
Pesta pernikahan meriah itu pun berakhir. Semua orang kembali ke kediaman mereka masing-masing. Begitu pula Arman dan Nyonya Ira.
"Sayang ... apa kamu tidak ingin membopongku hingga ke atas tempat tidur kita?" tanya Nyonya Ira sambil menatap Arman yang berjalan di sampingnya.
Arman membuang napas berat. "Aku lelah, Sayang. Seharian berdiri menyambut para tamu istimewamu, membuat tubuhku sakit semua," jawab Arman tanpa menoleh sedikit pun ke arah Nyonya Ira.
"Ini hari pernikahan kita, Mas. Masa Mas menolak membopong aku hingga ke atas tempat tidur?" protes Nyonya Ira sembari menghentikan langkahnya.
Wajahnya menekuk dan ia tampak kesal ketika bersitatap dengan suami barunya itu. Arman menoleh dan memperhatikan ekspresi Nyonya Ira yang tampak tak bersahabat itu. Ia berjalan menghampirinya dan mau tidak mau menuruti perintah wanita tersebut.
"Baiklah, sini biar kugendong!"
Arman mengangkat tubuh Nyonya Ira dan membawanya menuju suite room mereka. Nyonya Ira tersenyum puas. Ia melingkarkan kedua tangannya ke tengkuk Arman lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang lelaki itu.
Setibanya di dalam kamar, Arman pun meletakkan tubuh seksi wanita paruh baya itu ke atas tempat tidur secara perlahan.
"Aku ingin mandi dan mengganti pakaianku."
Nyonya Ira terdiam sambil memperhatikan Arman yang kini berjalan menuju kamar mandi. Tatapan tajam Nyonya Ira terus tertuju pada Arman hingga lelaki itu menghilang dari balik pintu.
"Hmmm, melihat dari gelagatnya, sepertinya aku harus menjalankan rencana B agar malam pertamaku bersama Mas Arman berjalan dengan lancar," gumam Nyonya Ira sambil tersenyum licik.
Ia meraih sesuatu dari dalam laci nakas. Sebuah pil setan yang dapat membuat Arman hilang kendali dan tak bisa membendung kobaran hasratnya sebagai seorang lelaki.
"Untung aku sudah menyiapkan ini sebelumnya. Sebab aku yakin, tidak akan semudah itu Arman menyentuhku," gumamnya lagi sembari memasukkan pil setan itu ke dalam sebuah minuman yang sudah tersedia di atas nakas.
Sementara itu.
__ADS_1
Setelah melucuti seluruh pakaiannya, Arman bergegas masuk ke dalam bath up. Ia menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam bak berukuran jumbo dan berisi air hangat tersebut. Cukup lama Arman berada di posisi itu hingga akhirnya ia pun menyembulkan kepalanya dari dalam air.
"Maafkan aku, Nadira ...." gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
Selang beberapa menit kemudian.
Arman keluar dari dalam kamar mandi. Ia berjalan menghampiri lemari pakaian sembari mencoba mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan sebuah handuk kecil.
Lelaki itu sempat menatap Nyonya Ira yang tengah duduk di tepian tempat tidur. Namun, setelah itu ia pun segera mengalihkan pandangannya.
"Mas Arman, kemarilah!"
"Sebentar, aku ingin mengambil piyama tidurku dulu," jawab Arman tanpa menoleh ke arahnya.
"Tidak perlu, Mas. Tidak perlu mengenakan apa pun malam ini. Bukan kah ini malam pertama kita?" Nyonya Ira berjalan menghampiri Arman yang kini sudah berdiri di depan lemari pakaian.
Pintu lemari yang sudah terbuka, kini ditutup kembali oleh Nyonya Ira. Setelah itu ia mulai mendorong tubuh kekar Arman ke arah tempat tidur mereka sambil tersenyum menggoda.
Arman menghembuskan napas berat. "Ya, aku ingat."
"Bagus! Sekarang lakukan tugasmu dengan baik. Kehidupanmu tergantung pada service-mu malam ini, Mas Arman. Semakin hebat permainan ranjangmu, semakin besar pula cuan yang akan kamu hasilkan untuk anak dan istrimu," ucapnya sambil menyeringai.
Arman terduduk di tepian ranjang dengan tatapan yang masih tertuju pada Nyonya Ira. Wanita paruh baya itu mengambil gelas berisi minuman yang sudah tercampur dengan pil setan yang tadi ia masukkan. Ia kembali menyeringai lalu menyerahkan gelas tersebut kepada Arman.
"Minumlah, Mas Arman! Setelah meminum ini, kamu pasti akan lebih bersemangat," ucapnya lagi.
Arman meraih gelas minuman tersebut. Walaupun Nyonya Ira tidak mengatakan apa pun soal minuman itu. Namun, ia sudah tahu bahwa minuman tersebut sudah tidak murni lagi.
__ADS_1
"Aku tahu kamu sudah mencampurkan sesuatu ke dalam minuman ini 'kan, Ira."
Nyonya Ira terkekeh pelan. "Ya, benar sekali. Kamu tahu kenapa? Karena aku yakin kamu tidak akan semudah itu menyentuhku. So, sebaiknya kamu minum saja minuman itu karena dia akan sangat membantumu melakukan tugas-tugasmu dengan baik."
Tanpa berpikir panjang, Arman pun segera menenggak minuman itu di hadapan Nyonya Ira hingga minuman itu pun tandas. Wanita paruh baya itu tersenyum puas. Kini mereka tinggal menunggu saatnya, di mana Arman akan merasakan sensasi panas luar biasa dan butuh seseorang untuk menyalurkan hasratnya.
Sementara menunggu minuman itu bereaksi, Nyonya Ira mulai menanggalkan gaun pengantin serta beberapa aksesoris yang masih melekat di tubuh indahnya. Kini wanita itu berdiri di hadapan Arman hanya dengan menggunakan pakaian dallam. Braa serta cd yang terbuat dari kain brokat tipis hingga membuat area pribadinya terlihat dengan sempurna.
Sebagai seorang lelaki normal, disajikan hal seperti itu di depan mata, membuat hasratnya pun bangkit. Namun, dengan sekuat hati ia mencoba untuk menahan hasratnya. Bahkan terlihat beberapa kali Arman menelan saliva dengan susah payah.
Nyonya Ira melenggak-lenggok di depan Arman, menampilkan lekuk tubuhnya yang seksi. Ia naik ke atas pangkuan Arman lalu mulai mencumbui lelaki itu.
"Ehm, ah ...." Arman mendessah pelan ketika Nyonya Ira melabuhkan sebuah kecupan hangat di leher jenjang lelaki itu. Tidak cukup sampai di situ, kini Nyonya Ira semakin bergairah dan terus memberikan kecupan-kecupan nakalnya hampir di seluruh bagian leher dan dada Arman.
"Ira ... akh ... hentikan," ucap Arman di sela dessahan kecil yang kini terdengar semakin intens.
"Kenapa, Mas? Kamu tidak menyukainya?" Nyonya Ira menatap Arman sambil menyeringai.
"Bu-bukan itu, Ira. Hanya saja ... akh!" lanjutnya lalu kembali mendessah.
"Hanya saja apa, Mas? Apa kamu sudah tidak sanggup untuk menahan hasratmu lagi?"
Nyonya Ira mendorong pelan tubuh Arman hingga lelaki itu terbaring di atas tempat tidur. Tubuhnya yang terlentang membuat Nyonya Ira semakin mudah menguasai tubuhnya. Nyonya Ira menarik handuk yang masih menutupi bagian area pribadi Arman lalu melemparkannya ke sembarang arah.
Wanita itu menyeringai ketika melihat junior Arman yang ternyata sudah bangkit dan mengeras. Benda itu mengacung di hadapan Nyonya Ira dan membuat wanita itu tidak tahan untuk tidak menyentuhnya.
"Lihatlah, Mas. Bahkan junior-mu pun sudah berdiri tegak. Apakah kamu masih ingin mengelak dan mengatakan bahwa kamu tidak memiliki hasrat kepadaku?"
__ADS_1
Arman hanya diam dengan mata yang terpejam. Belaian dan sentuhan lembut Nyonya Ira membuat ia benar-benar terlena. Ditambah dengan efek pil setan yang sudah mulai menguasai tubuhnya, hingga ia lupa akan janji-janjinya.
...***...