Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Kepergok


__ADS_3

Ketiga orang itu pun segera menuju toko perhiasan terbaik yang ada di kota tersebut. Di sana, Arman berhasil mendapatkan anting serta cincin untuk Nadira.


Ia begitu bahagia karena akhirnya keinginan terbesarnya sudah tercapai. Menggantikan cincin pernikahan milik Nadira yang sudah ia jual untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.


"Terima kasih banyak. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi padamu, Ra."


Nyonya Ira tersenyum lebar. "Tidak masalah, Mas. Yang penting kamu bahagia dan selalu ingat akan tugas-tugasmu sebagai suamiku," jawabnya dengan begitu manja.


Sementara Nyonya Ira membayar uang belanjaan Arman kepada kasir, Bu Ningsih bergegas menghampiri anak lelakinya itu sambil tersenyum lebar.


"Beruntung sekali nasibmu, Arman! Siapa sangka Tuhan mendatangkan sosok Nyonya Ira kepadamu di saat kamu sedang kesulitan! Lihatlah, bahkan Ibu pun ikut terkena cipratannya. Nasibmu bersama Nadira dan Nyonya Ira benar-benar berbanding terbalik. Jika Nadira selalu membawa kesusahan kepadamu, sedangkan Nyonya Ira selalu memberikan semua keberuntungan itu kepadamu," celetuk Bu Ningsih dengan begitu bangga.


"Tidak seperti itu juga, Bu! Apa Ibu tahu, pernikahanku dengan Nyonya Ira hanya atas dasar balas budi semata. Dan Nadira, Nadira bukanlah wanita yang selalu pembawa kesusahan untukku. Hanya saja kehidupan rumah tangga kami saat ini sedang diuji. Itu saja," jawab Arman. Mencoba mengelak ucapan Bu Ningsih.


"Hmmm, bagi Ibu sih sama saja. Coba bayangkan jika seandainya kamu tidak bertemu dengan Nyonya Ira, mungkin sampai sekarang kamu dan Nadira hidup luntang-lantung tak tau arah," sambung Bu Ningsih.


"Sudahlah, Bu. Jangan bahas soal itu lagi." Arman sudah mulai tidak nyaman dengan percakapannya bersama Bu Ningsih yang seolah-olah terus menyalahkan sosok Nadira.


"Memang itu kenyataannya, kok." Bu Ningsih menekuk wajahnya dengan sedikit kesal.


Tepat di saat itu Nyonya Ira datang menghampiri mereka. Ia baru saja selesai membayar barang belanjaan Arman. Wanita itu tersenyum semringah lalu kembali memeluk lengan Arman.


"Apa kalian lapar?" tanyanya.


"Iya, Nak. Ibu sudah lapar. Arman pun pasti sudah lapar juga. Benar 'kan, Arman?" sambung Bu Ningsih.


"Ya, aku juga merasa sangat lapar setelah perjalanan kita kali ini. Sebaiknya sekarang kita cari tempat makan," ajak Nyonya Ira sembari menarik pelan tangan Arman.


"Ya, baiklah."

__ADS_1


Ketiga orang itu pun segera keluar dari toko perhiasan tersebut. Seperti sebelumnya, Nyonya Ira masih menggandeng mesra tangan Arman. Ya, sebagaimana pengantin baru pada umumnya, mereka pun tidak malu mengumbar kemesraan di depan umum.


Di sebuah toko bangunan yang terletak berseberangan dengan toko perhiasan tersebut. Tampak seorang laki-laki tengah memperhatikan ketiga orang itu dengan begitu seksama.


"Bukankah itu Mas Arman dan Bu Ningsih? Lalu ... siapa wanita yang tengah menggandeng mesra tangan Mas Arman?" gumamnya dengan alis yang saling bertaut.


Cukup lama lelaki itu memperhatikan Arman, Nyonya Ira dan Bu Ningsih tanpa berkedip sedikit pun, hingga tiba-tiba ia teringat akan ponselnya.


"Ponselku! Mana ponselku! Aku ingin mengabadikan momen ini sebagai bukti bahwa penglihatanku tidak lah salah," gumamnya, bermonolog sendiri.


Setelah berhasil menemukan benda pipih tersebut, ia pun segera mengabadikan moment-moment itu dengan kamera ponselnya.


"Hmmm, bagus!" gumamnya lagi, setelah berhasil mendapatkan beberapa foto kebersamaan ketiga orang itu.


"Woy! Apa yang kamu lakukan? Ayo, kita berangkat!"


Ucapan dari teman kerjanya itu cukup membuat ia terkejut. Lelaki itu mengangguk pelan lalu bergegas menjalankan mobil pick up yang saat ini mereka tumpangi.


"Tadi aku melihat salah satu tetanggaku jalan-jalan bersama wanita lain. Padahal istri dan anaknya sedang menunggu kedatangannya di rumah," sahut lelaki itu.


Teman kerjanya itu tertawa pelan. "Ini kota besar, Bud. Apa pun bisa saja terjadi di sini," jawabnya.


"Ya, kamu memang benar."


Tak terasa sore pun menjelang.


Lelaki yang bernama Budi tersebut pulang ke rumahnya setelah menyelesaikan pekerjaannya sebagai pengantar barang di sebuah pabrik pembuatan batu bata.


"Mas sudah pulang?" tanya sang istri yang menyambut kedatangannya sambil tersenyum hangat.

__ADS_1


"Ehm, Laras ...."


"Ya?"


"Tadi siang aku tidak sengaja melihat Mas Arman di kota. Ia bersama Bu Ningsih dan juga seorang wanita yang tidak aku kenal. Mas Arman dan wanita itu terlihat mesra sekali. Apakah wanita itu istrinya?" tutur Budi sembari menjatuhkan tubuh lelahnya di sofa.


Laras tersenyum kecut. "Ish, Mas Budi. Kok bicaranya seperti itu, sih? Jangan-jangan Mas Budi salah lihat lagi," sahut Laras, mencoba menepis prasangka buruknya terhadap Arman.


"Tidak kok, Laras. Aku tidak bohong! Aku bahkan sempat memotret kemesraan mereka di tempat itu karena aku tau kamu pasti tidak akan pernah percaya sama omonganku," ucap Budi.


"Ah, bisa jadi itu boss barunya mas Arman. Nadira bercerita katanya mas Arman memang sedang bertugas di kota untuk menemani boss barunya di sana," jawab Laras, masih mencoba berprasangka baik.


"Ish, kami ini!" Budi sedikit kesal. "Mana ada sama boss mesra begitu. Coba perhatikan foto-foto ini, apakah seperti ini yang kamu maksud dengan hubungan antara boss dengan anak buahnya?"


Budi meraih ponsel kesayangannya lalu memperlihatkan ke hadapan Laras. Laras yang penasaran pun bergegas mengambil ponsel milik Budi lalu memperhatikan foto-foto itu dengan seksama.


"Ya, Tuhan!" pekik Laras dengan mata membulat sempurna. Ia tidak percaya bahwa apa yang dikatakan oleh suaminya barusan ternyata benar adanya.


"Nah, sekarang kamu lihat 'kan? Apakah pantas hubungan mereka layak disebut sebagai hubungan seorang karyawan dengan atasannya? Yang ada, suami dan istri barunya. Atau mungkin kekasih barunya," celetuk Budi.


"Kok, bisa, ya? Bahkan Bu Ningsih pun terlihat nyaman-nyaman aja melihat Arman dan wanita itu tampil mesra di depan umum," gumam Laras, tak habis pikir.


"Kasihan, Nadira. Padahal baru tadi pagi ia datang ke sini untuk meminjam ponselku. Katanya dia dan Amara kangen sama Arman," sambung Laras dengan wajah sedih.


"Sebaiknya kamu kasih tau Nadira yang sebenarnya, Laras. Kalau dibiarkan berlarut-larut, yang ada Arman semakin ngelunjak dan menjadi-jadi," ucap Budi, mencoba memberikan saran kepada Laras.


Laras melirik Budi dengan wajah sedih. "Aku tidak tega, Mas. Nadira pasti akan sangat terpukul jika ia tahu bagaimana sikap Arman di luaran sana. Lagi pula aku bingung bagaimana cara memberitahu Nadira soal ini," sahut Laras.


"Ya, katakan saja yang sejujurnya bahwa Arman main serong di belakangnya. Sekarang atau pun nanti, Nadira pasti akan mengetahuinya. Sepandai-pandainya mas Arman menyimpan bangkai pasti akan keciuman juga bau busuknya," jelas Budi.

__ADS_1


Laras menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kembali. "Baiklah, aku pasti akan memberitahu Nadira soal ini. Biar ia tahu lelaki seperti apa mas Arman itu yang sebenarnya," sahut Laras.


...*** ...


__ADS_2