Simpanan Janda Kaya

Simpanan Janda Kaya
Rencana Tuan Bian 2


__ADS_3

"Anda!" Dengan sekuat tenaga, lelaki itu menahan emosinya. Wajahnya memerah dan rahangnya pun ikut menegas.


Tuan Bian hanya tersenyum tanpa mempedulikan bagaimana ekspresi lelaki muda itu kepadanya.


"Arman yang malang. Jujur aku kasihan sama kamu," ucap Tuan Bian sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa maksud Anda? Saya tidak butuh dikasiani. Sebaiknya kasihanilah diri Anda sendiri karena di usia Anda sekarang, Anda masih belum mengerti soal attitude bertamu ke rumah orang lain," jawab Arman sambil mendengus kesal.


Tuan Bian melirik Arman untuk sesaat lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Kamu tahu, Arman? Kamu telah menyia-nyiakan sebuah batu berlian hanya untuk mendapatkan sebongkah batu jalanan yang sama sekali tak ada harganya," tutur Tuan Bian dengan raut wajah serius.


"Aku rasa Anda memang memiliki gangguan. Sebaiknya aku panggil keamanan untuk segera mengusir Anda dari sini!"


Arman segera berteriak, memanggil para keamanan yang berjaga di depan.


"Security! Security!" panggilnya dengan lantang.


Suara teriakan Arman saat itu terdengar hingga ke halaman luar, di mana para keamanan sedang berjaga-jaga. Tanpa pikir panjang, dua orang penjaga keamanan berlari memasuki kediaman mewah itu dengan langkah tergesa-gesa.


Sesampainya di ruangan itu, mereka pun bergegas menghampiri Arman. "Ya, Tuan!"


"Kenapa kalian membiarkan si tua bangka ini masuk ke dalam rumah, ha?" bentak Arman sambil melototkan kedua matanya menatap para keamanan itu.


Kedua penjaga keamanan itu saling melempar pandang tanpa berani menjawab pertanyaan dari Arman barusan.


"Kenapa diam?! Aku akan bilang ke Ira dan memintanya untuk memecat kalian. Sekarang, seret lelaki tua ini keluar! Aku tidak ingin dia membuat kekacauan di rumah ini, mengerti?!"


"Ta-tapi, Tuan ...." Salah satu dari penjaga keamanan itu ingin menjelaskan semuanya. Namun, Arman buru-buru menyela ucapan lelaki tersebut.


"Tidak ada tapi-tapian! Sekarang seret lelaki tua ini keluar dari rumah kami!" sela Arman.

__ADS_1


Dengan ragu-ragu, kedua penjaga keamanan itu melangkah menghampiri Tuan Bian. Namun, bukannya mengusir atau menyeret Tuan Bian dari ruangan itu, mereka malah mengangguk hormat dan tak ada yang berani menatap wajahnya.


"Heh! Apa-apaan ini?" protes Arman. "Aku memerintahkan kalian untuk menyeretnya keluar dari rumah ini dan bukan malah memberikan hormat kepadanya! Dasar bodoh," umpat Arman.


Tepat di saat itu Nyonya Ira turun dari kamar utama setelah mendengar suara ribut-ribut dari luar. Ia merasa terganggu mendengar suara teriakan serta hardikan Arman saat itu.


"Ada apa lagi sih, Sayang? Pagi-pagi begini sudah bikin keributan aja!" ucap Nyonya Ira dengan setengah berteriak.


Wanita yang masih mengenakan lingerie itu tidak menyadari bahwa di ruangan itu ada Tuan Bian yang tengah menunggu kehadirannya.


Tuan Bian mendongak dan menatap Ira yang masih berada di atas tangga. Wajahnya terlihat dingin dan tak ada yang tahu apa yang dipikirkan oleh lelaki tua itu sebenarnya, termasuk Arman.


"Lihatlah kelakuan para security-mu ini! Tanpa seizin siapa pun, mereka membiarkan lelaki tua ini masuk! Sia-sia kamu kasih gaji besar kepada mereka jika mengusir lelaki tua ini saja mereka tidak mampu, cuih!" jelas Arman dengan geram.


Nyonya Ira menautkan kedua alisnya heran. "Lelaki tua siapa maksudmu?" tanya wanita itu sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan hingga kedua netranya terhenti pada tuan Bian yang tengah duduk di sofa dengan santainya.


"Senang bisa bertemu lagi denganmu, Ira," balas Tuan Bian sembari membalas tatapan wanita itu.


"Ka-kamu mengenalnya, Ra?" Arman bergegas menghampiri Nyonya Ira lalu berdiri di sampingnya.


Arman tampak kebingungan karena reaksi Nyonya Ira saat itu benar-benar di luar dugaannya. Ia tidak menyangka bahwa Nyonya Ira ternyata mengenali lelaki tua yang menerobos masuk ke dalam rumah mereka tanpa izin siapa pun itu.


"Ehm, sebenarnya di-dia ...." Nyonya Ira tampak bingung menjelaskan siapa tuan Bian yang sebenarnya kepada Arman karena selama ini ia tidak pernah bercerita sedikit pun tentang lelaki tua itu.


Tuan Bian bangkit dari posisinya lalu berdiri di hadapan Arman dan Nyonya Ira.


"Apa kamu ingin tahu siapa aku, Arman? Aku adalah pemilik rumah mewah ini beserta apa pun yang ada di dalamnya. Termasuk pakaian yang kamu kenakan saat ini," tutur Tuan Bian sambil tersenyum menatap Arman dan Nyonya Ira secara bergantian.


"A-apa yang dikatakan olehnya itu benar, Ra? Ta-tapi, bukan kah kamu pernah bilang bahwa rumah ini milikmu? Lalu bagaimana—" Belum habis Arman berkata-kata, Tuan Bian kembali menyela ucapannya.

__ADS_1


"Jika wanita itu pernah memperlihatkan sertifikat rumah serta tanah ini atas namanya, itu semua adalah palsu. Wanita ini sudah memalsukan semua dokumen serta surat menyurat penting milikku dan mengubahnya atas nama Ira Lestari," lanjut Tuan Bian.


"I-itu tidak benar, Arman. Lelaki ini sudah gila! Ya, dia sudah gila!" sahut Nyonya Ira dengan wajah pucat pasi mencoba meyakinkan Arman yang tengah kebingungan.


Tuan Bian tertawa pelan kemudian duduk kembali di sofa empuk itu. "Sayang sekali, Ira. Sayang sekali rencanamu gagal. Aku masih hidup dan sekarang aku sudah ingat semuanya. Aku pastikan kamu pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal dariku," ucap Tuan Bian lagi.


"Tidak! Tidak! Kamu masih belum ingat sepenuhnya, Bian. Apa kamu lupa bahwa kamu sendiri lah yang sudah membalik nama semua dokumen itu atas namaku," elak Nyonya Ira yang masih mencari pembelaan walaupun jelas-jelas ia sudah ketahuan berkata bohong.


Tuan Bian berdecak kesal. Ia tidak percaya bahwa wanita yang pernah menjadi istrinya itu masih saja mengelak dan tidak mengakui kebenarannya.


"Baiklah kalau kamu masih bersikeras. Aku bisa buktikan bahwa apa yang aku katakan adalah benar. Tunggu sebentar," ucap Tuan Bian yang kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi lelaki yang sedang menunggu di luar.


"Ya, Tuan!"


"Masuklah dan jangan lupa bawa lelaki itu sekalian!"


"Baik, Tuan Bian."


Nyonya Ira semakin ketakutan. Ia takut semua kejahatannya selama ini dibongkar habis oleh lelaki tua itu.


Tidak berselang lama, lelaki yang tadi menemaninya tiba di ruangan itu bersama seorang pria dengan kondisi kedua tangan terborgol. Selain itu ada beberapa anggota kepolisian yang juga ikut masuk bersama mereka.


"Ya, Tuhan!" pekik Nyonya Ira dengan mata membulat setelah melihat sosok lelaki yang selama ini menjadi orang suruhannya sudah dibekuk oleh mereka.


"Apa kamu masih bisa mengelak, Ira? Bukankah lelaki ini yang sudah kamu perintahkan untuk mencelakakan aku pada hari itu?" ucap Tuan Bian sambil menyeringai menatap Nyonya Ira yang sekarang tengah ketakutan. Seluruh badannya bahkan bergetar dengan hebatnya.


"Tidak! Itu tidak benar! Aku tidak kenal siapa lelaki ini," elak Nyonya Ira sambil menggelengkan kepalanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2