Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Kegelisahan Nadira


__ADS_3

"Punyamu besar, Mas. Aku suka!" celetuk Nyonya Ira sembari meraih junior milik Arman. Ia menggerakkan tangannya turun dan naik dengan tempo yang cukup cepat hingga benda berurat itu terlihat semakin menegang.


Tidak cukup sampai di situ saja, Nyonya Ira pun mulai memainkan benda itu dengan bibir dan lidahnya dengan begitu cekatan.


Dessahan Arman terdengar semakin kencang, seirama dengan gerakan nakal Nyonya Ira di benda tumpulnya.


Efek pil setan itu sudah menjalar ke seluruh tubuh dan otak Arman. Ia merasakan hasratnya begitu bergejolak. Pandangannya pun mulai tak karuan. Saat itu, bukan Nyonya Ira yang tampak di hadapannya, melainkan Nadira. Nadira yang tampil begitu menggairahkan, yang terus mencoba menggoda dirinya.


"Kamu cantik sekali!" racau Arman yang sudah kehilangan kendali atas dirinya. Gejolak hasrat sudah menguasai dirinya hingga ia tidak bisa membedakan antara Nadira dan Nyonya Ira.


Mendengar celetukan Arman, Nyonya Ira pun semakin bersemangat. "Benarkah?" tanyanya sambil terus memainkan senjata milik Arman dengan tangannya.


Arman mengangguk. "Ya. Kamu benar-benar sangat cantik."


Arman mengambil alih posisi Nyonya Ira. Ia merebahkan wanita itu lalu mengungkungnya. "Aku sudah tidak tahan! Sekarang buka kakimu, Cantik!"


Nyonya Ira membuka kakinya lebih lebar dan menunggu serangan dari lelaki itu. Sementara Arman mengarahkan juniornya ke area pribadi Nyonya Ira dengan tergesa-gesa. Hingga ....


"Akh, Mas Arman! Hssst," rintih Nyonya Ira ketika junior lelaki itu berhasil menembus area pribadinya yang sudah hampir setahun tidak terjamah oleh laki-laki.


Ukuran junior Arman yang jauh lebih besar dari mantan-mantannya terdahulu,membuat Nyonya Ira benar-benar merasa puas.


"Akh, dorong lebih dalam lagi, Mas Arman! Aku benar-benar suka," racau Nyonya Ira sambil mengigit bibirnya, merasakan kenikmatan yang tiada tara tersebut.


"Kamu menyukainya?" tanya Arman.


Nyonya Ira mengangguk. "Ya, Mas!"


"Baiklah kalau begitu!"


Arman yang sudah di luar kendali, mempercepat gerakannya. Ia terus memompa tubuhnya dengan begitu semangat hingga tak terasa seluruh tubuh Arman pun dipenuhi oleh keringat.


"Akh, Mas! Kamu benar-benar hebat!" racau Nyonya Ira.

__ADS_1


Percintaan panas mereka berlangsung cukup lama. Efek pil setan itu membuat Arman semakin kuat. Sementara Nyonya Ira sudah beberapa kali mencapai puncak kenikmatannya.


Hingga akhirnya ...


"Arrrghhh!" Tubuh Arman menegang. Ia menjerit penuh nikmat. Lelaki itu berhasil mencapai puncak kenikmatannya dan menyemburkan cairan-cairan kental itu ke dalam area pribadi Nyonya Ira.


Nyonya Ira tersenyum puas. Ia merasa sangat bangga karena berhasil bercinta dengan lelaki pujaannya. Arman menjatuhkan dirinya di samping Nyonya Ira dengan napas yang tersengal-sengal. Matanya terpejam dan mulai terasa berat.


"Kamu benar-benar hebat, Mas Arman. Tidak sia-sia aku membayar mahal untuk mendapatkan dirimu," ucap Nyonya Ira sembari memeluk tubuh Arman yang masih dibasahi oleh keringat.


Sementara itu.


Nadira yang tengah tertidur lelap di samping Amara, tiba-tiba terbangun akibat mimpi aneh yang baru saja ia alami.


Ia bermimpi Arman tengah bergelut dengan seorang wanita. Namun, sayang wajah wanita itu tidak terlihat dengan jelas di dalam mimpinya barusan.


Tubuh keduanya dibasahi oleh keringat dan terdengar dengan jelas di telinga Nadira bagaimana mereka mendessah dengan bersahut-sahutan.


Nadira yang syok melihat pemandangan tak lazim di hadapannya, segera berteriak dan memanggil nama Arman. Berharap pasangan itu menghentikan aksi jijik mereka.


Namun, Arman tidak mendengar teriakannya. Lelaki itu malah semakin bersemangat memacu gerakan pinggulnya, menghentakkan benda tumpulnya lebih dalam lagi ke dalam area pribadi wanita tersebut.


Teriakan Nadira terbawa hingga ke dunia nyata. Ia terisak sambil terus memanggil nama Arman. "Mas Arman, hentikan! Kumohon," lirih Nadira.


Hingga akhirnya Nadira pun tersadar bahwa ternyata hal itu hanyalah sebuah mimpi. Mimpi di, Tuhan! Firasat apa ini? Semoga saja ini hanyalah bunga tidur yang tidak akan menjadi kenyataan," lirih Nadira sembari mengusap dadanya yang masih terasa sesak.


Setelah mengalami mimpi buruk tersebut, Nadira tidak bisa memejamkan matanya lagi. Mimpi buruk itu benar-benar berhasil membuatnya syok.


Ia duduk bersandar di sandaran ranjang tuanya sambil sesekali menatap wajah mungil Amara yang tengah tertidur dengan lelap.


"Bagaimana jika seandainya hal itu benar-benar terjadi? Bagaimana nasibku dengan Amara nantinya?" gumam Nadira dengan wajah cemas.


Tak terasa, pagi pun menjelang.

__ADS_1


Dengan tergesa-gesa Nadira menemui salah satu teman yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Nadira ingin minta sedikit bantuan dari wanita itu karena sekarang sudah tidak ada lagi yang dapat ia mintai tolong. Nadira berjalan bersama Amara di pelukannya. Hingga akhirnya ia pun tiba di kediaman wanita tersebut.


"Mbak Laras," panggil Nadira.


Tidak berselang lama wanita yang bernama Laras itu pun muncul dari balik pintu rumahnya. Ia tersenyum hangat menyambut kedatangan Nadira lalu mempersilakannya masuk.


"Masuklah, Nadira."


"Ehm, tidak usah, Mbak. Sebaiknya aku di sini saja. Sebenarnya aku butuh bantuannya Mbak. Aku ingin menghubungi mas Arman. Entah kenapa perasaanku sangat tidak enak dan aku ingin tahu bagaimana kabar mas Arman sekarang. Jadi ... bolehkah aku meminjam ponselnya Mbak Laras sebentar? Nanti aku ganti kuotanya," tutur Nadira dengan wajah memelas.


Sebenarnya bisa saja Nadira membeli sebuah ponsel murah dengan uang yang diberikan oleh Arman kepadanya. Namun, ia masih trauma dengan uang-uang itu. Ia takut uang itu kembali bermasalah seperti dulu. Ketika Arman meminjam ke rentenir.


Wanita itu pun tersenyum lalu menarik tangan Nadira pelan agar masuk ke dalam rumahnya. "Sebaiknya kamu masuk dan bicara di dalam saja."


Nadira pun mengangguk lalu mengikuti Laras hingga ke ruang depan, di mana ada sofa tua yang bertengger di ruangan itu. Setelah menjatuhkan diri di sofa tua tersebut, Laras pun segera mengeluarkan ponsel miliknya dan membiarkan Nadira mencoba menghubungi Arman.


"Kamu bicaralah dulu. Aku mau ke dapur," ucap Laras sembari bangkit dari posisinya.


"Baik, Mbak. Terima kasih banyak."


Sepeninggal Laras, Nadira pun bergegas menghubungi nomor ponsel Arman.


Sementara itu.


Arman dan Nyonya Ira menggeliatkan tubuh mereka secara bersamaan. Nyonya Ira yang merasa begitu nyaman di dalam pelukan Arman, terlihat enggan melepaskan tubuh kekar lelaki itu.


Baru saja Arman berniat bangkit dari tempat tidur mewah tersebut, Nyonya Ira kembali menahan tubuh Arman hingga lelaki itu pun mengurungkan niatnya.


"Ada apa, Ra?" tanya Arman sambil mengusap wajahnya.


"Mas mau ke mana pagi-pagi begini? Apakah Mas Arman sudah lupa bahwa Mas bukanlah bawahanku lagi. Sekarang Mas adalah suamiku, apa pun yang aku miliki adalah milik Mas Arman juga. So, sebaiknya kita tidur lagi aja," ajak Nyonya Ira.


"Tapi ini sudah siang, Ra. Coba lihat lah pukul berapa sekarang ini," sahut Arman sambil memperlihatkan jam digital yang tertera di layar ponselnya ke hadapan Nyonya Ira.

__ADS_1


***


__ADS_2