
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Mas. Kamu dari mana saja? Jangan bilang kalau kamu baru saja menemui Nadira, ya!" geram Nyonya Ira.
Arman membuang napas kasar. "Aku barusan dari rumah Ibu, Ra. Sudah lama aku tidak berkunjung ke sana. Aku juga tidak mungkin mengajakmu, secara kamu tidak pernah mau diajak berkunjung ke rumah Ibu."
Nyonya Ira memutarkan bola matanya. "Ke tempat Ibumu atau ke tempat Nadira?"
Arman menoleh ke arah wanita itu dengan wajah memelas. "Ke rumah Ibu, Ra. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan hal itu pada Ibu."
Nyonya Ira membuang muka ke arah lain. "Hanya Tuhan dan kamu yang tahu!"
Lagi-lagi Arman menghembuskan napas berat. "Yang aku dengar, Nadira sudah tidak tinggal di desanya lagi. Dia sudah pergi entah ke mana dan rumah peninggalan kedua orang tuanya pun sudah ia jual," lanjut Arman mulai bercerita.
Nyonya Ira tersenyum miring. "Baguslah kalau begitu! Itu artinya dia sadar diri bahwa dirinya tidak level bersaing denganku."
Arman mendelik sekejap lalu kembali fokus pada setirnya lagi.
Tidak berselang lama, Arman dan Nyonya Ira pun tiba di kediaman mewah mereka.
"Aku ingin mandi dulu, Ra. Sudah gerah banget," ucap Arman.
"Terserah," jawab Nyonya Ira acuh tak acuh.
Arman pun segera melengos ke kamar mandi lalu melakukan ritual mandinya di sana. Ia masuk ke dalam bathtub berisi air hangat kemudian berendam di dalam sana untuk merelaksasi pikirannya yang sangat kusut.
"Baru menikah saja, janda kaya itu sudah mulai mendominasi hidupku. Bagaimana jika nanti sudah sekian tahun? Apakah aku akan menjadi budaknya? Seperti kerbau yang ditusuk hidungnya. Selalu menurut apa pun yang diperintahkan oleh wanita itu." Arman tersenyum getir lalu membuang napas berat.
"Aku sudah terlanjur basah. Pergi dari wanita itu, itu artinya aku harus kembali seperti dulu. Luntang-lantung mencari pekerjaan. Jangankan buat berfoya-foya, buat makan pun susah. Kalau aku memilih bertahan, itu artinya aku harus siap mental, tetapi hidupku terjamin. Makan enak, duit banyak, rumah mewah dengan fasilitas lengkap tanpa harus capek-capek membanting tulang," lanjut Arman lalu membenamkan wajahnya ke dalam air.
Sementara itu, di dalam kamar utama.
Tampak Nyonya Ira tengah serius berbicara dengan seseorang di ponselnya. Ia bicara dengan sangat pelan, seolah tidak ingin siapa pun tahu apa yang sedang ia bicarakan dengan orang tersebut.
"Apa yang harus aku lakukan, Nyonya Ira?"
"Aku ingin kamu menemukan seorang wanita yang bernama Nadira. Aku ingin kamu menemukan wanita itu secepatnya, sebelum mas Arman menemukan keberadaannya. Kamu mengerti?"
"Seperti biasa, Nyonya. Nyonya tahu 'kan apa syaratnya?" Lelaki itu menyeringai licik.
__ADS_1
Nyonya Ira memutarkan bola matanya dengan wajah malas. "Iya-iya, aku mengerti! Aku akan segera mentransfer uangnya ke nomor rekeningmu. Sekaligus aku juga akan mengirimkan foto wanita itu," jawabnya.
"Sippp! Senang bisa berbisnis dengan Anda lagi, Nyonya Ira."
Setelah lelaki itu memutuskan panggilannya, Nyonya Ira pun bergegas mentransfer sejumlah uang yang diminta oleh lelaki itu sekaligus foto-foto Nadira yang pernah ia dapatkan di dalam galeri ponsel Arman.
"Bagus! Sekarang tinggal menunggu kabar," gumamnya sambil tersenyum licik.
.
.
.
Di kota, di mana Nadira tengah berjuang melanjutkan hidupnya bersama Amara, putri semata wayangnya.
"Saya ambil ini satu dan yang ini satu, ya."
Nadira tersenyum lebar. "Wah! Siap, Mbak. Tunggu sebentar, ya. Biar saya bungkusin dulu."
"Ini, Mbak. Terima kasih banyak, ya. Jangan jera beli di sini," ucap Nadira sembari menyambut sejumlah uang yang diberikan oleh wanita tersebut kepadanya.
"Sama-sama, Mbak. Tentu saja saya tidak akan jera. Soalnya baju-baju di sini bangus semua. Baik kualitasnya, bahannya dan juga jahitannya. Benar-benar recommended banget," jawab wanita itu sambil tersenyum puas.
"Hmmm, syukurlah kalau begitu."
Sepeninggal wanita itu, Nadira pun bergegas menghampiri Amara yang berdiri di salah satu pojok toko kemudian menciumnya berkali-kali.
"Lihatlah, Nak. Rejeki memang tidak akan ke mana. Sekarang kita bisa buktikan bahwa kita bisa hidup tanpa belas kasihan dari mereka," ucap Nadira.
Amara ikut tersenyum bahagia walaupun ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Nadira. Tangan mungilnya masih menggenggam erat boneka beruang coklat pemberian Arman dan seakan tak ingin melepaskannya.
Saat ini Nadira membuka toko pakaian khusus anak-anak dan hasil penjualannya cukup untuk menutupi kebutuhan mereka sehari-hari. Bukan hanya di offline, Nadira pun menjual barang-barang dagangannya secara online dengan Amara sebagai modelnya.
Kecantikan dan kelincahan Amara di depan kamera memiliki daya tarik tersendiri hingga banyak pembeli yang tergoda untuk membeli barang dagangan Nadira. Bahkan tidak jarang ia kebanjiran orderan.
Rencana Nadira selanjutnya adalah ingin mendesign serta membuat merk pakaian atas nama putrinya sendiri. Namun, sekarang ini ia masih belum memiliki modal besar untuk mewujudkan mimpi sederhananya tersebut. Hingga ia pun terpaksa harus bersabar dan menabung sedikit demi sedikit.
__ADS_1
***
Drrrtttt ... drrrtttt!
Sebuah panggilan masuk ke nomor ponsel Nadira dan ia pun bergegas menerimanya.
"Ya, Mbak?"
"Ehm, Nadira. Aku punya berita untukmu," sahut Laras di seberang telepon.
"Berita? Aku harap ini berita baik, Mbak," sahut Nadira sambil mendengarkan dengan serius apa yang dikatakan oleh Laras kepadanya.
"Aku rasa bukan, Nad. Ini soal mas Arman. Tadi siang ia datang ke tempatku dan menanyakan soal dirimu," ucap Laras.
Nadira membulatkan matanya. "Apa mas Arman menanyakan tempat tinggalku sekarang ini? Jika ya, aku harap Mbak tidak memberitahu mas Arman yang sebenarnya," ucap Nadira dengan sedikit cemas.
"Tentu saja, Nad. Aku tidak akan sejahat itu kepadamu. Bahkan aku menolak mentah-mentah tawaran mas Arman. Dia melemparkan sejumlah uang padaku sebagai imbalan jika aku bisa memberitahunya di mana kamu sekarang."
Laras terkekeh pelan mengingat kejadian itu. Di mana Arman dengan sombong dan kasarnya melemparkan uang ke hadapannya.
"Aku ambil uangnya dan aku lempar balik! Sialan, memangnya dia pikir aku apaan!" gerutu Laras.
"Oh Tuhan, maafkan aku, Mbak. Karena aku, Mbak harus mendapatkan perlakuan kasar dari mas Arman." Nadira mulai merasa tidak nyaman.
"Ah, tidak usah kamu pikirkan. Aku tidak apa-apa. Malah sebaliknya, Nad. Aku khawatir padamu. Aku takut lelaki itu berhasil menemukanmu dan kembali mengganggu hidupmu," ucap Laras dengan wajah cemas.
"Semoga saja tidak," sahut Nadira.
"Ehm, ya sudah. Aku hanya ingin memperingatkanmu soal itu dan jangan lupa, jaga diri baik-baik ya, Nad."
"Ya, Mbak. Terima kasih banyak atas perhatiannya."
Nadira terdiam sejenak dengan tatapan kosong menerawang. Baru saja ia mulai merasa tenang dan nyaman, sekarang ia harus kembali merasa cemas. Ia takut Arman tiba-tiba menemukan keberadaannya lalu mengganggu kehidupannya lagi.
"Kenapa mas Arman mencari keberadaan kami lagi? Apa dia belum puas menyakiti perasaanku?" gumam Nadira dalam hati.
***
__ADS_1