk-pelukan sih, Bu? Ibu juga, bukannya Ibu ada di sana, tapi kenapa Ibu sama sekali tidak mengingatkan Mas Arman kalau yang dilakukannya itu salah," ucap Nadira lagi dengan begitu serius menatap Bu Ningsih.


"Peluk-pelukan? Kamu tau dari mana mereka peluk-pelukan? Jangan mengada-ada kamu ya, Nadira! Tidak baik! Suamimu nyari duit banting tulang buat kamu dan Amara, tapi kamu malah mencurigainya, yang tidak-tidak," kesal Bu Ningsih.


"Aku punya bukti, Bu. Makanya aku berani bilang seperti itu. Sekarang katakan yang jujur, sebenarnya apa yang kalian lakukan di kota?"


"Ah, sudahlah. Ibu sedang sibuk dan tidak bisa meladeni omonganmu yang aneh itu," sahut Bu Ningsih lalu melangkah dengan cepat meninggalkan Nadira yang masih terdiam di depan pintu rumahnya.


"Gawat, sepertinya Nadira sudah mulai curiga! Aku harus kasih tau Arman soal ini," gumam Bu Ningsih dengan wajah cemas.


"Lihatlah! Sikap Ibu dan Mas Arman membuat aku semakin yakin bahwa firasatku memang benar," ucap Nadira dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2