
Dengan penuh perjuangan, bertanya ke sana ke mari, akhirnya Nadira tiba di depan kediaman Nyonya Ira. Ia mendongak, menatap bangunan megah yang berdiri kokoh di hadapannya. Entah mengapa, hanya dengan melihat bangunan itu saja, ia sudah merasakan sakit di hatinya.
"Ini rumah siapa, Bu?" tanya Amara dengan nada cadelnya.
"Rumah majikannya ayah," jawab Nadira.
"Rumahnya bagus seperti istana Barbie," celetuk Amara sambil tersenyum.
Nadira hanya bisa menghembuskan napas berat kemudian berjalan menghampiri pagar besar yang dijaga oleh beberapa orang security. Baru saja Nadira berdiri di depan pagar tersebut, tiba-tiba seorang lelaki berseragam security menghampirinya.
"Ada apa ya, Mbak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya lelaki itu.
"Saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini. Ada sesuatu yang sangat penting, yang harus saya sampaikan," jawab Nadira sambil memperhatikan sekeliling tempat itu.
"Apakah sebelumnya! Mbak sudah buat janji sama Nyonya Ira?"
"Ya, tentu saja. Saya sudah membuat janji kepada Nyonya Ira sebelumnya. Jika Bapak tidak percaya, Bapak boleh tanyakan langsung kepada Nyonya Ira," jawab Nadira.
Nadira menganggukkan kepalanya. Ia terpaksa berbohong agar diizinkan masuk ke dalam rumah megah itu. Namun, sayang tidak semudah itu sang security percaya dengan apa yang diucapkan oleh Nadira. Ia bahkan tidak hentinya menelisik penampilan Nadira yang begitu bersahaja.
"Tunggulah sebentar di sini, biar saya beritahukan kepada Nyonya Ira," sahut lelaki itu.
Security itu berbalik lalu melangkah meninggalkan Nadira. Namun, Nadira kembali memanggilnya dan membuat langkah lelaki itu terhenti.
"Pak, saya mohon. Tolong izinkan saya masuk. Tidakkah Bapak kasihan melihat anak saya panas-panasan di sini?" lirih Nadira sambil memelas kepada lelaki itu.
Security itu terdiam sejenak sambil berpikir keras. Ia memperhatikan bocah cantik berusia dua tahun yang berada di dalam pelukan Nadira sambil menautkan alisnya. Hingga akhirnya ia pun setuju dan mengizinkan Nadira untuk masuk ke halaman rumah Nyonya Ira yang luas tersebut.
"Baiklah, tapi jangan ke mana-mana. Tunggulah di sini saja," ucapnya sambil memperhatikan Nadira dan Amara.
"Baik, Pak. Terima kasih."
Sementara lelaki itu pergi untuk menemui Nyonya Ira, Nadira dan Amara memilih menunggu dan bernaung di area pos. Lagi-lagi Nadira memperhatikan sekeliling tempat itu dan ia menemukan motor matic milik Arman terparkir tak jauh dari pos security.
__ADS_1
"Bu, itu motor milik ayah!" pekik Amara yang tampak kegirangan ketika melihat motor milik Arman yang terparkir di salah satu sudut halaman yang luas itu.
Nadira mengangguk. "Ya, Nak. Itu motor milik Ayahnya Amara."
Kini perhatian Nadira teralihkan kepada dua orang security yang masih berjaga di pos tersebut. Kedua lelaki itu tengah asik berbincang hingga tidak terlalu mempedulikan Nadira yang berdiri di sana bersama Amara.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Nadira. Perlahan Nadira melangkah maju sambil memperhatikan kedua security tersebut. Hingga akhirnya ia pun berhasil meninggalkan tempat itu.
Sementara itu di dalam kamar utama.
Baik Nyonya Ira maupun Arman masih tertidur lelap di atas peraduan hangat mereka dengan tubuh polos. Nyonya Ira bahkan masih menempel di tubuh kekar Arman.
Sebuah ketukan dari luar kamar, membuat tubuh Nyonya Ira menggeliat. Namun, wanita itu masih enggan membuka matanya.
"Nyonya," panggil salah satu pelayan yang bekerja di kediaman mewahnya.
"Hmmm!" jawab Nyonya Ira, masih dengan mata terpejam.
"Di luar ada seorang wanita yang sedang menunggu Nyonya. Katanya dia sudah membuat janji sama Nyonya," ucap pelayan itu.
"Siapa sih, Bi?" balasnya.
"Ehm, sebentar. Saya lupa bertanya siapa namanya," jawab pelayan itu.
Ck! Nyonya Ira berdecak sebal.
"Temui saja, Sayang. Siapa tahu penting," gumam Arman yang ternyata juga mendengar obrolan mereka. Nyonya Ira melirik suaminya itu dan ternyata matanya masih terpejam.
"Baiklah. Tunggu di sini ya, Sayang. Aku tidak akan lama," jawab Nyonya Ira.
Wanita itu bangkit dari posisinya. Ia meraih jubah tipis yang berserak di lantai dan akan ia gunakan untuk menutupi tubuh polosnya. Setelah mengenakan jubah itu, Nyonya Ira pun bergegas keluar dari ruangan favoritnya itu.
"Siapa sih bertamu pagi-pagi begini? Perasaan aku tidak punya janji kepada siapa pun," gumam Nyonya Ira sambil melangkah.
__ADS_1
Kembali ke Nadira.
Kedua lelaki yang tadi berjaga-jaga di pos, tiba-tiba menyadari bahwa Nadira sudah tidak ada di sana. Salah satu dari mereka bergegas menyusul dan menemukan Nadira yang sudah berada di depan pintu rumah megah milik Nyonya Ira.
"Hei, berhenti!" teriak lelaki itu, seolah Nadira adalah seorang penjahat.
Mendengar teriakkan dari lelaki itu, membuat Nadira nekat masuk. Teriakan itu ternyata juga terdengar hingga ke telinga lelaki yang pertama, yang saat itu tengah menunggu kehadiran Nyonya Ira di dasar tangga. Lelaki itu bergegas menghampiri Nadira dan menahannya.
"Anda mau ke mana? Bukankah sudah saya katakan untuk menunggu di depan?" tegasnya.
"Tahan dia. Jangan-jangan dia punya niat buruk berkunjung ke sini," ucap lelaki yang tadi mengejarnya.
Security pertama langsung mencengkram tangan Nadira seolah Nadira adalah seorang penjahat. Nadira meringis kesakitan karena lelaki itu mencengkram tangannya dengan begitu kasar. Namun, lelaki itu tidak peduli dan terus saja menahan pergerakan Nadira.
"Lepaskan tangan saya, Pak! Saya bukan penjahat!" ucap Nadira dengan setengah berteriak. Amara bahkan sampai menangis karena ketakutan.
"Heh, ada apa sih, ini? Pagi-pagi sudah bikin keributan!" kesal Nyonya Ira sambil menuruni anak tangga.
Perhatian mereka pun segera teralihkan kepada Nyonya Ira, termasuk Nadira dan Amara. Nadira memperhatikan wanita itu dengan seksama, begitu pula Nyonya Ira. Ia sempat terkejut melihat Nadira di kediamannya. Namun, itu hanya sebentar saja. Setelah itu, Nyonya Ira pun tersenyum puas. Puas karena pada akhirnya Nadira tahu tentang hubungannya bersama Arman.
"Lepaskan dia dan untuk kalian berdua, pergilah!" titah Nyonya Ira kepada kedua security-nya.
Kedua security bergegas melepaskan Nadira lalu mengangguk pelan di hadapan wanita itu sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut
"Baik, Nyonya."
Kini di ruangan itu hanya ada Nadira, Amara serta Nyonya Ira yang kini menjatuhkan dirinya di sofa yang ada di sana.
"Mau apa kamu ke sini? Bukan kah ini masih terlalu pagi untuk bertamu, Nadira?" ucap Nyonya Ira sambil tersenyum miring.
"Maaf jika kehadiran saya di sini sudah mengganggu Anda, Nyonya Ira. Saya ke sini hanya ingin bertanya soal Mas Arman. Di mana dia sekarang dan kenapa tadi malam ia tidak pulang?" tanya Nadira sambil menatap lekat wanita berumur itu.
Nyonya Ira kembali tersenyum sinis. "Suamimu? Aku rasa kamu salah menyebutkan kata-kata itu, Nadira. Karena sekarang status Mas Arman bukan hanya suamimu saja. Tetapi 'suami kita'," jawabnya sambil tertawa pelan.
__ADS_1
...***...