
Andrew berdiri di samping ranjang pasien lalu meraih tangan lelaki tua itu.
"Daddy! Apa Daddy mendengarku?" tanya Andrew dengan wajah sedih menatap lelaki tua itu.
Lelaki tua yang ternyata adalah ayah kandung dari Andrew tersebut tidak menjawab. Bibirnya tetap tertutup rapat dan hanya jari-jemarinya saja yang merespon pertanyaan dari Andrew.
Andrew memperhatikan gerakan lembut jari-jemari sang Ayah yang kini ada di dalam genggamannya.
"Lihatlah, Pak Danu. Jari-jemari Daddy bergerak."
"Ya, Anda benar, Tuan Andrew. Tuan Bian memang sudah bisa merespon suara-suara yang ia dengar di sekelilingnya. Semoga saja Tuan Bian cepat pulih," sahut Pak Danu. Orang kepercayaan Tuan Bian dan sekarang menjadi orang kepercayaan Andrew.
"Aamiin. Semoga." Andrew terdiam sejenak sambil menatap wajah pucat Tuan Bian.
"Jujur, Pak Danu. Kadang aku lelah melihat kondisi Daddy yang seperti ini. Aku ingin dia kembali seperti dulu," lanjut Andrew.
Pak Danu menyentuh pundak Andrew dengan lembut.
"Yakinlah, suatu saat nanti Tuan Bian pasti akan sembuh. Walaupun dokter selalu mengatakan bahwa kemungkinan untuk Tuan Bian sembuh sangatlah kecil, tetapi kita tidak tahu bagaimana rencana Tuhan selanjutnya, Tuan Andrew. Jika Tuhan sudah berkehendak, yang tidak mungkin pun akan menjadi mungkin," sahutnya, mencoba memberi semangat kepada Andrew.
Andrew tersenyum kecil. "Ya, kamu benar, Pak."
Sementara itu, di depan pintu.
Nadira masih mengintip di sana dan dia mendengar perbincangan antara Andrew dan Pak Danu dengan begitu jelas.
"Benar, lelaki tua itu adalah ayah dari Tuan Andrew. Hmmm, kasihan dia. Semoga ayahnya cepat sembuh," gumam Nadira.
Nadira menutup kembali pintu kamar tersebut lalu kembali ke ruangan di mana Amara di rawat.
Keesokan harinya.
Wajah Nadira tampak berseri-seri. Hari ini Amara sudah diperbolehkan pulang. Namun, sebelum pulang, ia ingin bertemu dengan Andrew terlebih dahulu. Ia ingin mengucapkan terima kasih karena sudah memberikan pelayanan yang sangat baik untuk anaknya.
__ADS_1
Tidak berselang lama, Andrew pun tiba. Lelaki berusia 30 tahun itu terlihat begitu tampan dengan kemeja berwarna hitam ketat yang membalut tubuh kekarnya. Ia berjalan mendekat kepada Nadira yang duduk di depan ruangan Amara.
"Nadira," sapa Andrew sambil tersenyum hangat.
Nadira membalas senyuman lelaki itu. "Selamat pagi, Mas."
"Pagi." Andrew menjatuhkan dirinya di kursi yang ada samping Nadira.
"Hari ini Amara sudah diperbolehkan pulang. Aku ingin mengucapkan terima kasih banyak atas layanan yang Mas berikan untuk anakku," ucap Nadira.
"Benarkah? Wah, syukurlah. Aku turut senang mendengarnya. Kapan kalian pulang? Biar aku yang mengantarkan kalian," sahutnya.
"Mungkin nanti siang, Mas." Nadira terdiam sejenak. Tiba-tiba ia teringat akan lelaki tua yang kemarin terbaring lemah di atas ranjang pasien. Yang merupakan ayah kandung dari Andrew.
"Mas ...."
"Hmmm?" Andrew melirik Nadira lalu kembali tersenyum. Entah kenapa setiap kali melihat kedua netra indah Nadira, hatinya merasa sedikit lebih tenang dan nyaman. Padahal selama ini kekhawatiran terus menyelimuti dirinya.
"Sebelumnya aku minta maaf jika pertanyaanku kali ini membuatmu merasa sedikit tidak nyaman. Kemarin, aku tidak sengaja melihat Mas memasuki sebuah ruangan di mana ayahmu dirawat. Kalau boleh aku tahu, sebenarnya apa yang terjadi pada ayahmu, Mas? Beliau sakit apa?"
"Beberapa tahun yang lalu daddy-ku mengalami kecelakaan tragis. Mobilnya masuk jurang dan ia dinyatakan menghilang. Setelah beberapa bulan kemudian dia ditemukan di sebuah desa terpencil. Namun, kondisinya sudah berbeda. Ia tidak lagi ingat kepada siapa pun, termasuk aku. Bahkan hingga sekarang, kondisinya masih seperti itu. Setiap kali kondisinya drop, dia harus segera dilarikan ke rumah sakit. Seperti sekarang ini," tutur Andrew.
"Ya Tuhan, aku turut sedih mendengarnya," sahut Nadira dengan raut wajah sendu.
"Aku berharap ada sedikit keajaiban. Aku ingin ingatannya kembali pulih dan mengingatku lagi. Aku menyesal," lanjut Andrew.
Mata lelaki itu menatap kosong ke arah dinding. Mencoba mengingat kisah hidupnya di masa lalu. Di mana tuan Bian masih segar dan bugar.
"Dulu, setahun setelah mommy meninggal, daddy memutuskan untuk menikah lagi. Aku benar-benar hancur saat itu. Aku memilih pergi dan menetap di luar negeri. Namun, setelah aku kembali ke sini, ternyata daddy sudah menjadi seseorang yang sangat berbeda. Aku menyesal, seharusnya aku tetap di sini menemaninya," tutur Andrew. Terlihat jelas penyesalan di raut wajahnya. Mata lelaki itu bahkan sampai berkaca-kaca.
Nadira memberanikan diri untuk menyentuh pundak lelaki itu walaupun sebenarnya ia begitu ragu.
"Maafkan aku, Mas. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih dan aku berdoa, semoga Tuhan memberikan kesembuhan untuk beliau," ucap Nadira sembari menepuk pundak lelaki itu dengan lembut.
__ADS_1
Tiba-tiba Andrew tersadar. Ia tersenyum kecut lalu kembali menatap Nadira. "Tidak apa-apa, Nadira. Aku memang seperti itu. Kalau sudah mulai nyaman berbicara dengan seseorang, maka aku tidak akan berhenti untuk bicara," sahutnya sembari menyeka air mata yang hampir saja lolos dari kedua sudut matanya.
Nadira hanya membalas senyuman lelaki itu lalu ruangan itu pun kembali hening untuk sejenak.
"Lalu, bagaimana denganmu? Bolehkah aku tahu di mana daddy-nya Amara sekarang? Soalnya sejak Amara di rawat di sini, aku sama sekali tidak pernah melihatnya. Atau mungkin aku yang telah melewatkannya?" Andrew melirik Nadira yang terdiam di sampingnya.
Nadira tersenyum getir. "Dia memang tidak pernah berkunjung ke sini. Aku memang sengaja tidak memberitahunya. Aku takut istri barunya berpikiran yang tidak-tidak tentang kami. Aku tidak ingin istri barunya berpikir bahwa aku memanfaatkan situasi ini untuk meminta perhatian dari suaminya," sahut Nadira dengan jujur.
Andrew menautkan kedua alisnya heran. "Maaf, maksudmu daddy-nya Amara menikah lagi?"
Nadira mengangguk pelan. "Seperti itulah. Tapi aku sudah ikhlas menerima semua ini. Mungkin inilah takdir yang harus aku jalani bersama Amara," jawab Nadira.
"Ehm, maafkan aku, Nadira. Seharusnya aku tidak bertanya soal ini," ucap Andrew dengan wajah penuh sesal.
Nadira terkekeh pelan untuk sesaat. "Ya ampun, Mas. Biasa saja. Lagi pula aku juga sudah menerima semua yang terjadi padaku."
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Nadira dan Amara sudah bersiap untuk kembali ke kediaman mereka bersama Andrew.
"Bagaimana, Cantik? Apa kamu sudah siap kembali ke rumah?" goda Andrew kepada Amara yang kini berada di gendongannya.
"Siappp!" jawab Amara dengan wajah yang terlihat begitu ceria. Gadis kecil itu merasa sangat nyaman ketika bersama Andrew padahal ia dan lelaki itu baru saja bertemu.
"Om Andrew, Om Andrew!" panggil Amara dengan suara cadelnya.
"Ya?"
"Apa Om Andrew akan tinggal bersama Amara dan Ibu?" tanya Amara dengan polosnya.
Andrew terkekeh mendengar pertanyaan polos gadis kecil itu.
"Hei, tidak boleh seperti itu, Sayang! Om Andrew punya rumah sendiri," sela Nadira yang tampak tidak nyaman dengan pertanyaan aneh yang dilontarkan oleh anak perempuannya itu.
"Maafkan Amara, Mas Andrew." Nadira tersenyum kecut menatap lelaki itu.
__ADS_1
"Ah, tidak apa, Nadira."
...***...