Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Iklan Perdana Amara


__ADS_3

"Om Andrew!" Mata Amara membulat dan gadis mungil itu tampak begitu senang melihat kehadiran Andrew di tempat itu.


"Selamat ya, Amara." Andrew berjongkok lalu menyerahkan sebuah trofi dan piagam penghargaan untuk Amara.


"Makasih, Om." Setelah Amara meraih trofi serta piagam itu, mereka pun berfoto bersama di atas panggung.


Andrew menghampiri Host lalu berbisik agar lelaki itu memanggil Nadira ke atas panggung untuk menyambut hadiah utama yang akan ia serahkan.


Host itu pun mengangguk kemudian kembali berseru, memanggil Nadira agar naik ke atas panggung untuk menemani Amara menyambut hadiah utama.


"Orang tua dari Amara Qirani, diharapkan naik ke atas panggung!" panggilnya.


Nadira tampak gugup, sementara Laras terus memberikan semangat untuknya. "Ayo, Nad! Cepat naik! Jangan biarkan mereka menunggumu," ucapnya dengan penuh semangat.


"Tapi, Mbak ...."


"Ish, tapi apaan?" ucap Laras sembari mendorong pelan tubuh Nadira hingga di tepi panggung.


Perlahan Nadira naik ke atas panggung lalu berjalan menghampiri Andrew, Host serta Amara yang sudah menunggunya.


Andrew tersenyum semringah menyambut kedatangan Nadira. Ia mengulurkan tangannya ke hadapan Nadira lalu mengucapkan selamat untuknya.


"Selamat, Nadira."


"Terima kasih, Tuan Andrew," sahut Nadira sembari menyambut uluran tangan lelaki itu.


Andrew menyerahkan sebuah papan hadiah simbolis yang bertuliskan sejumlah uang yang akan diterima oleh Amara. Jumlah uang yang cukup banyak bagi Nadira. Cukup untuk biaya sekolah Amara nantinya.


Amara menyambutnya lalu memperlihatkan papan tersebut ke seluruh penonton yang ada di hadapannya. Sorak sorai kembali terdengar. Suara tepuk tangan pun ikut menggema di dalam ruangan tersebut.


***


Kemenangan Amara di perlombaan itu berhasil membuat kemajuan yang pesat dalam hidup gadis mungil itu dan juga Nadira. Dagangan Nadira laku keras hingga ia kewalahan. Bahkan tidak sedikit pembeli yang ingin memesan gaun hasil rancangannya.


Dengan bermodal nekat, Nadira pun mulai memberanikan diri mencari beberapa orang karyawan untuk membantu pekerjaannya. Sementara Amara juga mulai disibukkan dengan berbagai syuting iklan. Yang pastinya syuting iklan produk milik Andrew.


Seperti hari ini, Amara kembali disibukkan dengan kegiatan syutingnya dengan ditemani oleh Nadira. Tanpa mereka duga, ternyata Andrew pun sengaja datang ke tempat itu untuk melihat proses syutingnya Amara.

__ADS_1


"Hai, Amara!" sapa Andrew dari kejauhan sembari melambaikan tangannya ke arah gadis itu.


"Om!" Amara melepaskan genggaman tangannya dari Nadira kemudian berlari menuju Andrew.


Nadira tersentak kaget ketika sadar bahwa Andrew juga berada di lokasi tersebut. Perlahan Nadira berjalan menghampiri Andrew yang tengah asik bercengkrama dengan Amara. Amara terlihat begitu senang karena Andrew memberikannya hadiah. Sebuah boneka Hello Kitty cantik berwarna pink.


"Bagaimana bonekanya? Amara suka, gak?"


Amara mengangguk dengan cepat. "Suka, Om. Makasih," ucapnya dengan cadel.


"Syukurlah kalau kamu menyukainya." Andrew mengusap pelan puncak kepala Amara sembari tersenyum kepada gadis mungil itu.


"Mas Andrew," sapa Nadira.


Andrew pun kembali tersenyum lalu membalas sapaan Nadira. "Hai, Nadira. Apa kabar?"


"Baik, Mas. Ehm, Mas Andrew, bisa kita bicara sebentar?"


"Ehm, kalian sudah makan siang? Ngomong-ngomong aku sudah lapar, kalian mau menemaniku makan siang?" tanya Andrew kemudian.


Amara lagi-lagi mengangguk dengan cepat. "Mau! Ayam goreng!" celetuk gadis mungil itu.


Andrew terkekeh pelan. "Tidak ada, Nad. Lagi pula kamu ingin bicara denganku, 'kan?"


Nadira pun akhirnya mengangguk lalu mengikuti Andrew yang mengajak mereka ke sebuah restoran yang berada tak jauh dari lokasi syutingnya Amara.


"Oh ya, bagaimana proses syutingnya? Aman?" tanya Andrew sembari menggoda si kecil Amara.


"Begitulah, Mas. Namanya juga anak kecil. Kadang ada aja dramanya. Kadang minta ke kamar kecil lah, jajan lah, nangis lah, hmmm ...." keluh Nadira.


Andrew terkekeh lalu mencubit pelan pipi gadis mungil itu. "Kamu lucu, Amara."


"Tidak apa-apa, Nad. Wajarlah seusia Amara memang sedang masa aktif-aktifnya," lanjut Andrew.


"Ya, Mas. Oh ya, aku ingin bertanya soal lomba itu," ucap Nadira kemudian.


"Memangnya kenapa, Nad?" Andrew terlihat bingung.

__ADS_1


"Mas tidak ada sangkut pautnya 'kan sama kemenangan yang diraih oleh Amara?" tanya Nadira.


Andrew terkejut. Lelaki itu bahkan sampai tersedak ketika ingin menyeruput minumannya. Andrew terbatuk-batuk hingga beberapa saat dan setelah reda ia pun segera menjawab pertanyaan dari Nadira.


"Ya, tidaklah, Nad. Kenapa kamu sampai berpikiran seperti itu?"


"Bukan apa-apa, Mas. Aku hanya takut jika kemenangan yang diraih oleh Amara ada campur tangan darimu. Aku ingin Amara menang berdasarkan keputusan juri. Bukan karena bantuan dari siapa pun, termasuk kamu, Mas," ucap Nadira dengan lirih.


"Ya, ampun, Nad. Demi Tuhan, aku sama sekali ingin tidak ikut campur soal kemenangan para peserta di perlombaan itu. Aku sudah menyerahkan semuanya kepada para juri. Sebab hanya mereka yang benar-benar tahu, mana yang layak menjadi juara dan mana yang tidak. Dan Amara memang layak menjadi juara pertama di perlombaan tersebut," tutur Andrew, mencoba meyakinkan Nadira.


Nadira menghembuskan napas berat dan ia masih diam sambil menatap lekat lelaki itu.


Melihat ekspresi Nadira, Andrew tahu bahwa wanita itu masih belum mempercayai kata-katanya.


"Kalau kamu masih belum mempercayai kata-kataku, aku bisa menghubungi para juri agar mereka menjelaskan semuanya kepadamu," lanjut Andrew.


"Baiklah, Mas. Aku percaya," sahut Nadira.


"Oh, ya. Aku dengar, katanya hari ini salah satu iklan yang dibintangi oleh Amara akan ditayangkan di televisi. Apakah itu benar?" tanya Andrew kepada Nadira, mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Ya, Mas. Dan jujur, aku sangat gugup."


Andrew tersenyum. "Aku rasa itu sangat wajar. Secara ini adalah kali pertama untuk Amara. Tapi yakinlah, hasilnya pasti akan memuaskan," jawab Andrew.


"Semoga saja ya, Mas."


Akhirnya saat-saat itu pun tiba. Di mana iklan perdana yang dibintangi oleh Amara akan ditayangkan untuk pertama kalinya di televisi. Nadira begitu antusias menunggu saat-saat itu, begitu pula Andrew. Sementara di tempat lain, Laras pun tidak kalah antusiasnya menunggu penampilan Amara yang pertama kali di layar kaca.


"Mas Budi, ayo cepat kemari! Nanti kamu malah kelewatan dan gak bisa lihat penampilan Amara untuk pertama kalinya!" ucap Laras yang sedang duduk di depan televisi dengan wajah serius.


"Ish, iya, sebentar. Gak bakal kelewat, kok." Budi pun bergegas menghampiri Laras dengan sebuah kopi hangat di tangannya. Lelaki itu ikut duduk di samping Laras dengan tatapan lurus ke arah layar kaca.


Tepat di saat itu, iklan perdana Amara pun ditayangkan dan membuat Laras serta suaminya membulatkan mata mereka.


"Akhh! Itu anakku! Itu anakku! Lihatlah, Mas Budi!" seru Laras sambil menunjuk-nunjuk ke arah layar kaca.


Budi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Laras. "Iya, iya! Itu anakmu," jawabnya.

__ADS_1


***


__ADS_2