
Setelah beberapa menit kemudian, Arman pun tiba di depan kediaman sederhana milik Nadira yang kini sudah berpindah tangan. Namun, Arman sama sekali tidak mengetahuinya.
Setelah memarkirkan mobilnya, ia pun segera keluar dari dalam mobil tersebut. Arman terdiam sejenak di samping mobilnya sambil memperhatikan bangunan sederhana itu dengan seksama.
"Ini benar rumahnya Nadira, 'kan?"
Arman mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu dan ia yakin bahwa dirinya benar bahwa bangunan yang berdiri di hadapannya adalah rumah sederhana milik mendiang kedua orang tua Nadira.
"Di mana Nadira mendapatkan uang untuk merenovasi sebagian rumah ini?" gumamnya lagi dengan wajah heran.
Ya, rumah sederhana peninggalan mendiang kedua orang tua Nadira tersebut sudah mulai direnovasi oleh pemilik barunya. Bagian yang sudah lapuk kini diganti dengan yang baru. Catnya pun sudah diperbaharui hingga Arman hampir saja terkecoh oleh bangunan tersebut.
Di saat Arman masih kebingungan memperhatikan tempat tersebut, tiba-tiba seorang laki-laki berperawakan besar, hampir sama seperti dirinya, keluar dari dalam rumah tersebut. Mata Arman terbelalak dan jantungnya seketika berdetak dengan begitu kencang.
"Brengsek! Siapa lelaki itu? Apakah dia selingkuhan Nadira? Kurang ajar! Berani sekali dia padahal kami saja belum resmi bercerai," geram Arman dengan wajah memerah menatap lelaki itu.
Lelaki itu tersenyum tipis. Ia pun turut memperhatikan Arman dengan sedikit heran. Merasa tak mengenal satu sama lain.
"Siapa, ya?" tanya lelaki itu sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Arman.
Namun, bukannya menyambut uluran tangannya, Arman malah dengan ganasnya mencengkram baju yang dikenakan oleh lelaki itu.
"Siapa aku? Kamu bertanya siapa aku, ha! Seharusnya aku lah yang bertanya seperti itu padamu, Brengsek! Apa yang kamu lakukan di rumah istriku, ha!"
"Istrimu?" Lelaki itu tersentak kaget dan ia pun tidak bisa menepis cengkeraman Arman dari lehernya. Sebab serangan itu terjadi dengan begitu tiba-tiba.
"Aku benar-benar tidak mengerti apa mak—"
Belum habis lelaki itu bicara, tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam ke wajahnya hingga ia jatuh tersungkur ke tanah. Wajahnya seketika memerah dan terasa berdenyut-denyut nyeri.
"Dasar lelaki bejat! Sini kamu!" Arman lagi-lagi ingin melancarkan pukulannya ke arah lelaki itu. Namun, tiba-tiba seorang wanita keluar dari dalam rumah sambil berlari menghampiri lelaki itu.
"Mas! Mas, kamu tidak apa-apa?" tanyanya sembari memeluk tubuh lelaki yang tersungkur tersebut.
__ADS_1
Arman menghentikan aksinya. Ia tiba-tiba kebingungan karena yang datang bukanlah Nadira. Tetapi wanita lain yang sama sekali tidak ia kenali.
"Si-siapa mereka?" gumam Arman heran. Setahu dirinya Nadira sudah tidak punya kerabat lagi.
Arman panik. Ia memperhatikan sekeliling tempat itu dan ternyata orang-orang sudah berkumpul menyaksikan perbuatannya. "Ya, Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan?" gumamnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Tiba-tiba Pak RT datang menghampiri Arman. Ia menepuk pelan pundaknya sambil bertanya. "Ada apa ini, Arman?"
"Ehm, Pak RT. Me-mereka siapa? Kenapa mereka ada di rumah istriku?" tanya Arman dengan terbata-bata.
"Istrimu? Maksudmu Nadira?" tanya Pak RT balik.
Arman mengangguk dengan cepat. "Ya, Pak. Tentu saja Nadira, lalu siapa lagi!" jawabnya dengan setengah kesal karena pertanyaan Pak RT benar-benar membuatnya tersinggung.
"Rumah ini sudah dijual oleh Nadira dan mereka adalah pemilik baru rumah ini," jawab Pak RT. "Bukankah kamu suaminya, kami pikir kamu memang sudah mengetahuinya," lanjut Pak RT.
"Apa, dijual?!" pekik Arman.
Arman tampak panik. Ia mulai tidak tenang berada di tempat itu. "Lalu di mana Nadira dan putriku berada sekarang?"
Pak RT mengangkat pundaknya. "Maaf, saya kurang tahu karena Nadira sendiri tidak pernah bercerita apa pun soal kepergiannya."
"Bapak ini bagaimana, sih? Bapak 'kan RT di sini, seharusnya Bapak tahu dong ke mana warganya pindah!" geram Arman dengan wajah memerah, menahan amarahnya.
Pak RT tertawa pelan. "Saya hanya RT di sini. Lah, kamu sendiri? Bukankah kamu suaminya? Masa istri pergi, kamu tidak tahu?" balas Pak RT yang berhasil membuat semua orang yang ada di situ terkekeh, terkecuali Arman.
Wajah lelaki itu merah padam. Rahangnya menegas dan tangannya kembali mengepal dengan sempurna. Arman benar-benar marah sekaligus malu mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Pak RT barusan.
Ia mendengus kesal lalu berniat pergi meninggalkan tempat itu. Namun, langkahnya kembali tertahan tatkala Pak RT memintanya untuk berhenti.
"Sebentar, Arman!"
Arman berbalik lalu menatap Pak RT dengan wajah kesal. "Apa lagi?"
__ADS_1
"Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan terhadap lelaki ini." Pak RT menunjuk lelaki yang tadi dipukul oleh Arman hingga wajahnya tampak membiru.
Arman tersenyum sinis. "Memangnya apa yang ingin Anda lakukan? Melaporkan aku ke polisi atas tindak kekerasan?"
"Ya," tegas Pak RT.
Arman lagi-lagi mendengus kesal. Ia terpaksa menuruti keinginan lelaki tersebut kalau tidak ingin dilaporkan ke polisi.
"Ck! Oke, baiklah! Sebaiknya kita selesaikan saja di sini. Sekarang sebutkan, berapa aku harus ganti rugi karena sudah memukulnya?"
Pak RT geleng-geleng kepala. Ia tidak menyangka bahwa sekarang Arman benar-benar sudah berubah. Menurutnya, lelaki itu semakin sombong saja.
"Masuklah dulu. Biar kita bicarakan dan selesaikan secara kekeluargaan," ucap Pak RT lagi.
Pak RT, lelaki pemilik rumah dan beberapa orang tetangga lainnya masuk ke dalam rumah bekas milik Nadira tersebut. Kemudian disusul oleh Arman dengan wajah malas.
Beberapa jam kemudian.
"Ck, dasar! Kalo ujung-ujungnya duit juga, kenapa dia mesti ceramah panjang kali lebar!" gerutu Arman sembari berjalan menuju mobilnya.
Setelah acara perundingan tersebut, Arman diminta bertanggung jawab dengan membayar sejumlah uang untuk biaya pengobatan lelaki yang tadi ia pukul. Arman sangat kesal karena menganggap waktunya terbuang sia-sia hanya untuk mendengarkan celotehan Pak RT dan mantan tetangganya yang menurutnya sangat tidak berguna.
"Sekarang aku harus ke mana?" gumam Arman sembari melajukan mobilnya. Ia terus berpikir keras hingga akhirnya ia memutuskan untuk menemui Laras dan Budi. Sebab ia tahu bahwa selama ini pasangan tersebut cukup dekat dengan Nadira.
Arman memutar balik lalu kembali melanjutkan perjalanannya menuju kediaman Laras dan Budi. Berharap mendapatkan jawaban tentang keberadaan Nadira di sana.
Setibanya di tempat itu, Arman pun segera memarkirkan mobilnya. Laras yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, tersentak kaget setelah mendengar suara deru mobil yang terparkir di halaman rumah.
"Siapa, ya?" gumamnya sembari mengintip dari balik kaca. Betapa terkejutnya Laras setelah tahu siapa yang berkunjung ke kediamannya.
"Mas Arman? Mau apa dia ke sini! Hmm, ini pasti ada hubungannya dengan Nadira," lanjutnya dengan wajah kesal menatap Arman yang berjalan mendekat ke arah pintu rumahnya.
...***...
__ADS_1