
"Juragan! Juragan, maaf mengganggu!"
Baru saja Juragan Bahri ingin menyentuh tubuh mulus Nadira, tiba-tiba ia dikagetkan dengan pintu yang terbuka. Tampak anak buahnya tengah berdiri di hadapannya dengan kepala menunduk menghadap lantai.
"Ada apa, sih! Mengganggu saja," hardik Juragan Bahri dengan mata melotot menatap lelaki sangar itu.
"Di luar ada Arman, Juragan. Ia tidak sendiri. Lelaki itu datang bersama beberapa orang preman," jawabnya.
"Apa! Kurang ajar!" hardik Juragan Bahri sembari mengenakan kembali pakaiannya. Ia bersama lelaki sangar itu bergegas keluar dari kamar tersebut dan meninggalkan Nadira di sana sendirian.
Setelah mengunci pintu kamar Nadira, mereka bertiga pun segera menuju halaman depan rumah untuk menemui Arman dan Nyonya Ira serta beberapa orang preman yang sengaja disewa oleh wanita itu untuk berjaga-jaga.
Sepeninggal Juragan Bahri, Nadira perlahan bangkit dari posisinya. Setelah merapikan dasternya, Nadira duduk di tepian ranjang sambil mengucap syukur.
"Terima kasih, Tuhan. Syukurlah Mas Arman datang tepat waktu. Kalau tidak, aku pasti sudah menjadi santapan Juragan Bahri!" Nadira kembali terisak mengingat nasibnya yang hampir saja menjadi pemuas nafsu Juragan Bahri.
Sementara itu.
Dengan langkah tergesa-gesa Juragan Bahri serta kedua anak buahnya menuju halaman depan dan setibanya di sana, ternyata benar, Arman sudah menunggunya bersama beberapa orang preman yang tak kalah menyeramkan dari kedua anak buahnya.
Juragan Bahri tersenyum sinis. "Apa maumu, Arman? Apa kamu pikir dengan membawa serta para preman ini akan membuat aku takut? Heh, kamu salah!"
"Kembalikan istriku, Juragan Bahri!" tegas Arman.
"Aku akan menyerahkan istrimu kembali setelah kamu mengembalikan semua uang-uangku," jawab Juragan Bahri dengan mantap.
"Heh, tua bangka! Ini uangmu dan sekarang kembalikan istrinya," sela Nyonya Ira yang sejak tadi berdiri di samping Arman.
Juragan Bahri melirik Nyonya Ira yang terlihat begitu cantik dan seksi. Ia memperhatikan penampilan wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Juragan Bahri tahu bahwa usia wanita itu sudah tidak muda lagi. Namun, penampilannya masih bisa bersaing dengan wanita-wanita muda.
"Jangan melihatku seperti itu, Tua Bangka! Apa kamu tidak pernah melihat wanita cantik?" geram Nyonya Ira.
Nyonya Ira melemparkan sejumlah uang yang diinginkan oleh Juragan Bahri ke hadapan lelaki itu.
"Ini uangmu, sekarang mana Nadira!"
__ADS_1
Anak buah Juragan Bahri meraih uang itu lalu menyerahkannya kepada majikannya tersebut. Setelah menghitung jumlahnya, Juragan Bahri pun tersenyum puas.
"Jumlahnya pas. Tidak apa aku tidak bisa menikmati tubuh wanita itu. Setidaknya dengan uang ini aku bisa meminta beberapa orang wanita cantik sekaligus untuk melayaniku. Benar 'kan?" celetuk Juragan Bahri.
"Ya, Juragan. Anda benar," jawab anak buahnya.
"Sekarang kamu jemput wanita itu!" titah Juragan Bahri.
"Baik, Juragan!"
Lelaki itu lalu pergi dan meninggalkan tempat itu menuju kamar di mana Nadira masih dikurung oleh mereka. Kedatangan lelaki itu kembali membuat Nadira ketakutan.
"Mau apa lagi kamu?" ucap Nadira sembari menjauh dari lelaki sangar itu.
"Kamu mau pulang atau tetap diam di sini, ha? Suamimu sudah menunggu di luar," jawab lelaki itu dengan kasar.
Nadira mengembangkan senyumnya. Ia tidak menyangka bahwa Arman benar-benar berhasil menyelamatkan dirinya dari cengkeraman Juragan Bahri. "Mas Arman," gumamnya.
"Ayo! Apa kamu ingin bengong saja di situ?" geram lelaki sangar itu lagi.
Setibanya di sana, mata Nadira langsung tertuju pada sosok Arman yang juga menatapnya dengan tatapan sedih. Nadira berlari kecil menuju Arman dan disambut oleh lelaki itu dengan perasaan bahagia.
"Mas Arman!" Nadira memeluk erat tubuh Arman dan dibalas oleh lelaki itu dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan Mas, Dira."
"Arman, sebaiknya kita pulang. Kamu tidak ingin 'kan berurusan dengan para lintah darat ini lagi?" celetuk Nyonya Ira dengan wajah menekuk menatap Arman dan Nadira yang tengah asik berpelukan untuk melepas rindu.
Arman dan Nadira melerai pelukan mereka. Kini tatapan Nadira tertuju pada wanita kaya yang tengah berdiri di hadapannya dengan wajah masam. Nadira mencoba tersenyum, tetapi tak dihiraukan oleh wanita itu.
"Nadira, ini majikan baruku, Nyonya Ira. Tapi kita bicaranya nanti saja, sebaiknya kita pulang sekarang. Amara aku titipkan sama Ibu sebelum ke sini dan aku yakin dia pasti sangat merindukanmu," ucap Arman sembari merengkuh pundak Nadira dan membawanya berjalan bersama menuju mobil milik Nyonya Ira.
Nyonya Ira mendengus kesal. Ia melotot menatap Arman. Ia tidak ingin Arman bersikap manis kepada Nadira di depan matanya. Arman pun mengerti. Ia segera melepaskan tangannya dari pundak Nadira lalu berjalan di samping wanita itu.
Di dalam mobil.
__ADS_1
Arman duduk di depan kemudi bersama Nyonya Ira, sementara Nadira duduk di belakang.
"Nadira, bajumu kenapa?" tanya Arman yang baru sadar bahwa baju daster lusuh istrinya terdapat robekan yang cukup besar di bagian pundaknya.
Nadira menatap sedih ke arah bajunya yang robek tersebut. "Juragan Bahri hampir saja memperkosa aku, Mas. Beruntung Mas datang dan lelaki bejat itu tidak jadi melakukannya," tutur Nadira dengan wajah sedih.
"Ya, Tuhan! Lelaki itu benar-benar keterlaluan!" geram Arman sambil memukul stir mobil.
"Sudahlah, Arman. Yang penting 'kan semua sudah aman dan tidak terjadi apa-apa pada istrimu," sela Nyonya Ira sembari mengelus lembut pundak Arman.
Nadira menyaksikan hal itu dan ia merasa ada yang aneh. Namun, perasaan itu segera ia tepis. Nadira tidak ingin berburuk sangka. Namun, jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa curiga kepada wanita itu.
Kini mereka tiba di kediaman sederhana milik Nadira dan Arman. Nadira segera keluar dari mobil tersebut, sementara Arman masih ingin melanjutkan perjalanannya. Mengantarkan Nyonya Ira kemudian menjemput Amara yang masih dititipkan bersama Ibunya.
"Kamu beristirahatlah dulu. Biar aku antar Nyonya Ira kembali ke rumahnya lalu menjemput Amara di rumah Ibu," ucap Arman sembari menatap lekat Nadira yang sudah berdiri di samping mobil.
Nadira mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi jangan lama-lama ya, Mas. Aku masih takut," ucap Nadira.
"Ck!" Nyonya Ira berdecak kesal. "Mereka tidak akan berani macam-macam padamu, Nadira. Lagi pula mereka sudah mendapatkan uang yang mereka inginkan. Jadi, kamu itu sudah tidak berguna lagi bagi mereka," sela Nyonya Ira sembari membuang muka ketika Nadira menatapnya.
Arman menghembuskan napas berat lalu mengangguk pelan. "Sekarang masuklah lalu kunci pintunya. Aku berjanji tidak akan lama," sahut Arman.
"Baik, Mas."
Nadira pun segera masuk lalu mengunci pintu rumahnya, sama seperti perintah Arman. Sementara Arman melanjutkan perjalanannya.
Di perjalanan.
Nyonya Ira meraih tangan Arman lalu memeluknya dengan erat. Ia juga menyandarkan kepalanya di pundak lelaki itu.
"Sayang, jangan pernah bersikap manis lagi kepada Nadira di hadapanku. Aku cemburu! Kalau di belakangku, ya terserah kamu. Selama aku tidak melihatnya. Kamu mengerti?"
Arman menghembuskan napas berat. "Baik."
...***...
__ADS_1