Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Rencana Tuan Bian


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Kondisi tuan Bian mengalami kemajuan yang sangat pesat. Ia dinyatakan sembuh total oleh dokter yang selama ini bertugas memantau kesehatannya. Ia juga sudah bisa beraktivitas sendiri tanpa bantuan siapa pun, termasuk para perawatnya.


Seperti pagi ini, setelah selesai melakukan ritual paginya, tuan Bian pun bergegas menuju ruang makan. Di mana Andrew sudah menunggu kedatangannya.


"Hmmm, sebaiknya kalian panggil daddy sekali lagi. Aku khawatir terjadi sesuatu kepadanya," titah Andrew kepada salah satu pelayan sambil melirik jam tangan mewahnya.


"Baik, Tuan."


Sudah lama Andrew menunggu di ruangan itu, tetapi tuan Bian belum kelihatan juga batang hidungnya. Namun, baru beberapa langkah pelayan itu meninggalkan posisinya, tuan Bian tiba di ruangan tersebut.


"Tidak perlu. Aku sudah berada di sini," ucapnya sembari melangkah menghampiri meja makan nan mewah itu.


"Selamat pagi, Dad."


Kedatangan tuan Bian langsung disambut hangat oleh Andrew. Ia berdiri kemudian memeluk lelaki tua itu.


"Selamat pagi, Nak." Setelah melerai pelukan mereka, tuan Bian pun segera duduk di kursinya.


Mereka lalu menikmati sarapan sambil sesekali berbincang ringan. Hingga tak terasa sarapan mereka pun selesai. Andrew segera pamit karena ada meeting penting yang harus ia hadiri.


"Ingat, Dad! Kalau sudah merasa lelah, maka segeralah beristirahat. Aku tidak ingin Daddy sakit lagi," ucap Andrew sebelum ia pergi meninggalkan lelaki tua itu.


"Ya, akan kuingat itu," jawab Tuan Bian meyakinkan.


Andrew pun tersenyum lalu pergi dari ruangan itu. Sementara tuan Bian terus memperhatikan Andrew bahkan hingga anak lelakinya itu menghilang dari pandangannya.


Setelah beberapa menit kemudian.

__ADS_1


"Apa Andrew sudah berangkat?" tanya Tuan Bian kepada salah satu pelayannya.


"Ya, Tuan. Tuan Andrew sudah berangkat," jawab pelayan itu.


"Bagus." Tuan Bian meraih ponselnya lalu mencoba menghubungi seseorang.


"Ya, Tuan?"


"Sebaiknya kita berangkat sekarang," ucap Tuan Bian dengan wajah dinginnya.


"Baik, Tuan. Kami tunggu di depan."


Setelah memutuskan panggilan itu, tuan Bian pun bergegas bangkit dari posisinya lalu berjalan menuju halaman depan. Di mana ada seseorang yang sudah mengunggu kedatangannya.


Setibanya di sana, lelaki yang ternyata adalah seorang pengacara itu segera menyambut kedatangan tuan Bian sambil tersenyum hangat.


"Selamat pagi, Tuan Bian. Mari, silakan masuk," sambut lelaki itu sembari mempersilakan dirinya untuk masuk ke dalam mobil mewah yang sudah siap membawa mereka ke suatu tempat.


Setelah Tuan Bian masuk, lelaki itu pun segera menyusulnya. Ia duduk di samping tuan Bian sembari memerintahkan pak sopir untuk segera melajukan benda tersebut.


***


Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, kini mobil yang ditumpangi oleh tuan Bian tiba di depan sebuah rumah mewah.


"Sebaiknya kamu tunggu di sini untuk sementara. Biar aku masuk terlebih dahulu untuk menemuinya. Jika waktunya sudah tepat, maka segeralah masuk dan temui kami," jelas Tuan Bian sebelum ia keluar dari mobil tersebut.


"Baik, Tuan."


Tuan Bian pun segera keluar dari mobil itu lalu berjalan menghampiri gerbang besar yang menjadi pembatas antara jalan dan halaman rumah mewah tersebut. Baru saja tuan Bian mendekat, seorang penjaga keamanan segera menyambutnya.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" ucap penjaga keamanan itu.


Tuan Bian mengangkat kepalanya lalu menatap penjaga keamanan itu sambil tersenyum sinis.


"Apa kamu sudah lupa siapa aku?" tanya Tuan Bian balik.


Penjaga keamanan itu membelalakan matanya. Ia begitu terkejut setelah sadar siapa yang tengah berdiri di hadapannya.


"Tu-Tuan Bian!" pekiknya dengan terbata-bata.


"Buka!" titah Tuan Bian dengan tegas.


"Ba-baik, Tuan!" Lelaki itu pun bergegas membuka pintu gerbang tersebut lalu membiarkan tuan Bian untuk masuk ke dalam rumah mewah tersebut.


Perlahan, tuan Bian melangkahkan kakinya memasuki rumah besar yang memiliki tiga lantai tersebut. Ia terus menelusuri ruangan demi ruangan yang ada di sana sambil memperhatikan sekeliling.


Hingga akhirnya langkah tuan Bian terhenti di ruang utama. Di mana ia melihat seorang lelaki muda tengah bersantai di sofa mewahnya sambil menyeruput secangkir kopi. Lelaki itu tersentak kaget ketika melihat sosok tuan Bian yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah mewahnya.


"Siapa Anda dan ada perlu apa ke sini?" tanya lelaki itu sambil menatap tuan Bian dengan seksama.


Tuan Bian hanya tersenyum. Ia lalu berjalan menuju sofa dan menjatuhkan dirinya di sana dengan santainya. Tuan Bian memperhatikan lelaki yang masih terbengong-bengong itu dengan seksama. Dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, tanpa terlewat satu centi pun.


"Di mana istrimu?" tanya Tuan Bian.


"Anda belum menjawab pertanyaan saya. Siapa Anda dan mau apa ke sini? Apakah Anda tidak punya sopan santun, hingga main nyelonong begitu saja ke rumah orang lain, ha! Sekarang jawab pertanyaan saya atau saya panggil keamanan untuk segera mengusir Anda dari sini!" ancam lelaki itu dengan begitu serius.


Bukannya takut, tuan Bian malah tergelak untuk sesaat setelah mendengar ancaman dari lelaki itu.


"Sebentar lagi kamu akan tahu siapa aku dan aku pastikan kamu akan malu karena sudah berkata seperti itu padaku," jawab Tuan Bian sambil tersenyum miring.

__ADS_1


...***...


Segini dulu ya, Readers. Nanti kita sambung lagi, soalnya jam up nya udah mepet, hehe ...


__ADS_2