
Malam itu Nyonya Ira dalam kondisi setengah mabuk. Itu semua terjadi karena ia meminum minuman memabukkan yang tersedia di atas meja. Ia mulai meracau dan tidak malu-malu memeluk tubuh kekar Arman dengan begitu erat.
"Arman sayang, malam ini kamu harus tidur bersamaku," racaunya sambil tertawa dan diikuti teriakan-teriakan histeris dari teman-teman wanita itu.
Arman tampak tidak nyaman dengan posisinya saat itu. Ia ingin sekali keluar dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun, karena ia masih ingat akan janjinya kepada Nyonya Ira, ia pun terpaksa bertahan dan menemani wanita itu hingga acara selesai.
Beberapa jam kemudian.
Arman menarik napas lega. Acara yang menurut Arman tak bermanfaat itu akhirnya selesai. Wanita-wanita berduit itu pun mulai meninggalkan tempat tersebut hingga akhirnya semua benar-benar pulang.
"Sebaiknya kita pulang sekarang, Nyonya. Teman-temanmu sudah pulang semua," ucap Arman sambil mencoba membangunkan Nyonya Ira yang bergelayutan di tubuhnya dengan mata terpejam.
"Benarkah?" Nyonya Ira melepaskan pelukannya bersama Arman. Ia membuka mata lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu.
"Ya, Nyonya."
"Kamu benar. Sebaiknya kita pulang sekarang," sahut Nyonya Ira lalu mencoba bangkit dari posisi duduknya.
Baru saja Nyonya Ira mencoba berdiri, tiba-tiba saja ia kehilangan keseimbangannya. Efek minuman memabukkan itu membuat ia tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri. Wanita itu hampir saja terjatuh. Namun, beruntung Arman sigap dan berhasil menangkap tubuhnya sebelum terjatuh ke lantai.
"Aw!" pekik Nyonya Ira.
"Huft! Nyonya baik-baik saja?" tanya Arman yang masih memangku tubuh Nyonya Ira.
"Ah, terima kasih, Arman. Kamu memang hebat. Seandainya kamu tidak menangkap tubuhku, mungkin aku sudah jatuh ke lantai," sahutnya sambil tertawa pelan.
"Ya, sudah. Sini, biar saya bantu."
Arman memapah tubuh Nyonya Ira hingga ke luar dari tempat itu kemudian menuju parkiran.
"Silakan masuk, Nyonya." Arman membukakan pintu dan membantu Nyonya Ira masuk ke dalam mobil tersebut.
"Terima kasih, Arman sayang."
Setelah memastikan wanita itu duduk dengan sempurna, ia pun bergegas menyusulnya. Arman segera melajukan mobil tersebut kembali ke kediaman Nyonya Ira.
Beberapa kali Arman melirik jam digital yang ada di dashboard. Arman tampak gelisah karena ini pertama kalinya ia pulang terlambat. Ia yakin saat ini Nadira pasti mengkhawatirkan dirinya.
"Setelah ini aku akan langsung pulang!" gumam Arman pelan.
__ADS_1
Setelah beberapa menit kemudian, ia pun tiba di depan kediaman mewah Nyonya Ira. Arman bergegas membantu Nyonya Ira keluar dari mobil lalu kembali memapahnya memasuki tempat itu.
Ketika berada di dasar tangga, mereka berpapasan dengan salah satu pelayan.
"Bi, tolong bikin minuman untuk kami. Sama seperti yang aku minta tadi sore, ya!" ucapnya kepada pelayan itu.
Pelayan itu pun mengangguk kemudian segera kembali ke dapur untuk membuatkan pesanan majikannya.
"Oh ya, Arman. Tolong antar aku hingga ke kamar. Aku tidak bisa menaiki tangga ini sendirian," ucap wanita itu, masih bergelayutan di tubuh kekar Arman.
"Baik, Nyonya."
Arman pun menyetujui keinginan wanita itu dan mengantarkannya hingga ke kamar utama. Ruangan ternyaman di antara ruangan-ruangan lainnya di rumah tersebut.
"Bawa aku ke tempat tidur, Arman. Kepalaku sakit sekali," titah Nyonya Ira sambil memegangi kepalanya.
Arman pun mengangguk lalu membantu Nyonya Ira. Mendudukkan tubuh seksi itu ke tepian tempat tidur. Setelah itu, Arman berniat pergi dan pulang ke rumah sederhananya. Namun, tanpa diduga Nyonya Ira menahan langkah lelaki tampan itu dengan cara memegangi tangannya.
"A-ada apa, Nyonya?"
"Tunggulah sebentar lagi. Pelayanku akan membawakan secangkir kopi untukmu."
"Tidak perlu, Nyonya. Saya bisa ngopi di rumah," tolak Arman.
Arman tidak enak menolak permintaan wanita itu dan ia pun terpaksa menyetujuinya. "Baiklah, Nyonya. Tapi setelah ini saya harus segera pulang."
"Oke." Nyonya Ira pun tersenyum.
Tidak berselang lama, seorang pelayan tiba di ruangan itu. Ia membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi pesanan Nyonya Ira.
"Letakkan kopi itu di sini," titah Nyonya Ira sembari menunjuk sebuah nakas yang ada di samping tempat tidurnya.
Pelayan itu pun mengangguk lalu meletakkan nampan berisi dua cangkir kopi tersebut ke atas nakas.
"Kamu sudah pastikan kalau kopi ini sesuai permintaanku, 'kan?" Nyonya Ira melirik pelayan itu dengan wajah serius.
Pelayan itu mengangguk. "Ya, Nyonya. Sesuai permintaan Anda," jawab pelayan itu.
Nyonya Ira tersenyum lebar. "Baguslah kalau begitu."
__ADS_1
Setelah pelayan meninggalkan ruangan itu, Nyonya Ira bergegas menyerahkan secangkir kopi kepada Arman dan yang satunya lagi untuk dirinya sendiri.
"Minumlah, Arman."
Arman tampak ragu-ragu. Ia menatap kopi yang diberikan oleh Nyonya Ira dengan seksama. Entah kenapa ia merasakan hatinya begitu berat dan menolak meminum kopi tersebut.
"Jangan takut, Arman. Kopi itu aman." Wanita itu terkekeh pelan.
"Nah, kalau kopiku ini baru tidak aman!" lanjutnya sambil tertawa. "Sebab komposisinya agak beda dari punya orang-orang kebanyakan. Hanya pelayan itu yang tahu komposisi yang pas untukku."
Arman pun mengangguk pelan dan ia percaya dengan ucapan wanita itu. "Maafkan aku, Nyonya."
Arman menyeruput kopi buatan pelayan tersebut hingga tandas. Sementara Nyonya Ira hanya memperhatikan sambil bersandar di sandaran tempat tidur. Arman mengembalikan cangkir kosong tersebut ke atas nakas sambil memijit-mijit pelipisnya.
"Kamu kenapa, Arman?" tanya Nyonya Ira sambil tersenyum kecil memperhatikan lelaki tampan itu.
"Entahlah, Nyonya. Tiba-tiba kepala saya terasa pusing."
"Benarkah? Kalau begitu sebaiknya kamu istirahat saja di sini, Arman. Hingga kondisimu benar-benar membaik. Lagi pula tidak aman mengendarai motor di saat-saat kondisimu seperti ini," sahut Nyonya Ira.
"Ah, tidak apa-apa, Nyonya. Ini hanya sakit kepala biasa. Aku yakin sebentar lagi pasti akan hilang dengan sendirinya."
Arman bangkit dari posisinya lalu berdiri di hadapan wanita itu. "Saya permisi dulu, Nyonya. Selamat malam, selamat beristirahat!"
Nyonya Ira menekuk wajahnya. Ia tampak kesal karena Arman tidak menuruti keinginannya. Sementara lelaki itu sudah bersiap untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Nyonya Ira tersenyum sinis. Ia mulai berhitung, menghitung langkah Arman yang meninggalkannya.
"Satu ...."
"Dua ...."
"Ti—"
Belum selesai Nyonya Ira menyebut kata 'tiga' tiba-tiba Arman jatuh tersungkur di dalam kamar tersebut.
Brakkkk!
Nyonya Ira tersenyum puas melihat Arman yang tumbang di dalam kamarnya. Ia segera memanggil pelayan melalui sambungan telepon lalu meminta pelayan itu untuk memanggil para penjaga keamanan. Nyonya Ira membutuhkan setidaknya dua orang lelaki untuk mengangkat tubuh besar dan kekar itu ke atas ranjang mewahnya.
__ADS_1
"Tidak ada yang tidak mungkin untukku, Arman! Aku bahkan bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan semua keinginanku. Termasuk memilikimu," gumam Nyonya Ira sambil memandangi wajah tampan itu dari kejauhan.
...***...