Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Malam Sebelum Pernikahan


__ADS_3

Nadira berbaring di samping Amara yang sudah tertidur lelap. Ia memeluk bocah mungil itu sambil menitikkan air mata.


"Apa yang sedang dilakukan oleh ayahmu di sana, Amara. Apakah dia sudah makan? Apakah dia bisa tidur tanpa kita?" gumam Nadira.


Sementara itu di kediaman mewah Nyonya Ira.


"Bagaimana makan malamnya, Bu? Apa Ibu menyukainya?" tanya Nyonya Ira ketika makan malam mereka telah selesai.


"Iya, Nak Ira. Ibu benar-benar puas menikmati menu makan siang dan makan malam di sini. Habisnya, semua menu di sini enak-enak, sih!" sahut Bu Ningsih sambil tersenyum lebar.


"Saya sangat senang mendengarnya. So ... bagaimana denganmu, Sayang? Semoga kamu juga menyukai menu makanan yang disediakan oleh para pelayanku," ucap Nyonya Ira sambil melirik Arman yang duduk di sampingnya dengan mulut yang terkunci rapat.


Arman tersenyum tipis. "Ya, aku sangat menyukainya."


"Baguslah kalau begitu. Sekarang sudah saatnya kita beristirahat. Aku juga sudah lelah. Apalagi besok kita akan lebih disibukkan lagi dengan hari istimewa kita," tutur Nyonya Ira sembari bangkit dari posisinya.


Bu Ningsih dan Arman pun mengikuti. Namun, ketika mereka ingin menuju kamar masing-masing, tiba-tiba ponsel milik Nyonya Ira berdering.


Wanita itu berhenti sebentar lalu menerima panggilan dari Wedding Organizer yang mengurus pernikahannya. Sembari menerima telepon tersebut, Nyonya Ira meminta Arman dan Bu Ningsih untuk jalan lebih dulu dengan bahasa isyarat.


"Kalian duluan saja," ucapnya dengan setengah berbisik.


Arman dan Bu Ningsih pun mengangguk. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju kamar masing-masing.


"Eh, Arman! Walaupun kamu tidak mempunyai perasaan apa pun terhadap Nyonya Ira. Setidaknya kamu bisa berpura-pura manis di hadapannya. Apa kamu tidak kasihan melihatnya? Dia sudah berusaha menjadi yang terbaik dan rela melakukan apa saja untukmu. Jarang-jarang loh ada orang kaya yang begitu baik seperti Nyonya Ira," celetuk Bu Ningsih, mencoba mengingatkan Arman.


Arman menghembuskan napas berat. "Aku tidak bisa, Bu. Aku tidak bisa berpura-pura bahwa aku sedang baik-baik saja. Aku tidak menginginkan semua ini. Aku terpaksa melakukannya! Seandainya aku bisa memilih, mungkin aku tidak akan memilih posisiku saat ini. Walaupun diiming-imingi dengan semua kemewahan ini," jawab Arman.


"Iya. Ibu mengerti bahwa kamu terpaksa melakukan semua ini. Tapi setidaknya berpura-pura baiklah di hadapan Nyonya Ira agar ia merasa apa yang dilakukannya selama ini tidak sia-sia," jelas Bu Ningsih lagi.


Arman membuang napas kasar. "Baiklah. Akan kucoba."

__ADS_1


Setelah selesai menerima panggilan dari Wedding Organizer yang mengurus pernikahannya, Nyonya Ira pun bergegas menyusul Arman kembali.


"Ibu duluan, ya. Ibu juga sudah lelah dan butuh istirahat," ucap Bu Ningsih yang kini berdiri tepat di depan pintu kamarnya.


"Ya, Bu. Selamat malam, semoga mimpi indah," sahut Nyonya Ira.


Bu Ningsih masuk ke dalam kamar tersebut lalu menguncinya dari dalam. Sementara Arman dan Nyonya Ira kembali melanjutkan langkah mereka menuju kamar utama. Kamar mewah milik Nyonya Ira.


"Apa kamu sudah mengantuk, Mas?" tanya Nyonya Ira sembari memeluk lengan kekar lelaki itu.


Arman menggeleng pelan. "Aku masih belum mengantuk."


"Hmmm, kalau begitu Mas liatin aku tidur aja." sahut Nyonya Ira sembari menyandarkan kepalanya di pundak Arman.


Setibanya di kamar utama, Nyonya Ira mendorong pelan tubuh Arman ke atas kasur empuknya lalu meminta lelaki itu untuk menunggunya.


"Mas tunggu di sini sebentar, ya. Aku mau ganti baju dulu. Jangan ke mana-mana, oke!" ucap Nyonya Ira sambil mengedipkan matanya kepada Arman.


Arman mengangguk pelan lalu bersandar di sandaran tempat tidur berukuran king size tersebut.


Sementara itu.


Nyonya Ira menuju ruang ganti. Ia memilih salah satu lingerie favoritnya untuk ia kenakan malam ini. Lingerie berwarna merah transparan yang dapat memperlihatkan lekuk tubuh indahnya dengan sempurna.


Setelah selesai mengenakan lingerie tersebut, Nyonya Ira lalu berdiri di depan cermin. Ia memperhatikan penampilannya yang tampak begitu seksi sambil tersenyum tipis.


"Kamu terlihat sangat cantik dan seksi, Ira. Lelaki mana pun tidak akan sanggup menolak pesonamu," gumam Nyonya Ira sembari melenggak-lenggok di depan cermin.


Setelah puas mengagumi kecantikannya, Nyonya Ira pun segera kembali ke kamar untuk menemui Arman. Ia tersenyum manja sembari berjalan menghampiri calon suaminya itu. Sementara Arman sendiri masih belum menyadari keberadaannya.


"Sayang, bagaimana menurutmu penampilanku malam ini?" ucap Nyonya Ira sembari mengelus lembut pundak Arman yang masih melamun.

__ADS_1


Lamunan Arman buyar. Ia segera menoleh ke arah Nyonya Ira lalu memperhatikan penampilan wanita itu dengan seksama. Tak bisa dipungkiri oleh Arman, walaupun usia wanita itu sudah tidak muda lagi. Namun, penampilan serta keindahan lekuk tubuhnya tidak kalah dengan wanita-wanita muda di luaran sana.


"Kamu terlihat cantik," jawab Arman jujur.


"Benarkah? Hmmm, akhirnya kamu mengakui bahwa aku memang cantik dan aku sangat senang." Nyonya Ira tersenyum semringah lalu membaringkan tubuhnya di samping Arman.


"Cantikan mana antara aku dan istrimu, Nadira?" tanya wanita itu lagi.


Tentu saja menurut Arman jauh lebih cantik Nadira, istrinya. Secara Nadira masih muda dan bentuk tubuhnya pun jauh lebih menggoda dari pada Nyonya Ira. Namun, ia tidak ingin wanita itu marah dan kecewa mendengar jawaban jujurnya. Dengan sangat terpaksa, Arman pun harus berkata bohong.


"Tentu saja cantikan kamu," jawabnya.


"Ah, Mas Arman! Kamu membuat aku seperti terbang ke langit ke tujuh." Nyonya Ira makin percaya diri.


Wanita itu meraih tangan Arman lalu meletakkan ke dadanya. "Apa malam ini kamu siap melakukan itu, Mas?"


Arman tampak serba salah. Tangannya mendadak dingin dan bergetar. Ini pertama kalinya ia menyentuh area pribadi wanita lain, selain milik istrinya.


"Hmm, jangan sekarang. Aku masih belum siap."


"Tapi, kenapa? Apakah aku kurang menggoda Mas Arman?"


Nyonya Ira bangkit dari posisinya lalu duduk di samping lelaki itu. Tangan Nyonya Ira mulai bergentayangan. Menelusuri daerah-daerah terlarang yang seharusnya tidak boleh ia jamah sebelum hubungan mereka diresmikan.


"Ja-jangan, Nyonya Ira. A-aku belum siap melakukan ini," ucap Arman dengan terbata-bata.


"Ayolah, Mas Arman. Aku sudah menunggu saat-saat ini. Kamu tidak akan setega itu 'kan sama aku. Sampai harus membiarkan aku menahannya hingga beberapa hari lagi?"


Tangan Nyonya Ira semakin berani. Ia menyusupkan tangannya ke dalam celana Arman lalu menjamah area pribadi lelaki itu sambil menyeringai.


"Bu-bukan begitu. Hanya saja hubungan kita masih belum sah. Jadi, kumohon tahan lah hingga beberapa hari lagi. Hingga kita benar-benar menjadi sepasang suami-istri."

__ADS_1


Nyonya Ira tersenyum miring. "Ayolah, Mas. Jangan berpura-pura menolak. Bahkan junior-mu saja tidak menolak aku sentuh. Ia bahkan sudah berdiri tegak saat ini," ucapnya sambil bernapas di leher Arman.


***


__ADS_2