
Setelah hari itu, hubungan Nadira dan Andrew makin dekat saja. Nadira sudah mulai merasa nyaman dan terbiasa dengan hadirnya lelaki itu di kehidupannya bersama Amara.
Tidak hanya bersama Andrew, hubungan Nadira bersama tuan Bian pun semakin dekat. Nadira bahkan sudah menganggap tuan Bian seperti ayahnya sendiri.
Seperti hari ini, Nadira dan Amara kembali mengunjungi kediaman mewah milik tuan Bian. Lelaki tua itu sendiri yang mengundang mereka untuk datang ke sana karena merasa kesunyian dan yang pasti ia merindukan tingkah lucu si kecil Amara.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya tuan Bian sambil tersenyum menatap Nadira yang saat itu sudah berdiri di samping tempat tidurnya.
"Baik, Dad. Daddy sendiri bagaimana?" tanya Nadira balik.
"Lihatlah Daddy! Daddy bahkan tidak pernah merasakan sesehat ini sebelumnya," jawabnya dengan bangga.
Nadira pun tersenyum puas. Ia merasa turut bahagia karena kondisi lelaki tua itu jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia sudah mulai bisa berdiri sendiri, walaupun masih belum mampu berjalan dengan kedua kakinya. Namun, sayangnya hingga saat ini tuan Bian masih belum ingat masa lalunya sama sekali, termasuk siapa Andrew.
"Ini semua berkat kalian. Kalian lah yang tak pernah bosan-bosannya mengingatkan dan memberikan aku semangat," lanjut Tuan Bian.
Sementara Nadira tengah asik berbincang bersama tuan Bian, Andrew malah asik menemani Amara bermain, tak jauh dari kamar lelaki tua itu. Sembari bicara, tatapan tuan Bian malah tertuju pada Amara yang terlihat begitu bahagia ketika bersama Andrew.
Tiba-tiba terbesit rasa penasaran di dalam hati tuan Bian. Ia penasaran bagaimana kisah masa lalu Nadira dan Amara, hingga terpisah dari suami dan ayah dari kedua perempuan beda generasi tersebut.
Dengan ragu-ragu, tuan Bian mulai membicarakannya kepada Nadira. "Ehm, Nadira. Bolehkah Daddy bertanya sesuatu padamu?"
"Tentu saja, Dad. Kenapa tidak?" jawab Nadira sambil tersenyum hangat.
"Maaf sebelumnya jika pertanyaan Daddy nantinya akan membuatmu sedikit tersinggung. Daddy hanya penasaran, sebenarnya apa yang membuat kamu dan suamimu memilih berpisah. Sementara Amara masih sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang Ayah. Jika kamu tidak berkenan menjawab pertanyaan Daddy, tidak apa-apa, Nadira. Daddy tidak memaksamu untuk menjawabnya," ucap Tuan Bian sembari menatap lekat Nadira.
Nadira tersenyum tipis. "Tidak masalah, Daddy. Aku tidak keberatan untuk menjawabnya."
Nadira terdiam sejenak lalu menghembuskan napas beratnya. "Ceritanya panjang, Dad. Yang pasti sekarang ayahnya sudah bahagia dengan wanita pilihannya. Wanita yang mapan, yang bisa memenuhi seluruh kebutuhannya."
__ADS_1
Tuan Bian mengerutkan alisnya heran setelah mendengar penjelasan dari Nadira. "Memenuhi kebutuhannya? Maksudmu?"
"Ya, seperti itu lah, Dad. Bermula dari keterpaksaan hingga akhirnya ia merasa nyaman bersama wanita itu. Siapa sih yang sanggup menolak pesonanya Nyonya Ira? Walaupun sudah berumur, dia masih terlihat cantik dan modis. Selain itu, ia juga kaya. Tanpa bekerja keras pun mas Arman akan tetap hidup enak," tutur Nadira sambil tersenyum kecut.
"Sebentar! Siapa nama wanita itu?" Tiba-tiba Tuan Bian memekik kaget dengan mata membulat sempurna.
"Ehm, Nyonya Ira? Memangnya kenapa, Dad? Daddy kenal?" tanya Nadira balik dengan wajah terheran-heran melihat reaksi tuan Bian yang begitu mengejutkan.
"I-Ira Lestari?" Tuan Bian tampak syok dan seketika aura wajahnya pun berubah. Terlihat memucat dan juga panik.
"Ya, Dad. Ira Lestari," jawab Nadira lagi.
Tiba-tiba Tuan Bian memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Ia memekik kesakitan dengan cukup keras hingga terdengar ke luar ruangan itu.
Melihat ekspresi tuan Bian, Nadira pun menjadi ketakutan. Bahkan para perawat yang ingin mencoba menenangkannya, dilarang untuk mendekat.
"Daddy! Apa yang terjadi di sana?" pekik Andrew.
"Apa yang terjadi, Nadira?" tanya Andrew sembari menghampiri Nadira yang tengah ketakutan dan panik. Tubuh mungilnya bahkan sampai bergetar dengan hebat.
"Entahlah, Mas. Tiba-tiba saja Daddy seperti itu," sahut Nadira.
Andrew dan beberapa orang perawat, bersama-sama mencoba menenangkan tuan Bian. Salah satu perawat menyuntikkan obat penenang kepada tuan Bian agar lelaki tua itu bisa sedikit lebih tenang.
Setelah beberapa saat, obat penenang itu pun mulai bereaksi dan tuan Bian pun mulai tenang dan tak berteriak-teriak seperti tadi. Setelah situasi mulai tenang, Andrew kembali menghampiri Nadira dan Amara yang masih syok dengan apa yang terjadi barusan.
"Maafkan daddy, Nad. Daddy memang seperti itu jika penyakitnya kembali menyerang. Tetapi aku yakin ada sesuatu hal yang memicu hal itu. Tidak mungkin dia tiba-tiba mengamuk tanpa ada alasan," tutur Andrew dengan wajah bingung.
Nadira terdiam sejenak sambil mencoba mengingat-ingat pembicaraan yang ia bahas bersama tuan Bian sebelum kejadian itu terjadi. Tiba-tiba ia ingat apa yang menjadi pemicu kemarahan tuan Bian hingga ia kehilangan kendali dan berteriak-teriak seperti tadi.
__ADS_1
"Sebentar, Mas. Tadi, sebelum daddy mengamuk seperti itu, daddy sempat bertanya padaku soal mas Arman dan istri barunya."
"Lalu?" Andrew penasaran.
"Ketika aku tak sengaja menyebut nama istri barunya mas Arman, tiba-tiba saja daddy berteriak histeris. Apa mungkin daddy kenal sama wanita itu?" Rasa penasaran Nadira kembali menguasai dirinya.
"Benarkah? Memangnya siapa nama wanita itu? Siapa tahu aku juga mengenalnya," tanya Andrew yang juga ikut penasaran.
"Mas Arman sering menyebutnya dengan panggilan Nyonya Ira. Nyonya Ira Lestari," jawab Nadira.
"Ira Lestari?"
"Mas mengenalnya?" tanya Nadira balik.
"Aku memang kenal dengan seseorang wanita yang bernama Ira Lestari. Namun, aku tidak yakin bahwa Ira yang kita maksud adalah Ira yang sama," jawab Andrew.
"Hmm, kalau nyonya Ira yang aku maksud adalah seorang wanita yang sudah berumur, Mas. Mungkin sekarang usianya sudah 50 tahunan. Namun, penampilannya tidak kalah dari wanita yang masih muda. Masih energik dan masih cantik tentunya. Dan satu lagi, dia memiliki kekayaan yang cukup untuk membuat lelaki muda tergiur. Termasuk mas Arman," tutur Nadira sambil menundukkan kepalanya sedih.
Andrew menautkan kedua alisnya. "Apa mungkin Ira yang kita maksud adalah Ira yang sama?" gumam Andrew.
"Ehm, sebentar! Ikutlah denganku," lanjut Andrew sembari mengajak Nadira untuk mengikutinya. Nadira pun segera mengikuti Andrew sambil menggendong Amara. Lelaki itu menuntunnya ke sebuah ruangan. Ruang kerja Andrew yang sebelumnya adalah milik tuan Bian,
"Masuklah," ucap Andrew sembari membuka pintu dengan lebih lebar dan mempersilakan Nadira untuk masuk ke dalam ruangan itu bersamanya.
Nadira pun masuk lalu duduk di sebuah kursi yang ada di ruangan itu sambil terus memeluk erat tubuh Amara yang masih ketakutan.
"Ruangan apa ini, Mas?" tanya Nadira.
"Ini adalah ruang kerja daddy sebelum kejadian naas itu terjadi dan sekarang ruangan ini menjadi ruang kerjaku," jawab Andrew sembari menghampiri meja kerjanya lalu meraih sebuah foto yang ia simpan di dalam laci.
__ADS_1
...***...