
Setibanya di rumah sakit, Amara pun segera mendapatkan pertolongan medis. Ia bahkan mendapatkan perawatan di ruang VIP. Yang sengaja dipesan oleh lelaki yang tidak sengaja menabraknya tersebut.
Sementara Amara masih mendapatkan perawatan di ruangannya, Nadira memilih menunggu di depan ruangan sambil terus berdoa. Mengharap keselamatan untuk putri kecilnya.
Lelaki yang tadi menabrak Amara terlihat gelisah. Beberapa kali ia melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya, seperti ada hal yang sangat penting yang harus ia lakukan saat ini.
Perlahan ia berjalan menghampiri Nadira lalu menyerahkan sebuah kartu nama ke hadapannya. "Aku ada urusan sebentar. Jika ada apa-apa, hubungi saja nomorku ini."
Nadira mengangkat kepalanya lalu menatap lelaki itu lekat. "Anda mau ke mana? Jangan bilang Anda ingin melarikan diri dari tanggung jawab, ya!" sahut Nadira dengan sedikit kasar.
Lelaki itu menghembuskan napas berat. "Aku berjanji bahwa aku tidak akan lari dari tanggung jawab. Aku akan tetap bertanggung jawab atas anakmu hingga ia benar-benar pulih seperti sedia kala. Kamu bisa pegang janjiku itu. Lagi pula aku masih berada di rumah sakit ini. Aku pasti akan datang jika kamu memanggilku," jelas lelaki itu.
Nadira melihat ke dalam mata lelaki itu dan tidak ada kebohongan di sana. "Baiklah, aku harap Anda tidak berbohong."
"Kamu bisa pegang omonganku," jawabnya dengan mantap.
Nadira meraih kartu nama yang diberikan oleh lelaki itu. Sementara dia segera pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan ruangan tersebut.
Nadira memperhatikan lelaki itu hingga menghilang dari pandangannya. "Sepertinya lelaki itu sedang ada masalah. Ehm, siapa tadi namanya?" gumam Nadira lalu kembali melirik kartu nama yang sedang ia pegang.
"Andrew Alvendra Putra. Namanya panjang sekali," gumamnya lagi.
Selang beberapa saat kemudian.
Lelaki itu menempati janjinya. Ia datang lagi menemui Nadira, walaupun Nadira tidak menghubunginya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya lelaki itu, yang berhasil membuyarkan lamunan Nadira.
"Anda?" Nadira tersentak kaget. "Dokter masih melakukan pemeriksaan," lanjutnya sembari memperhatikan raut wajah lelaki tersebut. Wajahnya yang sebelumnya terlihat begitu tegang, sekarang sudah terlihat lebih tenang.
Tepat di saat itu, pintu ruangan tersebut terbuka. Dokter yang tadi memeriksa kondisi Amara akhirnya menampakkan batang hidungnya. Ia tersenyum lalu menghampiri Nadira.
"Ibunya pasien?"
"Ah, iya, Dok. Saya ibunya. Bagaimana kondisi anak saya sekarang, Dok?" jawab Nadira.
__ADS_1
"Setelah dilakukan pengecekan secara menyeluruh, ternyata kondisi anak Anda baik-baik saja. Tidak ada luka atau cedera serius. Dia hanya sedikit syok karena kejadian itu dan sekarang Anda sudah bisa menemuinya," jelas Dokter sambil tersenyum.
"Oh, syukurlah. Terima kasih banyak, Dokter," ucap Nadira dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama. Saya permisi dulu."
Sepeninggal Dokter, Nadira pun bergegas masuk ke dalam ruangan itu dan diikuti oleh Andrew.
"Ibu!"
Amara kecil yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur, mengulurkan kedua tangannya ke depan. Nadira menyambut uluran tangan Amara kemudian memeluknya dengan erat sambil sesekali menciumi wajah imutnya.
"Amara, anak Ibu. Ibu sayang kamu, Nak."
Amara melirik Andrew yang tengah berdiri di samping tempat tidurnya sambil tersenyum. Tiba-tiba saja Amara refleks memanggil lelaki itu dengan sebutan Ayah.
"Ayah!"
Nadira sontak menyela ucapan anak perempuannya itu. "Sayang, Om itu bukan ayahnya Amara. Dia Om Andrew, Om yang sudah mengantarkan Amara ke sini."
"Hello, Cantik!" sapa Andrew sambil tersenyum hangat.
"Bu, Ara ingin pulang." Amara merengek dan meminta pulang karena merasa tidak nyaman berada di tempat itu.
"Iya, Sayang. Tapi nanti, ya. Setelah Pak Dokter kasih izin Amara untuk pulang," bujuk Nadira.
Sementara Nadira tengah berbincang bersama buah hatinya, Andrew malah sibuk bicara dengan para perawat yang masih berada di ruangan itu. Ia meminta para petugas kesehatan tersebut untuk memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan untuk si kecil Amara.
***
Beberapa jam kemudian.
Amara sudah tertidur pulas karena efek dari obat yang diberikan oleh Dokter. Sementara Amara tidur, Nadira berniat menemui Andrew yang sejak tadi masih setia menunggu di depan ruangan. Ia ingin meminta maaf karena sudah sempat berburuk sangka sekaligus mengucapkan terima kasih kepada lelaki itu.
Perlahan Nadira membuka pintu ruangan itu dan ia melihat Andrew yang tengah asik bicara dengan seseorang di sambungan teleponnya. Wajah Andrew lagi-lagi terlihat cemas dan Nadira yakin bahwa lelaki itu ada masalah yang begitu serius.
__ADS_1
"Ehm, baiklah. Aku akan segera ke sana!" ucap Andrew.
Setelah panggilan itu terputus, Andrew segera berbalik dan melihat sosok Nadira yang sudah berdiri di belakangnya. Ia tersenyum lalu menyapanya.
"Nadira," sapanya.
"Tuan Andrew—" Belum selesai Nadira bicara, Andrew sudah menyela ucapannya.
"Cukup Andrew saja," selanya sambil tersenyum lebar.
"Ehm, Mas Andrew. Maafkan aku karena sempat berkata kasar padamu dan aku juga ingin berterima kasih karena kamu sudah—"
"Tidak apa, Nadira. Itu sudah menjadi kewajibanku. Oh ya, aku permisi dulu sebentar. Nanti aku kembali lagi," sahutnya lalu pergi dengan terburu-buru.
Nadira terheran-heran melihat tingkah Andrew saat itu dan entah kenapa tiba-tiba rasa penasaran menyelimuti hatinya. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh lelaki itu hingga membuat raut wajahnya sering terlihat berubah-ubah.
Perlahan Nadira melangkahkan kakinya mengikuti Andrew dari kejauhan. Lelaki itu terus berjalan dengan langkah panjang dan cepat hingga membuat Nadira cukup kesusahan ketika mengikutinya.
"Ya ampun, sebenarnya dia mau ke mana?" gumam Nadira.
Hingga akhirnya langkah Nadira terhenti ketika melihat Andrew memasuki sebuah ruangan yang di mana ada seorang lelaki tengah menunggu kehadirannya.
"Bagaimana kondisinya, Pak?" tanya Andrew kepada lelaki yang berusia sepuluh tahun lebih tua darinya.
Lelaki berusia 40 tahun itu bergegas membukakan pintu ruangan itu lalu menjawab pertanyaan Andrew barusan.
"Masuklah, Tuan. Dan lihatlah sendiri," jawabnya.
Setelah Andrew dan lelaki itu masuk ke dalam ruangan tersebut, pintunya pun kembali tertutup rapat hingga Nadira tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan di dalam sana.
"Sebenarnya siapa yang sedang dirawat di sini? Ah, Tuan itu benar-benar membuat aku jadi penasaran," gumamnya sembari mendekat ke arah pintu ruangan tersebut.
Setelah beberapa menit terdiam di depan pintu ruangan itu, Nadira pun mulai memberanikan diri mendorong pintu tersebut dengan sangat hati-hati. Beruntung, tak ada yang menyadari bahwa pintu ruangan tersebut sudah tidak lagi tertutup rapat. Ada sedikit celah yang membuat Nadira bisa mengintip ke dalam.
Nadira melihat seorang lelaki tua yang tengah terbaring di atas ranjang pasien dengan kondisi tak sadarkan diri. Selain itu, terlihat juga beberapa alat-alat medis tertancap di tubuhnya yang kurus dan memucat.
__ADS_1
"Siapa lelaki tua itu? Apakah dia ayahnya Mas Andrew?" gumam Nadira dengan wajah bingung.
***