Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Kegelisahan Nadira 2


__ADS_3

Tepat di saat itu ponsel Arman berdering. Sebuah panggilan masuk dari nomor Laras, yang tengah digunakan oleh Nadira.


Arman memperhatikan layar ponselnya dan ia yakin panggilan itu dari Nadira.


"Panggilan dari siapa itu, Mas?" tanya Nyonya Ira dengan begitu serius.


Arman membuang napas berat. "Ini Laras, salah satu tetanggaku," jawab Arman.


"Tetanggamu? Ada perlu apa dia sama kamu?" tanya Nyonya Ira penuh selidik.


"Ini memang nomornya Laras, tetanggaku. Tapi aku yakin ini panggilan dari Nadira," jawab Arman sembari menerima panggilan itu.


Nyonya Ira mendengus kesal. Ia menekuk wajahnya karena tidak senang masa bulan madunya harus terganggu oleh panggilan dari istri pertama suaminya itu.


Arman menjauh beberapa meter dari Nyonya Ira dan mulai bercakap-cakap bersama Nadira melalui ponselnya. "Ya, Nadira sayang, ada apa?"


Ekspresi kesal Nyonya Ira semakin menjadi. Apalagi setelah mendengar Arman memanggil nama Nadira dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


"Hmmm, giliran sama Nadira aja, udah pake sayang-sayang!" gumamnya.


"Mas. Apa Mas baik-baik saja?" tanya Nadira di seberang telepon. Terdengar jelas dari nada bicara Nadira saat itu, ia begitu mengkhawatirkan kondisi Arman.


"Aku baik-baik saja, Sayang. Memangnya kenapa? Tumben kamu menghubungi aku," tanya Arman heran.


"Syukurlah kalau begitu. Ehm, bagaimana pekerjaanmu, Mas?"


"Ini aku sedang menunggu Nyonya Ira. Dia ada janji dengan salah satu kliennya," jawab Arman bohong.


"Ehm, Mas. Kemarin aku berkunjung ke rumah Ibu. Kata tetangga sebelah rumah, Ibu pergi bareng kamu ke kondangan salah satu kerabat. Apakah itu benar, Mas?" tanya Nadira lirih.


Jantung Arman tiba-tiba berpacu dengan cepat setelah mendengar pertanyaan dari Nadira. "Ehm, itu ... ehm, ya, Nadira. Kemarin Ibu numpang bersamaku ke kota. Maaf jika aku tidak bilang-bilang sama kamu sebelumnya."


"Ke kondangannya siapa, Mas?"


"Ehm, salah satu kerabat jauh, Nadira. Makanya ibu gak ajak-ajak kamu," jawab Arman sambil memijit pelipisnya.


Nadira pun mengangguk pelan. Walaupun ia tidak sepenuhnya percaya dengan penuturan Arman. Namun, setidaknya ia bisa sedikit lebih tenang setelah mendengar penjelasan lelaki itu.


"Ya, sudah. Aku pamit dulu. Nyonya Ira sudah menungguku," ucap Arman sembari melirik Nyonya Ira yang masih duduk di atas tempat tidur dengan tubuh polosnya.


"Ehm, Mas! Kamu tidak melakukan hal yang aneh-aneh 'kan?" tanya Nadira dengan ragu-ragu.

__ADS_1


"Aneh-aneh, bagaimana maksudmu?" Arman balik bertanya seolah-olah tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Nadira saat itu. Padahal ia sangat mengerti dan tau apa yang dimaksud oleh istrinya tersebut.


"Ehm, bukan apa-apa. Mas, tetaplah di jalurmu. Ingat aku dan Amara yang akan selalu menunggu kepulanganmu," ucap Nadira kemudian.


Arman terdiam sejenak sembari menelan salivanya dengan susah payah. Hati kecilnya terasa disentil dengan keras setelah mendengar penuturan istrinya itu.


"Ya, Nadira. Setelah pekerjaanku selesai, secepatnya aku akan pulang," jawab Arman.


Setelah memutuskan panggilannya bersama Arman, Nadira segera mengembalikan ponsel tersebut kepada pemiliknya.


"Mbak Laras, terima kasih banyak. Ini hp Mbak dan ini uang buat ganti kuota Mbak yang sudah aku pakai," ucap Nadira sembari menyerahkan benda pipih tersebut serta uang ganti kuota ke atas meja.


Laras tersenyum. Ia meraih kembali ponselnya, tetapi tidak dengan uang ganti kuota yang diberikan oleh Nadira kepadanya.


"Sebaiknya simpan saja uang itu kembali, Nadira. Buat jajan Amara," sahut Laras.


"Tidak, Mbak. Jangan begitu! Aku tidak enak karena sudah keseringan minta bantuan sama Mbak Laras."


"Eh, aku ikhlas, loh. Ambil saja uang itu kembali."


Drama tolak-menolak pun terjadi. Laras tetap kekeuh pada pendiriannya hingga akhirnya Nadira pun mengalah. Ia mengambil kembali uangnya lalu pamit kepada wanita itu.


Nadira pun mengangguk. "Terima kasih, Mbak. Maaf karena selalu merepotkanmu," sahut Nadira.


"Tidak apa-apa."


Nadira pun pamit dan kembali ke kediamannya dengan perasaan yang sedikit lebih lega.


Sementara itu.


Arman kembali galau. Ia merasa sangat bersalah kepada Nadira dan Amara. Terdengar beberapa kali lelaki itu menghembuskan napas beratnya, sebagai pertanda bahwa ia sungguh sangat menyesal.


Nyonya Ira berjalan menghampiri Arman lalu mencoba menghibur suaminya itu lagi. "Mas, hari ini kita jalan-jalan, yuk. Kita beli semua kebutuhanmu. Pakaian baru, sepatu baru, jam tangan dan apa pun yang kamu inginkan. Bagaimana?" bujuknya sambil bergelayut manja di pundak Arman.


Arman menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia sama sekali tidak tertarik dengan iming-iming yang ditawarkan oleh Nyonya Ira kepadanya. Namun, ia tidak punya pilihan selain menuruti keinginan wanita itu.


"Baiklah."


Nyonya Ira tersenyum lebar lalu mengajak Arman untuk melakukan ritual mandi bersama di dalam kamar mandi mewah mereka.


Beberapa jam kemudian.

__ADS_1


"Ayo, Mas. Kita berangkat!"


Seperti biasa, Nyonya Ira selalu tampil cantik dan seksi. Ia menghampiri Arman lalu menggandeng mesra lelaki itu keluar dari dalam kamarnya.


"Bagaimana dengan ibu?" tanya Arman kepada Nyonya Ira.


"Ajak saja sekalian. Tidak apa-apa," jawab Nyonya Ira sembari menyandarkan kepalanya di pundak Arman.


Bu Ningsih pun tidak keberatan. Malah sebaliknya, ia begitu senang karena Arman dan Nyonya Ira mengajaknya jalan-jalan bersama mereka.


Seperti yang dijanjikan oleh Nyonya Ira sebelumnya, hari ini ia mengajak Arman dan Bu Ningsih ke sebuah butik terkenal milik salah satu teman sosialitanya. Ia membeli banyak pakaian, sepatu serta beberapa aksesoris untuk Arman yang harganya cukup mencengangkan.


Tak bisa dipungkiri, Arman pun terlihat begitu senang karena ini pertama kalinya ia memborong barang-barang branded untuk dirinya. Yang sebelumnya sama sekali tidak pernah terlintas di dalam pikirannya.


"Bagaimana, Sayang. Apa kamu menyukainya?" tanya Nyonya Ira.


Arman mengangguk dengan cepat. "Ya, aku sangat menyukainya."


Bukan hanya Arman, Bu Ningsih pun tidak ketinggalan. Ia turut mendapatkan jatah seperti anak lelakinya itu. Mendapatkan beberapa potong pakaian yang pastinya berharga mahal.


"Nak Ira, terima kasih banyak, ya. Nanti setelah pulang, Ibu akan langsung mengenakannya dan Ibu akan pamer-pamer sama tetangga sebelah rumah," celetuknya sambil tersenyum lebar.


Nyonya Ira tersenyum kecil. "Sama-sama, Bu."


"Nah, Sayang ... sekarang kamu mau beli apa lagi? Jangan sungkan, katakan saja sama aku," lanjut Nyonya Ira sembari menatap lekat Arman yang masih berdiri di sampingnya.


Arman berpikir sejenak. Sebenarnya ada sesuatu yang sangat ingin ia beli dan sampai sekarang masih belum bisa mewujudkannya. Namun, saat itu ia tampak segan mengatakannya kepada Nyonya Ira.


"Ayolah, Mas! Katakan saja," bujuk Nyonya Ira lagi.


"Aku ingin membeli sepasang anting untuk Amara dan sebuah cincin untuk Nadira," jawab Arman dengan ragu-ragu.


Nyonya Ira terdiam sejenak sambil menatap lekat lelaki itu. Hingga akhirnya ia pun menyetujui permintaan Arman barusan.


"Baiklah, tidak masalah. Sekarang kita ke toko perhiasan. Mas bisa pilih apa pun yang Mas inginkan," jawabnya dengan mantap.


"Benarkah?" Arman terkejut. Ia tidak percaya ternyata Nyonya Ira menyetujui keinginannya tersebut.


"Ya. Memangnya apa sih yang tidak buat kamu, Sayang," sahut Nyonya Ira sambil tersenyum manja.


...***...

__ADS_1


__ADS_2