Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Kunjungan Laras Yang Ke-Dua


__ADS_3

Nadira terdiam di ruangan itu sambil menatap Arman yang sudah pergi meninggalkannya. Ia heran kenapa sekarang Arman lebih sensitif dari pada biasanya.


"Bu. Ibu kenapa?" tanya Amara sembari menarik-narik tangan Nadira yang masih melamun.


"Ah, Ibu tidak apa-apa kok, Sayang. Sinih, biar Ibu pasangin antingnya," sahut Nadira sembari tersenyum kecut.


Beberapa menit kemudian.


Nadira kembali menemui Arman di dalam kamar. Ternyata lelaki itu sudah berselonjor di atas ranjang lusuh mereka sambil memainkan ponselnya. Nadira kembali mencoba tersenyum lalu duduk di samping lelaki itu.


"Mas." Nadira mengelus lembut paha Arman yang berada di sampingnya.


"Hmmm," jawabnya dengan bergumam. Matanya terus saja fokus pada layar ponsel dan tidak sedikit pun menoleh kepada istrinya itu.


"Apa Mas tidak melihat sesuatu yang berbeda dariku hari ini?" tanya Nadira dengan wajah merona malu.


Arman menghentikan aksinya (memainkan posel). Ia lalu menoleh ke arah Nadira sambil menautkan kedua alisnya.


"Ehm, aku tidak tahu apa maksudmu. Menurutku kamu masih sama seperti biasanya. Memangnya kamu kenapa, Nadira?" tanya Arman.


Nadira menghela napas berat. Ia tampak kecewa setelah mendengar jawaban dari Arman. Ternyata Arman sama sekali tidak menyadari bahwa hari ini Nadira terlihat sedikit berbeda. Ia sengaja berdandan cantik untuk menyambut kedatangan Arman. Namun, sayang, sang suami malah tidak menyadari hal kecil yang sudah dilakukannya itu.


"Bukan apa-apa, Mas. Sebenarnya aku hanya ingin mengajakmu makan bersama. Aku sudah memasak banyak hari ini dan aku juga masakan kesukaanmu," jawab Nadira sambil tersenyum kecil menatap Arman.


Arman tersenyum getir. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ehm, Nadira. Maafkan aku. Aku sudah makan sebelum kembali ke sini. Nyonya Ira mengajakku sarapan bersama dan aku tidak enak menolak permintaannya."


Untuk kesekian kalinya Nadira harus menelan pil kekecewaan. Walaupun ia merasa kecewa untuk yang kedua kalinya di hari ini. Namun, wanita itu tetap mencoba menyunggingkan sebuah senyuman di wajah cantiknya.


"Ehm, Mas Arman. Kamu tidak enak menolak keinginan majikanmu, tetapi kamu tanpa segan menolak keinginanku," gumam Nadira di dalam hati sambil tersenyum kecut.


"Baiklah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan makanan yang sudah kumasak itu?" tanya Nadira.


"Ehm, bagikan saja kepada tetangga-tetangga sebelah rumah dan tidak usah disimpan lagi," jawabnya tanpa beban.


Nadira hanya bisa menghembuskan napas panjang. "Baiklah, Mas."

__ADS_1


Nadira pun bangkit dari posisinya lalu berjalan gontai menuju dapur. Sedangkan Arman kembali melanjutkan aktivitas sebelumnya. Mengotak-atik benda pipih kesayangannya itu.


"Seandainya aku tahu jawaban Mas Arman akan seperti itu, mungkin aku tidak akan menyambut kedatangannya dengan seantusias ini," gumam Nadira.


Setibanya di dapur, Nadira segera mengemasi makanan-makanan yang sudah ia tata di atas meja ke dalam mangkok-mangkok kecil untuk dibagikan kepada para tetangga-tetangga sebelah rumahnya.


Setelah selesai mengemasi makanan-makanan itu, ia pun bergegas membagikannya. Para tetangga-tetangganya begitu antusias menyambut pemberian Nadira. Walaupun masih ada beberapa orang yang tampak enggan menerimanya sebab mereka tahu bahwa selama ini keluarga Nadira hidup dengan serba kekurangan.


Malam pun menjelang.


Setelah menidurkan Amara, Nadira pun mencoba menghampiri Arman. Ia mulai menggoda suaminya itu dengan penampilan yang cukup berani. Hanya mengenakan braa serta celana dallam saja.


"Mas, apa kamu merindukan aku?" tanya Nadira sambil tersenyum manja.


Arman melirik Nadira yang terlihat begitu seksi dan menggairahkan. Namun, sayang Arman sama sekali tidak tertarik dengan hal itu. Ia masih terngiang-ngiang akan percintaan hebatnya bersama Nyonya Ira beberapa hari ini. Arman masih belum sanggup menyentuh Nadira sebab rasa bersalah itu masih menguasai hati dan pikirannya.


"Kamu sangat cantik, Nadira. Tapi maafkan aku, malam ini aku belum bisa menyentuhmu karena seluruh badanku masih terasa sakit. Mungkin besok aku harus pergi ke tukang urut agar tubuhku bisa kembali fit," sahut Arman sambil tersenyum kecut.


"Ya, sudahlah. Sebaiknya aku tidur saja," ucap Nadira sembari meraih baju dasternya lagi.


"Maafkan aku. Kamu tidak marah, 'kan?" Arman mencoba membujuk Nadira. Ia tidak ingin istrinya itu marah kepadanya.


Setelah mengenakan dasternya, Nadira pun segera merebahkan diri di samping Amara. Ia memeluk bocah cantik itu dengan posisi memunggungi Arman.


"Maafkan aku, Dir." Arman mengelus lembut puncak kepala Nadira dan membiarkan wanita itu larut di dalam mimpinya.


Keesokan harinya.


"Dira, aku berangkat dulu, ya! Nyonya Ira ada keperluan pagi ini dan aku harus mengantarkannya ke toko perhiasan miliknya," ucap Arman dengan tergesa-gesa.


"Loh, Mas! Tidak sarapan dulu?"


"Tidak usah, Dir. Aku akan beli sarapan di warung-warung pinggir jalan," jawabnya sambil berlalu begitu saja. Bahkan Amara yang sejak tadi merentangkan tangannya pun tidak ia dipedulikan oleh lelaki itu.


Nadira menekuk wajahnya karena kesal. Lagi-lagi Arman menolak tawarannya demi seorang Nyonya Ira.

__ADS_1


"Benar-benar menyebalkan! Ini sudah kesekian kalinya Mas Arman menolak makan bersamaku. Dia hanya mementingkan Nyonya Ira, Nyonya Ira dan Nyonya Ira lagi!" gerutu Nadira di dalam ruangan itu.


Sepeninggal Arman, Nadira pun melanjutkan aktivitas paginya seperti biasa walaupun tanpa Arman di sisinya.


"Tinggal jemur cucian, setelah itu aku bisa bersantai bersama Amara," gumam Nadira setelah semua pekerjaannya selesai.


Nadira membawa keranjang berisi pakaian setengah kering yang akan ia dijemur di halaman depan rumah sederhananya. Sementara si kecil Amara mengikutinya dari belakang.


Ketika sedang asik menjemur pakaiannya, tiba-tiba ia melihat sosok Bu Ningsih yang tengah melewati halaman rumahnya dengan penampilan yang tampak begitu berbeda.


Sebagai menantu yang baik, Nadira pun bergegas melepaskan pekerjaannya lalu menghampiri ibu mertuanya itu.


"Ibu mau ke mana?" tanya Nadira sambil tersenyum hangat.


"Eh, kamu, Dir! Ibu mau ke rumah Bu Yanti. Sudah lama Ibu tidak bertemu dengannya," jawab Bu Ningsih sambil mengibaskan-ngibaskan tangannya di hadapan Nadira.


Ia sengaja memperlihatkan sebuah gelang serta cincin emas yang diberikan oleh Nyonya Ira kepadanya beberapa waktu lalu. Namun, Nadira sama sekali tidak tertarik dengan hal itu.


"Oh ya, sudah. Kalau begitu aku permisi dulu, Bu. Mau melanjutkan jemur pakaian," ucap Nadira sambil tersenyum hangat.


"Hmmm, kenapa kamu sama sekali tidak tertarik dengan apa yang aku kenakan saat ini, Nadira? Seandainya saja kamu tahu siapa yang membelinya, kamu pasti akan sangat-sangat marah," gumam Bu Ningsih sambil tersenyum tipis.


Nadira pun melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, begitu pula dengan Bu Ningsih. Ia melanjutkan perjalanannya menuju kediaman Bu Yanti. Salah satu sahabat serta teman arisannya.


"Eh, itu Nadira! Sepertinya dia lagi sendiri," gumam Laras tiba-tiba ketika menyaksikan Nadira yang tengah menjemur pakaian di halaman rumahnya. Ia juga memperhatikan sekitar tempat itu dan tidak ada motor Arman yang terparkir di sana.


"Ini kesempatanku! Aku harus mengatakan hal itu kepada Nadira! Harus," gumamnya lagi sembari mempercepat laju sepeda listriknya menuju halaman depan rumah sederhana milik Nadira.


Setibanya di tempat itu.


"Loh, Mbak Laras. Ada apa Mbak? Tumben pagi-pagi sudah berkunjung ke sini," goda Nadira sambil tertawa pelan.


"Dir, aku mau mengatakan sesuatu yang ingin aku katakan kemarin. Aku harap kamu siap mendengarkannya," ucap Laras dengan wajah sedih menatap Nadira.


Tiba-tiba senyuman manis itu sirna dalam sekejap dari wajah cantik Nadira. Sekarang ia mulai serius menanggapi ucapan Laras.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa, Mbak? Jangan bikin aku khawatir," ucap Nadira.


...***...


__ADS_2