
Beberapa hari kemudian.
Laras berkunjung ke kediaman Nadira hanya untuk menyampaikan sebuah berita baik kepada sahabatnya itu.
"Nad, Amara lolos dan lusa adalah hari perlombaannya. Bagaimana, apa kamu sudah mempersiapkan segala sesuatunya?" tanya Laras dengan begitu antusias.
"Ya, Tuhan, bagaimana ini? Aku bahkan belum mempersiapkan segala sesuatunya, Mbak. Beberapa hari yang lalu aku sibuk di Rumah Sakit sebab Amara dirawat di sana," jawab Nadira dengan wajah panik.
"Loh? Amara sakit? Kok, kamu gak kasih tau aku, Nadira?" tanya Laras lagi.
"Dia kecelakaan, Mbak. Cuma kecelakaan kecil sih sebenarnya dan saat itu aku sangat panik, jadi gak ingat telepon siapa pun. Tapi sekarang Amara baik-baik saja, kok. Orang yang menabraknya sangat bertanggung jawab," tutur Nadira.
"Ish, kamu ini, Nad! Aku 'kan ikutan khawatir. Lalu bagaimana sekarang? Apa kamu masih berniat mengikuti lomba itu? Jika ya, aku bisa bantu kamu mempersiapkan segala sesuatunya."
Nadira terdiam sejenak sambil berpikir. Tak lama kemudian, ia pun menganggukkan kepalanya. "Sebenarnya aku masih berminat, Mbak. Tapi kira-kira kita bisa gak mempersiapkan segala sesuatunya dalam waktu yang cuma sehari saja?"
Laras tersenyum lebar. "Bisa! Pasti bisa," jawabnya dengan mantap.
Hari itu Nadira dan Laras disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Nadira bahkan terpaksa menunda pengiriman barang-barang yang seharusnya ia kirimkan pada hari itu.
Nadira merancang sebuah busana yang akan dikenakan oleh Amara di hari perlombaan itu. Sementara Laras memilih bahan yang akan mereka gunakan. Setelah semuanya siap, Nadira pun memberanikan diri untuk menjahit sendiri busana tersebut.
Seharian penuh Nadira berjibaku dengan kain-kain yang akan ia sulap menjadi sebuah gaun mungil serta peralatan jahit lain yang memang sudah lama ia beli untuk mewujudkan impiannya selama ini.
Sementara Laras membantu sebisanya. Tidak lupa, ia juga membantu membuatkan makanan untuk mereka, di saat Nadira disibukkan dengan pekerjaannya.
Malam pun tiba, Nadira masih sibuk dengan pekerjaannya. Sementara anak perempuannya sudah tertidur dengan ditemani oleh Laras. Setelah Amara tertidur nyenyak, Laras pun kembali menghampiri Nadira.
"Sebaiknya kamu istirahat, Nad. Ini sudah malam. Nanti malah kamu yang jatuh sakit." Laras mengelus pundak Nadira yang masih fokus pada mesin jahit yang beroperasi di hadapannya.
"Sedikit lagi, Mbak. Kalau dilanjut besok, takutnya gak selesai. Aku bahkan belum menyiapkan aksesoris buat Amara," jawabnya.
Laras menghembuskan napas berat. "Baiklah kalau begitu. Biar aku temani kamu di sini, biar gak bete."
"Ish, Mbak istirahat saja. Mbak pasti capek seharian menemani kami di sini. Dan sebenarnya aku juga merasa tidak enak sama Mas Budi. Demi kami, Mbak rela nginap di sini dan meninggalkan Mas Budi di sana sendirian."
Laras terkekeh pelan. "Ah, biasa aja kali, Nad. Lagi pula Mas Budi mendukungku, kok! Dia senang karena aku bersedia membantumu," jawab Laras.
__ADS_1
Nadira tersenyum kecil. "Kalian memang pasangan yang sangat baik. Terima kasih banyak, Mbak. Sampaikan juga terima kasihku buat Mas Budi. Aku tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan kalian," ucap Nadira dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama, Nad."
Nadira melanjutkan pekerjaannya hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul dua belas malam dan tepat di saat itu, gaun yang ia buat pun selesai dikerjakan.
"Ah, akhirnya!" seru Nadira sembari merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa ngilu dan kaku karena kelamaan duduk di depan mesin jahitnya.
Laras begitu antusias. Ia meraih gaun itu lalu menentengnya sambil tersenyum lebar. "Wah, Nadira! Aku tidak menyangka kamu punya bakat terpendam di dunia fashion. Lihatlah hasilnya! Tidak kalah cantik dari barang-barang branded yang dipajang di butik-butik," ucap Laras.
"Ah, Mbak bisa aja." Nadira tersipu malu.
"Serius, Nad. Amara pasti terlihat sangat cantik saat mengenakannya. Semoga Amara berhasil menenangkan perlombaan ini dan karyamu pun akan ikut tersorot nantinya!"
"Aamiin, Mbak."
***
Akhirnya hari perlombaan itu pun tiba. Laras, Nadira dan Amara sudah berada di sebuah hotel berbintang, di mana perlombaan itu diselenggarakan.
Menyadari hal itu, Laras pun kembali memberikan semangat untuk Nadira.
"Jangan pesimis duluan, Nad. Rejeki tidak ada yang tahu. Percayalah, jika hari ini rejekinya Amara, maka apa pun yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Walaupun saingannya sangat berat," ucap Laras sembari merangkul pundak Nadira.
Nadira mengangguk pelan. "Ya, Mbak benar. Semoga saja hari ini adalah hari keberuntungan Amara. Semangat!" sahut Nadira, walaupun saat itu raut wajahnya masih terlihat tidak meyakinkan.
Perlombaan itu pun dimulai. Satu-persatu peserta mulai melenggak-lenggok di atas pentas. Di mana para juri tengah sibuk memperhatikan penampilan mereka. Semua peserta menampilkan penampilan terbaik mereka demi mencuri perhatian para juri.
Laras dan Nadira masih menunggu giliran Amara tiba. Jika kedua wanita itu terlihat begitu tegang, berbeda dengan Amara yang terlihat santai dan tanpa beban. Bocah mungil itu malah asik bermain bersama boneka beruang coklatnya tanpa peduli bagaimana hebohnya perlombaan tersebut.
"Sayang, kamu kok bisa sesantai itu, sih? Amara gak gugup?" tanya Nadira sambil tersenyum kecut menatap Amara.
Amara menggelengkan kepalanya. "Enggak, Bu."
Nadira membuang napas berat lalu menatap Laras.
"Sudahlah, Nad. Jangan tegang begitu," godanya lalu terkekeh pelan.
__ADS_1
Baru saja Nadira membuka bibirnya dan berniat membalas ucapan Laras saat itu, tiba-tiba terdengar suara host yang memanggil nama Amara.
"Baiklah, sekarang kita panggil peserta selanjutnya. Peserta dengan nomor 012 atas nama Amara Qirani!"
Mata Nadira membulat sempurna dan sebelum Amara naik ke atas pentas, ia kembali memberikan semangat untuk anak perempuannya itu.
"Amara, semangat, ya! Jika Amara gugup ketika berada di atas sana, ingatlah bahwa Ibu ada di sini untuk Amara," ucap Nadira.
Amara mengangguk pelan lalu menyerahkan boneka beruang coklat miliknya kepada Nadira. Setelah Nadira menyambut boneka tersebut, Amara pun bergegas naik ke atas panggung dengan dibantu para tim yang berjaga di bawah panggung.
"Ya Tuhan, Mbak! Aku serasa tak menginjak bumi saat ini. Aku gugup, bahkan kaki dan tanganku terasa dingin sekali," ucap Nadira dengan wajah cemas menatap Laras.
Laras kembali terkekeh. Ia menepuk pelan pundak Nadira lalu mengelusnya dengan lembut.
"Ya ampun, Nad. Tenanglah," sahut Laras.
Amara berjalan dengan gaya bak seorang model cilik yang sudah mahir di atas panggung. Ia ingat semua yang diajarkan oleh Laras sebelumnya. Begitu tenang dan tanpa beban. Bahkan semua penonton berdecak kagum melihat kecantikan serta penampilan Amara saat itu.
Para juri pun tidak hentinya mengembangkan senyum. Mata mereka tak berkedip memperhatikan Amara yang melenggok di atas pentas. Hingga akhirnya gadis kecil itu berdiri tepat di hadapan mereka sambil tersenyum manis.
"Amara Qirani ... Tante boleh tanya sesuatu, gak?" tanya salah satu juri yang bertugas memberikan sebuah pertanyaan untuk Amara.
"Boleh, Tante," jawab Amara.
"Menurut Amara, siapa yang paling spesial di hidup Amara dan kenapa?" tanya juri tersebut sambil tersenyum menatap Amara yang terlihat bagitu cantik.
"Ibu, karena ibu adalah malaikat tak bersayap yang diberikan oleh Tuhan untuk Amara," jawabnya dengan begitu tenang.
Seketika jawaban Amara membuat Nadira yang mendengarnya, menangis sesenggukan. Ia tidak tahu bagaimana Amara bisa menjawab pertanyaan itu dengan begitu sempurna menurutnya. Bukan hanya Nadira, Laras pun ikut terharu dan bergegas memeluk Nadira.
"Kamu beruntung sekali, Nad. Karena memiliki seorang malaikat kecil seperti Amara," ucap Laras dengan mata berkaca-kaca.
"Ya, Mbak. Aku sangat beruntung," jawab Nadira di sela tangisnya.
Bukan hanya Laras dan Nadira. Para juri pun bertepuk tangan mendengar jawaban gadis mungil itu. Begitu juga para penonton yang sejak tadi memperhatikan Amara.
...***...
__ADS_1