Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Nyonya Ira Berkunjung


__ADS_3

"Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan informasi soal wanita itu?"


"Sudah dong, Nyonya! Saya akan kirimkan alamatnya ke nomor Anda, tapi ...." Lelaki itu tertawa pelan.


"Ck!" Nyonya Ira berdecak sebal. Ia tahu apa maksud dari orang suruhannya itu. "Kamu itu ya, gerak dikit duit, gerak dikit duit! Seandainya aku tidak membutuhkannya, mungkin aku ogah berbisnis denganmu lagi," gerutunya.


Lelaki itu kembali tertawa untuk sejenak. "Tapi sayangnya Nyonya tidak bisa melepaskan aku 'kan? Nyonya itu akan selalu tergantung padaku, karena hasil kerjaku selalu bagus dan tidak pernah mengecewakan. Jangankan tugas seringan ini, yang berat saja saya sanggup," ucapnya.


"Hush, sudah diam! Jangan bahas soal itu lagi. Aku sudah tidak ingin mendengarnya, kamu mengerti?"


"Oke-oke, baiklah."


Lelaki itu memutuskan panggilannya lalu menunggu transferan dari Nyonya Ira. Setelah Nyonya Ira berhasil mengirimkan sejumlah uang kepadanya, ia pun bergegas mengirimkan alamat Nadira kepada Nyonya Ira.


Nyonya Ira tersenyum puas setelah mendapatkan alamat Nadira yang baru. Ia berencana menemui Nadira sebelum Arman berhasil menemukan keberadaan istri pertamanya itu.


"Baiklah, aku akan segera ke sana!" gumamnya.


Tiba-tiba Arman datang menghampiri Nyonya Ira kemudian duduk di samping wanita itu. Nyonya Ira tersentak kaget dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas


"Eh, Mas." Nyonya Ira tersenyum kecut sembari menatap lelaki itu.


Arman mengerutkan alisnya heran ketika tiba-tiba Nyonya Ira kelihatan kikuk dan refleks menyembunyikan ponsel tersebut darinya. Namun, ia tidak ingin berpikiran negatif tentang Nyonya Ira dan menganggap hal itu hanya suatu kebetulan saja.


"Siapa itu?" tanya Arman.


"Hanya salah satu karyawan toko. Dia minta izin libur," jawab Nyonya Ira.


"Oh." Arman pun mengangguk pelan lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Nyonya Ira tersenyum lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Arman.


"Hari ini aku akan pergi ke kota X. Ada acara yang harus aku hadiri di sana dan karena ini adalah acara khusus untuk para wanita, maka aku pun tidak bisa mengajakmu ikut bersamaku. Kamu gak apa-apa, 'kan?" ucap Nyonya Ira sembari menyentuh lembut wajah Arman yang kini berada di bawahnya.

__ADS_1


Arman tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Tapi aku bisa mengantarkanmu ke sana. Ya, anggap saja aku sopir pribadimu sama seperti dulu."


"Ah, tidak-tidak! Tidak usah, Mas. Biar aku pergi sendiri aja. Mas istirahat aja di rumah," jawab Nyonya Ira yang tampak gelagapan.


"Kamu serius?"


Jawaban Nyonya Ira barusan membuat Arman benar-benar bingung. Ini pertama kalinya wanita itu memilih pergi sendiri tanpa ditemani oleh dirinya.


"Serius, Sayang. Biar aku pergi sendiri aja dan kamu bisa istirahat di rumah untuk hari ini. Untuk hari ini aja loh, ya! Lain kali, kamu akan tetap ikut pergi ke mana pun aku pergi," jawabnya sambil tersenyum kecut.


Arman menghembuskan napas berat. "Baiklah. Selamat bersenang-senang dan hati-hati di jalan," ucap Arman kemudian.


"Terima kasih atas pengertiannya, Sayang. Selamat beristirahat juga untuk kamu," sahut Nyonya Ira.


Wanita paruh baya itu segera berdiri lalu merapikan bajunya yang sedikit berantakan. Sementara Arman memilih duduk bersandar di sandaran tempat tidur mereka sambil memperhatikan istrinya itu.


"Ya sudah, aku berangkat dulu ya, Sayang. Bye!"


Setelah mencium kedua belah pipi Arman, Nyonya Ira pun bergegas pergi meninggalkan Arman yang masih tampak kebingungan di dalam ruangan itu. Arman berjalan menghampiri jendela kamar dan melihat apa yang dilakukan oleh Nyonya Ira di bawah sana. Bahkan hingga wanita itu meluncur dengan mobil mewahnya.


"Sebenarnya aku curiga dengan gelagat Ira hari ini. Tidak biasanya ia pergi tanpa diriku. Bahkan ia sampai menolak tawaranku. Tapi ya sudahlah," gumam Arman lalu kembali ke tempat tidur.


***


Tin ... tin ... tin!


Nyonya Ira menekan klakson mobilnya berkali-kali di depan sebuah rumah, hingga sang pemilik rumah itu pun keluar dan berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri mobilnya.


"Sabar dong, Nyonya!" ucap lelaki itu sambil tertawa pelan. Ia membuka pintu mobil lalu duduk di depan kemudi. Menggantikan posisi Nyonya Ira sebelumnya.


"Kamu ini lemot sekali! Memangnya apa yang kamu lakukan di dalam sana? Berdandan?" celetuk Nyonya Ira dengan wajah menekuk sempurna.


Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya tertawa lalu melajukan mobilnya tersebut menuju kota X. Di mana Nadira tinggal sekarang ini.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, bahkan Nyonya Ira pun sampai ketiduran berkali-kali di dalam mobil mewahnya. Kini mereka tiba di depan sebuah ruko sederhana yang kini ditempati oleh Nadira.


"Nyonya Ira, kita sudah sampai."


Lelaki itu menggoyang-goyangkan tubuh Nyonya Ira secara perlahan hingga wanita itu terbangun dari tidurnya. Nyonya Ira mengucek mata lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Yang mana rumahnya? Yang itu?" Nyonya Ira menunjuk sebuah ruko sederhana yang berdiri kokoh di depan mobilnya.


"Ya. Kalau Anda tidak percaya, sebaiknya cek saja ke dalam."


Nyonya Ira mendorong pintu mobilnya lalu berjalan menghampiri ruko tersebut sambil memasang kaca mata hitam favoritnya.


"Hmmm, jadi sekarang dia jualan baju," gumam Nyonya Ira sambil tersenyum miring.


Melihat ada pelanggan yang mendekat, Nadira pun bergegas menyambutnya. Ia masih belum menyadaribahwa yang datang bukanlah pelanggan yang ia nanti-nantikan. Melainkan seorang wanita yang sudah menghancurkan rumah tangganya.


Semakin wanita itu mendekat, senyuman Nadira pun semakin memudar. Sekarang Nadira sadar siapa yang datang mengunjunginya hari ini. Seorang tamu tak diundang, yang tak pernah ia harapkan kehadirannya.


"Mau apa Anda ke sini?" tanya Nadira sambil menatap lekat wanita kaya tersebut.


Bukannya menghentikan langkahnya, Nyonya Ira malah menerobos masuk dan mulai menelusuri ruangan sempit itu sambil tersenyum sinis.


"Hmm, baju-baju murahan. Tidak bermerek," ucap Nyonya Ira seraya meraih selembar dress mungil yang bergantung di hanger. Ia lalu menenteng dress tersebut ke hadapan lalu meletakkannya kembali dengan kasar.


"Sudah kainnya jelek, panas, jahitannya pun sangat kasar! Anak kecil pasti gerah saat mengenakannya."


Nyonya Ira terus melangkah sambil mengacak-acak deretan dress mungil yang dijual oleh Nadira.


"Kalau nanti anakku lahir, aku akan beli pakaian yang bagus, bermerek dan pastinya tidak gerah saat dikenakan. Ya, walaupun aku harus membayar berpuluh-puluh kali lipat dari harga dress yang kamu jual di sini," lanjutnya sembari membalikkan badan menghadap Nadira yang sejak tadi mengikuti langkahnya di belakang.


"Jika Anda mampu membeli yang lebih mahal dan bermerek, maka belilah tanpa harus menghina barang dagangan orang lain, Nyonya. Anda orang yang terpandang dan dari segi usia pun Anda jauh lebih berpengalaman. Namun, sayangnya Anda tidak memiliki attitude yang baik kepada orang lain," sahut Nadira.


...***...

__ADS_1


__ADS_2